Mag-log inHayes menelan habis obatnya setelah sarapan.
Ia menggerakkan tangannya yang kaku sambil memikirkan kejang yang baru ia alami. Ia pikir kondisinya telah membaik, tetapi setiap kali mimpi buruk itu datang, kejangnya kembali kambuh. Hayes menderita radang otak yang berbeda dari biasanya. Ingatannya sangat parah. Jika ia tidak melihat seseorang dalam kurun waktu sebulan, maka ia akan langsung melupakan wajah orang itu. Sekalipun itu keluarganya, teman dekatnya, atau koleganya. Kenangan tentang orang itu masih tertinggal di pikirannya, tetapi sulit untuk mengingat bagaimana rupanya. Rasanya seperti melihat gambar yang diblur berulang kali. Ketika gejalanya kambuh, maka ia akan mengalami kejang hingga sakit kepala yang tak tertahankan. Terkadang sampai kesadarannya hilang total. Ia sudah berobat sejak umur 20 tahun, tetapi penyakitnya terus menetap. Mulai saat itu, Hayes terus mencatat dan mengumpulkan foto semua orang atau hal-hal yang sangat penting dalam hidupnya. Hanya dengan begitu, ia bisa terus mengingat mereka, meskipun mereka tidak lagi bertemu untuk waktu yang lama. Embusan napas berat keluar dari mulutnya. Hayes menyandarkan kepalanya ke belakang dan memejamkan mata. “Tuan?” Suara asistennya terdengar dari balik pintu ruang kerjanya. Hayes membuka matanya. “Ya, masuk.” Amar berhenti di depan meja dan membungkuk hormat. “Gadis itu sudah datang, Tuan. Dia juga sudah didandani dengan pakaian pengantin.” “Hm, baiklah.” Hayes beranjak dari kursinya dan meregangkan tubuhnya sejenak. Ia melangkah ke pintu, tetapi mendadak berhenti. Amar yang mengekori di belakang ikut berhenti dengan heran. “Ada apa, Tuan?” “Gadis itu belum tahu apa-apa 'kan?” tanya Hayes, menatap pria muda di hadapannya dengan saksama. “Ibu tiriku sudah menerima berkasnya?” “Ya, Tuan. Saya hanya memberikan berkas singkat tentang nama, umur, dan pekerjaan Anda. Saya juga tidak memberitahukan tentang penyakit Anda. Tampaknya, Nyonya Katie juga tidak memberitahukan apa-apa,” jelas Amar panjang lebar. Hayes mengangguk puas. Di matanya, gadis itu hanya akan menjadi pion agar ia bisa mendapatkan warisan dari mendiang ayahnya. Pengacara ayahnya akan datang setelah pernikahannya untuk membicarakan semuanya. Dan tepat setelah gadis itu melahirkan pewaris untuknya, maka dia harus pergi sejauh mungkin. Dia tidak perlu tahu apa-apa tentangnya. Hanya namanya saja—Hayes. “Ayo berangkat,” sahut Hayes dan keduanya meninggalkan kantor menuju rumah. *** Mira menatap pantulannya di cermin. Rasanya seperti bukan dirinya. Ia mengenakan gaun pengantin dengan kain katun dan renda yang indah. Kainnya terasa begitu halus dan lembut di kulitnya. Potongan gaunnya sederhana, tidak mengembang, tetapi ini adalah gaun tercantik yang pernah ia pakai selama hidup. Sebentar lagi, ia akan menikah... ... dengan seorang pria asing. Ayahnya sering mengancamnya untuk menikahkannya dengan pria tua bangka, sampai-sampai Mira tidak takut lagi dengan hal itu. Tetapi sekarang, ketika pernikahan itu ada di depan matanya, jantungnya rasanya akan terlepas dari tempatnya. Walaupun calon suaminya bukan pria tua bangka, tetap saja, semua ini membuatnya takut. Bagaimana sikap pria itu? Apakah temperamennya buruk? “Hayes,” Mira berbisik pada dirinya sendiri. “Dan Sora,” lanjutnya, menyebut nama barunya. Nyonya Katie menekankan kalau ia tidak boleh sampai keceplosan menyebut nama lamanya. Jadi, ia terus menyebut nama barunya dalam kepala. Tangannya mulai terasa berkeringat