LOGIN“Tuan, apakah saya harus membatalkan pertemuan hari ini dan besok?”
“Ya, batalkan.” “Baik, Tuan.” Hayes menghela napas dan memutuskan sambungan telepon. Ia meraih seloki di atas meja, lalu menenggak isinya sampai habis. Pikirannya mulai terasa melayang-layang, tetapi kenangan pahit itu masih saja muncul di kepalanya. Hayes menuangkan lebih banyak anggur ke gelasnya, kemudian menenggaknya seperti orang kehausan. Kepalanya mulai terasa pusing, tetapi tetap saja kejadian buruk itu terus bercokol di pikirannya. Bayangan ketika ia menemukan ibunya sekarat... racun yang berceceran di lantai... dan rasa sakit yang terpancar di mata ibunya... Semua itu terus berputar di benaknya. Hayes mencengkeram tepi meja dan berusaha untuk menenangkan diri, tetapi pikirannya tidak mau bekerja sama. Besok adalah peringatan hari kematian ibunya dan di sanalah mimpi buruknya dimulai. Hayes mulai menangis. Pikiran buruk di kepalanya semakin tak tertahankan. Hayes berusaha berdiri untuk mengambil obatnya, tetapi kakinya lunglai—gemetaran. Saat itu pandangannya terarah ke cermin dan wajah ibunya muncul di sana. Kilasan kejadian saat ia mendapati ibunya di detik-detik kematiannya seolah kembali terjadi di depan matanya. Tangis ibunya, darah yang keluar dari mulutnya, dan suaranya yang putus asa... “I-ibu...” Hayes memanggil pilu. Air mata membanjiri pipinya. Tangannya terulur, seolah berusaha meraih ibunya. Namun, yang ia gapai hanyalah udara kosong. “Ibu...” Dadanya terasa sesak. Pandangannya mengabur dan ia mulai kehilangan kendali atas tubuhnya. Kedua tangannya gemetar hebat. Ia menggapai-gapai udara kosong saat napasnya terasa memberat dan patah-patah. Kejangnya kembali muncul. “To-long...” Hayes bicara dengan susah payah. Napasnya terengah-engah mencari oksigen. Detak jantungnya berpacu terlalu cepat sampai rasanya ingin meledak. “Tolong...” Pandangannya semakin gelap. Hayes hampir tidak bisa bernapas. Tetapi kemudian, sebuah tangan menangkup wajahnya dengan lembut. “Tarik napas, Tuan.” Mira berbisik di depan wajah Hayes. “Tarik napas perlahan... lalu buang,” ulangnya. Hayes mulai mengikuti instruksi Mira. “Tarik napas lagi... lalu buang perlahan,” ucap Mira seraya meletakkan kepala Hayes di pahanya. “Tarik napas lagi... hembuskan...” Hayes menurut dan mulai bisa bernapas. Bahu Mira yang tegang perlahan merosot lega. Ibunya sering mengalami kejang dan Mira tahu bagaimana cara menenangkannya. Ia awalnya tidak sengaja melewati ruangan Hayes saat menemukan pria itu gemetar di lantai. Mira langsung teringat dengan ibunya, jadi ia mendekat—melawan ketakutannya sendiri untuk menghadapi Hayes. Dada Hayes mulai naik turun dengan teratur. Ia berkedip-kedip, masih merasa sedikit linglung. “So-sora?” ucapnya, berusaha menjernihkan penglihatannya. Alih-alih menjawab, Mira justru menyisiri rambut Hayes dan memijat kepalanya dengan lembut. Tindakannya itu mendadak mengingatkan Hayes dengan belaian tangan ibunya ketika ia masih kecil. Setiap malam, ibunya akan membelai kepalanya. Hayes akan tertidur di paha ibunya, mendengarkan senandungnya yang indah. Hayes sangat merindukan ibunya. “Bisakah kau bersenandung?” Hayes tidak tahu kenapa ia malah mengatakan itu. Ada perasaan hangat dan nyaman yang kini menelusup ke dalam hatinya. Kenangan buruk di kepalanya perlahan digantikan oleh kenangan indah saat ibunya masih hidup. Hayes sangat ingin mendengar seseorang bersenandung untuknya. Tanpa diduga, Mira mulai bersenandung kecil. “Ketika bulan bersinar, harapan datang. Kelopak bunga beterbangan, terbawa angin. Sampaikan salamku pada bulan. Ada hati yang patah, ada hati yang rapuh. Tangis tersembunyi dibalik senyum penuh luka. Tapi saat bulan masih bersinar, harapan itu masih ada Cinta itu masih ada... Di hati yang rapuh...” Suara Mira yang lembut mengalun, membelai pendengaran Hayes. Rasanya seolah Hayes kembali ke masa