共有

Bab 84: Madun Bertobat

作者: Ibrahiman
last update 公開日: 2026-05-23 15:02:15

“Aduh, Mas Madun... kok muka kamu tiba-tiba pucat kayak mayat pasar gitu? Sini merapat lagi, paha mulus Maya masih gatel minta disengat pusaka semut rangrang kamu itu,” rajuk Maya sambil menggeliat di atas karung beras.

Tank top pink ketatnya robek di dada, memperlihatkan gundukan buah dadanya yang putih padat naik turun. Pahanya putih mulus terbuka lebar, berkilau karena sisa pelumas dan keringat.

Sari si pelayan toko ikut merangkak mendekat. Dada montoknya bergoyang di depan Madun. Kaos v
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 334: Semburan Terakhir di Bayangan Tabung Kayu

    Meskipun deru mesin motor two-stroke di dalam arena tong setan sudah sepenuhnya dimatikan dan para penjaga wahana mulai membereskan lampu-lampu sorot tenda, sisa-sisa getaran mistis dari papan kayu penopang tabung seolah masih merambat naik melalui sol sandal jepit hijau keramat milik Madun.​Di sudut paling gelap yang terhalang bayangan tiang besi besar pasar malam rakyat Menteng, Gendis berdiri dengan napas tersengal-sengal. Jaket hoodie hitam berukuran besar ia kenakan untuk menutupi seluruh tubuhnya yang basah kuyup oleh keringat malam dan cairan kenikmatan. Siswi SMA berusia tujuh belas tahun itu bersandar lemas pada dinding luar arena, sementara kedua tangannya mencengkeram erat lengan kekar Madun.​Meskipun sebelumnya batang raksasa empat puluh sentimeter milik sang jagoan desa sempat ditarik keluar, gelombang candu yang tercipta dari fenomena "tempelan maut" membuat pembuluh darah mereka berdua seakan belum mau berdamai dengan kenyataan.​Madun menatap tajam ke arah wajah Gend

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 333: Tempelan Maut di Jantung Tong Setan

    ​Pukul 23.00 WIB. Raungan mesin two-stroke di dalam tabung kayu raksasa arena tong setan perlahan-lahan mulai menurun derunya. Asap tipis beraroma bensin bakar mengepul keluar dari sela-sela dinding papan, berpadu dengan udara malam pasar malam rakyat Menteng yang dipenuhi keringat dan keramaian penonton.​Di sudut paling gelap yang terhalang bayangan tiang penyangga utama, Madun dan Gendis masih terpaku dalam satu kesatuan raga yang menolak terlepas.​Ganti posisi atau merenggangkan jarak sama sekali bukan pilihan di kepala mereka. Setelah hantaman klimaks beruntun yang diselaraskan dengan getaran mesin motor sebelumnya, tubuh mungil Gendis masih menempel rapat di dinding kayu arena. Kedua kaki ramping sang siswi SMA itu melingkar erat mengunci pinggang Madun, sementara punggungnya bersandar penuh pada kayunya dinding tabung.​Di dalam sana, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter milik Madun tidak ditarik keluar sedikit pun. Batang baja panas itu dibiarkan tetap

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 332: Getaran Maut di Arena Tong Setan

    ​Pukul 21.45 WIB. Suasana di dalam kamar rahasia istana RM Jagoan Rasa masih menyisakan hawa panas yang mengepul dari tubuh Madun dan Gendis. Setelah badai perkosaan brutal mereda, kedua sejoli itu terbaring berdampingan di atas ranjang satin hitam. Gendis menarik selimut bulu domba hingga sebatas dada, mengatur napasnya yang masih memburu. Wajah imut gadis berusia tujuh belas tahun itu tampak kemerahan, dipenuhi peluh tipis yang menempel di pelipisnya.​Namun, meskipun baru saja digempur habis-habisan dalam ronde yang melelahkan, mata bulat Gendis justru kembali berbinar-binar penuh kelicikan manja. Ia miringkan tubuhnya menghadap Madun, lalu menyentuh dada bidang sang jagoan desa dengan jemari mungilnya yang lentik.​"Om..." bisik Gendis manja, suaranya terdengar bergetar lembut menggoda.​Madun yang sedang menutup mata sambil merokok sebatang kretek membuka sebelah matanya. Ia melirik sang daun muda dengan seringai maut khas preman pasar malam. "Kenapa lagi, Neng Gendis? Tenaga kam

