Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 241: Jono Durjana

Share

Bab 241: Jono Durjana

Author: Ibrahiman
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-14 15:08:27

​Fajar menyingsing dengan warna jingga lembut yang perlahan menyapu sisa-sisa kegelapan di atas atap-atap rumah penduduk desa. Udara pagi perbukitan terasa sangat sejuk, membawa aroma embun pagi dan dedaunan basah. Namun, kesejukan pagi itu tidak berlaku di dalam ruko kecil milik Madun. Di sana, atmosfer justru sedang berada di ambang ledakan nuklir akibat kombinasi maut antara rasa kasihan yang salah tempat, perut kosong yang keroncongan, dan sebuah baskom plastik berwarna hijau terang.

​Di at
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 241: Jono Durjana

    ​Fajar menyingsing dengan warna jingga lembut yang perlahan menyapu sisa-sisa kegelapan di atas atap-atap rumah penduduk desa. Udara pagi perbukitan terasa sangat sejuk, membawa aroma embun pagi dan dedaunan basah. Namun, kesejukan pagi itu tidak berlaku di dalam ruko kecil milik Madun. Di sana, atmosfer justru sedang berada di ambang ledakan nuklir akibat kombinasi maut antara rasa kasihan yang salah tempat, perut kosong yang keroncongan, dan sebuah baskom plastik berwarna hijau terang.​Di atas ranjang kayu, Nabila mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Gadis cantik mantan siswi teladan itu menggeliat manja, meraba sisi sebelah ranjang yang ternyata sudah kosong melompong. Aroma harum kopi hitam yang biasa diseduh Madun tidak tercium sama sekali. Yang terdengar justru suara gemerincing piring di dapur kecil dan suara bisik-bisik mencurigakan.​Nabila bangkit dengan rambut ikal sebahu yang sedikit berantakan, mengenakan kaus longgar kesayangannya. Dengan langkah gontai penuh rasa kan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 340: Operasi Maling Ayam Keliru

    ​Malam semakin larut, menyisakan keheningan pekat yang menyelimuti perkampungan. Di dalam ruko kecil Madun, sisa-sisa tawa akibat insiden kompor gas yang rewel beberapa jam lalu telah mereda. Nabila tertidur pulas dalam pelukan hangat Madun di atas ranjang sederhana, menikmati ketenangan setelah hari-hari penuh ketegangan dan badai gairah.​Namun, ketenangan itu tidak berlangsung sampai pagi. Pukul dua dini hari, sebuah suara berisik dari arah luar ruko membangunkan Madun secara mendadak.​Kriet... bruk!​Suara genteng bergeser disusul suara benda jatuh di pekarangan samping membuat mata tajam Madun langsung terbuka lebar. Insting lelakinya sebagai jagoan desa langsung siaga. Dengan gerakan senyap agar tidak membangunkan Nabila, Madun bangkit dari ranjang, mengenakan celana pendek loreng kesayangannya, dan menyambar sebatang balok kayu pendek yang tergeletak di sudut ruangan.​"Siapa di luar... Berani banget cari mati di kandang Madun," gumamnya geram dengan suara berat bernada rendah

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 339: Salting

    ​Matahari malam telah merayap naik, menggantikan bias jingga sore dengan kepekatan langit yang bertabur bintang. Di dalam ruko kecil Madun, suasana yang tadinya dipenuhi oleh gelora panas dan adegan intens antara dua insan yang dimabuk candu perlahan-lahan mencair, bergeser menjadi momen-momen ringan yang tak terduga.​Nabila berbaring telentang di atas ranjang dengan selimut tebal membalut tubuh mungilnya. Napasnya sudah kembali teratur setelah rentetan aksi liar di atas singgasana yang menguras tenaga beberapa jam lalu. Wajah cantiknya tampak merona puas, matanya setengah terpejam menikmati sisa-sisa rasa lelah yang menyenangkan.​Di sisi lain ranjang, Madun—sang jagoan desa yang terkenal garang, ditakuti para pemuda, disegani para tetua, dan dipuja oleh para kembang desa—tengah menghadapi sebuah masalah besar yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertarungan fisik maupun dominasi asmara.​Masalah besar itu bernama: Mien Instan dan Kompor Gas yang Ngadat.​Karena seharian pe

