로그인Sore itu, setelah melewati hari yang terasa begitu panjang dan pulang kembali ke apartemennya, Ayu sekarang tengah memijat-mijat kakinya sambil berbaring di atas kasur. Kaos polos dan celana pendek telah menempel pada tubuhnya setelah berganti baju selepas pulang kerja.
Tak lama, ponsel Ayu berdering. Panggilan dari Rangga. Ah, ia lupa mengabari pada Rangga bahwa ia terjatuh tadi karena terlalu sibuk bekerja, lagipula Rangga juga pasti sibuk bekerja tadi. “Sayang, kakimu terkilir? Tadi Daniel cerita,” Rangga terdengar khawatir. “Aku tadi jatuh, tapi udah enggak terlalu sakit,” Ayu menjelaskan keadaannya sambil memijat-mijat pergelangan yang masih sedikit nyeri. Mendengar penjelasan sang istri, Rangga dapat menghela napas lega. “Syukurlah tadi ada Daniel. Kamu tau, ‘kan, Ay? Daniel itu fisioterapis, dia ahli pijat dan urut. Aku sudah memintanya untuk datang ke tempatmu. Biar kakimu dipijat saja, supaya cepat sembuh.” Ayu terkejut, meskipun Daniel sahabat mereka, tetapi menerima Daniel masuk ke rumah malam nanti dan mereka hanya berdua tetap saja membuat Ayu tidak nyaman. Bagaimana pun ia seorang istri yang suaminya tidak ada di rumah. “Tapi, sayang … aku ….” “Tidak ada tapi-tapi. Demi kesehatanmu, Sayang. Aku percaya Daniel. Dia profesional, dan dia sahabat terbaik kita,” desak Rangga. Ayu belum sempat menjawab namun Rangga sudah menutup panggilannya karena urusan pekerjaan, katanya. Dalam pikiran yang kalut dan kaki yang berdenyut, Ayu hanya bisa menghela napas. Ketika sedang merapikan ruang tamu, bel apartemen berbunyi. Ayu membuka pintu dan pandangannya langsung disita oleh pemandangan di hadapannya. Di depan pintu, Daniel berdiri mengenakan kaos polo yang memperlihatkan otot lengannya yang terbentuk. Ketampanannya selalu memukau, sebuah fakta yang disadari Ayu namun tak pernah ia pikirkan lebih jauh, sampai hari ini. “Siap diurut, Nyonya Rangga?” sapa Daniel ramah dengan segaris senyum. Ayu merasa sedikit canggung. Sudah enam bulan setelah kepergian Rangga ke Perth, enam bulan pula ia menjalani kesendirian. Ini adalah kali pertama ia sendirian dalam satu ruangan dengan pria lain selain suaminya. Yah, tapi mau bagaimana lagi. Suaminya sudah memberi izin dan ini demi kakinya yang sakit. "Masuk, Daniel. Maaf merepotkan," ujar Ayu. Daniel melangkah masuk. “Diurut di sofa, ya, Yu?” Mendengarnya, Ayu menggangguk menuruti. Ia tengkurap di atas sofa. Daniel mempersiapkan semua rangkaian pijat, menyalakan aroma terapi dari tungku elektrik mini yang dia bawa, memainkan audio gemericik hujan, lalu mengeluarkan minyak urut dan duduk di ujung sofa, di dekat kaki Ayu. Kemudian ia mulai memijat Ayu, bersikap sepenuhnya profesional. Mulutnya tidak berhenti bicara, mengalihkan fokus Ayu dari sentuhan tangannya yang cekatan namun lembut. "Ini cuma terkilir ringan. Tapi harus segera ditangani," kata Daniel dengan tenang. Keduanya terus bertukar basa-basi untuk mengisi sunyi. Ayu semakin rileks di bawah tangan Daniel yang begitu cekatan. Daniel kemudian berdiri dari duduknya, membuat Ayu sedikit terperanjat. “Yu, aku buatkan minuman, ya. Ini bagus untuk membuatmu semakin rileks. Aku izin pakai dapur, ya?” Perasaan rileks dan nyaman, serta lelah seharian membuat Ayu sedikit mengantuk. Maka, Ayu hanya mengangguk. “Mmm, iya, Niel.” Ayu dapat merasakan tangan Daniel mengelus puncak kepalanya sebelum pergi ke dapur. Setelah beberapa