Share

03. Sekadar Pemuas Nafsu

Author: rainaxdays
last update publish date: 2026-08-20 14:05:08

Pernikahan Mira dan Hayes berlangsung singkat tanpa apa pun.

Tidak ada pesta atau sesi foto. Setelah penghulu menyatakan bahwa keduanya telah sah menjadi suami-istri, para saksi membubarkan diri.

Mira menatap ruangan mewah di sekelilingnya dan menghela napas. Ia tidak mengerti kenapa mereka harus pergi ke gedung semewah ini untuk pernikahan yang berlangsung kurang dari 30 menit.

Mungkin memang benar kalau orang kaya suka menghambur-hamburkan uang.

Pandangan Mira beralih ke sudut ruangan. Di sana, Katie terlihat sedang bicara dengan seseorang di telepon. Sementara itu, Hayes terlihat bosan menunggu di sofa yang berseberangan dengannya.

Mira melirik. Di saat bersamaan, Hayes ikut melirik. Dia lalu menatap Mira terang-terangan, dengan tatapan tidak suka yang sama.

Mira cepat-cepat memalingkan muka. Hinaan Hayes sebelumnya kembali terngiang-ngiang.

‘... Bagiku, kau hanyalah wanita miskin tidak tahu diri yang menginginkan hartaku...’

Hayes membencinya.

Padahal, bukan Mira yang menginginkan pernikahan ini. Tidak pernah sekalipun terbersit di pikirannya tentang harta Hayes. Ia hanya dibawa di sini setelah dibeli tanpa bisa menolak.

Ia bahkan tidak tahu bagaimana nasibnya di masa depan.

Apakah orang miskin memang serendah itu di mata orang kaya?

Mira menunduk dan menekan tangannya ke paha.

“Sora.”

Suara Katie terdengar memanggil.

Mira mendongak. Katie sudah berada di hadapannya dan mengisyaratkannya untuk berdiri.

“Ayo kembali. Semuanya sudah selesai,” kata Katie, tersenyum lebar. Matanya tampak bersinar puas. Ia menatap Hayes dan Mira secara bergantian. “Tentu saja sebagai pengantin baru, kalian berdua akan pulang bersama. Aku akan singgah di suatu tempat, jadi nikmati waktu kalian di rumah.”

Hayes tidak mengatakan apa-apa. Katie sudah berjalan menjauh dengan langkah ringan, tampak sangat bahagia. Sangat kontras dengan Hayes yang terlihat kesal.

Sejak melihat interaksi keduanya pagi tadi, Mira menyadari kalau hubungan Hayes dan ibu tirinya tidak akur.

“Ayo,” panggil Hayes dengan suara tak acuh.

Mira buru-buru mengikuti. Hayes menyusuri koridor gedung dengan langkah lebar, sampai Mira harus berlari-lari kecil dengan kakinya yang pendek.

Mereka masuk ke mobil dan supir mengantar keduanya kembali ke mansion. Sepanjang perjalanan, pandangan Hayes terus terarah ke luar jendela.

Hening.

Suasana di dalam mobil begitu sunyi. Hayes memilih diam, sementara Mira terlalu takut untuk memulai pembicaraan.

Keheningan itu berlanjut sampai mereka tiba di mansion.

Mira hendak berbelok ke kamar yang ia tempati sebelumnya, tetapi Hayes menahannya.

“Kau tidak lagi tinggal di sana. Ikut denganku.”

Hayes tidak memberi penjelasan lebih lanjut dan melangkah ke lantai dua. Mira segera mengikuti dengan bingung.

Mereka menyusuri lorong panjang dan tiba di ruangan paling ujung. Hayes membuka pintu, lalu mengisyaratkan Mira untuk masuk.

Begitu keduanya berada di dalam, Hayes mengunci pintu.

Mira berbalik menghadap pria itu, hanya untuk mendengar dua kata mengejutkan.

“Lepas pakaianmu.”

Mira terhenyak. Ia menatap Hayes dengan mata membelalak. “A-apa?”

