Share

Efek Minyak Angin

Author: Chili Cemcem
last update publish date: 2026-01-16 23:44:28

Setelah menghabiskan waktu beberapa jam di butik untuk mengerjakan sketsa pesanan Nyonya Dewi, matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat. Sesuai janji, mereka pulang lebih awal karena kondisi "kesehatan" Adam yang tampak belum stabil.

Kembali ke jalanan, mobil tua Adam itu kembali batuk-batuk. Panas sisa siang hari membuat mesin tua itu bekerja ekstra keras tanpa pendingin. Areta kembali menggunakan kipas portabelnya, namun kali ini ia lebih banyak diam, sesekali melirik Adam dengan tatapa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Culun Itu Suamiku   Hadiah yang Sebanding

    Adam menarik napas lega melihat Areta kembali tersenyum. Ia pun melepas jas yang tersampir di kursi kerja, menggulung kemeja putihnya hingga ke siku, dan dengan cekatan mengambil alih tempat di depan mesin jahit utama."Duduklah di sana, Sayang. Biar 'si penjahit culun' ini yang mengambil alih kemudi malam ini," ujar Adam dengan kerlingan nakal.Areta duduk di sofa kecil sudut studio, memperhatikan suaminya dengan tatapan kagum yang sulit disembunyikan. Sudah lama ia tidak melihat Adam berhadapan langsung dengan mesin jahit. Gerakan tangan Adam saat memasukkan benang ke lubang jarum begitu tenang dan presisi, sebuah keterampilan yang dulu sempat ia remehkan namun kini menjadi salah satu hal yang paling ia cintai dari pria itu.Suara mesin jahit mulai menderu halus. Adam tidak hanya sekadar menjahit, ia memperlakukan kain navy itu seolah-olah sedang memahat sebuah karya seni."Aku akan mengubah sedikit potongan di bagian pinggang," gumam Adam tanpa mengalihkan pandangan dari jarum y

  • Pria Culun Itu Suamiku   Gemuk? Cantik Kok Sayang

    Persiapan pesta pernikahan dan ulang tahun Arkadia pun dimulai. Studio kecil di sayap rumah Papa Rajes kini dipenuhi dengan gulungan kain brokat Prancis, sutra satin, dan berbagai manik-manik kristal. Areta benar-benar mendedikasikan waktunya untuk menjahit sendiri gaun impian yang dulu tak sempat ia kenakan.Namun, sore itu, suasana di studio mendadak mendung.Areta berdiri di depan cermin besar dengan gaun setengah jadi yang masih disematkan jarum pentul. Wajahnya ditekuk, matanya menatap tajam ke arah pantulan dirinya sendiri. Ia mencoba menarik ritsleting di bagian samping, namun terasa sangat sesak di area pinggang.“Nggak mungkin ...,” gumamnya kesal. Ia menarik napas dalam-dalam hingga dadanya membusung, mencoba memaksakan kain itu menyatu, tetap saja ada bagian perut yang terasa menonjol.Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan frustrasi. “Adam! Kayaknya meteranku rusak!” serunya ke arah pintu.Adam yang baru saja pulang kantor langsung menuju studio begitu mendengar sua

  • Pria Culun Itu Suamiku   Keinginan Mengulang

    Malam semakin larut di sayap mewah kediaman Rajes. Arkadia sudah terlelap tenang di boks bayinya, sisa-sisa demam semalam benar-benar telah hilang. Areta duduk bersandar di kepala tempat tidur, dikelilingi oleh sketsa-sketsa gaun yang tersebar di atas sprei sutranya.​Pintu terbuka pelan, Adam melangkah masuk dengan wajah lelah namun langsung cerah saat melihat pemandangan di depannya. Ia menaruh kunci mobil dan jam tangannya di nakas, lalu duduk di tepi tempat tidur, tepat di samping Areta.​​"Masih bekerja, Sayang?" tanya Adam lembut, tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi dahi Areta.​Areta mendongak, matanya berbinar namun ada guratan keraguan di sana. "Adam, aku sedang melihat-lihat sketsa lama. Kamu ingat tidak? Kita menikah di kantor catatan sipil hanya dengan pakaian seadanya."​Adam tertegun sejenak. Ingatannya kembali ke masa itu, saat ia masih menyamar sebagai penjahit pinggiran yang culun dan tampak tidak punya masa depan. Ia ingat bagaimana Areta, sang des