saat, Daniel kembali dan menepuk bahu Ayu pelan. “Yu, bangun sebentar. Minum ini dulu.” Ayu terduduk perlahan dan memegang cangkir yang dibawakan Daniel. Teh chamomile. Ayu tahu ini. Teh yang dapat membuat kualitas tidur membaik dan membantu meredakan stres juga kecemasan. “Terima kasih, Daniel,” Ayu kembali berbaring di atas sofa, mencari posisi yang paling nyaman. Sementara itu, Daniel meletakkan cangkir itu di atas meja, kemudian kembali memijat kaki Ayu. Dalam sentuhan Daniel dan setelah meminum teh, Ayu merasa semakin rileks dan kantuk yang begitu hebat terus menghampirinya. Maka, tak perlu waktu lama hingga Ayu memejamkan kedua matanya. Tak lama setelah Ayu terlelap, tiba-tiba— “Mhh …” Ayu melenguh lirih ketika merasakan sesuatu menyentuh area sensitifnya yang masih tertutup celana. Namun, ia tak bisa membuka matanya, rasanya terlalu berat. Kaki jenjang Ayu rasanya seperti sedang sengaja diusap perlahan, membuatnya merasakan sensasi aneh, tapi jelas ia menyukainya. Celana pendek yang semula menutupi hingga ke paha, kini telah sepenuhnya lepas. Celana dalam hitam yang dikenakan Ayu, jelas telah terekspos. Sentuhan tangan itu jelas terasa di kulit Ayu. Terlalu nyata jika dikatakan sebagai mimpi. Namun, jelas-jelas kini ia masih tertidur pulas. “Ahh ..” Lagi-lagi Ayu bersuara di tengah lelapnya ketika tangan itu menyentuh daerah terlarangnya. Jari-jari itu bermain dengan sangat lihai di sana, membuat Ayu terus menggeliat. Tak lama, jari itu terasa menerobos masuk, membuat Ayu kembali memekik nikmat. “Sayang .. uhh…” Apakah terlalu lama merindukan Rangga membuatnya mendapat mimpi seperti ini? Memang melakukannya lewat panggilan video sama sekali tak bisa membuat Ayu puas. Tapi, ia tak menyangka akan terbawa sampai mimpi. Setelah apa yang dirasa seperti berpuluh-puluh jam lamanya, Ayu mengerjap terbangun. Keringat bercucuran membasahi dahinya. Ia masih terbaring di sofa dengan sebuah selimut yang menghangatkan tubuhnya. “Itu benar-benar mimpi?” gumam Ayu lirih begitu melihat keadaannya. Namun, mata Ayu langsung memindai seisi ruang, mencari keberadaan Daniel. Ia ingat, tadi ia sedang dipijat oleh pria itu, tapi sekarang Daniel tak lagi ada di sana. Alih-alih menemukan sosok Daniel, Ayu mendapat sebuah kertas dengan pesan yang ditulis tangan: Tidurmu lelap sekali Yu. Maaf enggak pamit, aku pulang dulu, ya, aku tinggalkan salep di atas meja. -Daniel Ayu memandangi kertas itu beberapa saat sebelum pikirannya kembali teringat dengan mimpinya tadi. Ayu menyeka keringat yang terus turun, memikirkannya membuat wajah Ayu panas. Ia melirik jam dinding dan jarum jam bertindih lurus. Jam dua belas malam. Ayu berharap akan tidur tenang malam ini, sebelum sebuah notifikasi di ponselnya muncul yang membuat jantungnya berdebar diiringi lutut yang lemas. Sebuah rekaman suara. Ayu bergetar saat mendengarkannya. +62 812 XXXX XXXX: Suara desahanmu begitu menggoda, Ayu. Aku menyukainya.Rangga tidak menghiraukan protes itu sedikit pun. Bagaikan tidak mendengar ungkapan Ayu, pria itu justru memutar tubuh Ayu dengan cepat hingga kini mereka berhadapan muka.Sebelum Ayu sempat mengucapkan sepatah kata lagi, Rangga menangkup wajah Ayu dan mendaratkan bibirnya di atas bibir istrinya. Mereka berciuman dengan sangat intens. Lidah Rangga menyusup masuk, menuntut balasan, memagut bibir Ayu dengan gairah yang tertahan selama belasan jam