Compartir

06. Positif Hamil

Autor: rainaxdays
last update Fecha de publicación: 2026-08-20 14:06:11

Hayes berdiri diam di ambang pintu kamar Sora. Tatapannya terarah ke sang istri yang tidur meringkuk di tepi kasur.

Sora telah menyelamatkan hidupnya pagi tadi.

Sesuatu yang tidak pernah Hayes bayangkan akan terjadi. Ia selalu menganggap Sora sebagai gadis licik yang hanya menginginkan hartanya, tetapi apa yang terjadi hari ini berhasil mematahkan asumsinya itu.

Sora seharusnya meninggalkannya begitu saja, mengingat sikap Hayes yang selalu kasar. Namun, dia memilih tinggal dan menenangkannya yang hampir kehilangan kesadaran karena kejang.

Hayes merasa tersentuh.

Ia masih ingat betapa tenang dan hangatnya hatinya saat Sora bersenandung. Itu semua mengingatkannya pada kenangan tentang ibunya.

Hayes sadar bahwa Sora adalah gadis yang tulus.

Rasa bersalah terasa memukul Hayes. Malam-malam saat ia menyakiti Sora dan memperlakukannya sebagai perempuan tidak berharga—ia merasa malu dengan dirinya sendiri.

Matanya bergerak memperhatikan tubuh Sora yang kecil dan kurus. Dia terlihat begitu rapuh. Hayes merasa seperti bajingan tidak tahu diri.

Ragu-ragu, ia mendekat dan menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Sora. Tangannya bergerak menyentuh pipi Sora yang hangat, perlahan-lahan mengusapnya.

Mungkin ia bisa mulai menerima gadis ini.

Mungkin Sora memang lugu dan tidak seperti ibu tirinya yang licik.

“Maafkan aku,” bisik Hayes sebelum melangkah keluar dari kamar itu.

Hayes memilih untuk pergi ke ruang kerjanya. Ia meraih buku catatannya dan menuliskan nama Sora di sana.

Sora. Istriku.

Mulai besok, ia harus memperbaiki segalanya.

***

Mira menatap Dokter Eva yang datang memeriksanya pagi ini. Dia sibuk mengecek sesuatu dan Mira berharap hasilnya tidak seperti apa yang ia pikirkan.

Namun, kalimat yang keluar dari mulut Dokter Eva terasa seperti pecutan keras.

“Anda positif hamil, Nyonya.”

Mira mendongak, menatap Dokter Eva dengan mata melebar.

“Aku hamil?”

“Iya, Nyonya.”

Mira termangu, tak bisa mengatakan apa pun. Di depannya, Dokter Eva tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Selamat ya, Nyonya.”

“Terima kasih,” balas Mira seraya menerima uluran tangan Dokter Eva. Ia memaksakan senyumnya, padahal perasaannya tak karuan di dalam sana.

Ia belum siap dengan kehamilan ini. Ia mungkin tidak akan pernah siap.

Ia tidak akan tega meninggalkan bayinya sendiri setelah melahirkannya.

“Mungkin Anda bisa memberitahu Tuan Hayes besok, karena setahu saya, hari ini adalah hari peringatan kematian ibu kandungnya,” kata Dokter Eva dengan suara pelan, wajahnya berubah muram. “Saya selalu merasa kasihan dengan Tuan Hayes yang belum bisa merelakan kepergian ibunya. Mungkin karena ibunya meninggal dengan cara yang mengenaskan, jadi dia masih terus memikirkan itu.”

Mira menatap tidak mengerti, setengah terkejut dengan ucapan Dokter Eva. “Maksudnya? Ibu Tuan—maksudku, Ibu suamiku meninggal karena apa?”

Dokter Eva menatap Mira dengan kening berkerut. “Anda belum tahu?”

Mira menggeleng.

Dokter Eva terlihat bingung, tetapi tetap menjawab, “Ibu Tuan Hayes meninggal karena meminum racun. Dia depresi dan... bunuh diri,” bisiknya, nyaris tak terdengar.

Mira terdiam—syok. Ia tidak pernah menyangka bahwa Ibu kandung Hayes meninggal dengan cara yang mengenaskan.