“Lepaskan pakaianmu sekarang. Semuanya, dari ujung kepala sampai kaki,” ulang Hayes, suaranya terdengar tanpa emosi. Dia mulai melepas jas dan dasinya.

Mira masih terpaku di tempatnya—syok. “Tapi—”

“Apa kau lupa tugasmu di sini?” Hayes memotong dengan dingin. Ia melepas kancing kemejanya sebelum mendekati Mira.

Mira terus mundur sampai punggungnya menyentuh dinding. Hayes berhenti di hadapannya, mengurungnya dengan tubuhnya yang kekar dan tinggi. Aroma tubuhnya menguar; aroma pinus yang segar dan tajam.

Hayes menunduk. “Tugasmu di sini hanya satu—kau hanya perlu memberiku pewaris,” bisiknya. Napasnya beraroma anggur, berembus menerpa bibir Mira.

Mira menelan ludah susah payah. Debaran jantungnya mulai menggila. Tatapan intens Hayes tak lepas dari wajahnya dan ia kesulitan untuk berpikir.

“Tapi—tapi saya—” Mira terbata-bata, kesulitan melanjutkan kata-katanya. “Saya belum—”

“Lebih cepat lebih baik. Aku tidak ingin kau tinggal lebih lama di rumah ini.” Hayes berbisik kasar. Tatapannya tajam menusuk.

Ucapan Hayes sekali lagi merobek hati Mira.

Dengan tangan gemetar, Mira mulai melepas gaunnya. Hayes mundur dan mata abu-abunya tampak berkilat. Dia terus menatap Mira sampai tubuh gadis itu tak lagi dibalut apa pun.

Mira menunduk dan menyatukan tangannya dengan malu. Kulitnya memerah sebadan-badan. Belum pernah ia telanjang seperti ini di depan orang lain.

Ia meremat tangannya, merasa ingin melarikan diri dari ruangan ini.

Hayes menatapnya tanpa berkedip. Ekspresinya sedikit berubah melihat luka memar bekas pukulan di sekujur tubuh Mira. Hanya beberapa detik, sebelum ekspresinya kembali mengeras.

“Berbaring di tempat tidur,” perintahnya kemudian.

Mira menurut tanpa kata. Lagi pula, percuma ia membantah. Ia telah dibeli dan tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah hal itu.

Rasanya menyedihkan.

Mira berbaring di kasur sambil terus menatap dinding. Mencoba menguatkan diri.

Hayes melepas kemejanya dan merangkak naik ke tempat tidur. Tangannya menekan kasur saat dia menunduk dan berbisik di depan wajah Mira, “Sudah berapa banyak pria yang memasukimu?” nadanya penuh hinaan.

Mira menggigit bibir bawahnya dan memalingkan muka. “Sa-saya masih perawan, Tuan.”

Hayes mendecih tidak percaya. Tanpa basa-basi, tangannya turun ke pusat tubuh Mira.

Mira memekik, terkejut, dan spontan mencengkeram pundak Hayes. “Ahh...”

Pandangan Hayes menggelap. Tangannya bergerak lebih jauh dan Mira menggigit bibir, menahan desahan yang ingin lolos.

Hayes menyentuhnya dengan kasar. Belaian tangannya terasa seperti pelampiasan akan kekesalannya. Namun, ketika dia menyadari bahwa Mira memang masih perawan dan kesakitan, gerakannya sedikit melembut.

Terlalu lembut.

Rasa perih di pusat tubuh Mira perlahan berubah menjadi kenikmatan yang tak pernah ia bayangkan.

Ia meremas kuat seprai di bawahnya, sementara Hayes bergerak liar di atasnya. Tetes-tetes keringat dari tubuhnya jatuh mengenai Mira. Mata abu-abunya tak lepas dari wajah Mira yang mendesah tak karuan. Gairah sepenuhnya mengambil alih—membakar keduanya.

Ruangan itu dipenuhi oleh rintihan dan erangan keduanya.

Mira mencengkeram seprai lebih erat saat gelombang orgasme menerpa keduanya.

