共有

Bab 192

作者: Prince Molina
last update 公開日: 2026-04-13 08:56:41

Gedoran brutal itu laksana guntur yang menyambar tepat di atas ubun-ubun, menghancurkan sisa-sisa kabut kenikmatan yang baru saja menyelimuti bilik bambu yang lembap itu. Tresna tersentak hebat, jantungnya yang baru saja melambat kini kembali berdegup kencang karena kaget yang luar biasa.

Linda dan Silvi tak kalah panik, keduanya memekik kecil sambil buru-buru menarik kain apa saja untuk menutupi tubuh mereka yang masih polos dan basah oleh sisa percintaan.

"Cepat pakai baju kalian! Jangan ada
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 336

    "Duh, Mas... lemas semuaku kalau kamu sudah menghantam sampai dalam begitu," bisik Silvi manja, tangannya bergerak pelan mengusap sisa keringat di perut berkotak sang mantri desa.Tresna terkekeh rendah, membalasnya dengan elusan lembut di rambut hitam Silvi sebelum mengecup kening janda itu sekilas. "Katanya tadi nggak rela kalau digantung. Sekarang malah ngeluh lemas.""Ya kan nggak ngira kalau bakal sekuat itu, Mas. Sampai mau copot rasanya pinggangku," sahut Silvi dengan senyuman menggoda, meskipun tubuh polosnya tetap enggan bergeser dari dekapan hangat Tresna."Sudah, ayo rapikan pakaianmu. Matahari sudah mulai naik, nggak enak kalau warga atau Linda dan Clara sampai melihat kita keluar dari sini dengan keadaan begini," kata Tresna lembut penuh wibawa. Pria itu perlahan mengurai pelukan mereka untuk mengambil celana jinsnya di atas tumpukan karung padi.Silvi mengerucutkan bibirnya sedikit karena agak tidak rela momen manjanya berakhir secepat ini. Namun, janda kembang itu tetap

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 335

    Silvi yang sudah berada di ujung tanduk kenikmatan langsung membuka matanya dengan napas memburu parah, wajahnya merengut kesal karena digantung begitu saja."Kenapa berhenti, Mas? Kamu nggak mau punya anak sama aku?" tuntut Silvi dengan nada manja yang bercampur kesal, membalikkan sedikit kepalanya menatap Tresna.Tresna tidak langsung menjawab, dia hanya terdiam dengan napas berat yang memburu di atas punggung Silvi. Pikiran sang mantri desa mendadak berkecamuk hebat, membuatnya bingung dan terjebak dalam dilema yang pelik.Di satu sisi, Tresna merasa belum siap. Karso memang sudah berhasil di bereskan ketika juragan sombong itu tertimbun gua, tapi nasib desa Sukamaju jelas belum sepenuhnya aman dari sisa-sisa anak buahnya yang masih berkeliaran di luar sana.Lagipula, menuruti kemauan Silvi sama saja dengan mengikat diri. Memiliki anak berarti dia harus menikahi janda kembang itu.Sementara di lubuk hatinya yang paling dalam, Tresna sadar ada perasaan wanita lain yang dipertaruhkan

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 334

    "Duh, kalau buat melayani Mas Tresna, rasa capekku langsung hilang," bisik Silvi manja, tangannya terjulur menarik kerah jaket hitam tebal Tresna masuk ke dalam kehangatan tumpukan karung padi.Tresna tidak memberikan jawaban lewat kata-kata. Dengan satu gerakan cepat, tangan kekarnya langsung menjulur, merengkuh pinggang ramping Silvi dan menariknya hingga tubuh padat janda kembang itu menempel sempurna pada dada bidangnya."Aduh, Mas... kok langsung buru-buru begini," desah Silvi lirih, matanya sayu menatap wajah tegap Tresna dalam keremangan lumbung."Kamu sendiri yang mulai, Sil. Jangan nyesel ya kalau besok pagi kakimu sampai lemas nggak bisa jalan," kekeh Tresna, suaranya berat penuh dominasi jantan yang pekat."Memangnya aku kelihatan mau kabur? Aku malah mau dikurung terus sama kamu di sini, Mas," rintih Silvi, jemarinya mulai mengelus rahang tegas sang mantri desa.Tresna tidak membiarkan Silvi bicara lebih banyak lagi. Dia menundukkan kepalanya, membungkam bibir tipis Silvi

