Share

Bab 33

Author: Khai Tsan
last update publish date: 2025-12-17 01:13:52

Ayu mengangkat wajahnya. Matanya bengkak, hidungnya merah.

"Dia jahat, Daniel," bisik Ayu, suaranya serak. "Rangga... dia jahat sekali."

Pertahanan Ayu runtuh lagi. Kali ini, bukan kemarahan yang meledak, melainkan rasa sakit hati yang murni dari seorang istri yang terluka. Ayu menceritakan semuanya. Tentang unggahan Instagram Tania, tentang senyum Rangga yang begitu lebar di foto itu—senyum yang sudah lama hilang dari rumah mereka—dan tentang percakapan telepon yang berakhir dengan Rangga memb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 143

    "Dan ini adalah koper terakhir. Pak Rangga, Bu Ayu, saya pamit dulu. Selamat beristirahat. Kalau ada perlu apa-apa, Pak Rangga bisa langsung hubungi saya," ucap Pak Tri seraya meletakkan koper besar berbahan polycarbonate itu di samping meja konsol lobi dalam apartemen.Rangga tersenyum ramah, melangkah mendekati sopir paruh baya itu. "Terima kasih banyak ya, Pak Tri. Maaf sudah merepotkan dari pagi, apalagi tadi sempat ada drama sedikit.""Ah, tidak apa-apa, Pak Rangga. Sudah tugas saya," Pak Tri terkekeh pelan, menyalami tangan Rangga dengan penuh hormat. "Ibu Roselyn juga pesan ke saya tadi, pastikan Pak Rangga dan Bu Ayu nyaman. Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.""Iya, Pak Tri. Hati-hati di jalan. Nanti kalau saya butuh diantar ke kantor atau tempat lain, saya kabari via WhatsApp.""Siap, Pak. Selamat siang, Bu Ayu," pamit Pak Tri.Ayu tersentak kecil dari lamunannya, lalu menyunggingkan senyum canggung. "Iya, Pak Tri. Terima kasih banyak, ya."Setelah pintu utama apartemen te

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 142

    "Takut apa, Ay?" tanya Rangga lembut. Tangannya masih melingkar di tubuh Ayu, tetapi pelukannya perlahan dilonggarkan. Ibu jarinya menyapu air mata yang mengalir di pipi istrinya.Ayu mengangkat wajah. Matanya sembap, hidungnya memerah. Bibirnya bergetar beberapa saat sebelum akhirnya ia mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur."Aku takut..." Suaranya nyaris tak terdengar. "Takut kamu ninggalin aku."Rangga diam.Ayu menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara semakin bergetar. "Takut kamu menemukan perempuan lain yang lebih baik dari aku. Perempuan yang enggak pernah menyakitimu. Perempuan yang bisa bikin kamu bahagia tanpa harus membawa luka seperti yang aku lakukan."Rangga menatapnya beberapa detik. Tidak ada kemarahan di wajah pria itu. Justru ketenangan itulah yang membuat dada Ayu semakin sesak."Begitu?" jawab Rangga singkat.Ayu mengangguk kecil. "Iya..." Air matanya kembali jatuh. "Aku takut suatu hari kamu sadar kalau kamu sebenarnya enggak perlu aku."Rangga te

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   141

    Pintu kamar yang tadinya hanya terbuka sedikit mendadak terdorong lebar-lebar dengan sendirinya!Suara desahan berganti menjadi keheningan mendadak. Rangga dan Roselyn menghentikan pergerakan mereka secara serentak. Keduanya perlahan memutar kepala, menoleh lurus ke arah Ayu yang berdiri membeku di ambang pintu.Tidak ada raut terkejut atau bersalah di wajah mereka. Malahan, sebuah ukiran senyum sinis perlahan merekah di bibir Rangga, menyebar menjadi derai tawa dingin yang menggema memenuhi seluruh ruangan. Roselyn pun menyusul, tertawa kecil dengan suara nyaring, merdu, namun terdengar begitu menyayat ulu hati Ayu."Rangga...?" bisik Ayu dengan suara tercekat, runtuh ke lantai. "Apa... apa yang kalian lakukan?"Rangga menatap Ayu dari atas tempat tidur, pandangan matanya penuh dengan kedinginan yang mematikan."Kenapa kamu terkejut, Ayu?" tanya Rangga dengan nada santai, namun setiap katanya terasa bagai sembilu tajam. "Ini adalah balasan dari pengkhianatan yang kamu lakukan! Kamu p

