LOGINMira menghirup napas panjang merasakan angin pagi yang menerpa. Segar dan dingin. Untuk pertama kalinya setelah dua minggu, ia keluar menjelahi halaman belakang rumah.
Kakinya berhenti di dekat kolam ikan koi dan ia duduk di salah satu bangku. Ia harap berdiam di sana bisa menenangkan pikirannya, tetapi rupanya tidak. Pikirannya terus tertuju ke pertemuan kemarin. Dokter Eva—dokter keluarga Hayes telah datang untuk memeriksanya. Mira diperintahkan untuk mengikuti sebuah program kehamilan. Dengan begitu, peluang ia hamil anak laki-laki akan sangat besar. Hayes menginginkan anak laki-laki. Seorang pewaris. Mira menghela napas berat mengingat pria itu Hayes. Suaminya. Rasanya panggilan itu sangat tidak tepat. Hayes sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai istrinya, meskipun mereka menikah secara sah. Ia bahkan tidak tahu apa-apa soal Hayes. Mereka hanya tinggal di bawah satu atap, tanpa adanya obrolan selayaknya suami-istri. Lalu... begitu anaknya lahir, ia harus pergi sejauh mungkin. Mira menunduk muram dan menyentuh perutnya dengan tatapan sendu. Jika suatu hari nanti ia benar-benar hamil, apakah ia sungguh sanggup untuk meninggalkan bayinya sendiri? *** “Selamat datang Pak Wira. Saya senang Anda akhirnya bisa datang ke sini.” Katie menyambut kedatangan pria paruh baya itu dengan senyum sumringah. Dia adalah pengacara sekaligus asisten kepercayaan mendiang suaminya. Pagi ini, Wira datang untuk membicarakan pembagian warisan. “Maafkan saya, Nyonya Katie. Saya seharusnya datang tepat setelah pernikahan Tuan Hayes, tapi saya ada keperluan mendadak yang tidak bisa diundur,” kata Wira dengan suara menyesal. Katie mengibaskan tangannya dengan santai. “Tidak masalah, Pak Wira. Lagi pula, kami juga tidak terburu-buru.” Pak Wira mengangguk dengan senyum tipis. Katie membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan sang pengacara untuk masuk. Di saat bersamaan, Hayes baru turun dari lantai dua. “Oh Hayes Nak, ayo kemari. Pak Wira sudah datang,” panggil Katie, hampir tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Hayes ingin mendengus, tetapi dengan cepat menyembunyikan kekesalannya. Ia mendekat dan menyalami Pak Wira. Mereka semua lantas duduk di sofa ruang tamu. Pak Wira tanpa banyak bicara membuka tas yang dibawanya, lalu mengeluarkan surat wasiat Harlan. “Baiklah, sesuai pesan dari Tuan Harlan, pembagian warisan yang pertama akan dilakukan setelah Anda—Tuan Hayes menikah. Lalu pembagian warisan kedua setelah Anda memiliki pewaris,” mulai Wira, memperjelas. “Karena Tuan Hayes belum memiliki anak, jadi saya hanya akan membagi warisan yang pertama.” Hayes dan Katie mengangguk. Katie sudah tidak sabar untuk mendapatkan aset rumah dan perusahaan ini. Ia sudah menunggu begitu lama dengan terus merawat Harlan yang sakit, jadi bagiannya pasti jauh lebih besar. Wira menatap keduanya dan melanjutkan, “Yang pertama, Tuan Hayes Arsenio mendapatkan aset rumah ini beserta isi di dalamnya, perusahaan Arsenio Manufaktur, dan resort keluarga Arsenio. Sementara itu, Nyonya Katie hanya mendapatkan sebidang tanah seluas 100 meter persegi dan dua mobil.” Kalimat terakhir seperti tamparan keras untuk Katie. Ia mengerjap, berharap pendengarannya bermasalah. “Apa? Pak Wira, tolong ulangi sekali lagi. Saya hanya mendapat apa?” “Anda hanya mendapat sebidang tanah seluas 100 meter persegi dan dua mobil, Nyonya,” ulang Pak Wira. Katie tercengang di tempat, kepalanya menggeleng keras. “Tidak, Anda pasti salah Pak Wira. Bukankah saya seharusnya mendapat 60 sampai 70 persen dari warisan itu? Kenapa malah Hayes yang mendapat 98 persen warisan?” Pak Wira berdeham. “Saya tidak