Hayes mengerang rendah dan menumpahkan benihnya ke dalam tubuh Mira. Setelahnya, dia segera menjauh, lalu mengambil pakaiannya.

Tanpa kata, dia melangkah keluar dari kamar. Pintu dibanting tertutup.

Mira meringkuk dan membenamkan wajahnya ke bantal. Terisak dalam diam.

Hubungan intim tanpa cinta itu berulang sampai seminggu. Hayes hanya datang untuk menyentuhnya, kemudian pergi meninggalkannya tanpa kata.

Mira hampir tidak pernah berbicara dengannya.

Kehadirannya di rumah ini, tak lebih dari sekadar pemuas nafsu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   07. Kehidupan Baru Mira dan Putranya

    6 tahun kemudian. “Ibu, sebenarnya ayah di mana?” Mira yang sedang mencuci piring langsung terdiam mendengar ucapan putranya. Ia menoleh, menatap Kian yang duduk di lantai. Matanya yang bulat memancarkan rasa penasaran yang tinggi. “Sayang, kenapa tiba-tiba menanyakan itu?” tanya Mira dengan suara tertahan. Ia mencuci tangannya dan menghampiri Kian. “Ibu sudah bilang kalau ayahmu sedang pergi ke tempat yang jauh. Dia akan kembali kalau waktunya sudah tepat.” Jawaban itu sama sekali tidak bisa menyenangkan hati seorang anak kecil berusia 6 tahun. Kian begitu merindukan sosok ayahnya, tetapi jawaban ibunya selalu sama. Kian menatap ibunya dengan bibir cemberut. “Semua orang di sekolah punya ayah. Cuma Ian yang tidak punya.” Hati Mira mencelos sedih. Ia mengelus kepala anaknya, merasa kebingungan untuk menjelaskan apa lagi. Ia sudah membohongi Kian, mengatakan bahwa ayahnya pasti akan kembali. Padahal kenyataannya, Hayes tidak akan pernah mengakui keberadaan keduanya. Sej

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   06. Positif Hamil

    Hayes berdiri diam di ambang pintu kamar Sora. Tatapannya terarah ke sang istri yang tidur meringkuk di tepi kasur. Sora telah menyelamatkan hidupnya pagi tadi. Sesuatu yang tidak pernah Hayes bayangkan akan terjadi. Ia selalu menganggap Sora sebagai gadis licik yang hanya menginginkan hartanya, tetapi apa yang terjadi hari ini berhasil mematahkan asumsinya itu. Sora seharusnya meninggalkannya begitu saja, mengingat sikap Hayes yang selalu kasar. Namun, dia memilih tinggal dan menenangkannya yang hampir kehilangan kesadaran karena kejang. Hayes merasa tersentuh. Ia masih ingat betapa tenang dan hangatnya hatinya saat Sora bersenandung. Itu semua mengingatkannya pada kenangan tentang ibunya. Hayes sadar bahwa Sora adalah gadis yang tulus. Rasa bersalah terasa memukul Hayes. Malam-malam saat ia menyakiti Sora dan memperlakukannya sebagai perempuan tidak berharga—ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Matanya bergerak memperhatikan tubuh Sora yang kecil dan kurus. Dia ter

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   05. Trauma Hayes

    “Tuan, apakah saya harus membatalkan pertemuan hari ini dan besok?” “Ya, batalkan.” “Baik, Tuan.” Hayes menghela napas dan memutuskan sambungan telepon. Ia meraih seloki di atas meja, lalu menenggak isinya sampai habis. Pikirannya mulai terasa melayang-layang, tetapi kenangan pahit itu masih saja muncul di kepalanya. Hayes menuangkan lebih banyak anggur ke gelasnya, kemudian menenggaknya seperti orang kehausan. Kepalanya mulai terasa pusing, tetapi tetap saja kejadian buruk itu terus bercokol di pikirannya. Bayangan ketika ia menemukan ibunya sekarat... racun yang berceceran di lantai... dan rasa sakit yang terpancar di mata ibunya... Semua itu terus berputar di benaknya. Hayes mencengkeram tepi meja dan berusaha untuk menenangkan diri, tetapi pikirannya tidak mau bekerja sama. Besok adalah peringatan hari kematian ibunya dan di sanalah mimpi buruknya dimulai. Hayes mulai menangis. Pikiran buruk di kepalanya semakin tak tertahankan. Hayes berusaha berdiri untuk men

