LOGIN"Kenapa kamu memandangiku seperti itu, Ayu?"Suara Roselyn yang biasanya ramah kini terasa sangat dingin dan datar, secara tiba-tiba memecah keheningan di ruang tamu tersebut. Wanita elegan berbalut blazer putih itu perlahan menurunkan majalah mode yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang tajam langsung mengunci tatapan Ayu yang masih berdiri mematung di dekat lorong."Ada yang aneh denganku?" tanya Roselyn lagi, sebelah alisnya terangkat.Ayu menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya yang baru saja sedikit tenang kini kembali berpacu liar. Tatapan mata Roselyn seolah bisa menembus tengkoraknya, menguliti setiap rahasia kotor yang baru saja ia sembunyikan rapat-rapat.Dia tahu, jerit batin Ayu dengan kepanikan yang mulai menguasai akal sehatnya. Tatapan matanya... senyum miringnya barusan... wanita ini pasti tahu sesuatu! Tidak mungkin dia asal menebak soal parfum cendana dan lavender itu! Itu terlalu spesifik!Alih-alih menjawab pertanyaan Roselyn atau memalingkan
Mati aku! Mati aku! jerit batin Ayu dengan kepanikan luar biasa. Itu wangi dari ruangan apartemen kosong tadi! Aroma cendana dan lavender itu menguar sangat kuat di dalam ruangan itu! Wanginya pasti menempel di gaunku karena aku berbaring di atas karpet dan duduk di kursi itu cukup lama! Bodoh! Bodohnya kamu, Ayu! Kenapa kamu bisa melupakan detail sepenting ini?!"Ayu?" panggil Rangga, membuyarkan lamunan panik istrinya. "Kok diam? Kamu ganti parfum tidak bilang-bilang Mas, ya?""A-aku... a-anu, Mas... i-itu ..."Ayu terbata-bata parah. Lidahnya kelu. Otaknya berputar keras mencari sejuta alasan, tetapi tidak ada satu pun kebohongan yang masuk akal yang bisa ia rangkai dalam waktu sesingkat ini.Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan aroma asing yang sangat khas itu?Tepat ketika Ayu sudah bersiap membuka mulut untuk melontarkan kebohongan yang paling konyol, sebuah suara langkah kaki dan ketukan hak tinggi terdengar dari arah pintu masuk yang rupanya masih sedikit terbuka."Itu aku ya
"Hah... hah... hah... sialan! Brengsek!"Ayu membanting pintu unit apartemennya dan buru-buru menguncinya dari dalam. Napasnya memburu kencang, dadanya naik turun dengan sangat kasar hingga belahan gaun hitamnya berombak tak beraturan. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur membasahi pelipis dan lehernya.Kedua tangannya bertumpu pada lutut, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya di foyer apartemen yang sepi itu."Sialan... hhh... hampir saja... untung aku tidak berpapasan dengan Mas Rangga di lift," rutuk Ayu dengan suara bergetar.Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih berdetak brutal bak genderang perang. Ingatan tentang apa yang baru saja ia lakukan di unit apartemen lantai atas kembali berkelebat. Berlutut. Ditelanjangi pandangannya. Menelan cairan pria asing yang bahkan tidak ia ketahui wajahnya.Dan yang paling menyakitkan—ditinggalkan begitu saja tanpa sepatah kata pun."Laki-laki keparat ...," desis Ayu penuh dendam, air matanya n
Deg!Suara itu bagaikan petir yang menyambar tepat di atas kepala Ayu di siang bolong. Seluruh darah di tubuh Ayu serasa berhenti mengalir. Wajahnya seketika pucat pasi, seluruh amarahnya menguap berganti menjadi kepanikan tiada tara.Ayu buru-buru menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat layar.Nama "Mas Rangga ❤️" terpampang jelas di sana."M-Mas Rangga?" cicit Ayu dengan suara megap-megap, tangannya gemetar hebat sampai ponselnya nyaris jatuh ke lantai."Iya, ini Mas," jawab Rangga dari seberang telepon, terdengar suara derum mesin mobil yang halus di latar belakangnya. "Ini Mas baru OTW pulang ke apartemen, sayang. Kamu kenapa? Kamu oke-oke saja, kan?"Ayu menepuk jidatnya sendiri, merutuki kebodohannya yang sangat fatal. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha keras menetralkan nada suaranya yang panik dan napasnya yang masih terengah-engah."E-eh... Ngg-nggak kok, Mas!" jawab Ayu dengan gugup setengah mati, bicaranya terbata-bata. "M-maaf... maaf banget, Mas! Aku... a
"Uuuh..."Ayu tersenyum tipis di dalam hatinya saat mendengar lenguhan napas sang pria misterius yang makin memburu di atas kepalanya. Suara erangan rendah itu menjadi bahan bakar terbesar bagi ego Ayu yang membara."Mmmph... haaah..."Ayu sengaja mengeluarkan seluruh kemampuan dan teknik yang ia miliki. Bibir dan lidahnya bergerak lincah, melumat kejantanan pria itu tanpa sisa. Ia mendorong kepalanya lebih maju, membiarkan benda keras itu menerobos masuk sangat dalam hingga menyentuh bagian ujung tenggorokannya."Khuk! Khuk!"Ayu terbatuk kecil, matanya berair di balik penutup kain hitam karena rasa sesak yang menghantam jalan napasnya. Namun, bukannya mundur, Ayu justru menahan posisinya di sana selama beberapa detik."Gila... kamu benar-benar pintar memuaskan pria, Ayu ...," bisik pria itu dengan suara serak yang berat, napasnya memburu kencang.Ayu menarik kepalanya perlahan, lalu memiringkan bibirnya. Jemari tangannya yang kini sudah bebas mengapit bagian pangkal kejantanan pria
"Haah... a-aku bisa mati... ssshh... k-kumohon... pelan-pelan ...," rengek Ayu, air matanya mulai menetes membasahi pinggiran kain penutup matanya.Tiba-tiba, isapan dan kocokan jari itu terhenti secara bersamaan. Pria itu menarik jarinya keluar, menimbulkan suara basah yang sangat vulgar bergema di ruangan yang sunyi itu."Hah... hah... hah ...," Ayu terengah-engah, tubuhnya terkulai lemas ke depan. "K-kenapa... kenapa berhenti lagi?""Kita ganti posisi, Ayu," jawab pria itu singkat.Ayu merasakan kursi yang didudukinya diputar paksa ke belakang dengan gerakan cepat.Duk!Bagian punggung kursi itu berbenturan pelan dengan tepian meja kaca di ruang tengah tersebut, membuat tubuh Ayu kini berada dalam posisi terjepit."A-aw! T-tanganku... tanganku yang terikat di belakang terjepit meja!" protes Ayu meringis pelan.Ayu merasakan sentuhan di belakang punggungnya. Tali kain yang mengikat kedua pergelangan tangannya seketika melonggar dan terlepas."A-aku sudah lepas?" gumam Ayu, perlahan







