Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 219: Kemesraan Manis Di Balik Etalase

Share

Bab 219: Kemesraan Manis Di Balik Etalase

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-07-04 09:38:58
​Petugas bea cukai yang lMadun menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, bersiap membuka pintu etalase kaca depan demi memulai aktivitas dagang perdana mereka bersama sang istri tercinta.

​"Ayo Istriku Mbak Vina, mari kita tata stoples permen and tumpukan mie instan ini secara interaktif di rak paling depan agar menarik perhatian para pembeli rukun tetangga desa kita!" seru Madun lantang sambil mengangkat dua kotak kardus besar berisi minyak goreng sendirian menggunakan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 316: Kuda-Kuda Maut dan Insiden Celana Robek

    ​Pukul 06.15 WIB. Udara pagi di halaman belakang RM Jagoan Rasa masih terasa sejuk, diselingi kicauan burung gereja di pucuk pohon mangga. Namun, suasana di bawah naungan pohon tersebut sama sekali tidak santai. Madun berdiri tegak dengan gaya seorang grandmaster silat kampung, mengenakan kaos oblong putih belel dan celana training hitam legendarisnya.​Di hadapannya, Vanesha, Celine, dan Audrey berdiri berjejer dengan napas sedikit terengah-engah, mengenakan pakaian olahraga kasual. Mereka baru saja menyelesaikan pemanasan ringan berupa lari kecil keliling halaman restoran sebanyak sepuluh putaran.​"Dengar ya, Neng-neng sekalian!" seru Madun dengan suara baritonnya yang menggelegar, menepuk kedua telapak tangannya hingga menciptakan suara cetusan yang nyaring. "Dunia luar itu kejam. Kemarin ada anak buah Natasha nyusup, besok-besok entah siapa lagi yang datang. Makanya, kalian harus punya ilmu bela diri tingkat tinggi buat jaga diri. Hari ini aku bakal turun tangan langsung ngajarin

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 315: Tamu Pukul Dua Pagi dan Mata yang Terbelalak

    ​Pukul dua lewat tiga puluh dua dini hari. Suasana kawasan Menteng benar-benar gulita, diselimuti kesunyian malam yang pekat banget. Di dalam Rumah Makan Jagoan Rasa, Madun melangkah pelan tanpa suara di atas lantai keramik dingin ruang tamu. Dia cuma kenakan kaos oblong putih tipis dan celana training hitam andalannya. Di balik kain celana itu, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter yang bengkak permanen akibat gigitan ribuan semut rangrang masih sedikit berdenyut hangat, sisa-sisa amukan ritual maraton kuartet beberapa jam lalu.​Tok! Tok! Tok!​Ketukan itu kembali terdengar dari balik pintu utama. Kali ini lebih pelan, tapi bernada mendesak banget.​Madun enggak buang waktu. Dengan satu gerakan tangkas, dia putar kunci pintu dan tarik daun pintu sampai terbuka lebar. Lampu teras yang remang-temaram menyoroti sosok yang berdiri di luar.​Bukan hantu gentayangan seperti dugaan Vanesha, melainkan seorang wanita asing berpostur tinggi semampai, kenakan mantel hitam

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 314: Malam Jumat Penuh Desah di Bawah Lampu Taman

    ​Pukul 20.15 WIB. Malam Jumat di kawasan Menteng menyuguhkan udara sejuk berbalut angin malam yang berhembus pelan. Di halaman belakang RM Jagoan Rasa, lampu-lampu taman temaram berwarna kekuningan memantulkan bayangan syahdu di atas meja kayu tempat keluarga kecil Madun menikmati hidangan makan malam sederhana: sepiring petai bakar harum berlumur sambal terasi buatan Celine dan segelas teh manis hangat.​Madun duduk di kursi kayu panjang dengan posisi kaki terbuka lebar—gaya khas jagoan desa yang membuat celana training hitamnya menegang sempurna. Tonjolan mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter hasil gigitan ribuan semut rangrang tercetak sangat jelas, seolah bernyawa dan siap menerkam siapa saja yang berani mendekat.​"Om, pelan-pelan dong makannya. Petainya udah kayak mau habis disikat sendirian," protes Audrey sambil cemberut manja, melipat tangan di dada dan memajukan bibirnya beberapa sentimeter.​Madun menelan suapan terakhir petai bakarnya, lalu menyeringai lebar.