kecil di mana orang tuanya masih utuh. Mereka pergi ke taman dan menghabiskan waktu di sana. Bukan lagi neraka di mana ia sakit berkepanjangan dan hidup bersama ibu tirinya, terkurung dalam kenangan menyakitkan saat ibunya bunuh diri. Setelah sekian lama, Hayes merasa hidup. Mira beralih memijat tangan dan jemari Hayes yang sempat gemetar karena kejang. Secara perlahan, detak jantung Hayes mulai stabil. Mira terus memijat Hayes, sampai tanpa sadar, Hayes ketiduran di pahanya. “Tuan?” panggil Mira, tetapi Hayes benar-benar sudah jatuh terlelap. Mira mencoba menggeser kepala Hayes untuk mengambil bantal, tetapi Hayes tiba-tiba bergumam serak. “Jangan pergi, Ibu.” Mira terdiam dan menatap wajah Hayes yang sendu. Belum pernah ia melihat Hayes sesedih ini. Biasanya, pria itu lebih suka memasang wajah dingin dan acuh tak acuh. Hari ini, Mira malah melihat sisi diri Hayes yang lain. Apakah Hayes sakit? Mira tidak tahu apa-apa soal suaminya. Selama dua minggu lebih di rumah ini, ia hanya tahu nama Hayes. Ia bahkan tidak tahu nama belakang Hayes. Mira terlalu takut untuk bicara dengan Hayes. Setiap kali mereka berhubungan badan, Hayes meninggalkannya sebelum ia sempat bicara. Inisiatif Mira untuk menolongnya hari ini, semata-mata karena ia teringat dengan ibunya. Ia tidak akan tega meninggalkan Hayes begitu saja, meskipun ia tahu Hayes membencinya. Mira menatap suaminya dalam keheningan yang melingkupi keduanya. Hayes adalah pria yang rupawan, dengan rahang tegas, hidung tinggi, dan alis tebal. Tetapi, sikapnya yang selalu dingin membuat Mira takut menghadapinya. Ia tidak tahu sampai kapan ia akan bertahan sampai dinyatakan hamil. Mira harap saat itu tiba, sikap Hayes padanya bisa sedikit melunak.“Tuan...” Hayes mengangkat tangannya. “Erwin, kau masuklah lebih dulu. Aku akan menyusul,” ujarnya, masih dengan garis-garis senyuman yang enggan hilang dari wajahnya. Tawa Hayes memang telah reda, tetapi binar kebahagiaan itu masih terpancar jelas di matanya yang biasanya tampak kosong dan dingin. “Baik, Tuan.” Erwin tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya menatap Kian selama beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan area parkiran. Hayes berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang besar. Kian ragu-ragu menerima uluran tangannya. “Kau ingin membangun rumah besar seperti ini untuk Ibumu?” tanya Hayes, kembali ke topik mereka semula. Kian langsung mengangguk kepalanya dengan semangat. “Hu'um! Ian ingin membangun rumah yang sangat besar untuk Ibu. Bagaimana caranya, Bapak Yang Terhormat?” Hayes terkekeh pelan mendengar panggilan formal itu. “Bagaimana kalau panggil Paman saja?” “Paman?” “Iya, Paman Hayes.” “Baik, Paman!” Hayes tersenyum dan menarik Kian
“Mira, ini kamarmu. Kau akan tinggal di sini selama dua minggu.” Kepala pelayan menunjuk ruangan di ujung lorong lantai dua. Satu lorong dengan perpustakaan yang ‘seharusnya’ ia bersihkan. “Terima kasih, Bu Ines.” Bu Ines mengangguk singkat. Sejenak, matanya melirik Kian yang terus bersembunyi di belakang Mira. Keningnya berkerut menyadari anak itu tampak takut melihatnya. “Ya sudah, aku menunggumu di bawah,” ucapnya kemudian sebelum berbalik pergi. Mira dan Kian berdiri memperhatikan Bu Ines sampai sosoknya menghilang di belokan. “Ibu, apa itu nenek sihirnya?” tanya Kian, mendongak menatap ibunya dengan takut-takut. “Eh bukan, Sayang.” Mira buru-buru membantah. Ia berlutut, lalu merapikan rambut anaknya. “Ibu itu sangat baik, bukan nenek sihir.” “Jadi di mana nenek sihirnya?” “Nanti biar Bibi Alina sendiri yang perlihatkan, ya?” ujar Mira, hampir menepuk jidatnya sendiri. Seharusnya ia tidak membiarkan Alina merecoki pikiran Kian. Sekarang, Kian pasti akan terus memi
