Compartir

Bab 2

Autor: Khai Tsan
last update Fecha de publicación: 2025-11-06 13:48:31

Ayu masih membeku. Pesan anonim itu seperti tamparan yang dingin dan keras, memaksanya kembali ke realitas yang menakutkan.

Rangga mengernyitkan dahi. "Ayu, kamu dengar aku? Kenapa tiba-tiba diam?"

Ayu menarik napas, berusaha agar suaranya terdengar normal.

"Aku... aku enggak apa-apa, Sayang. Cuma kaget saja tadi ada suara aneh di luar," bohongnya, suaranya tercekat.

"Suara aneh? Ah, mungkin suara angin, Sayang."

"Sudah, kamu istirahat ya. Mungkin kamu berhalusinasi karena capek. Aku matikan videonya, Love You," ucap Rangga sembari menenangkan Ayu.

"Iya, Sayang. I love you more," balas Ayu dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

Ayu cepat-cepat meraih selimut dan menutup tubuhnya hingga leher. Rasa panas karena gairah tadi kini berubah menjadi rasa panas karena malu dan panik.

Kamu cantik malam ini, Ayu. Jangan matikan panggilannya... aku sedang menikmati.

Kata "menikmati" itu menusuknya. Itu artinya, orang ini sudah menyaksikan keseluruhan obrolan intim mereka. Sejak ia mulai menggoda Rangga, sejak ia melepaskan pakaiannya satu per satu hingga telanjang, ketika ia mencapai puncak kenikmatan. Pikiran itu membuat perutnya mual.

Pesan misterius itu membuat Ayu terjaga hingga larut malam. Ayu terus berputar gelisah di atas tempat tidurnya, sebelum akhirnya dapat memejamkan mata. Dalam tidurnya pun rasa panik dan diawasi terus menghantuinya.

Ketika pagi datang, Ayu merasa kepalanya sakit bukan main. Pikiran yang bercabang menyebabkan tidurnya tak nyenyak. Tetapi tentu saja dunia tidak akan menunggunya. Ia harus kembali bekerja meski terus merasa diawasi.

“Kartu akses, dompet, handphone…,” Ayu bergumam saat hendak keluar dari unit apartemennya. Ia mengunci pintunya rapat-rapat, memastikan berkali-kali dengan begitu gelisah.

Tetapi sepertinya dunia seolah tak memberinya celah untuk tersenyum, sebab pemandangan di depan mata memaksa Ayu menghela napasnya.

LIFT SEDANG DIPERBAIKI. SILAKAN MELALUI TANGGA DARURAT.

“Duh!” Ayu menggerutu sambil membawa langkahnya menuju pintu tangga darurat.

Begitu sampai, Ayu menyusuri tangga dengan terburu-buru. Ia percepat tiap langkahnya. Ketika akan memijakan kaki di anak tangga terakhir di lantai 3, seseorang membuka pintu tangga darurat itu dan membuat Ayu tersentak sehingga kehilangan keseimbangannya. Kakinya terkilir dan Ayu jatuh di hadapan orang itu, yang tak kalah terkejutnya.

“Ayu!”

Ayu mendongak. Suara itu tak asing di telinga.

“Daniel?”

Daniel, pria yang tengah berdiri tegak di hadapannya. Daniel adalah teman Ayu semasa kuliah yang juga sahabat dekat Rangga. Kini mereka tinggal di apartemen yang sama, namun Daniel tinggal di lantai 3, sedangkan Ayu dan Rangga tinggal di lantai 6. Daniel jugalah orang yang dipercaya Rangga untuk menolong Ayu jika terjadi apa-apa ketika Rangga sedang jauh.

Perawakannya sempurna, tinggi, bahu lebar, dengan wajah yang benar-benar tampan. Matanya yang tajam dan senyumnya yang tenang selalu memberinya aura menenangkan.