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 338: Doyan di Atas

    ​Matahari sore telah sepenuhnya tergelincir turun, menyisakan bias warna jingga tua di ufuk barat yang memantul lembut menembus kaca jendela ruko Madun. Suasana di dalam kamar terasa semakin panas dan pengap, dipenuhi oleh sisa-sisa napas memburu dan aroma keringat yang bercampur dengan wangi sabun mandi bayi.​Setelah perbincangan mengejutkan mengenai skala luar biasa dari keperkasaan sang jagoan desa, atmosfer di dalam ruangan bergeser menjadi sebuah arena permainan baru yang jauh lebih menantang. Nabila, yang tadinya dikenal sebagai siswi teladan paling pemalu, kaku, dan penakut di desa, kini telah bertransformasi sepenuhnya. Sisi liar yang selama ini terkurung di balik seragam rapi dan buku-buku pelajaran kini meledak keluar tanpa batas.​Madun berbaring santai di atas ranjang dengan dada bidang yang terbuka, kedua tangan kekarnya diletakkan di bawah kepala sebagai bantal. Senyuman maut penuh wibawa terukir jelas di bibirnya, menatap penuh antisipasi ke arah gadis di hadapannya.​

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 337: Wah Gede Banget

    ​Sinar matahari sore perlahan menyusup melalui celah-celah tirai ruko Madun, memancarkan cahaya jingga yang hangat ke seluruh ruangan. Suasana di dalam kamar mendadak kembali membara setelah badai gairah siang tadi mereda sejenak. Nabila, sang mantan siswi teladan yang kini telah sepenuhnya tunduk dalam dunia baru bersama sang jagoan desa, berbaring santai di atas ranjang dengan selimut tipis yang menutupi setengah tubuhnya.​Wajah cantiknya tampak merona kemerahan, dengan senyuman tipis tersungging di bibir mungilnya. Napasnya masih terdengar sedikit terengah-engah setelah sekian jam mereka terhanyut dalam pelukan tanpa henti. Madun duduk di tepi ranjang, mengenakan kaus oblong hitam yang sedikit basah oleh keringat, sementara sebelah tangannya meraih segelas air putih di atas meja kecil untuk membasahi tenggorokannya yang kering.​Namun, di tengah keheningan yang menenangkan itu, mata jernih Nabila tak sengaja melirik ke arah sesuatu yang berada di dekatnya. Sontak, kedua mata gadis

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 336: Gatalnya Jiwa Muda

    ​Sinar matahari siang menembus celah-celah genting ruko kecil Madun, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang menari di atas lantai kayu yang bersih. Suasana di dalam ruangan terasa begitu tenang, kontras dengan gejolak batin yang mendadak kembali merayap di dalam diri sang jagoan desa. Konflik kecil bersama para warga di pos ronda pagi tadi telah usai dengan kemenangan mutlak di tangan Madun, namun ketenangan luar biasa itu justru menyisakan ruang kosong yang perlahan-lahan dipenuhi oleh sensasi aneh.​Nabila, siswi teladan yang kini telah sepenuhnya meninggalkan dunia sekolah dan kepolosannya, sedang duduk bersila di atas ranjang sederhana sambil mengenakan kaus oblong longgar milik Madun. Rambut hitam ikalnya dibiarkan tergerai bebas membingkai wajah cantiknya yang merona alami. Meski perutnya masih menyimpan sedikit sisa kelelahan dari petualangan panjang di bukit dan gua semalam, ada satu sensasi fisik yang mendadak muncul tanpa diundang, membuat gadis itu merasa gelisah.​Je

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status