Share

05. Trauma Hayes

Author: rainaxdays
last update publish date: 2026-08-20 14:05:50

“Tuan, apakah saya harus membatalkan pertemuan hari ini dan besok?”

“Ya, batalkan.”

“Baik, Tuan.”

Hayes menghela napas dan memutuskan sambungan telepon. Ia meraih seloki di atas meja, lalu menenggak isinya sampai habis.

Pikirannya mulai terasa melayang-layang, tetapi kenangan pahit itu masih saja muncul di kepalanya.

Hayes menuangkan lebih banyak anggur ke gelasnya, kemudian menenggaknya seperti orang kehausan. Kepalanya mulai terasa pusing, tetapi tetap saja kejadian buruk itu terus bercokol di pikirannya.

Bayangan ketika ia menemukan ibunya sekarat... racun yang berceceran di lantai... dan rasa sakit yang terpancar di mata ibunya...

Semua itu terus berputar di benaknya.

Hayes mencengkeram tepi meja dan berusaha untuk menenangkan diri, tetapi pikirannya tidak mau bekerja sama. Besok adalah peringatan hari kematian ibunya dan di sanalah mimpi buruknya dimulai.

Hayes mulai menangis.

Pikiran buruk di kepalanya semakin tak tertahankan. Hayes berusaha berdiri untuk mengambil obatnya, tetapi kakinya lunglai—gemetaran.

Saat itu pandangannya terarah ke cermin dan wajah ibunya muncul di sana. Kilasan kejadian saat ia mendapati ibunya di detik-detik kematiannya seolah kembali terjadi di depan matanya.

Tangis ibunya, darah yang keluar dari mulutnya, dan suaranya yang putus asa...

“I-ibu...”

Hayes memanggil pilu. Air mata membanjiri pipinya. Tangannya terulur, seolah berusaha meraih ibunya. Namun, yang ia gapai hanyalah udara kosong.

“Ibu...”

Dadanya terasa sesak. Pandangannya mengabur dan ia mulai kehilangan kendali atas tubuhnya. Kedua tangannya gemetar hebat. Ia menggapai-gapai udara kosong saat napasnya terasa memberat dan patah-patah.

Kejangnya kembali muncul.

“To-long...” Hayes bicara dengan susah payah. Napasnya terengah-engah mencari oksigen. Detak jantungnya berpacu terlalu cepat sampai rasanya ingin meledak. “Tolong...”

Pandangannya semakin gelap. Hayes hampir tidak bisa bernapas.

Tetapi kemudian, sebuah tangan menangkup wajahnya dengan lembut.

“Tarik napas, Tuan.” Mira berbisik di depan wajah Hayes. “Tarik napas perlahan... lalu buang,” ulangnya.

Hayes mulai mengikuti instruksi Mira.

“Tarik napas lagi... lalu buang perlahan,” ucap Mira seraya meletakkan kepala Hayes di pahanya. “Tarik napas lagi... hembuskan...”

Hayes menurut dan mulai bisa bernapas.

Bahu Mira yang tegang perlahan merosot lega.

Ibunya sering mengalami kejang dan Mira tahu bagaimana cara menenangkannya. Ia awalnya tidak sengaja melewati ruangan Hayes saat menemukan pria itu gemetar di lantai. Mira langsung teringat dengan ibunya, jadi ia mendekat—melawan ketakutannya sendiri untuk menghadapi Hayes.

Dada Hayes mulai naik turun dengan teratur. Ia berkedip-kedip, masih merasa sedikit linglung.

“So-sora?” ucapnya, berusaha menjernihkan penglihatannya.

Alih-alih menjawab, Mira justru menyisiri rambut Hayes dan memijat kepalanya dengan lembut. Tindakannya itu mendadak mengingatkan Hayes dengan belaian tangan ibunya ketika ia masih kecil.

Setiap malam, ibunya akan membelai kepalanya. Hayes akan tertidur di paha ibunya, mendengarkan senandungnya yang indah.

Hayes sangat merindukan ibunya.

“Bisakah kau bersenandung?” Hayes tidak tahu kenapa ia malah mengatakan itu. Ada perasaan hangat dan nyaman yang kini menelusup ke dalam hatinya. Kenangan buruk di kepalanya perlahan digantikan oleh kenangan indah saat ibunya masih hidup.

Hayes sangat ingin mendengar seseorang bersenandung untuknya.

Tanpa diduga, Mira mulai bersenandung kecil.

“Ketika bulan bersinar, harapan datang.

Kelopak bunga beterbangan, terbawa angin.

Sampaikan salamku pada bulan.

Ada hati yang patah, ada hati yang rapuh.

Tangis tersembunyi dibalik senyum penuh luka.

Tapi saat bulan masih bersinar, harapan itu masih ada

Cinta itu masih ada...

Di hati yang rapuh...”

