ログインTiga orang pekerja bangunan dari area proyek mendadak masuk ke ruang tamu dengan sikap yang sangat sopan, sambil bersama-sama membawa sebuah papan nama kayu jati yang nampak masih baru dan selesai diukir dengan sangat rapi."Permisi, Pak Mantri Tresna. Maaf mengganggu waktunya sebentar," ucap salah seorang pekerja yang bertubuh kekar sambil membungkuk hormat kepada Tresna dan ketiga wanita di sana."Eh, iya, Pak. Ada apa ya? Silakan masuk, bawa saja ke dalam," balas Tresna sambil bangkit berdiri dari kursinya dengan gagah."Ini, Pak. Kami baru saja menyelesaikan pesanan khusus dari kota yang diminta oleh perwira polisi semalam. Papan nama untuk klinik baru Bapak nanti," jelas pekerja itu lagi sambil menegakkan papan kayu jati berukuran besar tersebut di atas lantai ruang tamu.Papan kayu jati pilihan itu nampak sangat kokoh, tebal, dan mengkilap karena pelitur berkualitas tinggi. Di atas permukaannya, bertuliskan nama lengkap Tresna beserta gelar medis resminya yang diukir menggunakan
Tresna melangkah lebar mendekati meja kayu tempat Clara meletakkan gulungan kertas besar tersebut. Tanpa membuang waktu, dia membuka gulungan kertas putih itu secara perlahan. Sepasang matanya langsung melebar saat melihat sebuah cetak biru rancangan arsitektur bangunan yang megah dan detail untuk perluasan klinik medisnya.Gambar teknik itu menampilkan desain fasilitas kesehatan modern di bagian depan yang menyatu secara serasi bersama area pengobatan herbal tradisional di bagian belakang."Mas, coba kamu perhatikan bagian tengah ini," ucap Clara sambil menunjuk gambar teknik tersebut dengan jari lentiknya. "Fasilitas medis modern di depan bakal punya ruang darurat, ruang rawat inap kecil, dan laboratorium mini. Sementara di bagian belakang, sengaja dibuat taman botani khusus untuk bahan pengobatan herbal tradisional yang biasa kamu racik.""Clara, ini luar biasa. Tapi rancangan sebesar dan semodern ini pasti butuh biaya yang gede banget, kan?" tanya Tresna sambil menatap Clara denga
"Lho, itu beneran stempel asli dari kabupaten!" teriak Pak Joko yang baru saja tiba di barisan depan bersama Clara dan Silvi. "Mereka bertiga beneran mau nipu kita! Mereka mau jual tanah itu buat kabur!""Kurang ajar! Berani-beraninya kalian membohongi kami warga Sukamaju!" raung seorang pemuda desa yang langsung mengangkat tinggi bambu runcingnya.Seketika itu juga, suasana halaman balai desa berbalik seratus delapan puluh derajat. Para warga desa langsung mengamuk lalu mengusir ketiga pria pembohong itu keluar dari wilayah perbatasan desa menggunakan ancaman balok kayu dan cangkul."Pergi kalian dari sini! Dasar lintah darat, antek-antek koruptor!" teriak massa yang mulai merangsek maju ke arah podium."Ampun, warga! Ampun! Kami cuma disuruh!" jerit si kaos hitam yang langsung melompat turun dari podium bersama dua temannya, lari terbirit-birit ketakutan dikejar oleh amukan ratusan warga yang sudah tidak bisa ditahan lagi.Silvi yang melihat pemandangan itu langsung bersorak gembira
"Pak Joko! Ada apa itu di depan?! Kenapa semuanya bawa balok kayu?!" teriak Tresna dengan suara lantang ke arah salah satu warga yang nampak berlari paling depan.Pria paruh baya bernama Joko itu menghentikan langkahnya sejenak, napasnya tersengal-sengal dengan keringat yang sudah membasahi pelipisnya. "Pak Mantri! Itu... si Lurah bajingan! Dia mau kabur lewat pintu belakang balai desa!""Kabur? Bukannya urusan sama polisi kota belum kelar?!" tanya Silvi dengan nada tinggi, ikut emosi."Dia tahu kalau anak buah Richard di kota sudah tertangkap semua semalam, Pak Mantri! Sekarang dia lagi bongkar brankas uang bantuan desa di balai desa! Dia mau bawa lari semua uang kas warga sebelum pasukan polisi kabupaten sampai ke sini!" jelas Pak Joko dengan suara yang bergetar menahan amarah. "Warga nggak terima, Pak! Kami mau kepung balai desa sekarang juga!"Setelah memberikan penjelasan singkat tersebut, Pak Joko langsung kembali berlari menyusul rombongan warga yang jumlahnya semakin bertambah
"Mas? Kenapa berhenti mendadak begitu? Ada yang ketinggalan di dalam mobil ya?" tanya Linda lagi sambil celingukan melihat tubuh kekar Tresna yang tiba-tiba mematung tepat di anak tangga teras."Iya, Mas Tresna, kenapa? Kok mukanya langsung tegang begitu, sih?" timpal Silvi yang ikut menghentikan langkahnya di samping Linda.Mendengar rentetan pertanyaan dari dua wanita itu, Tresna tidak langsung menjawab. Dia hanya diam membisu dengan rahang yang mengencang keras, sementara sepasang matanya menyipit tajam, lurus menatap ke arah bayangan di depan pintu utama rumah joglo miliknya.Linda dan Silvi saling melempar pandangan sejenak sebelum akhirnya mereka secara bersamaan mengikuti arah pandang Tresna. Ketegangan langsung menyergap dada mereka hingga membuat napas mereka tercekat di tenggorokan.Seorang pria asing berseragam abu-abu dengan postur tubuh tegap sedang berdiri tegak menunggunya dengan posisi tangan tertaut di depan. Kehadiran pria misterius itu langsung membuat nyali ketiga
"Kita udah sampe mana ya?" tanya Linda sambil menyandarkan kepala di dada bidang Tresna."Kayaknya udah masuk wilayah desa," jawab Clara setelah melirik sedikit ke arah jendela kabin.Mobil van mewah itu perlahan mulai melambat, hingga akhirnya berhenti sempurna tepat di depan pekarangan kosong tempat klinik kesehatan Tresna berdiri sebelumnya. Suasana di luar masih sangat sepi, namun udara pagi yang segar mulai merasuk masuk melalui celah kecil."Akhirnya kita pulang," gumam Silvi sambil mulai mencari pakaiannya di atas lantai van dengan gerakan yang sangat lambat karena badannya masih terasa lemas."Ayo, pakai baju kalian. Udah sampai," ucap Tresna sambil bangkit berdiri dengan tubuh yang nampak tetap segar meskipun baru saja beraksi gila-gilaan.Tresna mengenakan selembar kemeja bersih dari dalam lemari penyimpanan mobil untuk menutupi tubuh polosnya. Dengan gerakan yang mantap, dia membuka pintu geser mobil van tersebut, membiarkan cahaya matahari terbit di ufuk timur menyapa waja