“Ibu, kita mau ke mana?” Kian duduk di atas tikar sambil memperhatikan ibunya yang mengepak pakaian ke dalam tas ransel. Mira menoleh dengan senyum kecil. “Untuk sementara, kita akan pindah ke tempat Ibu bekerja, Sayang. Ibu mendapat pekerjaan tambahan, jadi kita akan tinggal di sana selama dua minggu.” “Apa itu tempat yang Ibu bilang kereta api juga bisa lewat?” tanya Kian ceria, membayangkan rumah besar yang biasa ia lihat di buku dongeng. “Iya, Sayang. Tapi ingat, Kian tidak boleh nakal di sana.” “Siap!” Kian segera memberi hormat. “Ian akan menuruti apa kata Ibu.” Mira tersenyum dan menaikkan ritsleting jaket Kian sampai ke leher. Udara begitu dingin setelah hujan deras mengguyur dini hari tadi. Mira tidak ingin anaknya kembali sakit. “Ayo berangkat, Sayang. Bibi Alina pasti sudah menunggu.” Mira mengambil tasnya dan meraih tangan mungil Kian. Hari ini, Mira sengaja tidak membiarkan Kian ke TK Bintang, mengingat dia baru pulih. Mereka melewati pintu dan Kian menda
Semilir angin pagi menyapu lembut wajah Hayes yang berdiri di dekat jendela. Otaknya terus memutar senandung milik Sora. Senandung yang sama yang akan Mira nyanyikan nanti malam. Untuk ke sekian kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—apa ia sungguh ingin mendengarkan senandung itu setiap malam? Bagaimana kalau perasaan familier itu tak kunjung hilang setelah dua minggu? Bagaimana kalau ia masih melihat Mira seolah ia tengah menatap sosok Sora? Hayes mengusap wajahnya dan melangkah ke sofa. Tepat saat ia duduk, Erwin mengetuk pintu. “Tuan, Nona Audrey sudah tiba.” “Persilakan masuk.” Pintu terbuka lebih lebar, memperlihatkan seorang wanita dalam balutan blazer dan rok pensil selutut. Sepatu hak tingginya mengetuk keramik dengan keras saat dia berjalan ke arah Hayes dengan percaya diri. Audrey Regina. Seorang maestro desain interior yang menguasai pasar kelas atas. Calon kolega bisnis Hayes. Audrey menawarkan kerja sama bisnis begitu melihat potensi dari perusahaan man
Mira menatap sisa uang yang ada di dompetnya. Setelah membayar sebagian utang dan sewa kontrakannya yang menumpuk, ia masih memiliki cukup uang untuk membeli beras dan lauk selama beberapa minggu.Uang muka dari Tuan Hayes kelewat banyak. Mira seharusnya tidak menerima uang lagi setelah kontrak senandung itu berakhir. Ia merasa tidak enak hati karena biaya rumah sakit Kian saja bukan jumlah yang sedikit.Ia bahkan belum bersenandung untuk Hayes.Apa memang... Tuan Hayes sedermawan itu?‘Aku harus bekerja lebih keras lagi,’ janjinya dalam hati.Mira mengambil bibit kacang koro yang dibelinya dan bergegas naik ke kamar rawat Kian. Pagi itu, Mira ingin memastikan Kian sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke mansion Tuan Hayes.Mira mendorong pintu terbuka dengan senyum mengembang. “Ian Sayang, lihat Ibu beli apa?”Di atas sofa, Kian mendongak penasaran. Dokter sudah memperbolehkannya untuk turun dari ranjang, jadi ia mulai bermain mobil-mobilan di sofa. “Ibu bawa apa?” tanyanya antusias
Suasana di dalam rumah kecil itu mendadak sunyi senyap, menyisakan suara detak jam dinding di sudut. Mira terpaku di tempatnya berdiri, menatap Nathan dengan mata membulat tidak percaya.“Nathan...” Mira bersuara lirih, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikan yang muncul. “Kau... kau pasti hanya bercanda 'kan? Iya, 'kan?”Nathan menggeleng, sepasang mata hitamnya memancarkan keseriusan. Tidak ada sedikit pun candaan di sana. “Mira, aku benar-benar ingin tahu apa ada sedikit ruang di hatimu untukku?” suaranya mengecil, terdengar penuh harap.Mira terdiam, untuk sesaat merasa linglung.Nathan mencoba menariknya lebih dekat, tetapi Mira buru-buru melepaskan pergelangannya.Nathan menatap kecewa. “Mira...”“Maaf, Nathan.” Mira memalingkan wajah dan mundur beberapa langkah. “Aku... aku tidak bisa,” bisiknya.Jawaban itu terasa seperti tikaman belati di hati Nathan. Kekecewaan terpampang jelas di wajahnya. Nathan menatap terluka. “Kenapa, Mira? Kenapa kau tidak bisa? Apa







