Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 413: Cleo dan Michelle Kicep di Hadapan Permaisuri

Share

Bab 413: Cleo dan Michelle Kicep di Hadapan Permaisuri

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-10-19 03:27:06

​Deritan ban mobil taksi online yang berdecit kecil di atas aspal panas kawasan Menteng menandakan pelarian kilat yang dilakukan oleh dua mahasiswi high class tersebut. Di dalam kabin mobil ber-AC dingin, Cleo dan Michelle masih megap-megap mengatur napas mereka yang tersengal-sengal. Jantung keduanya berdegup kencang seakan baru saja lolos dari kejaran kawanan singa lapar di tengah hutan belantara. Keringat dingin masih membasahi pelipis dan tengkuk mereka, menyisakan sisa-sisa keterkejutan lu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 415: Rayuan Pagi Meredakan Amuk Permaisuri

    ​Pukul 06.30 pagi, Senin, 2 November 2026. Sinar matahari pagi menyinari jalanan ibu kota dengan kehangatan lembut, menembus celah-celah pepohonan rindang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Udara pagi terasa begitu segar, membawa aroma embun yang bercampur dengan sisa-sisa wangi rempah dapur dari kedai RM Jagoan Rasa yang mulai bernyawa kembali. Di ruang belakang kedai, Vanesha sudah terbangun jauh lebih awal dari biasanya. Mengenakan apron santai berwarna pastel yang membalut tubuh rampingnya, ia sibuk merapikan meja makan kecil dan menyeduh secangkir kopi hitam pekat untuk mengawali hari.​Meskipun malam tadi hukuman berat berupa cucian segunung piring kotor telah tuntas dilaksanakan oleh Madun hingga bersih mengkilap, sisa-sisa kekesalan di hati Vanesha akibat insiden lirik-lirik genit ke "cewek porselen" kemarin sore masih sedikit membekas di wajah cantiknya. Bibir mungilnya sesekali mengerucut lucu, menunjukkan gestur ngambek manja seorang permaisuri yang belum sepenuhnya memberi

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 414: Sesi Interogasi Dapur Belakang

    ​Malam semakin larut, merayap pelan di atas atap seng kedai yang mulai mendingin setelah dihembus angin malam kota yang berembus tenang. Di luar sana, hiruk-pikuk kendaraan perlahan mereda, menyisakan deru mesin motor yang sesekali lewat di kejauhan. Lampu-lampu sorot di bagian depan kedai satu per satu mulai dipadamkan, menandakan bahwa jam operasional hari itu telah resmi berakhir dan saatnya bagi para penghuninya untuk beristirahat. Namun, keheningan yang seharusnya membawa kedamaian justru terasa begitu mencekam di dalam ruang utama kedai yang remang-remang.​Vanesha berdiri di dekat meja kasir, tangannya sibuk membereskan tumpukan nota pesanan sementara telinganya awas mendengar setiap derap langkah di sekitarnya. Di sisi lain ruangan, Madun tengah membereskan sisa piring kotor dan mengelap permukaan meja kayu yang masih menyisakan noda kecap serta remah-remah makanan. Gerakan Madun tampak lebih lambat dari biasanya, seolah ada beban tak kasat mata yang menghimpit pundaknya sejak

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 413: Cleo dan Michelle Kicep di Hadapan Permaisuri

    ​Deritan ban mobil taksi online yang berdecit kecil di atas aspal panas kawasan Menteng menandakan pelarian kilat yang dilakukan oleh dua mahasiswi high class tersebut. Di dalam kabin mobil ber-AC dingin, Cleo dan Michelle masih megap-megap mengatur napas mereka yang tersengal-sengal. Jantung keduanya berdegup kencang seakan baru saja lolos dari kejaran kawanan singa lapar di tengah hutan belantara. Keringat dingin masih membasahi pelipis dan tengkuk mereka, menyisakan sisa-sisa keterkejutan luar biasa akibat ancaman maut dari sang permaisuri kedai beberapa menit lalu.​"Gila... Sumpah, gila banget!" seru Michelle dengan suara bergetar panik, memegang dadanya yang masih naik turun tidak beraturan. "Nyaris banget usus kita dibungkus rapi pakai daun pisang sama ratunya tadi! Bisa-bisa nama kita masuk berita kriminal koran lokal besok pagi dengan judul 'Dua Mahasiswi Kampus Elite Berakhir Jadi Bungkus Sate Jando'."​Cleo, yang duduk di sampingnya sambil merapikan kacamata berbingkai beni

