Share

02. Calon Suami Kejam dan Dingin

Author: rainaxdays
last update publish date: 2026-08-20 14:04:41

Hayes menelan habis obatnya setelah sarapan.

Ia menggerakkan tangannya yang kaku sambil memikirkan kejang yang baru ia alami. Ia pikir kondisinya telah membaik, tetapi setiap kali mimpi buruk itu datang, kejangnya kembali kambuh.

Hayes menderita radang otak yang berbeda dari biasanya.

Ingatannya sangat parah. Jika ia tidak melihat seseorang dalam kurun waktu sebulan, maka ia akan langsung melupakan wajah orang itu. Sekalipun itu keluarganya, teman dekatnya, atau koleganya.

Kenangan tentang orang itu masih tertinggal di pikirannya, tetapi sulit untuk mengingat bagaimana rupanya. Rasanya seperti melihat gambar yang diblur berulang kali.

Ketika gejalanya kambuh, maka ia akan mengalami kejang hingga sakit kepala yang tak tertahankan. Terkadang sampai kesadarannya hilang total.

Ia sudah berobat sejak umur 20 tahun, tetapi penyakitnya terus menetap.

Mulai saat itu, Hayes terus mencatat dan mengumpulkan foto semua orang atau hal-hal yang sangat penting dalam hidupnya. Hanya dengan begitu, ia bisa terus mengingat mereka, meskipun mereka tidak lagi bertemu untuk waktu yang lama.

Embusan napas berat keluar dari mulutnya. Hayes menyandarkan kepalanya ke belakang dan memejamkan mata.

“Tuan?”

Suara asistennya terdengar dari balik pintu ruang kerjanya.

Hayes membuka matanya. “Ya, masuk.”

Amar berhenti di depan meja dan membungkuk hormat. “Gadis itu sudah datang, Tuan. Dia juga sudah didandani dengan pakaian pengantin.”

“Hm, baiklah.”

Hayes beranjak dari kursinya dan meregangkan tubuhnya sejenak. Ia melangkah ke pintu, tetapi mendadak berhenti.

Amar yang mengekori di belakang ikut berhenti dengan heran. “Ada apa, Tuan?”

“Gadis itu belum tahu apa-apa 'kan?” tanya Hayes, menatap pria muda di hadapannya dengan saksama. “Ibu tiriku sudah menerima berkasnya?”

“Ya, Tuan. Saya hanya memberikan berkas singkat tentang nama, umur, dan pekerjaan Anda. Saya juga tidak memberitahukan tentang penyakit Anda. Tampaknya, Nyonya Katie juga tidak memberitahukan apa-apa,” jelas Amar panjang lebar.

Hayes mengangguk puas.

Di matanya, gadis itu hanya akan menjadi pion agar ia bisa mendapatkan warisan dari mendiang ayahnya. Pengacara ayahnya akan datang setelah pernikahannya untuk membicarakan semuanya.

Dan tepat setelah gadis itu melahirkan pewaris untuknya, maka dia harus pergi sejauh mungkin.

Dia tidak perlu tahu apa-apa tentangnya.

Hanya namanya saja—Hayes.

“Ayo berangkat,” sahut Hayes dan keduanya meninggalkan kantor menuju rumah.

***

Mira menatap pantulannya di cermin.

Rasanya seperti bukan dirinya.

Ia mengenakan gaun pengantin dengan kain katun dan renda yang indah. Kainnya terasa begitu halus dan lembut di kulitnya.

Potongan gaunnya sederhana, tidak mengembang, tetapi ini adalah gaun tercantik yang pernah ia pakai selama hidup.

Sebentar lagi, ia akan menikah...

... dengan seorang pria asing.

Ayahnya sering mengancamnya untuk menikahkannya dengan pria tua bangka, sampai-sampai Mira tidak takut lagi dengan hal itu.

Tetapi sekarang, ketika pernikahan itu ada di depan matanya, jantungnya rasanya akan terlepas dari tempatnya. Walaupun calon suaminya bukan pria tua bangka, tetap saja, semua ini membuatnya takut.

Bagaimana sikap pria itu? Apakah temperamennya buruk?

“Hayes,” Mira berbisik pada dirinya sendiri. “Dan Sora,” lanjutnya, menyebut nama barunya.