perjalanan. Ayu yang awalnya berniat menolak, akhirnya menyerah pasrah. Tangannya melingkar di leher Rangga, membalas pagutan suaminya dengan intensitas yang tak kalah panas.Tangan Rangga bergerak turun ke bawah. Tangan besarnya mencengkeram dan meremas bokong Ayu dengan tegas melalui kain celana yang dikenakan istrinya, menarik tubuh Ayu makin menempel rapat pada bagian depan tubuhnya yang mulai mengeras.Sambil terus menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang makin dalam dan menuntut, Rangga menuntun langkah Ayu secara perlahan. Langkah kaki
"Dan ini adalah koper terakhir. Pak Rangga, Bu Ayu, saya pamit dulu. Selamat beristirahat. Kalau ada perlu apa-apa, Pak Rangga bisa langsung hubungi saya," ucap Pak Tri seraya meletakkan koper besar berbahan polycarbonate itu di samping meja konsol lobi dalam apartemen.Rangga tersenyum ramah, melangkah mendekati sopir paruh baya itu. "Terima kasih banyak ya, Pak Tri. Maaf sudah merepotkan dari pagi, apalagi tadi sempat ada drama sedikit.""Ah, tidak apa-apa, Pak Rangga. Sudah tugas saya," Pak Tri terkekeh pelan, menyalami tangan Rangga dengan penuh hormat. "Ibu Roselyn juga pesan ke saya tadi, pastikan Pak Rangga dan Bu Ayu nyaman. Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.""Iya, Pak Tri. Hati-hati di jalan. Nanti kalau saya butuh diantar ke kantor atau tempat lain, saya kabari via WhatsApp.""Siap, Pak. Selamat siang, Bu Ayu," pamit Pak Tri.Ayu tersentak kecil dari lamunannya, lalu menyunggingkan senyum canggung. "Iya, Pak Tri. Terima kasih banyak, ya."Setelah pintu utama apartemen te
"Takut apa, Ay?" tanya Rangga lembut. Tangannya masih melingkar di tubuh Ayu, tetapi pelukannya perlahan dilonggarkan. Ibu jarinya menyapu air mata yang mengalir di pipi istrinya.Ayu mengangkat wajah. Matanya sembap, hidungnya memerah. Bibirnya bergetar beberapa saat sebelum akhirnya ia mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur."Aku takut..." Suaranya nyaris tak terdengar. "Takut kamu ninggalin aku."Rangga diam.Ayu menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara semakin bergetar. "Takut kamu menemukan perempuan lain yang lebih baik dari aku. Perempuan yang enggak pernah menyakitimu. Perempuan yang bisa bikin kamu bahagia tanpa harus membawa luka seperti yang aku lakukan."Rangga menatapnya beberapa detik. Tidak ada kemarahan di wajah pria itu. Justru ketenangan itulah yang membuat dada Ayu semakin sesak."Begitu?" jawab Rangga singkat.Ayu mengangguk kecil. "Iya..." Air matanya kembali jatuh. "Aku takut suatu hari kamu sadar kalau kamu sebenarnya enggak perlu aku."Rangga te
Pintu kamar yang tadinya hanya terbuka sedikit mendadak terdorong lebar-lebar dengan sendirinya!Suara desahan berganti menjadi keheningan mendadak. Rangga dan Roselyn menghentikan pergerakan mereka secara serentak. Keduanya perlahan memutar kepala, menoleh lurus ke arah Ayu yang berdiri membeku di ambang pintu.Tidak ada raut terkejut atau bersalah di wajah mereka. Malahan, sebuah ukiran senyum sinis perlahan merekah di bibir Rangga, menyebar menjadi derai tawa dingin yang menggema memenuhi seluruh ruangan. Roselyn pun menyusul, tertawa kecil dengan suara nyaring, merdu, namun terdengar begitu menyayat ulu hati Ayu."Rangga...?" bisik Ayu dengan suara tercekat, runtuh ke lantai. "Apa... apa yang kalian lakukan?"Rangga menatap Ayu dari atas tempat tidur, pandangan matanya penuh dengan kedinginan yang mematikan."Kenapa kamu terkejut, Ayu?" tanya Rangga dengan nada santai, namun setiap katanya terasa bagai sembilu tajam. "Ini adalah balasan dari pengkhianatan yang kamu lakukan! Kamu p