salah, Nyonya. Ini memang wasiat yang disampaikan oleh mendiang Tuan Harlan.” “Tapi Harlan berjanji akan memberiku aset rumah dan sebagian saham perusahaan!” Katie nyaris menjerit. “Awalnya begitu, tapi menjelang kematiannya, Tuan Harlan berubah pikiran,” jelas Pak Wira. Kemudian, ekspresinya terlihat heran. “Bukankah Anda seharusnya sudah tahu hal ini, Nyonya? Tuan Hayes sendiri sudah tahu perubahan ini. Bukan begitu, Tuan?” Hayes mengangguk dengan seringai tipis. Seringai yang terlihat mengejek. Katie menyipitkan matanya. Ia langsung sadar bahwa ia telah dibohongi. Hayes sengaja tidak memberitahunya tentang perubahan warisan itu, dengan begitu ia tidak bisa membujuk Harlan untuk mengubahnya lagi. Apa itu sebabnya Hayes setuju saja dengan rencananya untuk menikahi gadis pilihannya? Padahal dia selalu menentangnya? Karena mau bagaimana pun juga, dia sudah tahu kalau warisan itu akan jatuh ke tangannya. Sementara ia... Ia dengan bodohnya berbangga diri karena mengira warisan itu akan diberikan padanya. Katie mengepalkan tangannya. Darahnya terasa mendidih memikirkan itu. Ia menatap Hayes dan seringai putra tirinya itu melebar. Tatapan matanya seolah mengatakan: ‘Kau pikir aku tidak tahu rencana busukmu untuk mengambil seluruh harta ayahku?’ Dari awal, Hayes sudah tahu apa niat Katie. Wanita licik yang telah merebut ayahnya dari ibunya, sampai-sampai ibunya depresi dan bunuh diri dengan meminum racun. Dia berpura-pura bersikap baik beberapa minggu terakhir. Dia bahkan bersusah payah mencarikan calon istri untuknya. Hayes sudah tahu rencana Katie yang sudah tidak sabar untuk menerima warisan, jadi ia setuju saja. Katie tidak tahu bahwa sebelum meninggal, Hayes telah mendesak ayahnya untuk merubah isi warisan itu. Sekarang, sungguh menyenangkan melihat wajah syok dan kecewa wanita matrealistis itu. Katie menatap penuh kebencian. Amarah berkobar dalam matanya. Namun, Hayes justru terlihat semakin puas. Bagi Hayes, Katie dan gadis yang dibawanya itu sama saja. Dua wanita licik yang berpura-pura bersikap lugu hanya untuk mengeruk harta. Tidak akan Hayes biarkan gadis bernama Sora itu menipunya dengan wajahnya yang sok polos. “Saya rasa semuanya sudah jelas? Silakan tanda tangan,” kata Pak Wira kemudian. Hayes menandatangani berkasnya dengan cepat, sementara tangan Katie terlihat gemetar karena menahan emosi. Pak Wira lalu berpamitan pergi. Begitu pintu ditutup, Hayes bersedekap dada dan menatap ibu tirinya dengan tatapan menghina. “Tampaknya rencanamu tidak berhasil, Ibu?” “Kau—” Katie menggeram dan memelototi Hayes. “Dasar anak keparat!” Hayes tertawa. “Terserah kau mau memanggilku apa. Yang jelas, sampai kapan pun, kau tidak akan pernah mendapatkan harta ayahku!” “Kau pikir—” Ucapan Katie terputus saat Hayes mendadak berdiri. Seringainya menghilang, tatapannya setajam pisau. “Kau bukan siapa-siapa di rumah ini, hanya benalu yang menumpang hidup. Segera setelah gadis itu melahirkan anakku, kau harus pergi meninggalkan rumah ini bersamanya.” Hayes tak menunggu respons Katie dan berjalan ke pintu utama. Ia menuju garasi, lalu tancap gas menuju kantor. “Sial!” Katie menjerit kesal. Ia meraih bantal sofa dan membantingnya ke lantai. Segala sumpah serapah keluar dari mulutnya. Dadanya naik turun dengan cepat karena emosi yang membumbung tinggi. “Kau pikir kau bisa menyingkirkanku, hah?! Anak keparat!” Katie bergegas menuju kamarnya dan meraih sebuah botol kecil dari dalam laci. Sepatu hak tingginya menubruk lantai dengan keras saat dia bergegas ke lantai dua, menuju kamar Mira. Mira baru selesai mandi ketika pintu kamarnya dibanting terbuka. Katie berdiri di sana. Wajahnya memerah, tubuhnya