MasukPernikahan Mira dan Hayes berlangsung singkat tanpa apa pun.
Tidak ada pesta atau sesi foto. Setelah penghulu menyatakan bahwa keduanya telah sah menjadi suami-istri, para saksi membubarkan diri. Mira menatap ruangan mewah di sekelilingnya dan menghela napas. Ia tidak mengerti kenapa mereka harus pergi ke gedung semewah ini untuk pernikahan yang berlangsung kurang dari 30 menit. Mungkin memang benar kalau orang kaya suka menghambur-hamburkan uang. Pandangan Mira beralih ke sudut ruangan. Di sana, Katie terlihat sedang bicara dengan seseorang di telepon. Sementara itu, Hayes terlihat bosan menunggu di sofa yang berseberangan dengannya. Mira melirik. Di saat bersamaan, Hayes ikut melirik. Dia lalu menatap Mira terang-terangan, dengan tatapan tidak suka yang sama. Mira cepat-cepat memalingkan muka. Hinaan Hayes sebelumnya kembali terngiang-ngiang. ‘... Bagiku, kau hanyalah wanita miskin tidak tahu diri yang menginginkan hartaku...’ Hayes membencinya. Padahal, bukan Mira yang menginginkan pernikahan ini. Tidak pernah sekalipun terbersit di pikirannya tentang harta Hayes. Ia hanya dibawa di sini setelah dibeli tanpa bisa menolak. Ia bahkan tidak tahu bagaimana nasibnya di masa depan. Apakah orang miskin memang serendah itu di mata orang kaya? Mira menunduk dan menekan tangannya ke paha. “Sora.” Suara Katie terdengar memanggil. Mira mendongak. Katie sudah berada di hadapannya dan mengisyaratkannya untuk berdiri. “Ayo kembali. Semuanya sudah selesai,” kata Katie, tersenyum lebar. Matanya tampak bersinar puas. Ia menatap Hayes dan Mira secara bergantian. “Tentu saja sebagai pengantin baru, kalian berdua akan pulang bersama. Aku akan singgah di suatu tempat, jadi nikmati waktu kalian di rumah.” Hayes tidak mengatakan apa-apa. Katie sudah berjalan menjauh dengan langkah ringan, tampak sangat bahagia. Sangat kontras dengan Hayes yang terlihat kesal. Sejak melihat interaksi keduanya pagi tadi, Mira menyadari kalau hubungan Hayes dan ibu tirinya tidak akur. “Ayo,” panggil Hayes dengan suara tak acuh. Mira buru-buru mengikuti. Hayes menyusuri koridor gedung dengan langkah lebar, sampai Mira harus berlari-lari kecil dengan kakinya yang pendek. Mereka masuk ke mobil dan supir mengantar keduanya kembali ke mansion. Sepanjang perjalanan, pandangan Hayes terus terarah ke luar jendela. Hening. Suasana di dalam mobil begitu sunyi. Hayes memilih diam, sementara Mira terlalu takut untuk memulai pembicaraan. Keheningan itu berlanjut sampai mereka tiba di mansion. Mira hendak berbelok ke kamar yang ia tempati sebelumnya, tetapi Hayes menahannya. “Kau tidak lagi tinggal di sana. Ikut denganku.” Hayes tidak memberi penjelasan lebih lanjut dan melangkah ke lantai dua. Mira segera mengikuti dengan bingung. Mereka menyusuri lorong panjang dan tiba di ruangan paling ujung. Hayes membuka pintu, lalu mengisyaratkan Mira untuk masuk. Begitu keduanya berada di dalam, Hayes mengunci pintu. Mira berbalik menghadap pria itu, hanya untuk mendengar dua kata mengejutkan. “Lepas pakaianmu.” Mira terhenyak. Ia menatap Hayes dengan mata membelalak. “A-apa?” “Lepaskan pakaianmu sekarang. Semuanya, dari ujung kepala sampai kaki,” ulang Hayes, suaranya terdengar tanpa