Apakah mungkin semua itu berkaitan dengan apa yang terjadi pada Hayes kemarin? Dia terus menyebut-nyebut ibunya.

Lalu racun yang diberikan Katie...

Mira meremas tangannya dengan gusar. Sudah dua hari berlalu sejak Katie memberikan racun itu dan ia sama sekali tidak pernah membukanya.

Ia tidak berniat untuk meracuni Hayes. Di sisi lain, ia terus mengkhawatirkan keadaan ibunya di desa.

Ia berada di persimpangan dan sulit untuk mencari jalan keluar.

Tetapi mendengar pengakuan Dokter Eva, tidak mungkin Mira sanggup untuk meracuni Hayes. Kejadian kemarin sendiri sudah cukup untuk membuat Mira merasa kasihan. Ia yakin kalau masa lalu Hayes-lah yang membuat sikapnya begitu kasar dan dingin.

“Ya, saya tidak seharusnya membicarakan ini, tapi saya selalu kasihan saat melihat Tuan Hayes. Apalagi sekarang, dia sedang saki—”

Ucapan Dokter Eva terputus saat suara mobil terdengar di luar.

“Oh sepertinya Tuan Hayes sudah kembali,” kata Dokter Eva, kemudian melirik jam di ponselnya. “Saya juga harus pergi. Tolong jaga kesehatan Anda ya, Nyonya.”

“Iya,” sahut Mira pelan. Dokter Eva sudah berdiri dan Mira buru-buru meraih tangannya. “Itu—soal kehamilanku, biar aku sendiri yang memberitahu Hayes.”

Dokter Eva tersenyum lembut. “Tentu saja, Nyonya. Besok pagi, saya akan datang untuk memeriksa Anda lagi.”

Mira mengangguk dan Dokter Eva berbalik pergi. Mira lantas berdiri, lalu bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Sayup-sayup, ia mendengar Dokter Eva menyapa Hayes.

Mira harus menyiapkan mental untuk memberitahu Hayes.

Ia menutup pintu kamar dan duduk di tepi ranjang. Ucapan Dokter Eva masih terngiang-ngiang di benaknya. Pandangan Mira kemudian tertuju ke laci di mana ia menyembunyikan racun yang diberikan Katie.

Ia tidak mungkin bisa meracuni Hayes. Tidak, sekalipun Katie mengancamnya. Ia harus mencari cara untuk membuang racun itu.

Mira mengambilnya dan mencoba memasukkannya ke dalam saku gaunnya. Di saat bersamaan, pintu kamarnya mendadak terbuka. Mira tersentak kaget dan spontan menjatuhkan racun itu ke lantai.

Ia mendongak, bertemu pandang dengan mata sembab Hayes. Pria itu jelas habis menangis, tetapi ketika melihat botol racun di lantai, ekspresinya seketika berubah.

Mira hendak mengambil botol itu, tetapi Hayes bergerak lebih cepat. Ia membuka botol itu dan mendekatkannya ke hidung.

Mira meremat tangannya, jantungnya berdentum tak karuan.

“Tuan, itu—”

“Ini racun, bukan?” Hayes menyela tajam. Wajahnya memerah menahan emosi yang siap meledak.

Mira gemetaran. “Tuan, sebenarnya—”

“JAWAB! INI RACUN APA BUKAN?!”

Mira hanya bisa mengangguk dengan wajah pucat pasi.

Hayes mendadak tertawa. Tawa yang terdengar pahit dan menyakitkan. “Aku pikir kau berbeda. Aku pikir kau tidak seperti ibu tiriku. Aku pikir perhatianmu tulus untuk menolongku dan aku mulai menaruh simpati. Aku mulai merasa bersalah dan berharap bisa memperbaiki hubungan kita. Tapi ternyata, kau sama saja dengannya. Kau berniat meracuniku!”

Mira menggeleng keras, air mata telah bercucuran di wajahnya. “Tidak, aku—”

“Cukup!” Hayes memotong kasar. Dia kembali memperlihatkan topeng kejamnya. “Sekarang pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi. Jangan pernah menampakkan wajahmu di depanku! Jika aku melihatmu lagi, aku tidak akan mengampunimu!” bentak Hayes. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Dia meraih vas bunga di atas meja dan membantingnya ke lantai. “PERGI!”