tegang. Matanya jelas memancarkan amarah yang tak tertahankan. Belum pernah Mira melihat Katie semarah itu. Katie berjalan cepat menghampirinya. “Ambil ini,” katanya, meraih tangan Mira dan memberikan sebuah botol kaca. Mira menatap botol kecil di tangannya dengan bingung. Ukurannya hanya segenggam tangannya. Di dalamnya, terdapat cairan hitam pekat. “Apa ini, Nyonya?” “Racun.” Mira terkesiap. Namun Katie tidak memberinya waktu untuk bicara, dia maju selangkah dan berbisik rendah, “Tuangkan racun itu ke kopi Hayes, sedikit demi sedikit. Aku ingin kau menghabisinya,” perintahnya tajam. Mira langsung mundur dengan wajah ngeri, tetapi Katie menahan tangannya. “Kalau kau bisa melakukannya, maka aku akan menyelamatkan ibumu. Kau tahu? Ibumu sedang sekarat dan ayahmu sama sekali tidak peduli padanya.” Mira gemetar hebat, pikirannya berkecamuk. “Ta—tapi—” “Atau kau lebih suka melihat ibumu mati dengan mengenaskan?” ancam Katie. Mira hanya bisa gemetar, tidak tahu harus melakukan apa. Katie menyeringai keji. “Aku memberimu waktu seminggu. Kalau kau gagal, bukan hanya ibumu yang mati mengenaskan, tapi kau juga akan berakhir di rumah bordil.” Katie langsung melangkah pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan Mira yang pucat pasi di tempat. Mira meremas botol kaca di tangannya, perasaannya kacau balau. Apa yang harus ia lakukan?6 tahun kemudian. “Ibu, sebenarnya ayah di mana?” Mira yang sedang mencuci piring langsung terdiam mendengar ucapan putranya. Ia menoleh, menatap Kian yang duduk di lantai. Matanya yang bulat memancarkan rasa penasaran yang tinggi. “Sayang, kenapa tiba-tiba menanyakan itu?” tanya Mira dengan suara tertahan. Ia mencuci tangannya dan menghampiri Kian. “Ibu sudah bilang kalau ayahmu sedang pergi ke tempat yang jauh. Dia akan kembali kalau waktunya sudah tepat.” Jawaban itu sama sekali tidak bisa menyenangkan hati seorang anak kecil berusia 6 tahun. Kian begitu merindukan sosok ayahnya, tetapi jawaban ibunya selalu sama. Kian menatap ibunya dengan bibir cemberut. “Semua orang di sekolah punya ayah. Cuma Ian yang tidak punya.” Hati Mira mencelos sedih. Ia mengelus kepala anaknya, merasa kebingungan untuk menjelaskan apa lagi. Ia sudah membohongi Kian, mengatakan bahwa ayahnya pasti akan kembali. Padahal kenyataannya, Hayes tidak akan pernah mengakui keberadaan keduanya. Sej
Hayes berdiri diam di ambang pintu kamar Sora. Tatapannya terarah ke sang istri yang tidur meringkuk di tepi kasur. Sora telah menyelamatkan hidupnya pagi tadi. Sesuatu yang tidak pernah Hayes bayangkan akan terjadi. Ia selalu menganggap Sora sebagai gadis licik yang hanya menginginkan hartanya, tetapi apa yang terjadi hari ini berhasil mematahkan asumsinya itu. Sora seharusnya meninggalkannya begitu saja, mengingat sikap Hayes yang selalu kasar. Namun, dia memilih tinggal dan menenangkannya yang hampir kehilangan kesadaran karena kejang. Hayes merasa tersentuh. Ia masih ingat betapa tenang dan hangatnya hatinya saat Sora bersenandung. Itu semua mengingatkannya pada kenangan tentang ibunya. Hayes sadar bahwa Sora adalah gadis yang tulus. Rasa bersalah terasa memukul Hayes. Malam-malam saat ia menyakiti Sora dan memperlakukannya sebagai perempuan tidak berharga—ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Matanya bergerak memperhatikan tubuh Sora yang kecil dan kurus. Dia ter