emosi. Dia mulai melepas jas dan dasinya. Mira masih terpaku di tempatnya—syok. “Tapi—” “Apa kau lupa tugasmu di sini?” Hayes memotong dengan dingin. Ia melepas kancing kemejanya sebelum mendekati Mira. Mira terus mundur sampai punggungnya menyentuh dinding. Hayes berhenti di hadapannya, mengurungnya dengan tubuhnya yang kekar dan tinggi. Aroma tubuhnya menguar; aroma pinus yang segar dan tajam. Hayes menunduk. “Tugasmu di sini hanya satu—kau hanya perlu memberiku pewaris,” bisiknya. Napasnya beraroma anggur, berembus menerpa bibir Mira. Mira menelan ludah susah payah. Debaran jantungnya mulai menggila. Tatapan intens Hayes tak lepas dari wajahnya dan ia kesulitan untuk berpikir. “Tapi—tapi saya—” Mira terbata-bata, kesulitan melanjutkan kata-katanya. “Saya belum—” “Lebih cepat lebih baik. Aku tidak ingin kau tinggal lebih lama di rumah ini.” Hayes berbisik kasar. Tatapannya tajam menusuk. Ucapan Hayes sekali lagi merobek hati Mira. Dengan tangan gemetar, Mira mulai melepas gaunnya. Hayes mundur dan mata abu-abunya tampak berkilat. Dia terus menatap Mira sampai tubuh gadis itu tak lagi dibalut apa pun. Mira menunduk dan menyatukan tangannya dengan malu. Kulitnya memerah sebadan-badan. Belum pernah ia telanjang seperti ini di depan orang lain. Ia meremat tangannya, merasa ingin melarikan diri dari ruangan ini. Hayes menatapnya tanpa berkedip. Ekspresinya sedikit berubah melihat luka memar bekas pukulan di sekujur tubuh Mira. Hanya beberapa detik, sebelum ekspresinya kembali mengeras. “Berbaring di tempat tidur,” perintahnya kemudian. Mira menurut tanpa kata. Lagi pula, percuma ia membantah. Ia telah dibeli dan tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah hal itu. Rasanya menyedihkan. Mira berbaring di kasur sambil terus menatap dinding. Mencoba menguatkan diri. Hayes melepas kemejanya dan merangkak naik ke tempat tidur. Tangannya menekan kasur saat dia menunduk dan berbisik di depan wajah Mira, “Sudah berapa banyak pria yang memasukimu?” nadanya penuh hinaan. Mira menggigit bibir bawahnya dan memalingkan muka. “Sa-saya masih perawan, Tuan.” Hayes mendecih tidak percaya. Tanpa basa-basi, tangannya turun ke pusat tubuh Mira. Mira memekik, terkejut, dan spontan mencengkeram pundak Hayes. “Ahh...” Pandangan Hayes menggelap. Tangannya bergerak lebih jauh dan Mira menggigit bibir, menahan desahan yang ingin lolos. Hayes menyentuhnya dengan kasar. Belaian tangannya terasa seperti pelampiasan akan kekesalannya. Namun, ketika dia menyadari bahwa Mira memang masih perawan dan kesakitan, gerakannya sedikit melembut. Terlalu lembut. Rasa perih di pusat tubuh Mira perlahan berubah menjadi kenikmatan yang tak pernah ia bayangkan. Ia meremas kuat seprai di bawahnya, sementara Hayes bergerak liar di atasnya. Tetes-tetes keringat dari tubuhnya jatuh mengenai Mira. Mata abu-abunya tak lepas dari wajah Mira yang mendesah tak karuan. Gairah sepenuhnya mengambil alih—membakar keduanya. Ruangan itu dipenuhi oleh rintihan dan erangan keduanya. Mira mencengkeram seprai lebih erat saat gelombang orgasme menerpa keduanya. Hayes mengerang rendah dan menumpahkan benihnya ke dalam tubuh Mira. Setelahnya, dia segera menjauh, lalu mengambil pakaiannya. Tanpa kata, dia melangkah keluar dari kamar. Pintu dibanting tertutup. Mira meringkuk dan membenamkan wajahnya ke bantal. Terisak dalam diam. Hubungan intim tanpa cinta itu berulang sampai seminggu. Hayes hanya datang untuk menyentuhnya, kemudian pergi meninggalkannya tanpa kata. Mira hampir tidak pernah berbicara dengannya. Kehadirannya di rumah ini, tak lebih dari sekadar pemuas nafsu.