Ketakutan intens membanjiri Mira dan ia langsung berlari keluar dengan tangis pecah. Ia memaksa kedua kakinya yang gemetar untuk berlari, tidak peduli jalanan yang kasar menggores kulitnya.

Mira tidak berhenti atau menoleh barang sedetik, ia hanya ingin pergi sejauh mungkin.

Mira sadar bahwa pernikahan mereka hanya duri yang terus menusuknya.

Ia harus pergi.

Mira terus berlari dan berlari, melupakan fakta bahwa ia tengah mengandung anak Hayes.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   47. Seperti Anak Sendiri

    “Tuan...” Hayes mengangkat tangannya. “Erwin, kau masuklah lebih dulu. Aku akan menyusul,” ujarnya, masih dengan garis-garis senyuman yang enggan hilang dari wajahnya. Tawa Hayes memang telah reda, tetapi binar kebahagiaan itu masih terpancar jelas di matanya yang biasanya tampak kosong dan dingin. “Baik, Tuan.” Erwin tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya menatap Kian selama beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan area parkiran. Hayes berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang besar. Kian ragu-ragu menerima uluran tangannya. “Kau ingin membangun rumah besar seperti ini untuk Ibumu?” tanya Hayes, kembali ke topik mereka semula. Kian langsung mengangguk kepalanya dengan semangat. “Hu'um! Ian ingin membangun rumah yang sangat besar untuk Ibu. Bagaimana caranya, Bapak Yang Terhormat?” Hayes terkekeh pelan mendengar panggilan formal itu. “Bagaimana kalau panggil Paman saja?” “Paman?” “Iya, Paman Hayes.” “Baik, Paman!” Hayes tersenyum dan menarik Kian

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   46. Tawa Lepas Hayes

    “Mira, ini kamarmu. Kau akan tinggal di sini selama dua minggu.” Kepala pelayan menunjuk ruangan di ujung lorong lantai dua. Satu lorong dengan perpustakaan yang ‘seharusnya’ ia bersihkan. “Terima kasih, Bu Ines.” Bu Ines mengangguk singkat. Sejenak, matanya melirik Kian yang terus bersembunyi di belakang Mira. Keningnya berkerut menyadari anak itu tampak takut melihatnya. “Ya sudah, aku menunggumu di bawah,” ucapnya kemudian sebelum berbalik pergi. Mira dan Kian berdiri memperhatikan Bu Ines sampai sosoknya menghilang di belokan. “Ibu, apa itu nenek sihirnya?” tanya Kian, mendongak menatap ibunya dengan takut-takut. “Eh bukan, Sayang.” Mira buru-buru membantah. Ia berlutut, lalu merapikan rambut anaknya. “Ibu itu sangat baik, bukan nenek sihir.” “Jadi di mana nenek sihirnya?” “Nanti biar Bibi Alina sendiri yang perlihatkan, ya?” ujar Mira, hampir menepuk jidatnya sendiri. Seharusnya ia tidak membiarkan Alina merecoki pikiran Kian. Sekarang, Kian pasti akan terus memi

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   45. Obat Tidur Hayes?

    “Ibu, kita mau ke mana?” Kian duduk di atas tikar sambil memperhatikan ibunya yang mengepak pakaian ke dalam tas ransel. Mira menoleh dengan senyum kecil. “Untuk sementara, kita akan pindah ke tempat Ibu bekerja, Sayang. Ibu mendapat pekerjaan tambahan, jadi kita akan tinggal di sana selama dua minggu.” “Apa itu tempat yang Ibu bilang kereta api juga bisa lewat?” tanya Kian ceria, membayangkan rumah besar yang biasa ia lihat di buku dongeng. “Iya, Sayang. Tapi ingat, Kian tidak boleh nakal di sana.” “Siap!” Kian segera memberi hormat. “Ian akan menuruti apa kata Ibu.” Mira tersenyum dan menaikkan ritsleting jaket Kian sampai ke leher. Udara begitu dingin setelah hujan deras mengguyur dini hari tadi. Mira tidak ingin anaknya kembali sakit. “Ayo berangkat, Sayang. Bibi Alina pasti sudah menunggu.” Mira mengambil tasnya dan meraih tangan mungil Kian. Hari ini, Mira sengaja tidak membiarkan Kian ke TK Bintang, mengingat dia baru pulih. Mereka melewati pintu dan Kian menda

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   44. Siapa Suami Mira?

