Se connecter"Lo pikir gue mesin, hah?!" bentak Sandra melotot.Gadis itu berdiri tegak di depan cermin, menghentikan posisi squat-nya. Kaos crop top putih ketatnya makin tertarik ke atas, memamerkan perut mulusnya yang kencang. Dua gundukan dadanya yang montok menonjol menantang, naik-turun cepat seiring napasnya yang terengah-engah. Celana pendek abu-abu ketatnya mencekik paha mulusnya yang tampak lelah.Bara berdiri di sampingnya dengan jarak aman, memperhatikan postur Sandra dengan teliti. Matanya bergerak menilai paha dan lutut gadis itu agar tidak terkilir. Anak kota yang dulu selalu merundungnya di sekolah ini sekarang menurut di bawah bimbingannya. Rasa puas merayap pelan di dada Bara."Lanjut sepuluh kali, Sandra. Gerakannya dijaga, lututnya jangan melebihi ujung kaki," ucap Bara sopan namun tegas.Whuush!Sandra memutar tubuhnya cepat menghadap Bara. Rambut panjang kuncir kudanya mengibas udara, menyebarkan aroma parfum vanila yang manis dan pekat ke hidung Bara."Bara! Lo bener-bener ga
Handoko tertegun. Bibirnya bergetar menahan amarah yang menyangkut di tenggorokan. Nada suara Bara yang terlampau tenang justru terasa seperti ancaman paling berbahaya. Pria tua itu tahu betul, kalau masalah ini sampai ke tangan orang luar, kebobrokan keuangan perusahaan yang ia tutup-tutupi selama bertahun-tahun bakal terbongkar total."Kamu... benar-benar anak gak tahu diri!" bentak Handoko parau.Tangannya melayang di udara, berniat melayangkan tamparan keras ke wajah Bara.Sret!Gerakan Handoko berhenti mendadak. Tangan besar Bara bergerak cepat mengunci pergelangan tangan tua itu tepat di udara. Cengkeraman Bara kuat seperti catok besi, tidak memberi ruang sedikit pun untuk bergerak."Argh!" Handoko meringis. Matanya melotot saat menyadari tenaganya kalah telak dari anak muda di depannya."Sudah cukup main fisiknya, Pak," ucap Bara datar, menatap lurus ke mata bapaknya dari jarak dekat. "Waktu Bapak untuk memukul atau membuang saya sudah habis belasan tahun lalu."Plak!Marissa y
Bara menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ruangan berukuran medium itu tampak temaram, hanya diterangi lampu meja yang berpendar kekuningan. Ia melempar tas gym ke sudut ruangan, lalu melepas polo hitamnya yang sedikit lembap oleh keringat.Otot-otot dadanya yang tegap dan kokoh terekspos jelas di bawah remang lampu. Amarah yang ditahannya di hadapan Handoko masih menyisakan hawa panas di dalam dadanya.Tiba-tiba, ponsel di atas mejanya bergetar hebat. Layar menyala menampilkan nama yang tidak asing.Sandra.Bara menyipitkan mata. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.15. Ia meraih ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau, menempelkannya ke telinga tanpa bersuara."Bara! Lo jahat banget sih!" suara Sandra langsung menyambar, terdengar parau, manja, sekaligus ketus."Kenapa?" tanya Bara datar sambil mendudukkan diri di tepi ranjang."Kaki gue beneran lemas! Paha mulus gue rasanya mau copot gara-gara squat sepuluh set yang lo paksain tadi!" rengek Sandra dari balik telepon. Suara gese
Marissa perlahan mendongak, menatap rahang tegas Bara. Dalam kegelapan ruang tengah yang hanya diterangi lampu taman dari luar, Bara berdiri begitu tenang."Bara..." cicit Marissa lirih dengan bibir bergetar."Aku tidak pernah mengecewakan orang yang berdiri di pihakku, Tante," bisik Bara tepat di depan telinga Marissa.Tangan besar Bara memegang pinggang Marissa, menarik tubuh berbalut gaun sutra merah marun itu mendekat ke dada bidangnya. Kain tipis gaun tidur Marissa menempel kencang di baju Bara.Glek.Marissa menelan ludah. Tangannya meremas kain kemeja polo hitam Bara. Napasnya memburu cepat."Bapakmu... dia terus berteriak di atas, Bara. Dia mengancam akan memecat semua staf keuangan kalau berkas itu tidak ketemu besok pagi," adu Marissa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.Bara tersenyum tipis. Rahang tegasnya tetap tenang."Biarkan Bapak berteriak sampai suaranya habis," jawab Bara datar. "Berkas itu sudah aman di tanganku. Besok Maya yang akan menyerahkan laporan keuangan it
Sandra menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar. Ia tidak lagi memaksakan diri melakukan crunch dengan kecepatan tinggi, melainkan mengatur ritmenya dengan lebih stabil."Bar," panggil Sandra di sela napasnya yang teratur."Ya?" Bara menjawab datar. Tangannya masih memegang pergelangan kaki Sandra dengan mantap, namun kali ini pijatannya sedikit melonggar agar otot gadis itu tidak terlalu tegang."Lo tahu gak, gue beneran kesel sama lo hari ini," ujar Sandra. Ia berhenti sejenak di posisi telentang, menatap langit-langit ruangan sebelum kembali mengangkat tubuhnya."Gara-gara latihan ini atau gara-gara kejadian di pintu tadi?" Bara membalas dengan nada tenang.Sandra mendengus. "Dua-duanya. Lo terlalu kaku, Bar. Gue cuma mau ngetes, eh malah dikasih porsi latihan kayak mau ikut kompetisi binaraga.""Aku cuma melakukan tugasku sebagai instruktur," sahut Bara. "Kalau kamu merasa lelah, istirahat dulu sebentar. Tidak perlu dipaksakan sampai kram."Mendengar itu, Sandra ju
Sandra mendongak, menatap Bara dengan pandangan mata yang sayu namun dipaksakan ketus. Napasnya masih satu-satu, membuat dua gundukan dadanya yang montok naik-turun dengan cepat di balik kaos crop top putih ketatnya. Bulir keringat mengalir lambat dari leher jenjangnya yang putih, terus turun ke bawah dan menghilang di balik belahan kemeja crop-nya yang seksi."Ih, lo bener-bener gak punya perasaan ya, Bara! Kulit gue yang mulus ini bisa lecet-lecet tahu kalau langsung disuruh ambil matras lagi!" omel Sandra manja dengan suara parau yang kental. Dia sengaja membuang muka, lalu mengipas-ngipas lehernya yang gerah menggunakan tangan lentiknya.Bara tidak bergeming. Postur tubuhnya yang tinggi tegap berdiri kokoh seperti dinding di depan Sandra, memberikan tekanan dominan yang membuat nyali mantan perundungnya itu menciut perlahan. Kaos polo hitam ketat yang membungkus dada bidang Bara tercetak sangat kencang, memperlihatkan lekuk otot perutnya yang kokoh saat dia menarik napas dalam-