karena gugup. Mira lantas beranjak dari kursi rias dan menatap sekeliling kamar yang ditempatinya. Ia masih tidak bisa berhenti merasa takjub. Setelah perjalanan panjang mereka yang memakan waktu 4 jam, mobil yang ditumpangi Mira dan Nyonya Katie berhenti di depan sebuah mansion megah berlantai tiga. Mira dibawa ke sebuah kamar di ujung lorong oleh seorang pelayan. Langit-langit mansion menjulang tinggi dengan interior yang mewah. Rasanya seperti melihat sebuah istana di buku dongeng yang ia baca saat SD. Rumahnya di desa hampir terlihat seperti kandang hewan. Rumah... Mira jadi merindukan ibunya. Bagaimana kabar ibunya sekarang? Apakah ayahnya setidaknya membelikan ibunya obat? Sehari telah berlalu. Pikiran Mira terus tertuju pada ibunya. Meskipun ia dilayani dengan baik dan mencicipi makanan yang luar biasa enak, Mira rasanya tetap ingin kembali ke rumah lamanya. “Nona Sora?” Suara panggilan terdengar dari pintu yang tidak terkunci. Mira menoleh, melihat pelayan yang sebelumnya melayaninya kembali muncul. Ia segera berbalik. “Silakan keluar, Nona. Tuan Hayes sudah tiba.” Mira menelan ludah susah payah dan mengangguk. Ia buru-buru mengikuti pelayan itu, menyusuri lorong, hingga mereka tiba di sebuah ruangan yang luas. Di sofa tengah ruangan, terlihat Nyonya Katie yang duduk berhadapan dengan seorang pria berjas rapi. Pria itu duduk dengan penuh wibawa dan terlihat angkuh. Dia adalah Hayes. Calon suaminya. Hayes mengangkat kepalanya begitu mendengar langkah kaki Mira yang mendekat. Pandangan mereka bersirobok, yang satu menatap dingin, dan yang satu menatap gugup. Mira meremat tangannya dan memalingkan muka, tidak tahan ditatap dengan mata tajam milik Hayes. Intens, seolah tengah berusaha membaca isi hatinya. Tatapannya sama sekali tidak bersahabat, bahkan terasa mengintimidasi. Apakah Hayes membencinya? Dilihat dari ekpresinya, sepertinya begitu. Mira menunduk, ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi. Jika Hayes tidak menyukainya, apa itu berarti dia akan menyiksanya? “Kau terlihat cantik dengan gaun itu,” komentar Nyonya Katie, membuyarkan pikiran Mira. Dia tersenyum tipis, terlihat puas dengan penampilan Mira. “Ayo kemarilah, Sora,” panggilnya kemudian. Mira mendekat dengan kepala yang terus ditundukkan. Ia duduk di sofa lain di samping Nyonya Katie, berhadapan dengan Hayes. Mata abu-abu Hayes masih terasa terarah padanya. Mira tidak berani untuk menatapnya. “Pagi ini, kau dan Hayes akan menikah. Pernikahannya dilakukan secara tertutup dan akan berlangsung singkat tanpa pesta.” Katie menjelaskan agenda mereka hari itu tanpa basa-basi. “Kau hanya perlu menyetujui semua hal yang penghulu katakan. Karena tugasmu di sini hanya satu: melahirkan anak untuk Hayes.” Mira meremas tangannya yang mulai basah karena keringat dingin. “Saya paham, Nyonya,” ucapnya pelan. Katie mengangguk, sementara Hayes tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya terus terpaku pada Mira. “Kalau begitu, ayo pergi.” Katie berdiri dan meraih tas selempangnya. “Sora, kau akan berangkat bersama Hayes.” Sebelum Mira sempat menjawab, Katie sudah melangkah menjauh, meninggalkan Mira yang terpaku di sofa bersama Hayes. “Angkat kepalamu,” pinta Hayes setelah beberapa saat. Dia bicara dengan nada bariton yang halus, nyaris terdengar sangat lembut jika tidak ada rasa jijik yang terselip di sana. Mira ragu-ragu mengangkat kepalanya. Sekali lagi, iris coklatnya bertemu dengan mata abu-abu Hayes yang berkilat tajam—dingin seperti serpihan es. Kenapa Hayes terlihat begitu membencinya, padahal ini pertemuan pertama mereka? Hayes duduk dengan tenang, menelisik wajah calon istrinya. Berbanding terbalik dengan Mira yang duduk dengan tidak nyaman. “Namamu Sora, masih 19 tahun, bukan?” “I-iya, Tuan,” sahut Mira, tergagap. Hayes terlihat akan mendengus. