LOGINSuasana di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa diselimuti oleh keheningan malam yang pekat. Di atas ranjang king-size berseprai satin hitam, Vanesha dan Gendis terbaring lemas dalam pelukan kelelahan yang luar biasa setelah badai penyekapan mutlak mereda beberapa jam sebelumnya.Namun, di tengah sisa-sisa kehangatan malam itu, Madun—sang jagoan desa Menteng—merasa ada sedikit rasa tidak nyaman di sekujur punggungnya. Angin malam Menteng yang sempat masuk melalui celah ventilasi terbuka membuat otot-otot di sekitar belikatnya terasa kaku dan sedikit pegal akibat aktivitas fisik luar biasa yang ia lakukan seharian penuh.Madun bangkit duduk di tepi ranjang, merenggangkan bahunya yang bidang. Ia menoleh ke arah Vanesha yang masih memejamkan mata, lalu menepuk pelan paha istrinya."Vanesha, bangun sebentar. Punggung saya rasanya agak meriang kena angin malam. Ambilkan koin sama minyak kayu putih, keroki punggung saya dulu," perintah Madun dengan suara baritonnya yang berat dan berw
Pukul 23.30 WIB. Suasana di luar istana RM Jagoan Rasa telah sepenuhnya tenggelam dalam keheningan malam Menteng. Lampu-lampu jalan memancarkan pendar kuning redup yang membias di balik jendela kaca kamar utama. Di dalam ruangan luas berlantai kayu jati tua tersebut, batas antara dunia nyata dan belenggu gairah mutlak dileburkan dalam sebuah skenario penahanan yang sangat erotis dan memabukkan.Vanesha, sang istri sah, tidak lagi hanya sekadar berbaring atau bergerak aktif di atas ranjang. Malam itu, ia berada dalam status disekap nikmat oleh sang penguasa desa. Kedua pergelangan tangannya diikat longgar namun terkunci mati menggunakan syal sutra merah marun ke kepala ranjang kayu jati, sementara kedua kakinya dibentangkan lebar dan diikat melingkar ke sisi tiang ranjang bawah.Ia tidak bisa bergerak ke mana-mana. Seluruh tubuhnya sepenuhnya pasrah, menjadi tawanan sukarela dari dominasi mutlak suaminya.Di hadapan tubuh Vanesha yang tak berdaya namun basah oleh peluh dan rona naf
Pukul 17.00 sore. Menteng perlahan-lahan mulai beralih menuju senja. Cahaya jingga kemerahan menembus celah-celah ventilasi gudang penyimpanan rempah RM Jagoan Rasa, menyinari ruangan tempat badai kenikmatan baru saja mereda.Madun perlahan bangkit dari tindihannya yang masif. Pria jagoan desa itu merenggangkan otot-otot dadanya yang bidang, menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter miliknya yang baru saja menuntaskan tugas berat kini perlahan merileks, kembali beristirahat di dalam celana pendek training hitamnya.Di bawahnya, Gendis terbaring lemas di atas terpal plastik dengan mata terpejam rapat. Napas siswi SMA berusia tujuh belas tahun itu naik turun perlahan, menandakan ia telah jatuh ke dalam tidur kelelahan yang sangat pulas setelah dihantam rangkaian sesi pergulatan tanpa henti sejak siang tadi. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat, dengan sisa-sisa cairan kenikmatan yang mengering di paha mulusnya.
Pukul 16.15 sore. Sisa-sisa ketegangan dari insiden "kejepit lubang sempit" di lorong gudang RM Jagoan Rasa masih menyisakan hawa panas yang mengepul di udara. Gendis, dengan kesadaran yang hampir melayang sepenuhnya akibat hantaman klimaks bertubi-tubi, terkulai lemas di atas lantai kayu gudang yang agak berdebu. Punggungnya beralaskan sehelai terpal plastik bekas yang ditarik cepat oleh Vanesha sesaat sebelum tubuh sang siswi SMA ambruk dari jepitan kusen pintu.Meskipun nafas Gendis masih memburu tak beraturan dan sekujur persendian kakinya terasa seperti jeli, amukan sang penguasa Menteng belum menunjukkan tanda-tanda usai. Madun, dengan postur tubuh bidang yang berkilau oleh peluh dan sisa-sisa perjuangan, berdiri tegak sejenak mengatur napas sebelum menjatuhkan tubuhnya dalam sebuah tindihan memuaskan yang meredam seluruh sisa ruang gerak sang daun muda.Beban Mahakarya yang Menindih SempurnaMadun merebahkan seluruh bobot tubuh kekarnya di atas tubuh mungil Gendis. Tindihan
Pukul 15.30 sore. Suasana di bagian belakang RM Jagoan Rasa mulai berangsur sepi dari lalu-lalang pegawai restoran yang sibuk merapikan bahan makanan sisa persiapan siang. Di sudut paling tersembunyi, tepat di antara lorong sempit menuju gudang penyimpanan rempah tua dan dinding bata merah bercat putih kusam, sebuah insiden mendebarkan tercipta tanpa diduga.Gendis, dengan rok seragam abu-abunya yang sedikit berantakan dan napas terengah-engah sisa pergulatan di meja dapur sebelumnya, sedang berjalan tergesa-gesa hendak merapikan tas sekolahnya. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika bayangan besar tubuh Madun tiba-tiba muncul dari balik tirai gudang, memotong jalurnya dan mendorong tubuh mungil siswi SMA itu hingga bersandar rapat pada daun pintu kayu gudang yang tidak sepenuhnya tertutup rapat.Terdapat celah selebar kurang dari lima belas sentimeter di antara kusen dan daun pintu gudang yang macet itu—sebuah celah sempit yang langsung menghadap ke sudut gelap ruangan dalam.
Pukul 14.15 siang. Matahari menyengat terik di atas kawasan Menteng, memancarkan gelombang panas yang membakar aspal jalanan. Di dalam dapur belakang RM Jagoan Rasa—ruangan semi-terbuka berlantai semen bersih yang dikelilingi oleh rak-rak berisi rempah-rempah pilihan—suasana tampak sibuk namun terkendali. Para pegawai restoran sedang mempersiapkan bahan-bahan bumbu untuk menu makan malam, menumbuk bawang merah, cabai merah besar, dan jahe di atas cobek-cobek batu besar.Di sudut meja persiapan kayu jati yang kokoh, Vanesha berdiri anggun mengenakan apron kain cokelat tua yang membalut kemeja batiknya. Istri sah sang jagoan desa itu sedang memegang sebuah ulekan batu granit hitam yang berat. Dengan gerakan tangan yang teratur, luwes, namun bertenaga, Vanesha menghaluskan tumpukan cabai dan rempah-rempah di atas cobek batu.Tek... tek... desing ulekan bergesek halus dengan batu...Gerakan tangan Vanesha naik-turun secara konstan, ritmis, dan sangat elegan. Setiap tekanan yang ia ber
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj







