Share

04. Racun

Author: rainaxdays
last update publish date: 2026-08-20 14:05:29

Mira menghirup napas panjang merasakan angin pagi yang menerpa. Segar dan dingin. Untuk pertama kalinya setelah dua minggu, ia keluar menjelahi halaman belakang rumah.

Kakinya berhenti di dekat kolam ikan koi dan ia duduk di salah satu bangku. Ia harap berdiam di sana bisa menenangkan pikirannya, tetapi rupanya tidak.

Pikirannya terus tertuju ke pertemuan kemarin.

Dokter Eva—dokter keluarga Hayes telah datang untuk memeriksanya. Mira diperintahkan untuk mengikuti sebuah program kehamilan. Dengan begitu, peluang ia hamil anak laki-laki akan sangat besar.

Hayes menginginkan anak laki-laki. Seorang pewaris.

Mira menghela napas berat mengingat pria itu

Hayes. Suaminya.

Rasanya panggilan itu sangat tidak tepat. Hayes sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai istrinya, meskipun mereka menikah secara sah.

Ia bahkan tidak tahu apa-apa soal Hayes. Mereka hanya tinggal di bawah satu atap, tanpa adanya obrolan selayaknya suami-istri.

Lalu... begitu anaknya lahir, ia harus pergi sejauh mungkin.

Mira menunduk muram dan menyentuh perutnya dengan tatapan sendu. Jika suatu hari nanti ia benar-benar hamil, apakah ia sungguh sanggup untuk meninggalkan bayinya sendiri?

***

“Selamat datang Pak Wira. Saya senang Anda akhirnya bisa datang ke sini.”

Katie menyambut kedatangan pria paruh baya itu dengan senyum sumringah. Dia adalah pengacara sekaligus asisten kepercayaan mendiang suaminya. Pagi ini, Wira datang untuk membicarakan pembagian warisan.

“Maafkan saya, Nyonya Katie. Saya seharusnya datang tepat setelah pernikahan Tuan Hayes, tapi saya ada keperluan mendadak yang tidak bisa diundur,” kata Wira dengan suara menyesal.

Katie mengibaskan tangannya dengan santai. “Tidak masalah, Pak Wira. Lagi pula, kami juga tidak terburu-buru.”

Pak Wira mengangguk dengan senyum tipis. Katie membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan sang pengacara untuk masuk.

Di saat bersamaan, Hayes baru turun dari lantai dua.

“Oh Hayes Nak, ayo kemari. Pak Wira sudah datang,” panggil Katie, hampir tak bisa menyembunyikan antusiasmenya.

Hayes ingin mendengus, tetapi dengan cepat menyembunyikan kekesalannya. Ia mendekat dan menyalami Pak Wira.

Mereka semua lantas duduk di sofa ruang tamu. Pak Wira tanpa banyak bicara membuka tas yang dibawanya, lalu mengeluarkan surat wasiat Harlan.

“Baiklah, sesuai pesan dari Tuan Harlan, pembagian warisan yang pertama akan dilakukan setelah Anda—Tuan Hayes menikah. Lalu pembagian warisan kedua setelah Anda memiliki pewaris,” mulai Wira, memperjelas. “Karena Tuan Hayes belum memiliki anak, jadi saya hanya akan membagi warisan yang pertama.”

Hayes dan Katie mengangguk.

Katie sudah tidak sabar untuk mendapatkan aset rumah dan perusahaan ini. Ia sudah menunggu begitu lama dengan terus merawat Harlan yang sakit, jadi bagiannya pasti jauh lebih besar.

Wira menatap keduanya dan melanjutkan, “Yang pertama, Tuan Hayes Arsenio mendapatkan aset rumah ini beserta isi di dalamnya, perusahaan Arsenio Manufaktur, dan resort keluarga Arsenio. Sementara itu, Nyonya Katie hanya mendapatkan sebidang tanah seluas 100 meter persegi dan dua mobil.”

Kalimat terakhir seperti tamparan keras untuk Katie. Ia mengerjap, berharap pendengarannya bermasalah.

“Apa? Pak Wira, tolong ulangi sekali lagi. Saya hanya mendapat apa?”

“Anda hanya mendapat sebidang tanah seluas 100 meter persegi dan dua mobil, Nyonya,” ulang Pak Wira.

Katie tercengang di tempat, kepalanya menggeleng keras. “Tidak, Anda pasti salah Pak Wira. Bukankah saya seharusnya mendapat 60 sampai 70 persen dari warisan itu? Kenapa malah Hayes yang mendapat 98 persen warisan?”

Pak Wira berdeham. “Saya tidak salah, Nyonya. Ini memang wasiat yang disampaikan oleh mendiang Tuan Harlan.”

“Tapi Harlan berjanji akan memberiku aset rumah dan sebagian saham perusahaan!” Katie nyaris menjerit.

“Awalnya begitu, tapi menjelang kematiannya, Tuan Harlan berubah pikiran,” jelas Pak Wira. Kemudian, ekspresinya terlihat heran. “Bukankah Anda seharusnya sudah tahu hal ini, Nyonya? Tuan Hayes sendiri sudah tahu perubahan ini. Bukan begitu, Tuan?”

Hayes mengangguk dengan seringai tipis.

Seringai yang terlihat mengejek.

Katie menyipitkan matanya. Ia langsung sadar bahwa ia telah dibohongi. Hayes sengaja tidak memberitahunya tentang perubahan warisan itu, dengan begitu ia tidak bisa membujuk Harlan untuk mengubahnya lagi.

Apa itu sebabnya Hayes setuju saja dengan rencananya untuk menikahi gadis pilihannya? Padahal dia selalu menentangnya? Karena mau bagaimana pun juga, dia sudah tahu kalau warisan itu akan jatuh ke tangannya.

Sementara ia...

Ia dengan bodohnya berbangga diri karena mengira warisan itu akan diberikan padanya.

Katie mengepalkan tangannya. Darahnya terasa mendidih memikirkan itu.

Ia menatap Hayes dan seringai putra tirinya itu melebar. Tatapan matanya seolah mengatakan: ‘Kau pikir aku tidak tahu rencana busukmu untuk mengambil seluruh harta ayahku?’

Dari awal, Hayes sudah tahu apa niat Katie.

Wanita licik yang telah merebut ayahnya dari ibunya, sampai-sampai ibunya depresi dan bunuh diri dengan meminum racun.

Dia berpura-pura bersikap baik beberapa minggu terakhir. Dia bahkan bersusah payah mencarikan calon istri untuknya.

Hayes sudah tahu rencana Katie yang sudah tidak sabar untuk menerima warisan, jadi ia setuju saja. Katie tidak tahu bahwa sebelum meninggal, Hayes telah mendesak ayahnya untuk merubah isi warisan itu.

Sekarang, sungguh menyenangkan melihat wajah syok dan kecewa wanita matrealistis itu.

Katie menatap penuh kebencian. Amarah berkobar dalam matanya. Namun, Hayes justru terlihat semakin puas.

Bagi Hayes, Katie dan gadis yang dibawanya itu sama saja. Dua wanita licik yang berpura-pura bersikap lugu hanya untuk mengeruk harta.

Tidak akan Hayes biarkan gadis bernama Sora itu menipunya dengan wajahnya yang sok polos.

“Saya rasa semuanya sudah jelas? Silakan tanda tangan,” kata Pak Wira kemudian.

Hayes menandatangani berkasnya dengan cepat, sementara tangan Katie terlihat gemetar karena menahan emosi.

Pak Wira lalu berpamitan pergi.

Begitu pintu ditutup, Hayes bersedekap dada dan menatap ibu tirinya dengan tatapan menghina. “Tampaknya rencanamu tidak berhasil, Ibu?”

“Kau—” Katie menggeram dan memelototi Hayes. “Dasar anak keparat!”

Hayes tertawa. “Terserah kau mau memanggilku apa. Yang jelas, sampai kapan pun, kau tidak akan pernah mendapatkan harta ayahku!”

“Kau pikir—”

Ucapan Katie terputus saat Hayes mendadak berdiri. Seringainya menghilang, tatapannya setajam pisau.

“Kau bukan siapa-siapa di rumah ini, hanya benalu yang menumpang hidup. Segera setelah gadis itu melahirkan anakku, kau harus pergi meninggalkan rumah ini bersamanya.”

Hayes tak menunggu respons Katie dan berjalan ke pintu utama. Ia menuju garasi, lalu tancap gas menuju kantor.

“Sial!” Katie menjerit kesal. Ia meraih bantal sofa dan membantingnya ke lantai. Segala sumpah serapah keluar dari mulutnya. Dadanya naik turun dengan cepat karena emosi yang membumbung tinggi. “Kau pikir kau bisa menyingkirkanku, hah?! Anak keparat!”

Katie bergegas menuju kamarnya dan meraih sebuah botol kecil dari dalam laci. Sepatu hak tingginya menubruk lantai dengan keras saat dia bergegas ke lantai dua, menuju kamar Mira.

Mira baru selesai mandi ketika pintu kamarnya dibanting terbuka. Katie berdiri di sana. Wajahnya memerah, tubuhnya tegang. Matanya jelas memancarkan amarah yang tak tertahankan.