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 412: Nampan Panas Vanesha

    ​Pukul 13.00 siang, Minggu, 1 November 2026. Matahari bersinar sangat terik di atas kawasan Menteng, Jakarta Pusat, memancarkan sengatan panas yang membuat udara di sekitar jalanan protokol bergetar hebat. Di dalam istana kuliner RM Jagoan Rasa, suasana siang hari itu sedang berada di titik paling padat. Deretan meja kayu penuh terisi oleh para pelanggan yang berteduh dari teriknya cuaca ibu kota sambil menikmati hidangan sate jando gulai kambing yang mengepulkan aroma harum rempah pilihan.​Di balik meja kasir utama, Vanesha—sang permaisuri Menteng—berdiri tegak dengan balutan apron putih bersih. Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh sudut kedai, mengawasi setiap gerak-gerik pelayan dan tamu dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Meskipun hari Minggu biasanya menjadi hari paling melelahkan karena jumlah pengunjung membludak, Vanesha tetap menunjukkan wibawa seorang ratu yang tidak pernah lengah menjaga wilayah kekuasaannya.​Tiba-tiba, pintu kaca geser kedai terbuka lebar. Dua sosok

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 411: Jurus Bariton Mesum

    ​Pukul 16.00 sore, Sabtu, 31 Oktober 2026. Suasana di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, mulai memasuki jeda sore yang tenang setelah gairah terik siang hari berangsur mereda. Sinar matahari keemasan memantul lembut di kaca-kaca jendela RM Jagoan Rasa, menciptakan bayangan panjang di atas trotoar bersih kota. Di dalam kedai, para pegawai sedang membersihkan meja-meja sisa makan siang, sementara Vanesha sibuk merekap pembukuan harian di meja kecil ruang belakang, dan Madun merapikan deretan kursi kayu di bagian depan kedai.​Di tengah ketenangan sore yang damai itu, pintu kaca utama kedai bergeser terbuka secara perlahan dengan bunyi deritan halus. Dua sosok gadis berpenampilan high class kembali menampakkan diri melangkah masuk ke dalam area kedai. Mereka adalah Cleo, mahasiswi berwajah porselen imut yang mengenakan kacamata bening modis, dan Michelle, gadis cute berambut bob sebahu dengan gaya berpakaian kasual santai namun sangat memukau.​"Wah, mereka balik lagi nih, bos!" bisik salah

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 410: Pesanan Sate Jando Ekstra Pedas dan Rayuan Maut

    ​Pukul 12.30 siang, Jumat, 30 Oktober 2026. Suasana di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, berada di bawah terik matahari siang yang menyengat, membuat jalanan aspal bergetar memantulkan hawa panas kota metropolitan. Di dalam istana kuliner RM Jagoan Rasa, kesibukan jam makan siang sedang berada di puncaknya. Aroma harum sate jando bakar berpadu sempurna dengan kepulan asap gulai kambing yang mengepul gurih, menciptakan atmosfer kuliner yang sangat menggugah selera.​Di meja sudut favorit yang terletak paling dekat dengan area dapur terbuka, dua sosok gadis berpenampilan high class melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Mereka adalah Cleo, mahasiswi imut berwajah porselen yang mengenakan kacamata berbingkai bening modis, dan Michelle, gadis cute berambut bob sebahu berpenampilan super stylish. Insiden teguran keras dari sang permaisuri kemarin sama sekali tidak membuat nyali mereka ciut; sebaliknya, rasa penasaran dan jiwa kenakalan remaja elit mereka justru semakin berkobar-kobar.​"

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status