Ayu berkedip beberapa kali melihatnya sebelum rasa sakit di pergelangan kaki menyita fokusnya kembali.

“Kamu enggak apa-apa, Yu!?” suaranya menggema di dalam ruang tangga darurat. “Astaga, biar aku bantu.” Daniel meraih lengan dan pinggang Ayu, membantunya duduk untuk membuat Ayu dalam posisi nyaman.

“Agak … sakit,” Ayu berujar lirih.

“Ini bengkak, Ayu,” Daniel memegang pergelangan kaki Ayu, membuatnya sedikit terperanjat. “Aku minta maaf, gak sengaja buka pintunya terlalu kencang.”

Ayu meringis menatap Daniel. “Gak apa-apa.”

Daniel memerhatikan pakaian formal Ayu, lalu kembali menatap wajah wanita itu. “Kamu mau berangkat kerja?” Ada nada khawatir dan rasa bersalah yang terselip di suaranya. “Kamu kuat? Aku antar ya, Yu?”

Ayu menggeleng. “Eh, nggak usah, Niel! Aku masih bisa jalan kok.”

“Bahaya, Yu. Udah enggak apa-apa, aku antar, ya,” Daniel memandangi Ayu untuk beberapa saat sebelum akhirnya memutar tubuh dan menawarkan lagi. “Naik, Yu. Aku gendong aja.”

“Digendong? Enggak usah, Niel, aku bisa....”

"Ssst. Aku enggak mau ambil risiko kakimu makin parah. Naik,” pinta Daniel.

Ayu akhirnya menurut. Ia memeluk leher Daniel, dan Daniel mengangkatnya dengan mudah.

Posisi itu membuat tubuh mereka menempel erat. Meski tertutup kemeja kerjanya, Ayu dapat merasakan jantungnya berdebar dan bulu-bulu di tubuhnya yang naik ketika payudaranya menempel ke punggung Daniel yang bidang.

Ayu pikir sudah lama sekali ia tak bersentuhan dengan seorang laki-laki pasca ditinggal jauh oleh Rangga. Pikirannya lantas langsung teringat pada malam-malam ketika Rangga tidak mengangkat teleponnya, ketika suaminya itu terlalu sibuk untuk berhubungan jarak jauh.

Ayu akan berdecak kesal sambil mulai menyentuh dirinya sendiri. Ia juga paham bahwa tendensi kecanduan seksual yang ia miliki cukup mempersulit diri ketika suaminya tidak ada dalam genggaman jarak. Namun, Ayu harus puas dengan apa yang mereka miliki sekarang.

Pertanyaan Daniel menyentak Ayu dari lamunannya dan kembali fokus. Ayu menggeleng pelan menyadari pikirannya yang mulai melenceng. "Kenapa tadi terburu-buru, Yu? Wajahmu juga agak pucat. Kamu sakit?”

Ayu tertegun. Apa kepanikan di wajahnya terlalu kentara hingga Daniel menyadarinya? Namun, Ayu diam enggan bicara. Pikirannya mulai bercabang.

Di tengah hasrat yang terus menghantui dan kegelisahannya mengenai seseorang yang memantaunya, Ayu tidak yakin apabila bercerita kepada Daniel adalah pilihan yang tepat. Akan tetapi, Ayu juga menimbang-menimbang tentang bagaimana Daniel yang telah banyak membantunya ketika Rangga sedang jauh.

Tersadar akan pertanyaan yang diabaikan, Ayu pada akhirnya memecah hening dengan bercerita.

“Aku … diintip,” Ayu memulainya. Ia mulai bercerita tentang teror chat dan video call dengan Rangga yang ia lakukan tadi.

Bagi Ayu dan Rangga, Daniel itu sudah bukan lagi orang asing sehingga mereka berdua tidak segan untuk curhat. Tetapi dengan segala pertimbangan, akhirnya tadi Ayu berani mencurahkan kegelisahannya walaupun ini adalah perkara yang intim.