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 331: Amukan Brutal di Kamar Rahasia

    ​Pukul 21.00 WIB. Angin malam kawasan Menteng berhembus pelan, membawa kesejukan yang kontras dengan suasana panas membara di dalam istana RM Jagoan Rasa. Pintu kayu kamar rahasia di lantai dua tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Di luar sana, suasana restoran sudah sunyi senyap, meninggalkan ruang bagi Madun dan Gendis untuk menuntaskan seluruh sisa gairah yang sempat tergantung di tengah jalan.​Begitu tubuh mereka melewati ambang pintu kamar, Madun tidak lagi sabar. Sisa-sisa kesabaran sang jagoan desa runtuh seketika setelah sepanjang perjalanan digempur oleh gesekan gendongan depan yang menyiksa.​Gendis bahkan belum sempat melepas jaket hoodie hitam berukuran besar yang ia kenakan. Tubuh mungilnya langsung dihempaskan ke atas ranjang king-size berseprai satin hitam dengan hantaman yang cukup kuat.​Bruk!​"Om... pelan-pelan...!" jerit Gendis kaget, matanya membelalak lebar menatap wajah Madun yang tampak garang di bawah pendar lampu tidur berwarna merah marun.​Madun tidak m

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 330: Gendongan Depan di Bawah Rembulan Menteng

    ​Pukul 20.15 WIB. Suasana di warung Bakso Beranak Jagoan berangsur-angsur kembali tenang setelah Bang Dul—tukang sate sekaligus paman kandung Gendis—hanya mampir sejenak untuk memesan sebungkus bakso urat pedas ekstra sambal tanpa sempat memergoki tangan nakal Madun yang beraksi di bawah meja.​Meskipun lolos dari maut dan amukan sang paman, jantung Gendis masih berdegup kencang seperti hendak meloncat keluar dari dadanya. Wajah gadis belia itu merah padam, napasnya tersengal-sengal, dan ia buru-buru menghabiskan sisa air teh manisnya untuk menetralisir rasa kaget yang luar biasa.​Setelah membayar tagihan mangkok bakso dengan selembar uang kertas tanpa meminta kembalian, Madun berdiri dari bangkunya. Ia merapikan kaos oblong putih polos dan celana training hitamnya, sementara Gendis berdiri di sampingnya sambil merapatkan jaket hoodie hitam berukuran besar untuk menutupi tubuhnya yang masih terasa lemas dan basah di bagian selangkangan.​"Udah kenyang makannya, Neng Gendis? Ayo, kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 329: Basah di Balik Mangkok Bakso

    ​Matahari telah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh temaram lampu neon kuning dari warung-warung kaki lima di sepanjang Jalan Menteng Raya. Asap putih mengepul tebal dari panci besar kuah kaldu sapi yang mendidih di gerobak Bakso Beranak Jagoan, menyebarkan aroma gurih bawang putih goreng dan tulang rangu yang langsung menggugah selera siapa saja yang lewat.​Di salah satu meja kayu panjang yang terletak di sudut paling gelap warung bakso tersebut, Gendis duduk terdiam kaku. Seragam SMA-nya sudah ia tutupi dengan jaket hoodie kebesaran berwarna hitam untuk menyembunyikan leher putihnya yang penuh dengan jejak cup-mark ungu kebasahan. Rambutnya dikuncir kuda seadanya, namun sisa-sisa kelelahan akibat amukan kilat Madun di balik pagar kemuning beberapa jam lalu masih jelas tergambar di garis wajahnya yang masih belia.​Di sebelah kanannya, Madun duduk dengan gaya khas preman kampung: satu kaki diangkat ke atas kursi, kaos oblong putih polos, dan sandal jepit hijau keramat. Wajah sang

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status