Home / Romansa / Pria Simpananku Ternyata Kaisar / BAB 1: MALAM PERPISAHAN

Share

Pria Simpananku Ternyata Kaisar
Pria Simpananku Ternyata Kaisar
Author: Kak Upe

BAB 1: MALAM PERPISAHAN

Author: Kak Upe
last update publish date: 2026-05-22 00:05:09

"Nyonya… malam ini, aku ingin kau mengingat setiap detiknya. Saat kau kembali ke rumah itu dan melihat suamimu, yang kau ingat hanyalah aku."

Suara pria itu parau, serak seperti kehausan. Napas hangatnya mendarat di kulit Ning Yuan yang telanjang, dan bulu-bulu halus di lengannya berdiri.

Ning Yuan memejamkan mata. Bibirnya tergigit menahan erangan ketika pria itu menggigit lembut daun telinganya, lidahnya menjilat kulit di baliknya.

"Aku sudah memperingatkanmu," bisik Ning Yuan, "Jangan bicara tentang suamiku di ranjang ini."

Ini bukan pertama kalinya Ning Yuan datang ke paviliun ini, tempatnya bergumul hangat dengan seorang pria bayaran.

Sejak dua tahun lalu, suaminya membawa pulang adik tiri Ning Yuan sebagai selir ke kediaman mereka, dan menghabiskan malam-malam dengan selirnya itu, Ning Yuan yang kesepian pun mencari cara untuk mengisi kekosongan hatinya.

Pria itu terkekeh pelan, suaranya dalam dan menggema pelan. "Baik, Nyonya… Kau hanya perlu fokus pada perasaan ini."

Jemari pria itu sudah bergerak turun, menyusuri pinggangnya, menggenggam pahanya. Kain sutra merah Ning Yuan melorot hingga pinggang, memperlihatkan dua gundukan putih dengan puncak merah muda.

Dia menunduk, mengambil puncak sensitif Ning Yuan ke dalam mulutnya. Menghisap perlahan, lidahnya bergerak dalam ritme yang membuat Ning Yuan kehilangan kendali.

Erangan panjang lolos dari bibirnya. Sensasi panas menyebar dari dadanya ke seluruh tubuh.

Tangannya mencengkeram bahu pria itu, merasakan otot-otot keras di balik jubah hitam yang setengah terbuka. 

Pria itu terus menghisap, kadang menggigit lembut, kadang menjilat. Tangannya yang lain bergerak turun, menyusuri perut Ning Yuan yang rata, melewati pusarnya, berhenti di antara pahanya—di mana kehangatan dan kelembapan sudah menunggu.

"Kau seperti danau di musim hujan, Nyonya," bisiknya. "Dan kita bahkan belum mulai."

Jari pria itu menyusup ke dalam kelopak yang menunggu. Jari itu bergerak di dalam dirinya, mengeksplorasi, menemukan titik yang membuatnya melengkungkan punggung dan menggenggam rambut pria itu erat-erat.

"A-ah..." Dia terputus ketika pria itu menambahkan jari kedua, melebarkan lipatannya perlahan. "Kau terlalu cepat..."

"Bagaimana aku bisa sabar saat Nyonya ada dalam pelukanku seperti ini?" Pria itu menggeram pelan.

Ning Yuan merasakan tubuhnya mulai bergetar, otot-otot di perutnya menegang. Hingga ia akhirnya mencapai puncak.

Dengan napas terengah-engah, Ning Yuan membuka mata. Tubuhnya puas, namun sudut hatinya terasa hampa.

Sebab, setiap selesai di ranjang ini dan pulang kembali ke kediaman Shen, ia akan kembali menjadi istri dan menantu yang tidak dianggap.

Ning Yuan bangkit dan menarik jubahnya kembali hingga menutupi bahu polosnya. Sebelum ia sempat beranjak, pria itu menahan lengannya.

"Nyonya… kau mau ke mana?"

Ning Yuan tersenyum tipis. "Aku harus kembali ke kediamanku. Seperti yang sudah kukatakan, hubungan kita selesai. Ini adalah terakhir kalinya aku menemuimu."

Ya. Ning Yuan sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Setelah ini, ia akan mengambil kehormatannya kembali sebagai nyonya muda.

Pria itu menatapnya dengan rahang yang mengeras. Meski ia sudah dibayar, ia seolah tak rela melepaskan pelanggan tetapnya selama dua tahun terakhir itu.

"Bukankah kau tidak punya tempat di sana? Bukankah mereka menjadikanmu sapi perah keluarga Shen? Itu sebabnya kau datang padaku. Kenapa sekarang meninggalkan aku dan memilih mereka?"

Ning Yuan tersenyum, hatinya tersentuh. Tatapan pria bayaran yang sudah dua tahun melayaninya ini seolah benar-benar mempedulikannya.

Ia mengelus pelan kedua pipi pria itu di tangannya. "Ada beberapa hal yang harus aku urus. Dan tidak bisa aku katakan padamu."