Daniel mendengarkan dengan serius, sambil melangkah dengan hati-hati. "Itu namanya cyberstalking, Yu. Pertama, jangan panik, itu yang dia mau. Kedua, jangan pernah dibalas atau dihubungi balik. Langsung blokir, ya. Ketiga, ganti semua kata sandi akunmu, dan pastikan semua akun media sosialmu diatur privat. Kalau terornya makin parah, kita lapor polisi, nanti aku bantu," saran Daniel dengan suara tegas dan meyakinkan.

Ayu menghela napas lega. "Iya, Niel. Makasih banyak, ya. Aku jadi agak tenang sekarang."

Ketika tiba di parkiran, Daniel membantu Ayu naik ke atas motor. Ayu sempat menangkap mata Daniel yang memandangi wajahnya, namun cepat ia hiraukan itu.

“Pegangan, Yu,” kata Daniel sebelum mengendarai motornya dengan hati-hati.

Setelah menerjang macet dan debu kota, Daniel menghentikan motornya tepat di depan gedung kantor Ayu. Ia juga membantu Ayu turun dari motor, juga menggandeng tangannya sambil berjalan hingga mendekati pintu masuk.

"Oke, sudah sampai. Kalau bisa, langsung kompres pakai es atau oleskan salep, ya. Dan jangan terlalu dipaksa jalan, Yu," kata Daniel.

"Iya. Makasih banyak, Daniel," ucap Ayu tulus.

Daniel memperhatikan Ayu sekali lagi sebelum berbalik untuk kembali ke motornya. Kemudian Ayu melihat itu: Daniel yang menoleh sesaat dan tersenyum. Ayu harus akui itu adalah senyum yang tampan, tetapi Ayu menangkap sesuatu yang ganjil. Senyum itu terlalu lebar dan matanya tampak bersinar aneh.

Ah, mungkin cuma karena aku yang sedang panik dan kelelahan, pikir Ayu, sambil mencoba menenangkan diri.

Ketika Ayu melihat Daniel sudah mengenakan helm, Ayu cepat-cepat berjalan dan membuka pintu masuk gedung kantornya dan berusaha melupakan senyum aneh Daniel.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
daru priyantono
seru dan asyik
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 144

    Rangga tidak menghiraukan protes itu sedikit pun. Bagaikan tidak mendengar ungkapan Ayu, pria itu justru memutar tubuh Ayu dengan cepat hingga kini mereka berhadapan muka.Sebelum Ayu sempat mengucapkan sepatah kata lagi, Rangga menangkup wajah Ayu dan mendaratkan bibirnya di atas bibir istrinya. Mereka berciuman dengan sangat intens. Lidah Rangga menyusup masuk, menuntut balasan, memagut bibir Ayu dengan gairah yang tertahan selama belasan jam perjalanan. Ayu yang awalnya berniat menolak, akhirnya menyerah pasrah. Tangannya melingkar di leher Rangga, membalas pagutan suaminya dengan intensitas yang tak kalah panas.Tangan Rangga bergerak turun ke bawah. Tangan besarnya mencengkeram dan meremas bokong Ayu dengan tegas melalui kain celana yang dikenakan istrinya, menarik tubuh Ayu makin menempel rapat pada bagian depan tubuhnya yang mulai mengeras.Sambil terus menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang makin dalam dan menuntut, Rangga menuntun langkah Ayu secara perlahan. Langkah kaki

