LOGINSuasana di dalam ruang tamu rumah bambu itu mendadak terasa sangat panas dan pengap. Oksigen di ruangan sempit itu seolah habis terbakar oleh hawa nafsu yang sudah mencapai puncaknya di atas kursi kayu.
Bu Wati bergerak cepat dengan napas yang memburu dan tidak beraturan. Jemarinya yang kasar terasa panas saat bersentuhan langsung dengan kulit paha Tresna yang keras dan berotot.
Mobil patroli itu masih melaju gila-gilaan di atas aspal jalanan kabupaten yang sepi. Sirinenya meraung seolah sedang menggugat takdir yang hampir merenggut nyawa sang mantri desa.Di dalam kabin yang sempit dan berbau anyir darah, suasana mendadak berubah dari mencekam menjadi penuh keajaiban. Cahaya merah terang dari batu wulung di leher Tresna itu menyebar perlahan dan menyelimuti area bahu kanannya yang terluka parah."Mas... Mas Tresna! Batunya... batunya nyala!" teriak Silvi dengan suara yang bergetar hebat karena takjub.Ia nyaris melepaskan dekapannya karena rasa kaget yang luar biasa melihat fenomena gaib tersebut. Air matanya masih membasahi pipi, namun kini matanya membelalak lebar menatap pendaran cahaya merah yang terasa hangat.Cahaya itu berdenyut laksana jantung yang sedang berdegup kencang di bawah kulit Tresna. Silvi menahan napas sedalam-dalamnya saat melihat aliran darah yang tadinya merembes deras berhenti seketika secara tidak masuk akal.Darah merah pekat yang m
"Darmawan! Kamu nggak bisa ngelakuin ini padaku! Aku punya hak!" teriak Juragan mencoba melawan saat petugas menyeretnya dengan kasar.Wajahnya memerah padam karena merasa martabatnya diinjak-injak di depan umum. Namun, AKP Darmawan justru mendekatkan wajahnya dengan tatapan yang sangat mengancam."Tutup mulutmu, Juragan! Kamu baru saja nembak putra dari orang yang paling aku hormati di negeri ini!" balas AKP Darmawan dengan nada suara rendah namun mematikan."Aku pastiin kamu nggak bakal pernah liat matahari desa ini lagi dari balik jeruji besi!" lanjutnya lagi. Tatapan matanya seolah ingin menembus jantung sang Juragan yang kini mulai gemetar ketakutan.Polisi lain ikut menyeret keempat preman bayaran itu menuju kendaraan operasional dengan pengawalan sangat ketat. Mereka didorong masuk ke dalam jeruji besi mobil patroli laksana hewan ternak yang tertangkap basah.Suasana riuh rendah proses penangkapan itu seolah sudah tidak terdengar lagi oleh Tresna. Di tengah kekacauan itu, Tresn
Kepalanya terkulai lemas di pundak Silvi yang masih menyisakan harum sabun mandi. Aroma itu terasa sangat kontras dengan bau anyir darah yang kini menyelimuti seluruh tubuh Tresna. Silvi mendekap kepala pria itu dengan perasaan hancur."Iya, Mas... aku tahu. Sudah, jangan bicara lagi," kata Silvi sambil menahan tangisnya agar tidak pecah."Perban ini harus tahan darahmu sampai ambulans datang," lanjutnya lagi dengan sigap.Silvi menekan kuat balutan kain katun dasternya pada luka tembak di bahu kanan Tresna. Ia tidak peduli lagi daster tipisnya kini sudah basah kuyup oleh darah pria tersebut.AKP Darmawan berjalan tegap mendekati posisi Tresna dan Silvi di dekat sumur tua. Langkah sepatu botnya yang mantap menciptakan suara dominan di halaman joglo tersebut. Ia mengarahkan pandangannya pada luka tembak di area bahu kanan sang mantri desa. Raut wajah perwira itu nampak sangat serius dan penuh konsentrasi melihat kondisi korban."Ambulans sebentar lagi sampai! Pastikan dia tetap sadar!"