Nyonya Katie menekankan kalau ia tidak boleh sampai keceplosan menyebut nama lamanya. Jadi, ia terus menyebut nama barunya dalam kepala.

Tangannya mulai terasa berkeringat karena gugup. Mira lantas beranjak dari kursi rias dan menatap sekeliling kamar yang ditempatinya. Ia masih tidak bisa berhenti merasa takjub.

Setelah perjalanan panjang mereka yang memakan waktu 4 jam, mobil yang ditumpangi Mira dan Nyonya Katie berhenti di depan sebuah mansion megah berlantai tiga.

Mira dibawa ke sebuah kamar di ujung lorong oleh seorang pelayan. Langit-langit mansion menjulang tinggi dengan interior yang mewah. Rasanya seperti melihat sebuah istana di buku dongeng yang ia baca saat SD.

Rumahnya di desa hampir terlihat seperti kandang hewan.

Rumah...

Mira jadi merindukan ibunya.

Bagaimana kabar ibunya sekarang? Apakah ayahnya setidaknya membelikan ibunya obat?

Sehari telah berlalu. Pikiran Mira terus tertuju pada ibunya. Meskipun ia dilayani dengan baik dan mencicipi makanan yang luar biasa enak, Mira rasanya tetap ingin kembali ke rumah lamanya.

“Nona Sora?” Suara panggilan terdengar dari pintu yang tidak terkunci.

Mira menoleh, melihat pelayan yang sebelumnya melayaninya kembali muncul. Ia segera berbalik.

“Silakan keluar, Nona. Tuan Hayes sudah tiba.”

Mira menelan ludah susah payah dan mengangguk. Ia buru-buru mengikuti pelayan itu, menyusuri lorong, hingga mereka tiba di sebuah ruangan yang luas.

Di sofa tengah ruangan, terlihat Nyonya Katie yang duduk berhadapan dengan seorang pria berjas rapi.

Pria itu duduk dengan penuh wibawa dan terlihat angkuh.

Dia adalah Hayes. Calon suaminya.

Hayes mengangkat kepalanya begitu mendengar langkah kaki Mira yang mendekat. Pandangan mereka bersirobok, yang satu menatap dingin, dan yang satu menatap gugup.

Mira meremat tangannya dan memalingkan muka, tidak tahan ditatap dengan mata tajam milik Hayes. Intens, seolah tengah berusaha membaca isi hatinya. Tatapannya sama sekali tidak bersahabat, bahkan terasa mengintimidasi.

Apakah Hayes membencinya?

Dilihat dari ekpresinya, sepertinya begitu.

Mira menunduk, ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi. Jika Hayes tidak menyukainya, apa itu berarti dia akan menyiksanya?

“Kau terlihat cantik dengan gaun itu,” komentar Nyonya Katie, membuyarkan pikiran Mira. Dia tersenyum tipis, terlihat puas dengan penampilan Mira. “Ayo kemarilah, Sora,” panggilnya kemudian.

Mira mendekat dengan kepala yang terus ditundukkan. Ia duduk di sofa lain di samping Nyonya Katie, berhadapan dengan Hayes.

Mata abu-abu Hayes masih terasa terarah padanya. Mira tidak berani untuk menatapnya.

“Pagi ini, kau dan Hayes akan menikah. Pernikahannya dilakukan secara tertutup dan akan berlangsung singkat tanpa pesta.” Katie menjelaskan agenda mereka hari itu tanpa basa-basi. “Kau hanya perlu menyetujui semua hal yang penghulu katakan. Karena tugasmu di sini hanya satu: melahirkan anak untuk Hayes.”

Mira meremas tangannya yang mulai basah karena keringat dingin. “Saya paham, Nyonya,” ucapnya pelan.

Katie mengangguk, sementara Hayes tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya terus terpaku pada Mira.

“Kalau begitu, ayo pergi.” Katie berdiri dan meraih tas selempangnya. “Sora, kau akan berangkat bersama Hayes.”

Sebelum Mira sempat menjawab, Katie sudah melangkah menjauh, meninggalkan Mira yang terpaku di sofa bersama Hayes.

“Angkat kepalamu,” pinta Hayes setelah beberapa saat. Dia bicara dengan nada bariton yang halus, nyaris terdengar sangat lembut jika tidak ada rasa jijik yang terselip di sana.