Mobil kembali melaju setelah Roselyn menghilang di balik pintu kaca gedung megah itu. Ayu masih menoleh ke belakang. Gedung tersebut perlahan menjauh, tertutup oleh kendaraan yang melintas di antara mereka.Entah kenapa, perasaan aneh masih tertinggal di dadanya."Mbak Rose..." gumam Ayu pelan.Rangga yang duduk di sebelahnya menoleh. "Kenapa?"Ayu tersentak kecil. "Hah?""Kamu manggil Rose.""Oh..." Ayu kembali menatap keluar jendela. "Enggak apa-apa. Aku cuma masih kepikiran.""Urusan tadi?"Ayu mengangguk. "Iya."Rangga diam beberapa saat. "Jangan terlalu dipikirkan."Ayu menoleh. "Mas tahu dari mana aku sedang memikirkannya?"Rangga tersenyum tipis. "Kelihatan.""Kelihatan?""Iya." Rangga menunjuk wajah Ayu. "Alismu kalau sedang bingung suka berkerut."Ayu spontan menyentuh dahinya. "Serius?"Rangga tertawa kecil. "Serius."Ayu ikut tersenyum. Untuk beberapa detik, suasana terasa jauh lebih ringan. Namun, rasa kantuk perlahan datang tanpa bisa ditahan. Ayu menyandarkan kepala ke j
Mobil SUV hitam itu melaju mulus meninggalkan kawasan bandara. Kabin yang hangat membuat embusan udara dingin Sydney hanya terlihat lewat embun tipis di kaca jendela. Ayu duduk diam di kursi belakang bersama Rangga, sementara Roselyn sesekali menunjuk bangunan-bangunan yang mereka lewati."Kalau cuacanya lagi cerah, dari jalan ini kamu bisa lihat pelabuhan lebih jelas," ujar Roselyn sambil tersenyum. "Nanti kalau kamu sudah istirahat, aku ajak jalan-jalan."Ayu mengangguk pelan. "Iya, Mbak.""Kamu suka kopi, kan?""Suka...""Nah, dekat apartemen nanti ada kafe kecil langgananku. Baristanya orang Indonesia. Lumayan buat ngobatin kangen suasana rumah."Ayu tersenyum tipis. "Mbak Rose hafal banget, ya..."Roselyn terkekeh kecil. "Ya harus, dong. Rangga sudah berkali-kali mengingatkan aku supaya kamu betah di sini."Rangga hanya tersenyum tanpa ikut menyela. Belum sempat percakapan berlanjut, suara dering ponsel memecah suasana.Tring...Roselyn melirik layar ponselnya. Senyumnya perlahan
Ayu menemukan ritmenya. Tangan kirinya mengocok batang Daniel yang kini terasa semakin keras dan bengkak, seolah mau meledak. Mulutnya kembali turun, menghisap dan melumat dua bola pelir Daniel dengan rakus. Sementara itu, jari kanannya di dalam sana terus menusuk dan menekan titik prostat Daniel d
"Lupain dia!" Daniel mempercepat temponya menjadi liar dan tak beraturan. Ia meremas pinggang Ayu, menariknya mundur setiap kali ia mendorong maju, menciptakan gesekan maksimal.Keringat bercucuran membasahi tubuh mereka berdua, membuat kulit mereka licin dan bersatu. Aroma feromon memenuhi udara.
Ayu masuk ke kamar tidur, menyalakan lilin aromaterapi, dan meredupkan lampu. Ia berbaring di tempat tidur, mencoba menciptakan kembali suasana intim. Ia memejamkan mata, memaksakan dirinya untuk memvisualisasi Rangga. Ia membayangkan pelukan suaminya, bisikan mesranya, dan ciuman lembut yang mere
“Daniel!, keluar kan di dalam please! Basahi rahimku dengan cairanmu Niel!, aku aman hari ini,” jawab Ayu sambil terengah-engah.Mendengar itu, Daniel makin semangat. Gerakan pinggulnya dipercepat. Kemudian, dibenamkan batangnya ke dalam lubang Ayu sepenuhnya.“Aaaah,” Daniel mengerang.Bersamaan d