Raungan sirine dari dua unit mobil patroli polisi berwarna putih biru itu seolah membelah langit malam. Suara itu menghancurkan hawa kematian yang semula pekat menyelimuti Desa Sukamaju.Mobil-mobil itu berhenti mendadak tepat di belakang tubuh sang Juragan kaya. Pria tua itu masih memegang senapan anginnya dengan tangan yang gemetar hebat.Ban mobil patroli berdecit keras di atas tanah berumput dan menciptakan kepulan debu. Debu itu menyelimuti para preman yang kini berdiri mematung laksana batu nisan.Sorot lampu tembak yang sangat terang dari atap mobil polisi menyilaukan mata mereka secara mendadak. Cahaya putih itu begitu intens hingga memaksa mereka refleks memejamkan mata.Para preman menjatuhkan balok-balok kayu jati yang semula disiapkan untuk menghancurkan kepala Tresna. Suara kayu yang berdentum di atas tanah terdengar sangat menyedihkan.Bunyi itu menandakan runtuhnya keberanian para kacung bayaran di depan moncong hukum. Mereka tidak lagi memiliki taring untuk melawan pet
Di saat maut sudah mencium keningnya, insting jantan Tresna meledak melampaui batas kewajaran manusia. Ia melakukan satu sentakan tangan kiri yang luar biasa cepat dan akurat.Tresna melemparkan genggaman pasir dan kerikil tajam itu dengan kekuatan penuh. Serangan mendadak itu melesat langsung ke arah kedua mata sang juragan kaya."Makan ini, bajingan!" teriak Tresna dengan suara menggelegar yang memecah keheningan malam.SRAKKK!Butiran pasir kasar dan kerikil tajam menghantam kornea mata Juragan secara telak. Sang juragan langsung menjerit kesakitan karena rasa perih yang amat sangat.Ia refleks melepaskan cengkeramannya dari buku catatan kulit rusa tersebut untuk menutupi wajahnya. Senapan angin di tangan kanannya pun ikut terlepas dan jatuh berdentang di atas rumput.Juragan itu mundur beberapa langkah sambil mengucek matanya yang merah padam. Ia berusaha keras mengeluarkan butiran pasir yang menusuk-nusuk penglihatannya."Mataku! Mataku perih banget! Hajar dia! Bunuh dia sekarang
Suara letusan senapan angin laras panjang itu terdengar sangat nyaring memekakkan telinga. Bunyi itu membelah kesunyian malam dan memenuhi area halaman rumah joglo tua dengan gema kematian.Sebuah peluru timah kecil melesat membelah udara dengan kecepatan sangat tinggi ke arah dada. Beruntung, pergeseran posisi dalam sepersekian detik membuat peluru itu tidak mengenai jantung Tresna.Namun, peluru itu tetap menembus langsung daging di area bahu kanan sang mantri. Suara proyektil yang menghujam daging itu terdengar sangat nyata.Tresna merasakan sensasi panas yang menghantam tulang belikatnya secara mendadak. Rasa nyeri yang menjalar hebat ke seluruh saraf lengannya menyusul kemudian.Tubuhnya terhuyung ke belakang karena keseimbangannya hancur seketika akibat hantaman tersebut. Ia jatuh berlutut di atas tanah rerumputan yang basah dan dingin.Tangan kirinya refleks memegangi bahu kanannya yang kini mengeluarkan banyak darah segar. Darah itu merembes cepat di sela-sela jemarinya yang k
Lingerie merah marun yang dikenakan Arum akhirnya melorot sepenuhnya. Kain tipis itu jatuh, bertumpuk di batas pinggang rampingnya yang putih bersih. Pemandangan itu seketika memamerkan seluruh tubuh bagian atas Arum yang polos.Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, kulitnya nampak sangat ranum.
Arum mendadak menghentikan kalimatnya yang menggantung. Seolah tersadar bahwa udara di dapur malam itu sudah terlalu panas untuk mereka berdua.Ia melepaskan elusannya pada Si Gatot, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan nadanya. Senyum tipi
Wajah Pak Karyo langsung berubah merah padam seperti kepiting rebus yang baru saja diangkat dari air mendidih. Ia merasa harga dirinya sebagai lelaki terhormat di desa Sukamaju hancur berkeping-keping karena dipermalukan soal ukuran pusakanya di depan warga.Bapak-bapak yang tadi tertawa mengejek Tr
"Kamu jangan banyak tanya sama gerak, Lin! Itu cuma kunci motor yang ada di kantong celanaku, kok!" bohong Tresna dengan suara tertahan di tenggorokan yang terasa kering.Untuk meredakan sedikit gairahnya yang tiba-tiba berada di puncak, Tresna memejamkan mata dan membayangkan wajah Pak Karyo yang