"Aku memberimu bayaran lebih untuk malam ini. Setelah itu, kau bisa hidup dengan lebih baik, dan berhenti menjadi pria bayaran."

Pria itu tertegun. Begitu Ning Yuan melepaskannya dan beranjak dari kasur, dua tangan kokoh itu menariknya kembali ke dalam pelukannya.

"Tidak… belum selesai," desisnya di telinga Ning Yuan. "Karena Nyonya membayar lebih, maka aku akan… beri pelayanan lebih."

Dia membalikkan tubuh Ning Yuan, menelungkupkannya di atas ranjang. Tubuh pria itu menekannya dari belakang—berat, hangat. Dan dia merasakan keinginannya yang keras menekan kulit punggungnya.

"Apa yang kau… ah…"

Ning Yuan menggigit bantal menahan erangan ketika pria itu menyusup ke dalam dirinya dari belakang—perlahan, inci demi inci, sampai kepenuhan membanjirinya. Setiap kali, setiap kali, rasanya seperti pertama kali.

Pria itu mulai bergerak. Lambat. Membiarkannya menyesuaikan diri. Kemudian ritmenya meningkat, lebih dalam, lebih cepat. Suara tubuh mereka bertabrakan di ruangan sunyi.

"Kau... terlalu... dalam..." Ning Yuan mencoba berkata.

Tapi kata-katanya terpotong ketika pria itu mencapai sudut yang membuatnya hampir menjerit. Tangannya mencengkeram seprai, kukunya hampir merobek kain. Puncaknya datang lagi, dan lagi.

Tubuhnya bergetar hebat di bawah pria itu—gelombang kenikmatan menyapu dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Kau benar-benar wanita yang keras kepala, Ning Yuan," suara rendah pria itu menyapu telinganya lembut. "Aku berjanji padamu, suatu hari nanti kau akan kembali ke atas ranjangku atas keinginanmu sendiri."

***

Saat Ning Yuan kembali ke kediaman Shen, ia melihat kereta besar berhias berhenti di pelataran.

Peti-peti mewah diturunkan. Dan di sana, berdiri dengan anggun, adalah Ning Xue'er. Di sampingnya, Shen Ziyuan, suami Ning Yuan, berdiri dengan tangan melingkari pinggang Ning Xue’er.

"Ah, Kakak Ning Yuan?"

Ning Xue'er melihatnya pertama kali. Wajahnya berseri dengan senyum manis khasnnya. 

"Kami baru saja tiba. Aku dan Kakak Ziyuan sangat merindukan rumah ini!" Dia melangkah mendekat dengan anggun, dan dengan sengaja menyentuh perutnya yang masih rata.

"Aku juga ingin memberitahu kabar baik. Aku hamil, Kak. Anak Kakak Ziyuan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   TAMAT

    Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dengan keras. Weitian menerobos masuk, diikuti oleh Pangeran Ketiga, Weijun. Wajah Weitian panik."Yuan! Apa kau baik-baik saja?!" dia berlutut di samping Ning Yuan, meraih tangannya. "Kami mendapat laporan ada orang mencurigakan masuk ke paviliunmu—"Weitian berhenti. Dia melihat wajah Ning Yuan. Mata yang berkaca-kaca. Ekspresi yang penuh pertanyaan."Yuan... ada apa?"Ning Yuan menatapnya. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia ingin bertanya. Dia ingin tahu. Tapi dia takut.Weitian menggenggam tangannya lebih erat. "Yuan, katakan padaku. Apa yang terjadi?""Weihu," Ning Yuan akhirnya bersuara, suaranya serak. "Dia datang. Dia mengatakan...."Weitian menegang. "Apa yang dia katakan?"Ning Yuan menatapnya. "Dia bilang... kakekku adalah Jenderal Lin Zhongtian. Dan dia dihukum mati demi mendiang kaisar naik tahta. Dan kau... kau tahu tentang itu. Kau tahu siapa aku sebenarnya."Weitian membeku."Yuan—""Apakah kau benar mencint

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 106

    Malam itu sunyi. Ning Yuan duduk di depan meja, memandangi luka di lengannya yang sudah dibalut. Pikirannya masih berkecamuk dengan semua yang terjadi—pesta, pengkhianatan, Janda Permaisuri yang ditangkap, dan Weihu yang kabur.Dia menghela napas panjang. Semua ini... terlalu banyak.Tiba-tiba, angin berhembus dari jendela yang sedikit terbuka. Ning Yuan menoleh, dan jantungnya hampir berhenti berdetak.Di ambang jendela, berdiri Long Weihu. Pria itu tersenyum—senyum yang dingin dan penuh kebencian."Selamat malam, Ning Yuan."Ning Yuan berdiri dengan panik. "Kau—bagaimana kau bisa masuk?!""Paviliun ini terlalu mudah untuk dimasuki," Weihu melangkah masuk dengan santai. "Pengawal-pengawal itu terlalu sibuk menjaga depan, mereka lupa jendela belakang."Ning Yuan mundur, tangannya meraih belati di meja. "Pergi dari sini. Atau aku akan berteriak.""Berteriaklah," Weihu tersenyum. "Tapi sebelum pengawal datang, aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu."Ning Yuan ragu. Ada