“Tuan...” Hayes mengangkat tangannya. “Erwin, kau masuklah lebih dulu. Aku akan menyusul,” ujarnya, masih dengan garis-garis senyuman yang enggan hilang dari wajahnya. Tawa Hayes memang telah reda, tetapi binar kebahagiaan itu masih terpancar jelas di matanya yang biasanya tampak kosong dan dingin. “Baik, Tuan.” Erwin tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya menatap Kian selama beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan area parkiran. Hayes berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang besar. Kian ragu-ragu menerima uluran tangannya. “Kau ingin membangun rumah besar seperti ini untuk Ibumu?” tanya Hayes, kembali ke topik mereka semula. Kian langsung mengangguk kepalanya dengan semangat. “Hu'um! Ian ingin membangun rumah yang sangat besar untuk Ibu. Bagaimana caranya, Bapak Yang Terhormat?” Hayes terkekeh pelan mendengar panggilan formal itu. “Bagaimana kalau panggil Paman saja?” “Paman?” “Iya, Paman Hayes.” “Baik, Paman!” Hayes tersenyum dan menarik Kian
“Mira, ini kamarmu. Kau akan tinggal di sini selama dua minggu.” Kepala pelayan menunjuk ruangan di ujung lorong lantai dua. Satu lorong dengan perpustakaan yang ‘seharusnya’ ia bersihkan. “Terima kasih, Bu Ines.” Bu Ines mengangguk singkat. Sejenak, matanya melirik Kian yang terus bersembunyi di belakang Mira. Keningnya berkerut menyadari anak itu tampak takut melihatnya. “Ya sudah, aku menunggumu di bawah,” ucapnya kemudian sebelum berbalik pergi. Mira dan Kian berdiri memperhatikan Bu Ines sampai sosoknya menghilang di belokan. “Ibu, apa itu nenek sihirnya?” tanya Kian, mendongak menatap ibunya dengan takut-takut. “Eh bukan, Sayang.” Mira buru-buru membantah. Ia berlutut, lalu merapikan rambut anaknya. “Ibu itu sangat baik, bukan nenek sihir.” “Jadi di mana nenek sihirnya?” “Nanti biar Bibi Alina sendiri yang perlihatkan, ya?” ujar Mira, hampir menepuk jidatnya sendiri. Seharusnya ia tidak membiarkan Alina merecoki pikiran Kian. Sekarang, Kian pasti akan terus memi
“Ibu, kita mau ke mana?” Kian duduk di atas tikar sambil memperhatikan ibunya yang mengepak pakaian ke dalam tas ransel. Mira menoleh dengan senyum kecil. “Untuk sementara, kita akan pindah ke tempat Ibu bekerja, Sayang. Ibu mendapat pekerjaan tambahan, jadi kita akan tinggal di sana selama dua minggu.” “Apa itu tempat yang Ibu bilang kereta api juga bisa lewat?” tanya Kian ceria, membayangkan rumah besar yang biasa ia lihat di buku dongeng. “Iya, Sayang. Tapi ingat, Kian tidak boleh nakal di sana.” “Siap!” Kian segera memberi hormat. “Ian akan menuruti apa kata Ibu.” Mira tersenyum dan menaikkan ritsleting jaket Kian sampai ke leher. Udara begitu dingin setelah hujan deras mengguyur dini hari tadi. Mira tidak ingin anaknya kembali sakit. “Ayo berangkat, Sayang. Bibi Alina pasti sudah menunggu.” Mira mengambil tasnya dan meraih tangan mungil Kian. Hari ini, Mira sengaja tidak membiarkan Kian ke TK Bintang, mengingat dia baru pulih. Mereka melewati pintu dan Kian menda
