Se connecter"Mas Madun, sini cepetan! Itu komidi putarnya lagi berisik banget, nggak bakal ada yang denger suara kita!" bisik Lala sambil menarik tangan kekar Madun menuju balik tenda besar wahana rumah hantu yang sepi dan remang-remang.Lala malam ini benar-benar tampil maut. Ia memakai tank top ketat warna hitam yang sangat rendah potongannya, membuat dadanya yang kencang dan padat nampak membusung menantang setiap kali ia mengatur napas. Celana jeans pendeknya yang super ketat memamerkan paha putih mulusnya yang bening dan kencang, berkilau terkena lampu warna-warni pasar malam. Visual paha Lala yang mulus tanpa cela itu benar-benar merusak konsentrasi Madun yang baru saja mau menikmati harumnya arum manis."Aduh Neng Lala, ini kita beneran mau 'main' di sini? Kalau ada anak kecil nyasar lewat gimana?" tanya Madun sambil cengar-cengir jantan. Madun sendiri tampak gagah dengan kaos singlet hitam yang memperlihatkan otot pundaknya yang lebar. Dada bidangnya naik turun, apalagi saat melihat gu
"Mas Madun, aduh... perut Lala bunyi kencang banget nih. Habis digempur Mas beringas tadi, rasanya semua tenaga Lala tersedot habis," keluh Lala sambil mengelus perutnya yang rata dan ramping.Visual Lala malam itu tetap juara meski rambutnya sedikit berantakan. Ia mengganti dasternya dengan kaos pendek ketat berwarna putih yang menonjolkan bentuk dadanya yang kencang tanpa bra. Celana gemesnya yang sangat pendek memamerkan paha mulusnya yang putih bening dan jenjang, membuat setiap mata pria di pasar yang mereka lewati hampir copot. Madun sendiri berjalan gagah di sampingnya, mengenakan kaos singlet yang memperlihatkan otot lengan besarnya yang masih berurat, sisa-sisa kegagahan ronde sebelumnya."Sama Neng, Mas juga lapar. Linggis Mas butuh asupan biar nggak letoy. Ayo kita cari soto kambing Pak Kumis di pojok pasar, katanya itu jamu alami buat stamina laki-laki," jawab Madun sambil tertawa jantan.Mereka pun sampai di warung soto kambing yang mengepul harum. Lala duduk dengan g
"Aduh, Mas Madun! Ini beneran nggak mau dikasih istirahat ya?" keluh Lala sambil terengah-engah, namun tangannya tetap memeluk leher Madun yang kokoh. Wajah Lala yang secantik artis itu nampak sangat merah padam dengan keringat yang membasahi leher putih jenjangnya. Visual Lala benar-benar merusak pertahanan pria mana pun; daster satin merahnya sudah compang-camping tak karuan, memperlihatkan paha mulusnya yang bening, kencang, dan sangat halus. Kulit porselennya tampak berkilau karena peluh gairah yang terus mengalir setiap kali Madun bergerak beringas.Madun hanya menyeringai jantan, otot-otot lengannya yang penuh urat mencengkeram pinggul ramping Lala dengan sangat kuat. Dada bidang Madun yang cokelat mengkilap naik turun dengan napas yang memburu, memamerkan keperkasaan kuli pasar yang tenaganya seperti mesin diesel tak kenal mati. "Istirahatnya nanti saja kalau sudah subuh, Neng! Kan tadi katanya mau setoran peju lagi dan lagi? Linggis beton Mas ini kalau sudah dikasih cairan s
"Mas Madun! Sini cepet, pintunya sudah Lala kunci rapat!" teriak Lala dari dalam kamar kosnya yang harum aroma terapi melati.Madun yang baru saja meletakkan karung terakhir di gudang langsung lari secepat kilat. Ia masuk dengan napas memburu, memperlihatkan dada bidangnya yang kecokelatan dan penuh keringat jantan. Visual Madun sore itu benar-benar gagah, urat-urat di lengan besarnya masih menonjol, sementara di balik sarungnya, "linggis beton" andalannya sudah membentuk gundukan besar yang siap tempur."Waduh, Neng Lala sudah siap sedia ya? Mas sampai nggak sempat cuci muka ini," kata Madun sambil cengar-cengir jantan.Lala tertawa manja. Visual Lala benar-benar merusak fokus. Ia sedang berbaring miring di atas kasur tanpa sprei, hanya mengenakan daster satin merah yang sangat tipis dan pendek. Daster itu tersingkap sampai ke pinggang, memamerkan paha putih mulusnya yang kencang, bening, dan mulus tanpa cela. Kulit paha Lala yang porselen tampak berkilau terkena lampu kamar, mem
"Mas Madun, masa cuma Lala aja yang setoran tiap hari? Itu nggak adil namanya!" protes Lala sambil merapikan daster ungu tipisnya yang melorot di bahu putih mulusnya yang bening.Madun yang sedang asyik mengelap sisa cairan surga Lala di dagunya yang tegas menoleh kaget. Dada bidang Madun yang berotot dan berkilauan karena keringat tampak makin gagah di bawah sinar lampu gudang. "Lho, maksudnya gimana, Neng? Kan Mas sudah bayar pakai tenaga linggis beton Mas yang bikin Neng Lala sampai lemas begitu?"Lala mengerucutkan bibirnya yang merah ranum. Visual Lala sore itu benar-benar bikin panas dingin; dasternya yang pendek memperlihatkan paha putih mulusnya yang sangat kencang dan mulus tanpa noda. "Bukan itu, Mas. Lala juga pengen ngerasain cairan surga punya Mas Madun. Lala pengen minum langsung dari sumbernya! Jadi, mulai detik ini, Mas Madun juga wajib setoran peju ke mulut Lala setiap kita ketemu!"Madun melongo, lalu tertawa jantan hingga otot perut kotak-kotaknya bergetar hebat
"Mas Madun, ampun! Ini baru jam berapa sudah minta setoran lagi?" keluh Lala sambil tertawa kecil saat Madun menariknya masuk ke dalam gudang belakang kosan yang sepi. Madun yang baru pulang dari pasar tampak sangat jantan dengan kaos singlet yang basah kuyup oleh keringat, memperlihatkan otot dadanya yang bidang dan keras. "Waduh, Neng Lala. Lidah Mas ini sudah rindu berat sama rasa stroberi madu dari selangkangan Neng. Rasanya kalau sehari nggak minum cairan surga dari Neng, tenaga panggul beras Mas jadi berkurang drastis." Lala mencibir manja, tapi tangannya mulai meraba otot bisep Madun yang besar dan berurat. Visual Lala sore itu benar-benar bikin mata pria normal merem-melek; ia memakai daster satin ungu yang sangat pendek dan tipis. Kulit bahunya yang putih mulus tampak berkilau, dan karena ia tidak memakai bra, bentuk dadanya yang kencang dan ranum tercetak jelas menantang di balik kain tipis itu. "Ya sudah, mumpung sepi. Tapi Mas Madun harus habiskan semuanya ya, jan