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 105

    Di dalam ruangan pesta, suasana mulai berubah.Janda Permaisuri mengamati para tamu yang mulai menikmati anggur. Senyumnya melebar saat melihat beberapa orang mulai terlihat mengantuk. Satu per satu, para tamu mulai terjatuh ke kursi mereka—kepala terkulai, tubuh lemas tak berdaya."Anggurnya sudah bekerja," bisik seorang pelayan di telinga Janda Permaisuri."Bagus," Janda Permaisuri tersenyum puas. "Sekarang, kirim sinyal pada Pangeran Kedua. Saatnya pasukannya bergerak."Pelayan itu mengangguk dan berlari keluar. Janda Permaisuri duduk di kursinya, menikmati pemandangan di hadapannya—puluhan bangsawan tergeletak tak sadarkan diri, tidak ada yang bisa melawan.Sempurna, pikirnya. Sekarang tinggal menunggu Weihu datang dan mengambil alih.Tidak lama kemudian, suara langkah kaki berat terdengar dari luar. Pintu ruangan terbuka lebar, dan masuklah Long Weihu dengan puluhan pasukan bersenjata lengkap. Mereka langsung menyebar, mengamankan setiap sudut ruangan.Weihu melangkah masuk denga

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 104

    Di paviliun Ning Yuan, Weitian dan Ning Yuan masih berpelukan setelah menerima laporan dari Ye Haoran. Mereka berdua diam, merenungkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.Sebelumnya saat Ye Haonan datang."Yang Mulia," Ye Haoran masih berlutut di hadapan mereka, "hamba juga mendengar bahwa Janda Permaisuri akan mengadakan pesta besar besok malam. Konon, untuk merayakan kembalinya Yang Mulia ke istana."Weitian mengerutkan kening. "Pesta? Untuk apa?""Ya, Yang Mulia. Dan hamba mendengar bahwa Janda Permaisuri telah memerintahkan persiapan yang sangat matang. Ada sesuatu yang mencurigakan."Weitian berjalan ke jendela, pikirannya berputar. Pesta besar... di saat yang hampir bersamaan dengan rencana Weihu untuk bergerak... ini pasti bukan kebetulan."Aku harus mencari tahu apa rencana mereka," gumamnya pelan. "Haoran, selidiki lebih dalam. Cari tahu detail pesta itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan.""Baik, Yang Mulia," Ye Haoran mengangguk dan pergi.Ning Yuan men

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 103

    Di paviliun Pangeran Kedua, suasana terasa tegang. Long Weihu duduk di kursi utamanya, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme tidak sabar. Di hadapannya, seorang pria berpakaian hitam berlutut dengan kepala menunduk."Lapor, Yang Mulia," kata pria itu dengan suara rendah. "Pasukan pengawal Kaisar dan Pangeran Ketiga saat ini sedang mengusut kasus penyerangan di kediaman keluarga Shen beberapa waktu lalu. Mereka juga menyelidiki serangan di lembah saat Kaisar dalam perjalanan pulang."Weihu berhenti mengetuk. Matanya menyipit. "Apa mereka sudah menemukan sesuatu?""Belum, Yang Mulia. Tapi penyelidikan mereka semakin mendekati kebenaran. Kaisar memerintahkan Jenderal Zan dan Ye Haoran untuk menyelidiki para penyerang waktu itu. Jika mereka terus melacak, cepat atau lambat... mereka akan menemukan bukti yang mengarah ke Yang Mulia."Weihu terdiam. Pikirannya berputar cepat. Dia sudah menduga ini akan terjadi. Weitian tidak bodoh. Dan Weijun juga tidak bodoh. Mereka pasti akan mencari ta

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 102

    Weitian mengikuti ibunya berjalan menyusuri taman istana. Udara sore terasa sejuk, tapi suasana di antara mereka terasa tegang.Janda Permaisuri berjalan dengan langkah anggun, sesekali berhenti untuk mengagumi bunga-bunga di tepi jalan. Weitian mengikuti di sampingnya, diam, menunggu ibunya memulai pembicaraan."Kau tahu, Yang Mulia," Janda Permaisuri akhirnya bersuara, "aku sangat khawatir padamu saat kau pergi. Istana tanpa kaisar seperti kapal tanpa nahkoda.""Maafkan aku karena membuat Ibu khawatir," jawab Weitian sopan."Tidak apa-apa," Janda Permaisuri tersenyum. "Yang penting kau kembali. Dan kau membawa Ning Yuan." dia berhenti, menatap putranya. "Aku harus mengakui, jodoh diantara kalian sangat kuat Dia wanita yang cantik. Aku bisa paham mengapa kau tergila-gila padanya."Weitian tersenyum tipis. "Terima kasih, Ibu.""Tapi," Janda Permaisuri melanjutkan, suaranya sedikit berubah, "kau tahu apa yang akan dikatakan para bangsawan, bukan? Mereka akan bertanya, 'Bukankah dia dah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status