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   04. Racun

    Mira menghirup napas panjang merasakan angin pagi yang menerpa. Segar dan dingin. Untuk pertama kalinya setelah dua minggu, ia keluar menjelahi halaman belakang rumah. Kakinya berhenti di dekat kolam ikan koi dan ia duduk di salah satu bangku. Ia harap berdiam di sana bisa menenangkan pikirannya, tetapi rupanya tidak. Pikirannya terus tertuju ke pertemuan kemarin. Dokter Eva—dokter keluarga Hayes telah datang untuk memeriksanya. Mira diperintahkan untuk mengikuti sebuah program kehamilan. Dengan begitu, peluang ia hamil anak laki-laki akan sangat besar. Hayes menginginkan anak laki-laki. Seorang pewaris. Mira menghela napas berat mengingat pria itu Hayes. Suaminya. Rasanya panggilan itu sangat tidak tepat. Hayes sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai istrinya, meskipun mereka menikah secara sah. Ia bahkan tidak tahu apa-apa soal Hayes. Mereka hanya tinggal di bawah satu atap, tanpa adanya obrolan selayaknya suami-istri. Lalu... begitu anaknya lahir, ia harus perg

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   03. Sekadar Pemuas Nafsu

    Pernikahan Mira dan Hayes berlangsung singkat tanpa apa pun. Tidak ada pesta atau sesi foto. Setelah penghulu menyatakan bahwa keduanya telah sah menjadi suami-istri, para saksi membubarkan diri. Mira menatap ruangan mewah di sekelilingnya dan menghela napas. Ia tidak mengerti kenapa mereka harus pergi ke gedung semewah ini untuk pernikahan yang berlangsung kurang dari 30 menit. Mungkin memang benar kalau orang kaya suka menghambur-hamburkan uang. Pandangan Mira beralih ke sudut ruangan. Di sana, Katie terlihat sedang bicara dengan seseorang di telepon. Sementara itu, Hayes terlihat bosan menunggu di sofa yang berseberangan dengannya. Mira melirik. Di saat bersamaan, Hayes ikut melirik. Dia lalu menatap Mira terang-terangan, dengan tatapan tidak suka yang sama. Mira cepat-cepat memalingkan muka. Hinaan Hayes sebelumnya kembali terngiang-ngiang. ‘... Bagiku, kau hanyalah wanita miskin tidak tahu diri yang menginginkan hartaku...’ Hayes membencinya. Padahal, bukan Mira

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   02. Calon Suami Kejam dan Dingin

    Hayes menelan habis obatnya setelah sarapan. Ia menggerakkan tangannya yang kaku sambil memikirkan kejang yang baru ia alami. Ia pikir kondisinya telah membaik, tetapi setiap kali mimpi buruk itu datang, kejangnya kembali kambuh. Hayes menderita radang otak yang berbeda dari biasanya. Ingatannya sangat parah. Jika ia tidak melihat seseorang dalam kurun waktu sebulan, maka ia akan langsung melupakan wajah orang itu. Sekalipun itu keluarganya, teman dekatnya, atau koleganya. Kenangan tentang orang itu masih tertinggal di pikirannya, tetapi sulit untuk mengingat bagaimana rupanya. Rasanya seperti melihat gambar yang diblur berulang kali. Ketika gejalanya kambuh, maka ia akan mengalami kejang hingga sakit kepala yang tak tertahankan. Terkadang sampai kesadarannya hilang total. Ia sudah berobat sejak umur 20 tahun, tetapi penyakitnya terus menetap. Mulai saat itu, Hayes terus mencatat dan mengumpulkan foto semua orang atau hal-hal yang sangat penting dalam hidupnya. Hanya den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status