Belum pernah Mira melihat Katie semarah itu.

Katie berjalan cepat menghampirinya. “Ambil ini,” katanya, meraih tangan Mira dan memberikan sebuah botol kaca.

Mira menatap botol kecil di tangannya dengan bingung. Ukurannya hanya segenggam tangannya. Di dalamnya, terdapat cairan hitam pekat. “Apa ini, Nyonya?”

“Racun.”

Mira terkesiap. Namun Katie tidak memberinya waktu untuk bicara, dia maju selangkah dan berbisik rendah, “Tuangkan racun itu ke kopi Hayes, sedikit demi sedikit. Aku ingin kau menghabisinya,” perintahnya tajam.

Mira langsung mundur dengan wajah ngeri, tetapi Katie menahan tangannya. “Kalau kau bisa melakukannya, maka aku akan menyelamatkan ibumu. Kau tahu? Ibumu sedang sekarat dan ayahmu sama sekali tidak peduli padanya.”

Mira gemetar hebat, pikirannya berkecamuk. “Ta—tapi—”

“Atau kau lebih suka melihat ibumu mati dengan mengenaskan?” ancam Katie.

Mira hanya bisa gemetar, tidak tahu harus melakukan apa.

Katie menyeringai keji. “Aku memberimu waktu seminggu. Kalau kau gagal, bukan hanya ibumu yang mati mengenaskan, tapi kau juga akan berakhir di rumah bordil.”

Katie langsung melangkah pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan Mira yang pucat pasi di tempat.

Mira meremas botol kaca di tangannya, perasaannya kacau balau.

Apa yang harus ia lakukan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   47. Seperti Anak Sendiri

    “Tuan...” Hayes mengangkat tangannya. “Erwin, kau masuklah lebih dulu. Aku akan menyusul,” ujarnya, masih dengan garis-garis senyuman yang enggan hilang dari wajahnya. Tawa Hayes memang telah reda, tetapi binar kebahagiaan itu masih terpancar jelas di matanya yang biasanya tampak kosong dan dingin. “Baik, Tuan.” Erwin tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya menatap Kian selama beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan area parkiran. Hayes berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang besar. Kian ragu-ragu menerima uluran tangannya. “Kau ingin membangun rumah besar seperti ini untuk Ibumu?” tanya Hayes, kembali ke topik mereka semula. Kian langsung mengangguk kepalanya dengan semangat. “Hu'um! Ian ingin membangun rumah yang sangat besar untuk Ibu. Bagaimana caranya, Bapak Yang Terhormat?” Hayes terkekeh pelan mendengar panggilan formal itu. “Bagaimana kalau panggil Paman saja?” “Paman?” “Iya, Paman Hayes.” “Baik, Paman!” Hayes tersenyum dan menarik Kian

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   46. Tawa Lepas Hayes

    “Mira, ini kamarmu. Kau akan tinggal di sini selama dua minggu.” Kepala pelayan menunjuk ruangan di ujung lorong lantai dua. Satu lorong dengan perpustakaan yang ‘seharusnya’ ia bersihkan. “Terima kasih, Bu Ines.” Bu Ines mengangguk singkat. Sejenak, matanya melirik Kian yang terus bersembunyi di belakang Mira. Keningnya berkerut menyadari anak itu tampak takut melihatnya. “Ya sudah, aku menunggumu di bawah,” ucapnya kemudian sebelum berbalik pergi. Mira dan Kian berdiri memperhatikan Bu Ines sampai sosoknya menghilang di belokan. “Ibu, apa itu nenek sihirnya?” tanya Kian, mendongak menatap ibunya dengan takut-takut. “Eh bukan, Sayang.” Mira buru-buru membantah. Ia berlutut, lalu merapikan rambut anaknya. “Ibu itu sangat baik, bukan nenek sihir.” “Jadi di mana nenek sihirnya?” “Nanti biar Bibi Alina sendiri yang perlihatkan, ya?” ujar Mira, hampir menepuk jidatnya sendiri. Seharusnya ia tidak membiarkan Alina merecoki pikiran Kian. Sekarang, Kian pasti akan terus memi

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   45. Obat Tidur Hayes?

