Share

8. Basah di Sini

Author: Rheika
last update publish date: 2026-10-13 06:47:24

Lucy tercekat, merasakan degup jantungnya berdegup lebih kencang.

"Saya tadi sempat bicara dengan polisi. Barang itu juga dibawa untuk pemeriksaan," ucap Alex dengan tenang. "Obat itu berdosis tinggi. Sekarang kamu ... pasti sangat menderita."

Lucy menunduk. Tangannya menarik ujung bajunya ke bawah, seolah ingin menutupi sesuatu di baliknya.

Alex tidak salah. Lucy memang menderita karena gejolak panas di tubuhnya.

Napasnya membara, setiap jengkal kulitnya seperti disengat. Sedangkan int
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   8. Basah di Sini

    Lucy tercekat, merasakan degup jantungnya berdegup lebih kencang. "Saya tadi sempat bicara dengan polisi. Barang itu juga dibawa untuk pemeriksaan," ucap Alex dengan tenang. "Obat itu berdosis tinggi. Sekarang kamu ... pasti sangat menderita." Lucy menunduk. Tangannya menarik ujung bajunya ke bawah, seolah ingin menutupi sesuatu di baliknya. Alex tidak salah. Lucy memang menderita karena gejolak panas di tubuhnya. Napasnya membara, setiap jengkal kulitnya seperti disengat. Sedangkan inti tubuh yang tersembunyi di balik kedua pahanya berdenyut minta disentuh. Sensasinya membuat kepala Lucy pusing hingga tak dapat berpikir jernih. Mungkin karena Alex mengendarai dengan cukup kencang, tak lama mereka sampai di tempat tujuan, sebuah gedung apartemen. Alex lebih dulu turun, lalu membukakan pintu Lucy. Namun saat Lucy melangkah keluar, kakinya terasa begitu lemas, hingga dia hampir jatuh. Beruntung Alex dengan sigap menahannya. "P-Pak?!" Lucy berseru saat Alex mengangkat

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   7. Obat Perangsang

    Lucy menjerit kesakitan ketika tangan Riko dengan kasar menjambak rambutnya, menyeretnya dari pintu depan ke dalam apartemen. Tubuh Lucy dihempaskan begitu saja, hingga jatuh dan menubruk kaki meja. "Ah!!" Rasa nyeri menyerang badannya, kepalanya sedikit pusing akibat jambakan kencang itu. Riko menatap nyalang seperti predator yang menemukan mangsa. "Wah, senang sekali bisa ketemu denganmu lagi, Lucy," desis Riko sambil menyeringai lebar. "A-apa yang kamu lakukan di sini?" Lucy menahan rasa sakit, suaranya bergetar. "Menemuimu. Apalagi? Kamu tak kangen padaku?" jawab Riko santai. "Apalagi, kamu meninggalkanku malam itu dengan tidak sopan." Pria itu berjongkok di depan Lucy dan mencapit dagunya, memaksa Lucy untuk mendongakkan muka. "A-aku tidak..." Napas Lucy tercekat oleh rasa takut. Lucy tidak menyangka, kakak tingkat yang dulu sangat ramah, bisa terlihat begitu menyeramkan dari dekat. "Aku sedikit penasaran, Lu ... Apa yang kamu lakukan dengan pamanku setelah

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   6. Ingin Menuntut Balas

    "Apa?" Lucy terdiam lama. Dia pikir dia baru saja salah dengar. Otaknya perlu memproses informasi itu. Riko ingin menuntut balas? Bukankah korban sebenarnya di sini itu Lucy? "Tapi, tenang saja," ujar Alex santai. "Saya sudah mengambil langkah untuk mencegahnya. Untuk saat ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa." Lucy menelan ludah. Pria ini benar-benar santai saat mengucapkannya. Tapi, apa Lucy bisa mempercayainya? "Bagaimana caranya ... Anda mencegahnya?" tanyanya. "Riko bukan pekerja keras. Apa yang dimilikinya saat ini adalah hasil pemberian orang tuanya," jelas Alex. Lucy jadi teringat, bagaimana Alex dan Riko tampak akrab di bar malam itu, dan Riko memanggilnya paman. Dengar-dengar, keluarga Alex adalah donatur kampus terbesar. Apa karena berasal dari kalangan yang kuat seperti itu, Riko jadi bertindak sesuai kehendaknya sendiri? "Oleh karena itu, saya sudah membuat fasilitas Riko dicabut darinya. Dia tidak bisa apa-apa, untuk saat ini." Penjelasan lanj