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik tajam, “Dengarkan aku, Sora. Walaupun kita akan menikah dan aku akan menjadi suamimu, aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai istriku. Bagiku, kau hanyalah wanita miskin tidak tahu diri yang menginginkan hartaku.” Kata-kata kejam itu dilemparkan tanpa belas kasihan. Menusuk tepat ke hati Mira yang terdiam kaku. Tetapi Hayes belum selesai. Dia kembali menampar Mira dengan kenyataan yang pahit. “Jangan mengharapkan apa pun dari pernikahan ini. Begitu anak itu lahir, aku tidak ingin melihatmu lagi.”“Tuan...” Hayes mengangkat tangannya. “Erwin, kau masuklah lebih dulu. Aku akan menyusul,” ujarnya, masih dengan garis-garis senyuman yang enggan hilang dari wajahnya. Tawa Hayes memang telah reda, tetapi binar kebahagiaan itu masih terpancar jelas di matanya yang biasanya tampak kosong dan dingin. “Baik, Tuan.” Erwin tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya menatap Kian selama beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan area parkiran. Hayes berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang besar. Kian ragu-ragu menerima uluran tangannya. “Kau ingin membangun rumah besar seperti ini untuk Ibumu?” tanya Hayes, kembali ke topik mereka semula. Kian langsung mengangguk kepalanya dengan semangat. “Hu'um! Ian ingin membangun rumah yang sangat besar untuk Ibu. Bagaimana caranya, Bapak Yang Terhormat?” Hayes terkekeh pelan mendengar panggilan formal itu. “Bagaimana kalau panggil Paman saja?” “Paman?” “Iya, Paman Hayes.” “Baik, Paman!” Hayes tersenyum dan menarik Kian
“Mira, ini kamarmu. Kau akan tinggal di sini selama dua minggu.” Kepala pelayan menunjuk ruangan di ujung lorong lantai dua. Satu lorong dengan perpustakaan yang ‘seharusnya’ ia bersihkan. “Terima kasih, Bu Ines.” Bu Ines mengangguk singkat. Sejenak, matanya melirik Kian yang terus bersembunyi di belakang Mira. Keningnya berkerut menyadari anak itu tampak takut melihatnya. “Ya sudah, aku menunggumu di bawah,” ucapnya kemudian sebelum berbalik pergi. Mira dan Kian berdiri memperhatikan Bu Ines sampai sosoknya menghilang di belokan. “Ibu, apa itu nenek sihirnya?” tanya Kian, mendongak menatap ibunya dengan takut-takut. “Eh bukan, Sayang.” Mira buru-buru membantah. Ia berlutut, lalu merapikan rambut anaknya. “Ibu itu sangat baik, bukan nenek sihir.” “Jadi di mana nenek sihirnya?” “Nanti biar Bibi Alina sendiri yang perlihatkan, ya?” ujar Mira, hampir menepuk jidatnya sendiri. Seharusnya ia tidak membiarkan Alina merecoki pikiran Kian. Sekarang, Kian pasti akan terus memi
“Ibu, kita mau ke mana?” Kian duduk di atas tikar sambil memperhatikan ibunya yang mengepak pakaian ke dalam tas ransel. Mira menoleh dengan senyum kecil. “Untuk sementara, kita akan pindah ke tempat Ibu bekerja, Sayang. Ibu mendapat pekerjaan tambahan, jadi kita akan tinggal di sana selama dua minggu.” “Apa itu tempat yang Ibu bilang kereta api juga bisa lewat?” tanya Kian ceria, membayangkan rumah besar yang biasa ia lihat di buku dongeng. “Iya, Sayang. Tapi ingat, Kian tidak boleh nakal di sana.” “Siap!” Kian segera memberi hormat. “Ian akan menuruti apa kata Ibu.” Mira tersenyum dan menaikkan ritsleting jaket Kian sampai ke leher. Udara begitu dingin setelah hujan deras mengguyur dini hari tadi. Mira tidak ingin anaknya kembali sakit. “Ayo berangkat, Sayang. Bibi Alina pasti sudah menunggu.” Mira mengambil tasnya dan meraih tangan mungil Kian. Hari ini, Mira sengaja tidak membiarkan Kian ke TK Bintang, mengingat dia baru pulih. Mereka melewati pintu dan Kian menda