Mira ragu-ragu mengangkat kepalanya. Sekali lagi, iris coklatnya bertemu dengan mata abu-abu Hayes yang berkilat tajam—dingin seperti serpihan es.

Kenapa Hayes terlihat begitu membencinya, padahal ini pertemuan pertama mereka?

Hayes duduk dengan tenang, menelisik wajah calon istrinya. Berbanding terbalik dengan Mira yang duduk dengan tidak nyaman.

“Namamu Sora, masih 19 tahun, bukan?”

“I-iya, Tuan,” sahut Mira, tergagap.

Hayes terlihat akan mendengus. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik tajam, “Dengarkan aku, Sora. Walaupun kita akan menikah dan aku akan menjadi suamimu, aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai istriku. Bagiku, kau hanyalah wanita miskin tidak tahu diri yang menginginkan hartaku.”

Kata-kata kejam itu dilemparkan tanpa belas kasihan. Menusuk tepat ke hati Mira yang terdiam kaku.

Tetapi Hayes belum selesai. Dia kembali menampar Mira dengan kenyataan yang pahit.

“Jangan mengharapkan apa pun dari pernikahan ini. Begitu anak itu lahir, aku tidak ingin melihatmu lagi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   07. Kehidupan Baru Mira dan Putranya

    6 tahun kemudian. “Ibu, sebenarnya ayah di mana?” Mira yang sedang mencuci piring langsung terdiam mendengar ucapan putranya. Ia menoleh, menatap Kian yang duduk di lantai. Matanya yang bulat memancarkan rasa penasaran yang tinggi. “Sayang, kenapa tiba-tiba menanyakan itu?” tanya Mira dengan suara tertahan. Ia mencuci tangannya dan menghampiri Kian. “Ibu sudah bilang kalau ayahmu sedang pergi ke tempat yang jauh. Dia akan kembali kalau waktunya sudah tepat.” Jawaban itu sama sekali tidak bisa menyenangkan hati seorang anak kecil berusia 6 tahun. Kian begitu merindukan sosok ayahnya, tetapi jawaban ibunya selalu sama. Kian menatap ibunya dengan bibir cemberut. “Semua orang di sekolah punya ayah. Cuma Ian yang tidak punya.” Hati Mira mencelos sedih. Ia mengelus kepala anaknya, merasa kebingungan untuk menjelaskan apa lagi. Ia sudah membohongi Kian, mengatakan bahwa ayahnya pasti akan kembali. Padahal kenyataannya, Hayes tidak akan pernah mengakui keberadaan keduanya. Sej

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   06. Positif Hamil

    Hayes berdiri diam di ambang pintu kamar Sora. Tatapannya terarah ke sang istri yang tidur meringkuk di tepi kasur. Sora telah menyelamatkan hidupnya pagi tadi. Sesuatu yang tidak pernah Hayes bayangkan akan terjadi. Ia selalu menganggap Sora sebagai gadis licik yang hanya menginginkan hartanya, tetapi apa yang terjadi hari ini berhasil mematahkan asumsinya itu. Sora seharusnya meninggalkannya begitu saja, mengingat sikap Hayes yang selalu kasar. Namun, dia memilih tinggal dan menenangkannya yang hampir kehilangan kesadaran karena kejang. Hayes merasa tersentuh. Ia masih ingat betapa tenang dan hangatnya hatinya saat Sora bersenandung. Itu semua mengingatkannya pada kenangan tentang ibunya. Hayes sadar bahwa Sora adalah gadis yang tulus. Rasa bersalah terasa memukul Hayes. Malam-malam saat ia menyakiti Sora dan memperlakukannya sebagai perempuan tidak berharga—ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Matanya bergerak memperhatikan tubuh Sora yang kecil dan kurus. Dia ter