  • Pria Culun Itu Suamiku   Ingin Pindah

    Suasana di kediaman mewah milik Papa Rajes siang itu terasa begitu hidup namun penuh dengan dinamika tersembunyi. Meskipun Adam dan Areta menempati salah satu sayap rumah yang sangat luas dan nyaman, tetap saja ada perasaan "menumpang" yang terkadang menghinggapi benak Adam sebagai seorang kepala keluarga.​Begitu Mama Veronica dan Papa Rajes sampai di kamar cucu mereka, ketegangan semalam langsung mencair menjadi haru biru keluarga besar.​​"Maafkan Mama, Are ... Adam ...." Mama Veronica berkali-kali menciumi tangan Arkadia yang sedang tertidur pulas setelah suhunya kembali normal. "ART baru bilang tadi di bawah. Kenapa kalian tidak telepon Mama semalam? Papa bisa langsung minta kolega dokternya datang ke sini jam itu juga!"​Papa Rajes berdiri di samping boks bayi yang terbuat dari kayu mahoni berukir indah, bagian dari kemewahan rumah ini. "Betul, Dam. Di rumah ini, fasilitas apapun bisa kita datangkan secepat kilat. Lain kali, langsung lapor Papa. Jangan menanggung beban sendiria

  • Pria Culun Itu Suamiku   Arkadia Demam

    Malam yang tenang di kediaman Adam dan Areta seketika berubah mencekam saat suara tangis Arkadia terdengar berbeda dari biasanya. Bukan tangis karena lapar atau popok basah, melainkan rintihan kecil yang menyayat hati.Areta yang pertama kali menyadarinya. Saat ia mengangkat Arkadia dari boks, telapak tangannya merasakan panas yang tidak wajar dari dahi sang putra.Kepanikan Ibu Baru“Adam! Adam, bangun!” teriak Areta dengan suara gemetar.Adam langsung terduduk tegak. Ia melihat Areta berdiri di tengah kamar dengan wajah pucat pasi, mendekap Arkadia yang wajahnya tampak kemerahan. Adam segera mengambil termometer digital dan menyentuhkannya ke dahi Arkadia.38,5° Celsius.“Dia demam tinggi, Adam. Bagaimana ini? Apa aku salah memberinya makan? Atau dia tertular virus saat kita ke supermarket kemarin?” Areta mulai menyalahkan dirinya sendiri, air matanya mulai jatuh. Tubuhnya yang masih dalam masa pemulihan mendadak terasa lemas.Adam Sang PenenangMelihat Areta yang hampir his

  • Pria Culun Itu Suamiku   LDR

    Suasana Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pagi itu terasa begitu melankolis. Riuh rendah pengumuman keberangkatan dan langkah terburu-buru penumpang seolah menjadi latar belakang yang kabur bagi Luna dan Pierre. Di jari manis Luna, cincin berlian itu berkilau, menjadi satu-satunya benda yang membuat perpisahan ini terasa nyata namun tidak terlalu menyakitkan.Pierre berdiri di depan gerbang keberangkatan internasional. Ia memegang kedua tangan Luna, seolah enggan melepaskannya meski hanya untuk melewati pemeriksaan paspor.“Aku merasa seperti sedang meninggalkan separuh jiwaku di Jakarta,” bisik Pierre, menatap Luna dengan sorot mata yang sulit untuk berpaling.Luna mencoba tetap terlihat tegar, ciri khas sekretaris tangguh yang selama ini ia bangun. Ia merapikan kerah kemeja Pierre untuk terakhir kalinya. “Jangan berlebihan, Pierre. Kamu hanya pergi untuk menyiapkan tempat bagi kita. Ingat, aku tidak mau tinggal di apartemen yang berantakan di Paris nanti.”Pierre terkekeh, namun

  • Pria Culun Itu Suamiku   Bersandar Dibahumu

    Suasana romantis itu tiba-tiba terusik saat seorang manajer restoran berjalan mendekati meja mereka dengan wajah ragu. Ia menatap Adam dengan dahi berkerut, lalu memeriksa buku reservasi dan tablet di tangannya. ​"Mohon maaf mengganggu makan malam Anda, Ibu," ucap manajer itu dengan suara rendah.

  • Pria Culun Itu Suamiku   Perhatian Kecil

    ​Sorot mata Adam mendadak sangat dingin, tajam, dan mengandung tekanan yang luar biasa berat, seolah-olah suhu di ruangan itu turun drastis. ​Kevin yang sedang asyik tertawa sinis tiba-tiba merasa tenggorokannya tercekat. Ia melihat ke arah Adam, dan untuk sesaat, ia merasa seperti sedang ditatap

  • Pria Culun Itu Suamiku   Mencoba Percaya

    Adam meraup wajahnya. Ia baru saja bermimpi buruk. Jika sang istri mengetahui jati dirinya. "Masih terlalu dini, Are. Jangan sekarang." Adam bangkit dari kursi kerjanya dan merapikan jas yang ia kenakan. Lalu bersiap menghadiri agenda selanjutnya yang sangat padat untuk hari ini. Sementara itu, A

  • Pria Culun Itu Suamiku   Bohong?

    Adam menggeleng pelan, wajahnya dibuat tampak sesedih mungkin. "Baru saja ada pesan masuk. Aku ... aku harus izin darurat besok pagi. Aku harus kembali ke rumah lamaku, ada urusan keluarga yang mendesak dan tidak bisa ditunda." ​Areta meletakkan sendoknya. Tatapannya kembali menajam, seolah sedang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status