Semilir angin pagi menyapu lembut wajah Hayes yang berdiri di dekat jendela. Otaknya terus memutar senandung milik Sora. Senandung yang sama yang akan Mira nyanyikan nanti malam. Untuk ke sekian kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—apa ia sungguh ingin mendengarkan senandung itu setiap malam? Bagaimana kalau perasaan familier itu tak kunjung hilang setelah dua minggu? Bagaimana kalau ia masih melihat Mira seolah ia tengah menatap sosok Sora? Hayes mengusap wajahnya dan melangkah ke sofa. Tepat saat ia duduk, Erwin mengetuk pintu. “Tuan, Nona Audrey sudah tiba.” “Persilakan masuk.” Pintu terbuka lebih lebar, memperlihatkan seorang wanita dalam balutan blazer dan rok pensil selutut. Sepatu hak tingginya mengetuk keramik dengan keras saat dia berjalan ke arah Hayes dengan percaya diri. Audrey Regina. Seorang maestro desain interior yang menguasai pasar kelas atas. Calon kolega bisnis Hayes. Audrey menawarkan kerja sama bisnis begitu melihat potensi dari perusahaan man
Mira menatap sisa uang yang ada di dompetnya. Setelah membayar sebagian utang dan sewa kontrakannya yang menumpuk, ia masih memiliki cukup uang untuk membeli beras dan lauk selama beberapa minggu.Uang muka dari Tuan Hayes kelewat banyak. Mira seharusnya tidak menerima uang lagi setelah kontrak senandung itu berakhir. Ia merasa tidak enak hati karena biaya rumah sakit Kian saja bukan jumlah yang sedikit.Ia bahkan belum bersenandung untuk Hayes.Apa memang... Tuan Hayes sedermawan itu?‘Aku harus bekerja lebih keras lagi,’ janjinya dalam hati.Mira mengambil bibit kacang koro yang dibelinya dan bergegas naik ke kamar rawat Kian. Pagi itu, Mira ingin memastikan Kian sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke mansion Tuan Hayes.Mira mendorong pintu terbuka dengan senyum mengembang. “Ian Sayang, lihat Ibu beli apa?”Di atas sofa, Kian mendongak penasaran. Dokter sudah memperbolehkannya untuk turun dari ranjang, jadi ia mulai bermain mobil-mobilan di sofa. “Ibu bawa apa?” tanyanya antusias
Suasana di dalam rumah kecil itu mendadak sunyi senyap, menyisakan suara detak jam dinding di sudut. Mira terpaku di tempatnya berdiri, menatap Nathan dengan mata membulat tidak percaya.“Nathan...” Mira bersuara lirih, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikan yang muncul. “Kau... kau pasti hanya bercanda 'kan? Iya, 'kan?”Nathan menggeleng, sepasang mata hitamnya memancarkan keseriusan. Tidak ada sedikit pun candaan di sana. “Mira, aku benar-benar ingin tahu apa ada sedikit ruang di hatimu untukku?” suaranya mengecil, terdengar penuh harap.Mira terdiam, untuk sesaat merasa linglung.Nathan mencoba menariknya lebih dekat, tetapi Mira buru-buru melepaskan pergelangannya.Nathan menatap kecewa. “Mira...”“Maaf, Nathan.” Mira memalingkan wajah dan mundur beberapa langkah. “Aku... aku tidak bisa,” bisiknya.Jawaban itu terasa seperti tikaman belati di hati Nathan. Kekecewaan terpampang jelas di wajahnya. Nathan menatap terluka. “Kenapa, Mira? Kenapa kau tidak bisa? Apa