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 313: Drama Panci Gosong dan Ngintip Jemuran

    ​Matahari baru saja naik segenggaman jari di atas genting rumah warga Menteng, tapi suasana dapur RM Jagoan Rasa sudah mirip kapal pecah.​"Madun! Panci andalan gue buat masak sayur asem kok bolong kayak keju Swiss?!" teriak Vanesha sambil mengangkat panci aluminium legendaris yang bagian pantatnya meleleh akibat kepanasan kompor.​Madun yang sedang duduk bersila di kursi plastik warna hijau sambil menyeruput kopi hitam panas—dengan celana training hitam andalannya yang menonjolkan mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter hasil gigitan semut rangrang—hanya nyengir tanpa dosa.​"Ya ampun, Neng. Kemarin kan kompornya ngambek, kepongahannya tersaingi sama kehebatan aku ngaduk adonan sambal. Makanya meleleh sendiri," jawab Madun santai, matanya melirik nakal ke arah Celine yang sedang berjalan membawa sekeranjang pakaian basah.​Hook pagi itu langsung pecah saat Celine terpeleset kulit pisang tepat di depan pintu dapur.​"Aduh!" teriak Celine histeris. Tubuhnya melayang indah se

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 312: Pagi Penuh Teror Suara

    ​Kawasan Menteng di pagi hari biasanya menyuguhkan suasana yang sangat tenang. Ada deretan pohon rindang, embun tipis di atas daun, dan aroma kopi hangat dari warung-warung yang mulai buka. Tapi ketenangan kawasan elit itu mendadak terganggu ketika suara sirine mobil patroli polisi berbunyi sangat nyaring, mendekat dengan cepat lalu berhenti tepat di halaman RM Jagoan Rasa.​Suara rem mobil yang mendadak dan lampu sirine merah-biru yang menyala memantul di kaca bangunan restoran, merusak suasana pagi yang sepi. Para tetangga yang baru mulai menyapu halaman atau berbelanja di tukang sayur keliling langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka berkumpul di pinggir jalan sambil berbisik penasaran melihat kejadian itu.​Di dalam rumah, Vanesha, Celine, dan Audrey yang baru saja bangun tidur langsung merasa kaget. Ketiganya saling pandang dengan tatapan bingung dan waspada.​"Ada apa lagi ini pagi-pagi begini?" gumam Celine sambil merapikan bajunya yang sedikit kusut.​Vanesha bergegas be

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 311: Perang Batin dan Ranjang

    ​Suara hantaman pintu ruang VIP yang jebol akibat tendangan serentak Vanesha, Celine, dan Audrey memecah keheningan ruangan mewah tersebut. Debu tipis berterbangan di ambang pintu, berpadu dengan aura permusuhan yang pekat. Ketiga istri Madun berdiri berjejer dengan mata menyalang tajam, menatap lurus ke arah Natasha yang masih berdiri terlalu dekat dengan suami mereka.​Vanesha melangkah maju lebih dulu, jemarinya terkepal kuat di sisi tubuhnya, sementara tatapannya memancarkan kemarahan seorang wanita yang wilayah kekuasaannya diganggu musuh bebuyutan.​"Rupanya sang Ratu Malam yang terhormat ini belum kapok juga mencari masalah di kandang macan!" suara Vanesha menggelegar dingin, memecah ketegangan di dalam ruangan. "Berani sekali menawar posisi istri keempat di depan muka kami bertiga!"​Audrey dan Celine menyusul di belakang Vanesha, berkacak pinggang dengan ekspresi wajah yang sama-sama siap menerkam. Audrey menatap Natasha dari atas ke bawah dengan cibiran tajam. "Modelan muka

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status