“Tuan, apakah saya harus membatalkan pertemuan hari ini dan besok?” “Ya, batalkan.” “Baik, Tuan.” Hayes menghela napas dan memutuskan sambungan telepon. Ia meraih seloki di atas meja, lalu menenggak isinya sampai habis. Pikirannya mulai terasa melayang-layang, tetapi kenangan pahit itu masih saja muncul di kepalanya. Hayes menuangkan lebih banyak anggur ke gelasnya, kemudian menenggaknya seperti orang kehausan. Kepalanya mulai terasa pusing, tetapi tetap saja kejadian buruk itu terus bercokol di pikirannya. Bayangan ketika ia menemukan ibunya sekarat... racun yang berceceran di lantai... dan rasa sakit yang terpancar di mata ibunya... Semua itu terus berputar di benaknya. Hayes mencengkeram tepi meja dan berusaha untuk menenangkan diri, tetapi pikirannya tidak mau bekerja sama. Besok adalah peringatan hari kematian ibunya dan di sanalah mimpi buruknya dimulai. Hayes mulai menangis. Pikiran buruk di kepalanya semakin tak tertahankan. Hayes berusaha berdiri untuk men
Mira menghirup napas panjang merasakan angin pagi yang menerpa. Segar dan dingin. Untuk pertama kalinya setelah dua minggu, ia keluar menjelahi halaman belakang rumah. Kakinya berhenti di dekat kolam ikan koi dan ia duduk di salah satu bangku. Ia harap berdiam di sana bisa menenangkan pikirannya, tetapi rupanya tidak. Pikirannya terus tertuju ke pertemuan kemarin. Dokter Eva—dokter keluarga Hayes telah datang untuk memeriksanya. Mira diperintahkan untuk mengikuti sebuah program kehamilan. Dengan begitu, peluang ia hamil anak laki-laki akan sangat besar. Hayes menginginkan anak laki-laki. Seorang pewaris. Mira menghela napas berat mengingat pria itu Hayes. Suaminya. Rasanya panggilan itu sangat tidak tepat. Hayes sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai istrinya, meskipun mereka menikah secara sah. Ia bahkan tidak tahu apa-apa soal Hayes. Mereka hanya tinggal di bawah satu atap, tanpa adanya obrolan selayaknya suami-istri. Lalu... begitu anaknya lahir, ia harus perg
Pernikahan Mira dan Hayes berlangsung singkat tanpa apa pun. Tidak ada pesta atau sesi foto. Setelah penghulu menyatakan bahwa keduanya telah sah menjadi suami-istri, para saksi membubarkan diri. Mira menatap ruangan mewah di sekelilingnya dan menghela napas. Ia tidak mengerti kenapa mereka harus pergi ke gedung semewah ini untuk pernikahan yang berlangsung kurang dari 30 menit. Mungkin memang benar kalau orang kaya suka menghambur-hamburkan uang. Pandangan Mira beralih ke sudut ruangan. Di sana, Katie terlihat sedang bicara dengan seseorang di telepon. Sementara itu, Hayes terlihat bosan menunggu di sofa yang berseberangan dengannya. Mira melirik. Di saat bersamaan, Hayes ikut melirik. Dia lalu menatap Mira terang-terangan, dengan tatapan tidak suka yang sama. Mira cepat-cepat memalingkan muka. Hinaan Hayes sebelumnya kembali terngiang-ngiang. ‘... Bagiku, kau hanyalah wanita miskin tidak tahu diri yang menginginkan hartaku...’ Hayes membencinya. Padahal, bukan Mira
Hayes menelan habis obatnya setelah sarapan. Ia menggerakkan tangannya yang kaku sambil memikirkan kejang yang baru ia alami. Ia pikir kondisinya telah membaik, tetapi setiap kali mimpi buruk itu datang, kejangnya kembali kambuh. Hayes menderita radang otak yang berbeda dari biasanya. Ingatannya sangat parah. Jika ia tidak melihat seseorang dalam kurun waktu sebulan, maka ia akan langsung melupakan wajah orang itu. Sekalipun itu keluarganya, teman dekatnya, atau koleganya. Kenangan tentang orang itu masih tertinggal di pikirannya, tetapi sulit untuk mengingat bagaimana rupanya. Rasanya seperti melihat gambar yang diblur berulang kali. Ketika gejalanya kambuh, maka ia akan mengalami kejang hingga sakit kepala yang tak tertahankan. Terkadang sampai kesadarannya hilang total. Ia sudah berobat sejak umur 20 tahun, tetapi penyakitnya terus menetap. Mulai saat itu, Hayes terus mencatat dan mengumpulkan foto semua orang atau hal-hal yang sangat penting dalam hidupnya. Hanya den