    “Ibu, kita mau ke mana?” Kian duduk di atas tikar sambil memperhatikan ibunya yang mengepak pakaian ke dalam tas ransel. Mira menoleh dengan senyum kecil. “Untuk sementara, kita akan pindah ke tempat Ibu bekerja, Sayang. Ibu mendapat pekerjaan tambahan, jadi kita akan tinggal di sana selama dua minggu.” “Apa itu tempat yang Ibu bilang kereta api juga bisa lewat?” tanya Kian ceria, membayangkan rumah besar yang biasa ia lihat di buku dongeng. “Iya, Sayang. Tapi ingat, Kian tidak boleh nakal di sana.” “Siap!” Kian segera memberi hormat. “Ian akan menuruti apa kata Ibu.” Mira tersenyum dan menaikkan ritsleting jaket Kian sampai ke leher. Udara begitu dingin setelah hujan deras mengguyur dini hari tadi. Mira tidak ingin anaknya kembali sakit. “Ayo berangkat, Sayang. Bibi Alina pasti sudah menunggu.” Mira mengambil tasnya dan meraih tangan mungil Kian. Hari ini, Mira sengaja tidak membiarkan Kian ke TK Bintang, mengingat dia baru pulih. Mereka melewati pintu dan Kian menda

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   44. Siapa Suami Mira?

    Semilir angin pagi menyapu lembut wajah Hayes yang berdiri di dekat jendela. Otaknya terus memutar senandung milik Sora. Senandung yang sama yang akan Mira nyanyikan nanti malam. Untuk ke sekian kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—apa ia sungguh ingin mendengarkan senandung itu setiap malam? Bagaimana kalau perasaan familier itu tak kunjung hilang setelah dua minggu? Bagaimana kalau ia masih melihat Mira seolah ia tengah menatap sosok Sora? Hayes mengusap wajahnya dan melangkah ke sofa. Tepat saat ia duduk, Erwin mengetuk pintu. “Tuan, Nona Audrey sudah tiba.” “Persilakan masuk.” Pintu terbuka lebih lebar, memperlihatkan seorang wanita dalam balutan blazer dan rok pensil selutut. Sepatu hak tingginya mengetuk keramik dengan keras saat dia berjalan ke arah Hayes dengan percaya diri. Audrey Regina. Seorang maestro desain interior yang menguasai pasar kelas atas. Calon kolega bisnis Hayes. Audrey menawarkan kerja sama bisnis begitu melihat potensi dari perusahaan man

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   43. Senyum Tipis Misterius

    Mira menatap sisa uang yang ada di dompetnya. Setelah membayar sebagian utang dan sewa kontrakannya yang menumpuk, ia masih memiliki cukup uang untuk membeli beras dan lauk selama beberapa minggu.Uang muka dari Tuan Hayes kelewat banyak. Mira seharusnya tidak menerima uang lagi setelah kontrak senandung itu berakhir. Ia merasa tidak enak hati karena biaya rumah sakit Kian saja bukan jumlah yang sedikit.Ia bahkan belum bersenandung untuk Hayes.Apa memang... Tuan Hayes sedermawan itu?‘Aku harus bekerja lebih keras lagi,’ janjinya dalam hati.Mira mengambil bibit kacang koro yang dibelinya dan bergegas naik ke kamar rawat Kian. Pagi itu, Mira ingin memastikan Kian sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke mansion Tuan Hayes.Mira mendorong pintu terbuka dengan senyum mengembang. “Ian Sayang, lihat Ibu beli apa?”Di atas sofa, Kian mendongak penasaran. Dokter sudah memperbolehkannya untuk turun dari ranjang, jadi ia mulai bermain mobil-mobilan di sofa. “Ibu bawa apa?” tanyanya antusias

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   42. Sikap Asli Nathan

    Suasana di dalam rumah kecil itu mendadak sunyi senyap, menyisakan suara detak jam dinding di sudut. Mira terpaku di tempatnya berdiri, menatap Nathan dengan mata membulat tidak percaya.“Nathan...” Mira bersuara lirih, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikan yang muncul. “Kau... kau pasti hanya bercanda 'kan? Iya, 'kan?”Nathan menggeleng, sepasang mata hitamnya memancarkan keseriusan. Tidak ada sedikit pun candaan di sana. “Mira, aku benar-benar ingin tahu apa ada sedikit ruang di hatimu untukku?” suaranya mengecil, terdengar penuh harap.Mira terdiam, untuk sesaat merasa linglung.Nathan mencoba menariknya lebih dekat, tetapi Mira buru-buru melepaskan pergelangannya.Nathan menatap kecewa. “Mira...”“Maaf, Nathan.” Mira memalingkan wajah dan mundur beberapa langkah. “Aku... aku tidak bisa,” bisiknya.Jawaban itu terasa seperti tikaman belati di hati Nathan. Kekecewaan terpampang jelas di wajahnya. Nathan menatap terluka. “Kenapa, Mira? Kenapa kau tidak bisa? Apa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status