Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 252: Keajaiban Kecil di Balik Rak Sembako

Share

Bab 252: Keajaiban Kecil di Balik Rak Sembako

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-07-15 18:19:10

​Baru menginjak usia enam bulan, putra Madun yang diberi nama Banyu sudah menunjukkan tanda-tanda kecerdasan yang membuat warga rukun tetangga geleng-geleng kepala. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung sering mendapati Banyu sedang memperhatikan susunan kaleng susu dengan tatapan analitis, seolah bayi mungil itu sedang menghitung stok barang di ruko kelontong mereka. Vina yang kini terlihat semakin sintal padat berisi setelah melahirkan, selalu tertawa bangga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 298: Malam Penuh Rencana di Ruko

    ​Malam hari menyelimuti desa dengan keheningan yang menenangkan. Lampu-lampu warung dan ruko kelontong Madun menyala terang, memancarkan kehangatan di tengah angin malam yang berhembus sepoi-sepoi.​Sarah berdiri di ruang tengah ruko sambil merapikan laporan keuangan harian, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa semangat dari kunjungan sore tadi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan anggun.​Madun berdiri tegar di dekat pintu utama, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak begitu tenang menikmati suasana malam yang damai.​Bono datang menghampiri ruko dengan langkah ringan, membawa sekotak martabak manis pesanan khusus untuk merayakan suksesnya misi pendekatan pertama hari itu. Wajah Bono tampak berbinar-binar gembira.​"Wah, selamat malam para p

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 297: Manisnya Obrolan di Warung Kopi

    ​Suasana warung kopi Mak Jiah mendadak terasa lebih semarak dengan kehadiran kelompok kecil Madun dan kawan-kawan. Rini, gadis berkerudung rapi yang semula tampak sibuk dengan gelas-gelas pesanan, kini meletakkan nampannya di atas meja lalu membalas sapaan Bono dengan senyuman ramah yang menenangkan.​"Silakan duduk, Mas Bono... Mbak Sarah, Mas Madun, dan Siska juga," ucap Rini sopan sambil mempersilakan mereka menempati bangku kayu panjang di dekat etalase warung.​Bono menarik kursi dengan gerakan sedikit kaku, masih diliputi rasa salah tingkah di hadapan gadis yang menjadi target utama agen biro jodoh dadakan tersebut. Madun duduk di sebelah Sarah, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa tenang untuk mencairkan suasana.​Siska langsung menyenggol lengan Bono pelan sambil berbisik dengan nada menggoda. "Woy, jangan kaku amat kayak patung pancoran! Pasang senyum andalan dong, tunjukin kalau mantan raja jud

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 296: Misi Baru: Mencari Pelabuhan Hati Bono

    ​Sesi latihan fisik pagi itu ditutup dengan napas terengah-engah dan tawa lepas di pelataran ruko. Setelah berhasil melewati ujian push-up dan lari keliling desa, Bono duduk bersila di teras sambil meneguk air mineral dingin, merasa jauh lebih bugar dari hari-hari sebelumnya.​Sarah berdiri di samping suaminya, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa angin pagi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari yang semakin hangat.​Madun berdiri tegar menjulang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Ia menatap sahabatnya yang kini tampak jauh lebih bersemangat menata hidup.​"Badan sudah mulai terbentuk, mental juga sudah mulai pulih dari bayang-bayang masa lalu," ucap Madun dengan suara berat bernada rendah yang penuh wibawa. "Tapi hidup kamu belum lengkap kalau cum

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 295: Bono Pengen Kuat

    Matahari semakin tinggi, menyinari pelataran ruko kelontong Madun yang kini telah bersih kembali setelah keributan kecil tadi pagi. Sisa-sisa kue lupis manis di bakul telah habis dinikmati, menyisakan gelak tawa yang masih membekas di antara mereka berdua. ​Bono berdiri di hadapan Madun dengan postur tegak, meski sesekali masih tampak canggung. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap sahabatnya itu dengan sorot mata yang menyiratkan kesungguhan luar biasa. ​"Madun..." ucap Bono serius. "Kejadian tadi pagi, juga teror-teror kemarin... bikin aku sadar satu hal. Selama ini aku cuma jadi beban, gampang takut, gampang goyah, sampai akhirnya gampang disetir orang lain buat ngelakuin hal bodoh." ​Sarah yang sedang merapikan meja kasir menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap Bono dengan senyuman tipis penuh penghargaan atas perubahan mental sahabat suaminya itu. ​Bono melanjutkan kata-katanya dengan penuh harap, "Aku mau berubah, Dun. Aku mau minta tolong... ajari aku cara biar b

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 294: Kembalinya 2 Sahabat

    Suasana pagi yang tadinya dipenuhi gelak tawa dan gurauan hangat mendadak terusik ketika suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak terdengar nyaring di depan pelataran ruko.​Dua unit mobil minibus hitam berhenti secara arogan tepat di depan halaman. Pintu mobil terbuka lebar, menurunkan enam orang preman bertubuh kekar penuh tato dengan wajah sangar, menenteng balok kayu dan pipa besi. Mereka adalah sisa-sisa anak buah sindikat judol yang belum tahu bahwa bos besar mereka sudah diringkus polisi.​"Hei, Bono! Sialan kamu! Beraninya sembunyi dan mangkir dari setoran! Mau lari ke mana lagi kamu, hah?!" bentak pimpinan preman itu dengan suara menggelegar penuh ancaman.​Sarah terkesiap kaget, refleks merapatkan tubuh sintalnya ke belakang punggung Madun. Siska mendengus kesal sambil berkacak pinggang, daster oranye ketatnya memperlihatkan belahan dada saat ia berdecak. "Ih, rombongan sirkus kurang piknik datang lagi! Pagi-pagi udah bikin polusi suara!" ledek Siska pedas.​Bono menel

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 293: Manisnya Lopis Penutup Luka

    ​Matahari pagi kembali menyapa dengan kehangatan yang menyejukkan, menerangi pelataran ruko kelontong Madun yang kini telah kembali sibuk dengan aktivitas harian warga desa.​Sarah berdiri di dekat meja kasir, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena suasana hati yang begitu lapang dan bahagia. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya matahari pagi.​Madun berdiri tegar di teras depan, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa jantan yang kini dihiasi senyuman ramah.​Tidak lama kemudian, Bono datang melangkah menghampiri ruko dengan membawa sebuah bakul besar yang ditutup daun pisang segar, menebarkan aroma wangi gula merah cair dan ketan yang sangat khas.​Melihat kedatangan sahabatnya, Madun sengaja memasang wajah serius bercanda untuk mencairkan su

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 166: Sentuhan Lembut di Ambang Pintu

    Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status