    Semilir angin pagi menyapu lembut wajah Hayes yang berdiri di dekat jendela. Otaknya terus memutar senandung milik Sora. Senandung yang sama yang akan Mira nyanyikan nanti malam. Untuk ke sekian kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—apa ia sungguh ingin mendengarkan senandung itu setiap malam? Bagaimana kalau perasaan familier itu tak kunjung hilang setelah dua minggu? Bagaimana kalau ia masih melihat Mira seolah ia tengah menatap sosok Sora? Hayes mengusap wajahnya dan melangkah ke sofa. Tepat saat ia duduk, Erwin mengetuk pintu. “Tuan, Nona Audrey sudah tiba.” “Persilakan masuk.” Pintu terbuka lebih lebar, memperlihatkan seorang wanita dalam balutan blazer dan rok pensil selutut. Sepatu hak tingginya mengetuk keramik dengan keras saat dia berjalan ke arah Hayes dengan percaya diri. Audrey Regina. Seorang maestro desain interior yang menguasai pasar kelas atas. Calon kolega bisnis Hayes. Audrey menawarkan kerja sama bisnis begitu melihat potensi dari perusahaan man

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   43. Senyum Tipis Misterius

    Mira menatap sisa uang yang ada di dompetnya. Setelah membayar sebagian utang dan sewa kontrakannya yang menumpuk, ia masih memiliki cukup uang untuk membeli beras dan lauk selama beberapa minggu.Uang muka dari Tuan Hayes kelewat banyak. Mira seharusnya tidak menerima uang lagi setelah kontrak senandung itu berakhir. Ia merasa tidak enak hati karena biaya rumah sakit Kian saja bukan jumlah yang sedikit.Ia bahkan belum bersenandung untuk Hayes.Apa memang... Tuan Hayes sedermawan itu?‘Aku harus bekerja lebih keras lagi,’ janjinya dalam hati.Mira mengambil bibit kacang koro yang dibelinya dan bergegas naik ke kamar rawat Kian. Pagi itu, Mira ingin memastikan Kian sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke mansion Tuan Hayes.Mira mendorong pintu terbuka dengan senyum mengembang. “Ian Sayang, lihat Ibu beli apa?”Di atas sofa, Kian mendongak penasaran. Dokter sudah memperbolehkannya untuk turun dari ranjang, jadi ia mulai bermain mobil-mobilan di sofa. “Ibu bawa apa?” tanyanya antusias

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   42. Sikap Asli Nathan

    Suasana di dalam rumah kecil itu mendadak sunyi senyap, menyisakan suara detak jam dinding di sudut. Mira terpaku di tempatnya berdiri, menatap Nathan dengan mata membulat tidak percaya.“Nathan...” Mira bersuara lirih, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikan yang muncul. “Kau... kau pasti hanya bercanda 'kan? Iya, 'kan?”Nathan menggeleng, sepasang mata hitamnya memancarkan keseriusan. Tidak ada sedikit pun candaan di sana. “Mira, aku benar-benar ingin tahu apa ada sedikit ruang di hatimu untukku?” suaranya mengecil, terdengar penuh harap.Mira terdiam, untuk sesaat merasa linglung.Nathan mencoba menariknya lebih dekat, tetapi Mira buru-buru melepaskan pergelangannya.Nathan menatap kecewa. “Mira...”“Maaf, Nathan.” Mira memalingkan wajah dan mundur beberapa langkah. “Aku... aku tidak bisa,” bisiknya.Jawaban itu terasa seperti tikaman belati di hati Nathan. Kekecewaan terpampang jelas di wajahnya. Nathan menatap terluka. “Kenapa, Mira? Kenapa kau tidak bisa? Apa

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status