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   05. Trauma Hayes

    “Tuan, apakah saya harus membatalkan pertemuan hari ini dan besok?” “Ya, batalkan.” “Baik, Tuan.” Hayes menghela napas dan memutuskan sambungan telepon. Ia meraih seloki di atas meja, lalu menenggak isinya sampai habis. Pikirannya mulai terasa melayang-layang, tetapi kenangan pahit itu masih saja muncul di kepalanya. Hayes menuangkan lebih banyak anggur ke gelasnya, kemudian menenggaknya seperti orang kehausan. Kepalanya mulai terasa pusing, tetapi tetap saja kejadian buruk itu terus bercokol di pikirannya. Bayangan ketika ia menemukan ibunya sekarat... racun yang berceceran di lantai... dan rasa sakit yang terpancar di mata ibunya... Semua itu terus berputar di benaknya. Hayes mencengkeram tepi meja dan berusaha untuk menenangkan diri, tetapi pikirannya tidak mau bekerja sama. Besok adalah peringatan hari kematian ibunya dan di sanalah mimpi buruknya dimulai. Hayes mulai menangis. Pikiran buruk di kepalanya semakin tak tertahankan. Hayes berusaha berdiri untuk men

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   04. Racun

    Mira menghirup napas panjang merasakan angin pagi yang menerpa. Segar dan dingin. Untuk pertama kalinya setelah dua minggu, ia keluar menjelahi halaman belakang rumah. Kakinya berhenti di dekat kolam ikan koi dan ia duduk di salah satu bangku. Ia harap berdiam di sana bisa menenangkan pikirannya, tetapi rupanya tidak. Pikirannya terus tertuju ke pertemuan kemarin. Dokter Eva—dokter keluarga Hayes telah datang untuk memeriksanya. Mira diperintahkan untuk mengikuti sebuah program kehamilan. Dengan begitu, peluang ia hamil anak laki-laki akan sangat besar. Hayes menginginkan anak laki-laki. Seorang pewaris. Mira menghela napas berat mengingat pria itu Hayes. Suaminya. Rasanya panggilan itu sangat tidak tepat. Hayes sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai istrinya, meskipun mereka menikah secara sah. Ia bahkan tidak tahu apa-apa soal Hayes. Mereka hanya tinggal di bawah satu atap, tanpa adanya obrolan selayaknya suami-istri. Lalu... begitu anaknya lahir, ia harus perg

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   03. Sekadar Pemuas Nafsu

    Pernikahan Mira dan Hayes berlangsung singkat tanpa apa pun. Tidak ada pesta atau sesi foto. Setelah penghulu menyatakan bahwa keduanya telah sah menjadi suami-istri, para saksi membubarkan diri. Mira menatap ruangan mewah di sekelilingnya dan menghela napas. Ia tidak mengerti kenapa mereka harus pergi ke gedung semewah ini untuk pernikahan yang berlangsung kurang dari 30 menit. Mungkin memang benar kalau orang kaya suka menghambur-hamburkan uang. Pandangan Mira beralih ke sudut ruangan. Di sana, Katie terlihat sedang bicara dengan seseorang di telepon. Sementara itu, Hayes terlihat bosan menunggu di sofa yang berseberangan dengannya. Mira melirik. Di saat bersamaan, Hayes ikut melirik. Dia lalu menatap Mira terang-terangan, dengan tatapan tidak suka yang sama. Mira cepat-cepat memalingkan muka. Hinaan Hayes sebelumnya kembali terngiang-ngiang. ‘... Bagiku, kau hanyalah wanita miskin tidak tahu diri yang menginginkan hartaku...’ Hayes membencinya. Padahal, bukan Mira

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   02. Calon Suami Kejam dan Dingin

    Hayes menelan habis obatnya setelah sarapan. Ia menggerakkan tangannya yang kaku sambil memikirkan kejang yang baru ia alami. Ia pikir kondisinya telah membaik, tetapi setiap kali mimpi buruk itu datang, kejangnya kembali kambuh. Hayes menderita radang otak yang berbeda dari biasanya. Ingatannya sangat parah. Jika ia tidak melihat seseorang dalam kurun waktu sebulan, maka ia akan langsung melupakan wajah orang itu. Sekalipun itu keluarganya, teman dekatnya, atau koleganya. Kenangan tentang orang itu masih tertinggal di pikirannya, tetapi sulit untuk mengingat bagaimana rupanya. Rasanya seperti melihat gambar yang diblur berulang kali. Ketika gejalanya kambuh, maka ia akan mengalami kejang hingga sakit kepala yang tak tertahankan. Terkadang sampai kesadarannya hilang total. Ia sudah berobat sejak umur 20 tahun, tetapi penyakitnya terus menetap. Mulai saat itu, Hayes terus mencatat dan mengumpulkan foto semua orang atau hal-hal yang sangat penting dalam hidupnya. Hanya den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status