Suara Mira yang lembut mengalun, membelai pendengaran Hayes. Rasanya seolah Hayes kembali ke masa kecil di mana orang tuanya masih utuh. Mereka pergi ke taman dan menghabiskan waktu di sana.

Bukan lagi neraka di mana ia sakit berkepanjangan dan hidup bersama ibu tirinya, terkurung dalam kenangan menyakitkan saat ibunya bunuh diri.

Setelah sekian lama, Hayes merasa hidup.

Mira beralih memijat tangan dan jemari Hayes yang sempat gemetar karena kejang. Secara perlahan, detak jantung Hayes mulai stabil.

Mira terus memijat Hayes, sampai tanpa sadar, Hayes ketiduran di pahanya.

“Tuan?” panggil Mira, tetapi Hayes benar-benar sudah jatuh terlelap. Mira mencoba menggeser kepala Hayes untuk mengambil bantal, tetapi Hayes tiba-tiba bergumam serak.

“Jangan pergi, Ibu.”

Mira terdiam dan menatap wajah Hayes yang sendu. Belum pernah ia melihat Hayes sesedih ini. Biasanya, pria itu lebih suka memasang wajah dingin dan acuh tak acuh.

Hari ini, Mira malah melihat sisi diri Hayes yang lain.

Apakah Hayes sakit?

Mira tidak tahu apa-apa soal suaminya. Selama dua minggu lebih di rumah ini, ia hanya tahu nama Hayes. Ia bahkan tidak tahu nama belakang Hayes.

Mira terlalu takut untuk bicara dengan Hayes. Setiap kali mereka berhubungan badan, Hayes meninggalkannya sebelum ia sempat bicara.

Inisiatif Mira untuk menolongnya hari ini, semata-mata karena ia teringat dengan ibunya. Ia tidak akan tega meninggalkan Hayes begitu saja, meskipun ia tahu Hayes membencinya.

Mira menatap suaminya dalam keheningan yang melingkupi keduanya.

Hayes adalah pria yang rupawan, dengan rahang tegas, hidung tinggi, dan alis tebal. Tetapi, sikapnya yang selalu dingin membuat Mira takut menghadapinya.

Ia tidak tahu sampai kapan ia akan bertahan sampai dinyatakan hamil.

Mira harap saat itu tiba, sikap Hayes padanya bisa sedikit melunak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   07. Kehidupan Baru Mira dan Putranya

    6 tahun kemudian. “Ibu, sebenarnya ayah di mana?” Mira yang sedang mencuci piring langsung terdiam mendengar ucapan putranya. Ia menoleh, menatap Kian yang duduk di lantai. Matanya yang bulat memancarkan rasa penasaran yang tinggi. “Sayang, kenapa tiba-tiba menanyakan itu?” tanya Mira dengan suara tertahan. Ia mencuci tangannya dan menghampiri Kian. “Ibu sudah bilang kalau ayahmu sedang pergi ke tempat yang jauh. Dia akan kembali kalau waktunya sudah tepat.” Jawaban itu sama sekali tidak bisa menyenangkan hati seorang anak kecil berusia 6 tahun. Kian begitu merindukan sosok ayahnya, tetapi jawaban ibunya selalu sama. Kian menatap ibunya dengan bibir cemberut. “Semua orang di sekolah punya ayah. Cuma Ian yang tidak punya.” Hati Mira mencelos sedih. Ia mengelus kepala anaknya, merasa kebingungan untuk menjelaskan apa lagi. Ia sudah membohongi Kian, mengatakan bahwa ayahnya pasti akan kembali. Padahal kenyataannya, Hayes tidak akan pernah mengakui keberadaan keduanya. Sej

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   06. Positif Hamil

    Hayes berdiri diam di ambang pintu kamar Sora. Tatapannya terarah ke sang istri yang tidur meringkuk di tepi kasur. Sora telah menyelamatkan hidupnya pagi tadi. Sesuatu yang tidak pernah Hayes bayangkan akan terjadi. Ia selalu menganggap Sora sebagai gadis licik yang hanya menginginkan hartanya, tetapi apa yang terjadi hari ini berhasil mematahkan asumsinya itu. Sora seharusnya meninggalkannya begitu saja, mengingat sikap Hayes yang selalu kasar. Namun, dia memilih tinggal dan menenangkannya yang hampir kehilangan kesadaran karena kejang. Hayes merasa tersentuh. Ia masih ingat betapa tenang dan hangatnya hatinya saat Sora bersenandung. Itu semua mengingatkannya pada kenangan tentang ibunya. Hayes sadar bahwa Sora adalah gadis yang tulus. Rasa bersalah terasa memukul Hayes. Malam-malam saat ia menyakiti Sora dan memperlakukannya sebagai perempuan tidak berharga—ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Matanya bergerak memperhatikan tubuh Sora yang kecil dan kurus. Dia ter