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 140

    Mobil kembali melaju setelah Roselyn menghilang di balik pintu kaca gedung megah itu. Ayu masih menoleh ke belakang. Gedung tersebut perlahan menjauh, tertutup oleh kendaraan yang melintas di antara mereka.Entah kenapa, perasaan aneh masih tertinggal di dadanya."Mbak Rose..." gumam Ayu pelan.Rangga yang duduk di sebelahnya menoleh. "Kenapa?"Ayu tersentak kecil. "Hah?""Kamu manggil Rose.""Oh..." Ayu kembali menatap keluar jendela. "Enggak apa-apa. Aku cuma masih kepikiran.""Urusan tadi?"Ayu mengangguk. "Iya."Rangga diam beberapa saat. "Jangan terlalu dipikirkan."Ayu menoleh. "Mas tahu dari mana aku sedang memikirkannya?"Rangga tersenyum tipis. "Kelihatan.""Kelihatan?""Iya." Rangga menunjuk wajah Ayu. "Alismu kalau sedang bingung suka berkerut."Ayu spontan menyentuh dahinya. "Serius?"Rangga tertawa kecil. "Serius."Ayu ikut tersenyum. Untuk beberapa detik, suasana terasa jauh lebih ringan. Namun, rasa kantuk perlahan datang tanpa bisa ditahan. Ayu menyandarkan kepala ke j

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 139

    Mobil SUV hitam itu melaju mulus meninggalkan kawasan bandara. Kabin yang hangat membuat embusan udara dingin Sydney hanya terlihat lewat embun tipis di kaca jendela. Ayu duduk diam di kursi belakang bersama Rangga, sementara Roselyn sesekali menunjuk bangunan-bangunan yang mereka lewati."Kalau cuacanya lagi cerah, dari jalan ini kamu bisa lihat pelabuhan lebih jelas," ujar Roselyn sambil tersenyum. "Nanti kalau kamu sudah istirahat, aku ajak jalan-jalan."Ayu mengangguk pelan. "Iya, Mbak.""Kamu suka kopi, kan?""Suka...""Nah, dekat apartemen nanti ada kafe kecil langgananku. Baristanya orang Indonesia. Lumayan buat ngobatin kangen suasana rumah."Ayu tersenyum tipis. "Mbak Rose hafal banget, ya..."Roselyn terkekeh kecil. "Ya harus, dong. Rangga sudah berkali-kali mengingatkan aku supaya kamu betah di sini."Rangga hanya tersenyum tanpa ikut menyela. Belum sempat percakapan berlanjut, suara dering ponsel memecah suasana.Tring...Roselyn melirik layar ponselnya. Senyumnya perlahan

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 138

    Sinar matahari pagi yang cerah menembus kaca jendela besar Bandara Internasional Kingsford Smith, Sydney. Udara dingin khas awal musim dingin langsung menyapa kulit saat Ayu melangkah keluar dari garbarata, mengekor di belakang Rangga. Langkah kaki Rangga terasa mantap, sementara Ayu harus berjuang keras menyeimbangkan langkahnya yang gontai. Rasa lelah, kantuk, dan kecemasan yang membakar dadanya sepanjang malam di atas pesawat masih menyisa utuh.Ayu memegang erat tali tas tangannya. Setiap kali ia melirik Rangga, bayangan pesan singkat rahasia di ponsel suaminya semalam kembali teringat jelas: “Semua persiapan di Sydney sudah siap. Pastikan dia tidak curiga.”"Kamu kuat banget pegang tasnya, Ay. Kenapa? Ada yang ketinggalan di pesawat?" tanya Rangga pelan seraya menoleh, menangkap kegelisahan istrinya.Ayu menggeleng cepat, memaksakan senyum tipis. "Enggak, Sayang. Cuma agak dingin saja.""Nanti di mobil langsung pakai jaket tebal, ya. Kita jalan ke area penjemputan sekarang," kata

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 71

    Hembusan udara dingin dari pendingin ruangan menyapu kulit telanjang Ayu, namun hangat tubuh Daniel yang memeluknya erat seolah menjadi tameng dari dunia luar. Mata Ayu terpejam, menikmati detak jantung Daniel yang perlahan kembali normal di bawah telinganya. Irama itu teratur, tenang, sangat kontr

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 64

    Rangga mendorong tubuh Ayu hingga telentang di atas karpet tebal di kaki tempat tidur. Ia tidak sabar memindahkannya ke kasur. Ia menindih Ayu, lututnya memisahkan kedua paha istrinya dengan paksa."Buka... buka buat aku, Ay," perintah Rangga napasnya memburu di telinga Ayu.Ayu melebarkan kakinya,

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 63

    "Nggak! Demi Tuhan, nggak sampai sejauh itu!" potong Rangga cepat, matanya membelalak panik seolah Ayu baru saja menuduhnya membunuh. "Aku berhasil kabur pas dia ke toilet. Aku lari, Yu. Aku lari kayak pengecut ninggalin beach club itu. Aku takut... aku ngerasa dilecehkan, tapi aku juga ngerasa ber

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 57

    Ayu: "Berhenti sok tau. Aku mau istirahat."Daniel: "Istirahat? Yakin bisa tidur? Padahal badan kamu masih panas gara-gara tadi. Aku masih bisa cium wangi kamu di kemejaku, Yu. Manis banget."Pipi Ayu memanas membaca pesan itu. Ingatan tentang sentuhan kasar Daniel di toilet, napasnya yang memburu,

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status