Semilir angin pagi menyapu lembut wajah Hayes yang berdiri di dekat jendela. Otaknya terus memutar senandung milik Sora. Senandung yang sama yang akan Mira nyanyikan nanti malam. Untuk ke sekian kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—apa ia sungguh ingin mendengarkan senandung itu setiap malam? Bagaimana kalau perasaan familier itu tak kunjung hilang setelah dua minggu? Bagaimana kalau ia masih melihat Mira seolah ia tengah menatap sosok Sora? Hayes mengusap wajahnya dan melangkah ke sofa. Tepat saat ia duduk, Erwin mengetuk pintu. “Tuan, Nona Audrey sudah tiba.” “Persilakan masuk.” Pintu terbuka lebih lebar, memperlihatkan seorang wanita dalam balutan blazer dan rok pensil selutut. Sepatu hak tingginya mengetuk keramik dengan keras saat dia berjalan ke arah Hayes dengan percaya diri. Audrey Regina. Seorang maestro desain interior yang menguasai pasar kelas atas. Calon kolega bisnis Hayes. Audrey menawarkan kerja sama bisnis begitu melihat potensi dari perusahaan man
Mira menatap sisa uang yang ada di dompetnya. Setelah membayar sebagian utang dan sewa kontrakannya yang menumpuk, ia masih memiliki cukup uang untuk membeli beras dan lauk selama beberapa minggu.Uang muka dari Tuan Hayes kelewat banyak. Mira seharusnya tidak menerima uang lagi setelah kontrak senandung itu berakhir. Ia merasa tidak enak hati karena biaya rumah sakit Kian saja bukan jumlah yang sedikit.Ia bahkan belum bersenandung untuk Hayes.Apa memang... Tuan Hayes sedermawan itu?‘Aku harus bekerja lebih keras lagi,’ janjinya dalam hati.Mira mengambil bibit kacang koro yang dibelinya dan bergegas naik ke kamar rawat Kian. Pagi itu, Mira ingin memastikan Kian sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke mansion Tuan Hayes.Mira mendorong pintu terbuka dengan senyum mengembang. “Ian Sayang, lihat Ibu beli apa?”Di atas sofa, Kian mendongak penasaran. Dokter sudah memperbolehkannya untuk turun dari ranjang, jadi ia mulai bermain mobil-mobilan di sofa. “Ibu bawa apa?” tanyanya antusias
Suasana di dalam rumah kecil itu mendadak sunyi senyap, menyisakan suara detak jam dinding di sudut. Mira terpaku di tempatnya berdiri, menatap Nathan dengan mata membulat tidak percaya.“Nathan...” Mira bersuara lirih, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikan yang muncul. “Kau... kau pasti hanya bercanda 'kan? Iya, 'kan?”Nathan menggeleng, sepasang mata hitamnya memancarkan keseriusan. Tidak ada sedikit pun candaan di sana. “Mira, aku benar-benar ingin tahu apa ada sedikit ruang di hatimu untukku?” suaranya mengecil, terdengar penuh harap.Mira terdiam, untuk sesaat merasa linglung.Nathan mencoba menariknya lebih dekat, tetapi Mira buru-buru melepaskan pergelangannya.Nathan menatap kecewa. “Mira...”“Maaf, Nathan.” Mira memalingkan wajah dan mundur beberapa langkah. “Aku... aku tidak bisa,” bisiknya.Jawaban itu terasa seperti tikaman belati di hati Nathan. Kekecewaan terpampang jelas di wajahnya. Nathan menatap terluka. “Kenapa, Mira? Kenapa kau tidak bisa? Apa