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 143

    "Dan ini adalah koper terakhir. Pak Rangga, Bu Ayu, saya pamit dulu. Selamat beristirahat. Kalau ada perlu apa-apa, Pak Rangga bisa langsung hubungi saya," ucap Pak Tri seraya meletakkan koper besar berbahan polycarbonate itu di samping meja konsol lobi dalam apartemen.Rangga tersenyum ramah, melangkah mendekati sopir paruh baya itu. "Terima kasih banyak ya, Pak Tri. Maaf sudah merepotkan dari pagi, apalagi tadi sempat ada drama sedikit.""Ah, tidak apa-apa, Pak Rangga. Sudah tugas saya," Pak Tri terkekeh pelan, menyalami tangan Rangga dengan penuh hormat. "Ibu Roselyn juga pesan ke saya tadi, pastikan Pak Rangga dan Bu Ayu nyaman. Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.""Iya, Pak Tri. Hati-hati di jalan. Nanti kalau saya butuh diantar ke kantor atau tempat lain, saya kabari via WhatsApp.""Siap, Pak. Selamat siang, Bu Ayu," pamit Pak Tri.Ayu tersentak kecil dari lamunannya, lalu menyunggingkan senyum canggung. "Iya, Pak Tri. Terima kasih banyak, ya."Setelah pintu utama apartemen te

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 142

    "Takut apa, Ay?" tanya Rangga lembut. Tangannya masih melingkar di tubuh Ayu, tetapi pelukannya perlahan dilonggarkan. Ibu jarinya menyapu air mata yang mengalir di pipi istrinya.Ayu mengangkat wajah. Matanya sembap, hidungnya memerah. Bibirnya bergetar beberapa saat sebelum akhirnya ia mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur."Aku takut..." Suaranya nyaris tak terdengar. "Takut kamu ninggalin aku."Rangga diam.Ayu menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara semakin bergetar. "Takut kamu menemukan perempuan lain yang lebih baik dari aku. Perempuan yang enggak pernah menyakitimu. Perempuan yang bisa bikin kamu bahagia tanpa harus membawa luka seperti yang aku lakukan."Rangga menatapnya beberapa detik. Tidak ada kemarahan di wajah pria itu. Justru ketenangan itulah yang membuat dada Ayu semakin sesak."Begitu?" jawab Rangga singkat.Ayu mengangguk kecil. "Iya..." Air matanya kembali jatuh. "Aku takut suatu hari kamu sadar kalau kamu sebenarnya enggak perlu aku."Rangga te

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   141

    Pintu kamar yang tadinya hanya terbuka sedikit mendadak terdorong lebar-lebar dengan sendirinya!Suara desahan berganti menjadi keheningan mendadak. Rangga dan Roselyn menghentikan pergerakan mereka secara serentak. Keduanya perlahan memutar kepala, menoleh lurus ke arah Ayu yang berdiri membeku di ambang pintu.Tidak ada raut terkejut atau bersalah di wajah mereka. Malahan, sebuah ukiran senyum sinis perlahan merekah di bibir Rangga, menyebar menjadi derai tawa dingin yang menggema memenuhi seluruh ruangan. Roselyn pun menyusul, tertawa kecil dengan suara nyaring, merdu, namun terdengar begitu menyayat ulu hati Ayu."Rangga...?" bisik Ayu dengan suara tercekat, runtuh ke lantai. "Apa... apa yang kalian lakukan?"Rangga menatap Ayu dari atas tempat tidur, pandangan matanya penuh dengan kedinginan yang mematikan."Kenapa kamu terkejut, Ayu?" tanya Rangga dengan nada santai, namun setiap katanya terasa bagai sembilu tajam. "Ini adalah balasan dari pengkhianatan yang kamu lakukan! Kamu p