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   5. Dosen Itu

    Wajah itu, tak salah lagi. Itu adalah Alex. Pria yang semalam menyelamatkannya dari Riko di kejadian di bar. Juga yang telah membawanya ke hotel, di mana Lucy memohon-mohon untuk disentuh dan dipuaskan. Bagaimana bisa ... pria itu kini berdiri di sana dengan pakaian rapi sebagai dosen?! "Selamat pagi," sapa dosen itu, semakin meyakinkan Lucy dari suaranya kalau dia memang Alex. "Saya Alex Darmawan, yang akan mengajar mata kuliah ilmu sosial dasar mulai hari ini," lanjutnya dengan tenang. Lucy masih memperhatikannya dengan ternganga. Saat tatapan Alex berseborok dengan tatapan Lucy, sontak wajah Lucy palingkan. Astaga! Keadaan canggung macam apa ini?! *** Kelas itu entah kenapa berlangsung sangat lama, hingga akhirnya selesai satu jam kemudian. Lucy buru-buru membereskan barang-barangnya. Hari ini dia hanya punya kelas pagi dan kelas umum di sore hari, jadi berencana untuk menghabiskan siang di perpustakaan. "Lucy! Mau makan siang dengan kami?" Ella mengajak tiba-ti

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   4. Dalam Dekapan Erat

    Suara cecapan dari bibir yang saling beradu itu memenuhi langit-langit hotel. Lucy tak kuasa menahan erangan, saat bibir rakus pria itu menguasai bibirnya. Baru kali ini Lucy berciuman seperti kelaparan. Perlahan, dirasakannya tangan besar pria itu menyusuri pinggangnya, lalu bergerak ke punggung. Ah, inikah akhirnya? Pria itu akan menyentuhnya? Dan Lucy akan menyerahkan pertama kalinya pada pria tampan yang bahkan belum dikenalnya ini. Tapi... grep! Bola mata Lucy membulat saat menyadari bahwa tubuhnya tak bisa bergerak. Lucy melihat ke bawah, dan baru disadarinya jika Alex ternyata melilit tubuhnya dengan selimut hingga menjadi seperti kepompong! "T-tunggu! Kenapa Anda melakukan ini?!" seru Lucy sambil menggeliat. Alex tersenyum miring. "Kamu tidak berpikir aku benar-benar akan meniduri perempuan yang baru kutemui kurang dari satu jam yang lalu, kan?" Wajah Lucy memanas. Rasa malu dan terhina menggerayangi dirinya. Pria ini ... baru saja memberinya harapan dengan ciu

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   3. Haus Akan Sentuhan

    Badan pria ini menegang. Lucy bisa merasakannya. Dengan gerakan sensual, Lucy mengelus benda yang menonjol di balik celana itu perlahan, membangkitkan gairah pria ini. Lucy tidak pernah melakukannya, tapi yang dia pelajari, bagian ini adalah pusat kenikmatan seorang pria. Grep. Tangan Lucy dicekal. Pria itu berbalik, dan dengan kekuatannya, dengan mudah mendorong Lucy sampai perempuan itu berjalan mundur. "P-Pak? Pak Alex?!" Lucy kelimpungan. Tiba-tiba saja, dia sudah terdorong hingga jatuh terbaring kembali di kasur, dengan Alex mengukungnya di atasnya. "Jangan menguji kesabaran saya," desis pria itu. Napasnya terasa hangat menerpa wajah Lucy. Di wajahnya, Lucy bisa melihat kilat emosi, hasrat, dan ... penahanan diri? Pria ini sedang menahan diri? Padahal, Lucy tidak ingin menahan diri saat ini. Tapi pemikiran itu membuatnya merasa seperti hewan hina yang tak mampu membendung hasrat. "S-saya..." suara Lucy bergetar dengan air mata menggenang di kedua bola mata jernihnya. "S

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   2. Temani Saya Malam Ini

    Lucy mendongak, pandangannya kabur, tapi masih bisa sedikit menekuri wajah pria itu. Pria itu, wajahnya begitu rupawan, juga familier. Rahangnya tegas, tatapan mata tajam, dan wajah bak pahatan dewa. "Paman Alex ..." Riko memanggilnya dengan cara yang akrab, dengan santai seolah tidak baru saja

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   1. Tolong saya, Tuan!

    "Ahh, Davin! Teruskan, Sayang!" Suara desah bersahut-sahutan yang beradu dengan derit ranjang itu terdengar nyaring saat Lucy baru saja memasuki apartemen kekasihnya. Darah Lucy berdesir. Suara erangan itu, jelas dia kenal, adalah milik Davin. Sedangkan jeritan wanita itu entah siapa, yang jela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status