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   05. Trauma Hayes

    “Tuan, apakah saya harus membatalkan pertemuan hari ini dan besok?” “Ya, batalkan.” “Baik, Tuan.” Hayes menghela napas dan memutuskan sambungan telepon. Ia meraih seloki di atas meja, lalu menenggak isinya sampai habis. Pikirannya mulai terasa melayang-layang, tetapi kenangan pahit itu masih saja muncul di kepalanya. Hayes menuangkan lebih banyak anggur ke gelasnya, kemudian menenggaknya seperti orang kehausan. Kepalanya mulai terasa pusing, tetapi tetap saja kejadian buruk itu terus bercokol di pikirannya. Bayangan ketika ia menemukan ibunya sekarat... racun yang berceceran di lantai... dan rasa sakit yang terpancar di mata ibunya... Semua itu terus berputar di benaknya. Hayes mencengkeram tepi meja dan berusaha untuk menenangkan diri, tetapi pikirannya tidak mau bekerja sama. Besok adalah peringatan hari kematian ibunya dan di sanalah mimpi buruknya dimulai. Hayes mulai menangis. Pikiran buruk di kepalanya semakin tak tertahankan. Hayes berusaha berdiri untuk men

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   04. Racun

    Mira menghirup napas panjang merasakan angin pagi yang menerpa. Segar dan dingin. Untuk pertama kalinya setelah dua minggu, ia keluar menjelahi halaman belakang rumah. Kakinya berhenti di dekat kolam ikan koi dan ia duduk di salah satu bangku. Ia harap berdiam di sana bisa menenangkan pikirannya, tetapi rupanya tidak. Pikirannya terus tertuju ke pertemuan kemarin. Dokter Eva—dokter keluarga Hayes telah datang untuk memeriksanya. Mira diperintahkan untuk mengikuti sebuah program kehamilan. Dengan begitu, peluang ia hamil anak laki-laki akan sangat besar. Hayes menginginkan anak laki-laki. Seorang pewaris. Mira menghela napas berat mengingat pria itu Hayes. Suaminya. Rasanya panggilan itu sangat tidak tepat. Hayes sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai istrinya, meskipun mereka menikah secara sah. Ia bahkan tidak tahu apa-apa soal Hayes. Mereka hanya tinggal di bawah satu atap, tanpa adanya obrolan selayaknya suami-istri. Lalu... begitu anaknya lahir, ia harus perg

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   03. Sekadar Pemuas Nafsu

    Pernikahan Mira dan Hayes berlangsung singkat tanpa apa pun. Tidak ada pesta atau sesi foto. Setelah penghulu menyatakan bahwa keduanya telah sah menjadi suami-istri, para saksi membubarkan diri. Mira menatap ruangan mewah di sekelilingnya dan menghela napas. Ia tidak mengerti kenapa mereka harus pergi ke gedung semewah ini untuk pernikahan yang berlangsung kurang dari 30 menit. Mungkin memang benar kalau orang kaya suka menghambur-hamburkan uang. Pandangan Mira beralih ke sudut ruangan. Di sana, Katie terlihat sedang bicara dengan seseorang di telepon. Sementara itu, Hayes terlihat bosan menunggu di sofa yang berseberangan dengannya. Mira melirik. Di saat bersamaan, Hayes ikut melirik. Dia lalu menatap Mira terang-terangan, dengan tatapan tidak suka yang sama. Mira cepat-cepat memalingkan muka. Hinaan Hayes sebelumnya kembali terngiang-ngiang. ‘... Bagiku, kau hanyalah wanita miskin tidak tahu diri yang menginginkan hartaku...’ Hayes membencinya. Padahal, bukan Mira

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   02. Calon Suami Kejam dan Dingin

    Hayes menelan habis obatnya setelah sarapan. Ia menggerakkan tangannya yang kaku sambil memikirkan kejang yang baru ia alami. Ia pikir kondisinya telah membaik, tetapi setiap kali mimpi buruk itu datang, kejangnya kembali kambuh. Hayes menderita radang otak yang berbeda dari biasanya. Ingatannya sangat parah. Jika ia tidak melihat seseorang dalam kurun waktu sebulan, maka ia akan langsung melupakan wajah orang itu. Sekalipun itu keluarganya, teman dekatnya, atau koleganya. Kenangan tentang orang itu masih tertinggal di pikirannya, tetapi sulit untuk mengingat bagaimana rupanya. Rasanya seperti melihat gambar yang diblur berulang kali. Ketika gejalanya kambuh, maka ia akan mengalami kejang hingga sakit kepala yang tak tertahankan. Terkadang sampai kesadarannya hilang total. Ia sudah berobat sejak umur 20 tahun, tetapi penyakitnya terus menetap. Mulai saat itu, Hayes terus mencatat dan mengumpulkan foto semua orang atau hal-hal yang sangat penting dalam hidupnya. Hanya den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status