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 333

    Terdengar suara tangisan histeris Mbah Tejo, sesepuh desa yang bertugas menjaga barak darurat di sebelah klinik. Pria tua itu memukul-mukul kaca jendela dengan wajah yang bersimbah air mata dan dipenuhi kepanikan luar biasa."Mbah Tejo? Ada apa, Mbah?!" tanya Tresna, sedikit membuka celah jendela tanpa melepaskan kendali energinya pada wadah obat."Anak-anak pengungsi, Mas! Tiga anak dari desa seberang mendadak berhenti bernapas di dalam barak! Kulit mereka sudah membiru semua, Mas!" lapor Mbah Tejo dengan suara gemetar hebat, meratapi kondisi para korban yang kian kritis di luar."Gusti... bakterinya sudah menyerang pusat saraf pernapasan mereka, Mas!" pekik Clara spontan, wajah dokternya seketika pucat pasi mendengar laporan tersebut. "Kalau dalam lima menit mereka nggak dapat penawar ini, mereka nggak akan bisa diselamatkan lagi!""Clara, selesaikan sisa campurannya sekarang juga! Biar aku yang urus anak-anak itu duluan!" perintah Tresna dengan suara bariton yang menggelegar penuh

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 332

    Tresna berlari sekencang mungkin membelah jalanan setapak desa, diikuti Clara dan Silvi yang bersusah payah mengejar dengan pakaian yang masih basah kuyup. Begitu mereka tiba di depan halaman klinik, pemandangan di sana jauh lebih kacau dari yang dibayangkan.Asap hitam pekat ternyata berasal dari tumpukan ban bekas yang sengaja dibakar di depan pagar pembatas. Di sana, sudah berkumpul kerumunan ratusan warga dari desa seberang yang berteriak histeris dengan wajah beringas."Keluar kamu, Mantri Sialan! Berikan obatnya pada kami!" teriak seorang pria berkaus dekil sambil mengacungkan sebatang kayu besar."Jangan biarkan warga desa seberang mati kelaparan dan membusuk karena karantina ini! Kalian sengaja mau membunuh kami?!" sahut warga lainnya, menyulut api lebih besar ke tumpukan ban."Mundur kalian semua! Jangan bikin rusuh di sini!" bentak beberapa pemuda karang taruna Sukamaju yang mencoba menahan pagar pembatas agar nggak jebol."Mas Tresna! Gusti... banyakkk banget orangnya!" pek

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 331

    Di seberang kolam, Juragan Karso merangkak kepayahan dengan sisa tenaganya. Namun, sebuah bongkahan batu raksasa seberat ratusan kilogram mendadak runtuh dari langit-langit, tepat jatuh menimbun tubuh lemas Juragan Karso hingga pria tua serakah itu ndak bisa bergerak lagi."Tresna... tolong aku... obatnya... akhhh!" rintih Karso terputus-putus, sebelum akhirnya runtuhan batu yang lebih besar menimbun wajahnya sepenuhnya."Mas Tresna! Cepat kembali ke sini! Batunya makin banyak yang jatuh!" jerit Silvi terpaku menatap langit-langit yang perlahan terbelah.Tresna melompat kembali ke arah kedua wanita itu, matanya melirik ke sekeliling lorong masuk yang kini sudah tertutup total oleh longsoran batu kapur yang masif."Jalur atas sudah tertutup, Clar, Sil! Nggak ada jalan kembali ke tebing!" ujar Tresna taktis sembari menyapu pandangan ke arah aliran air kolam yang berarus deras ke dalam celah bawah tanah."Lalu kita lewat mana, Mas?! Kita bakal mati konyol di dalam sini?!" tanya Clara den

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status