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 140

    Mobil kembali melaju setelah Roselyn menghilang di balik pintu kaca gedung megah itu. Ayu masih menoleh ke belakang. Gedung tersebut perlahan menjauh, tertutup oleh kendaraan yang melintas di antara mereka.Entah kenapa, perasaan aneh masih tertinggal di dadanya."Mbak Rose..." gumam Ayu pelan.Rangga yang duduk di sebelahnya menoleh. "Kenapa?"Ayu tersentak kecil. "Hah?""Kamu manggil Rose.""Oh..." Ayu kembali menatap keluar jendela. "Enggak apa-apa. Aku cuma masih kepikiran.""Urusan tadi?"Ayu mengangguk. "Iya."Rangga diam beberapa saat. "Jangan terlalu dipikirkan."Ayu menoleh. "Mas tahu dari mana aku sedang memikirkannya?"Rangga tersenyum tipis. "Kelihatan.""Kelihatan?""Iya." Rangga menunjuk wajah Ayu. "Alismu kalau sedang bingung suka berkerut."Ayu spontan menyentuh dahinya. "Serius?"Rangga tertawa kecil. "Serius."Ayu ikut tersenyum. Untuk beberapa detik, suasana terasa jauh lebih ringan. Namun, rasa kantuk perlahan datang tanpa bisa ditahan. Ayu menyandarkan kepala ke j

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 139

    Mobil SUV hitam itu melaju mulus meninggalkan kawasan bandara. Kabin yang hangat membuat embusan udara dingin Sydney hanya terlihat lewat embun tipis di kaca jendela. Ayu duduk diam di kursi belakang bersama Rangga, sementara Roselyn sesekali menunjuk bangunan-bangunan yang mereka lewati."Kalau cuacanya lagi cerah, dari jalan ini kamu bisa lihat pelabuhan lebih jelas," ujar Roselyn sambil tersenyum. "Nanti kalau kamu sudah istirahat, aku ajak jalan-jalan."Ayu mengangguk pelan. "Iya, Mbak.""Kamu suka kopi, kan?""Suka...""Nah, dekat apartemen nanti ada kafe kecil langgananku. Baristanya orang Indonesia. Lumayan buat ngobatin kangen suasana rumah."Ayu tersenyum tipis. "Mbak Rose hafal banget, ya..."Roselyn terkekeh kecil. "Ya harus, dong. Rangga sudah berkali-kali mengingatkan aku supaya kamu betah di sini."Rangga hanya tersenyum tanpa ikut menyela. Belum sempat percakapan berlanjut, suara dering ponsel memecah suasana.Tring...Roselyn melirik layar ponselnya. Senyumnya perlahan

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 76

    "Apa? Apa pun. Kamu mau tas baru? Perhiasan?" tawar Rangga cepat.Ayu menggeleng. "Bukan. Aku nggak mau langsung balik ke Jakarta."Kening Rangga berkerut. "Terus?""Aku mau tetap di sini. Di Bali," ucap Ayu. "Aku butuh liburan ini, Ngga. Aku capek sama kerjaan di Jakarta, capek sama drama ini. Izi

    last updateÚltima actualización : 2026-03-30
  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 71

    Hembusan udara dingin dari pendingin ruangan menyapu kulit telanjang Ayu, namun hangat tubuh Daniel yang memeluknya erat seolah menjadi tameng dari dunia luar. Mata Ayu terpejam, menikmati detak jantung Daniel yang perlahan kembali normal di bawah telinganya. Irama itu teratur, tenang, sangat kontr

    last updateÚltima actualización : 2026-03-29
  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 64

    Rangga mendorong tubuh Ayu hingga telentang di atas karpet tebal di kaki tempat tidur. Ia tidak sabar memindahkannya ke kasur. Ia menindih Ayu, lututnya memisahkan kedua paha istrinya dengan paksa."Buka... buka buat aku, Ay," perintah Rangga napasnya memburu di telinga Ayu.Ayu melebarkan kakinya,

    last updateÚltima actualización : 2026-03-28
  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 63

    "Nggak! Demi Tuhan, nggak sampai sejauh itu!" potong Rangga cepat, matanya membelalak panik seolah Ayu baru saja menuduhnya membunuh. "Aku berhasil kabur pas dia ke toilet. Aku lari, Yu. Aku lari kayak pengecut ninggalin beach club itu. Aku takut... aku ngerasa dilecehkan, tapi aku juga ngerasa ber

    last updateÚltima actualización : 2026-03-28
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status