Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 83: Gudang Kelontong Kewalahan

Share

Bab 83: Gudang Kelontong Kewalahan

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-05-22 12:38:50

​"Aduh, Mas Madun... ampun! Ini paha mulus aku sampai gemetaran, gak bisa digerakin sama sekali gara-gara lubang rahim aku disengat pusaka semut rangrang kamu yang super panas itu!" keluh Maya sambil memandangi sela-sela paha dalam miliknya yang putih bersih dan mulus bening tanpa noda.

​Visual Maya siang itu benar-benar menggetarkan iman pria normal. Tank top pink ketatnya kini basah kuyup oleh peluh, menempel sangat ketat di tubuhnya hingga memperlihatkan bentuk buah dadanya yang bundar, kenc
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 426: Evakuasi Pasutri ke Kamar Utama Vila

    ​Pukul 22.00 malam, Sabtu, 7 November 2026. Setelah menyelesaikan pertunjukan dominasi mutlak yang meremukkan sisa-sisa mental Cleo dan Michelle di tepi kolam renang, Vanesha memutuskan bahwa babak interaksi publik malam itu harus segera disudahi. Udara dingin pegunungan Puncak yang semakin menusuk tulang seolah bersekongkol dengan kehangatan hasrat yang bergejolak di dalam dada sang permaisuri agung Menteng.​"Pertunjukan malam ini sudah resmi selesai sepenuhnya. Waktunya kita undur diri dari hadapan mereka dan masuk ke wilayah pribadi kita," ucap Vanesha dingin namun tegas kepada suaminya.​Di kursi beludru seberang kolam, Cleo dan Michelle hanya bisa terdiam lesu dengan kepala tertunduk. Kedua mahasiswi high class itu benar-benar dibuat gigit jari, menelan ludah rapat-rapat saat menyaksikan betapa mutlaknya kekuasaan Vanesha atas sang jagoan Menteng.​"Kita bener-bener gak berkutik di hadapan mereka berdua... Rencana kita hancur total," bisik Cleo meratapi nasibnya malam itu dengan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 425: Cleo dan Michelle Menyerah Kalah

    ​Pukul 07.30 pagi, Minggu, 8 November 2026. Sinar matahari pagi pegunungan Puncak yang cerah dan hangat menembus dinding kaca vila mewah, menyinari area ruang makan dengan bias keemasan yang menenangkan. Udara pagi yang sangat sejuk, bersih, dan segar menyambut datangnya hari baru setelah malam panjang penuh ketegangan, intrik psikologis, dan dominasi domestik mutlak yang mempertontonkan kekuasaan penuh pasutri Menteng.​Cleo dan Michelle melangkah keluar dari kamar tidur mereka menuju ruang makan utama dengan penampilan yang jauh lebih santai dan sederhana. Mengenakan pakaian santai kasual pagi hari, sisa-sisa kelelahan dan rasa malu akibat insiden malam sebelumnya masih membekas tipis di wajah cantik mereka. Sepanjang malam, mereka berdua meratapi betapa naifnya rencana awal mereka untuk menggoyahkan singa Menteng dari sisi sang permaisuri.​"Pagi yang benar-benar mendebarkan dan menguras mental kita semalam, ya..." bisik Michelle lirih kepada Cleo sambil menarik kursi makan.​Di uj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 424: Vanesha Menunjukkan Dominasi Mutlak

    ​Pukul 21.45 malam, Sabtu, 7 November 2026. Selepas insiden pembukaan jaket dan pertunjukan visual mutasi legendaris yang sukses merontokkan mental Cleo dan Michelle hingga tak bersisa, suasana di tepi kolam renang pribadi vila kaca mewah kawasan Puncak terasa begitu sunyi dan mencekam. Uap air hangat yang mengepul dari permukaan kolam berpadu dengan udara malam pegunungan yang menusuk tulang, menciptakan latar belakang dramatis bagi babak akhir pertarungan psikologis malam itu.​Vanesha, sang permaisuri agung Menteng, duduk dengan anggun di atas kursi beludru empuknya. Namun, ia merasa bahwa segelintir ancaman verbal dan sindiran tajam saja belum cukup untuk membakar kesadaran kedua mahasiswi high class itu secara permanen. Ia membutuhkan satu pukulan telak penutup—sebuah pernyataan visual paling mutlak yang akan menghapus segala khayalan liar dan ambisi tersembunyi dari benak Cleo dan Michelle selamanya.​"Pelajaran visual dan pembuktian langsung tadi sepertinya masih belum cukup me

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 423: Madun Membuka Jaket dan Reaksi Para Gadis

    ​Pukul 21.30 malam, Sabtu, 7 November 2026. Suasana di tepi kolam renang pribadi vila kaca mewah kawasan Puncak mencapai titik didih tertingginya. Udara dingin pegunungan yang menusuk tulang seolah kehilangan seluruh kekuatannya untuk mendinginkan atmosfer di sekitar meja marmer bundar tersebut. Bara arang di dalam panggangan baja telah meredup, namun panas yang sesungguhnya justru bersumber dari ketegangan erotis dan psikologis yang melingkupi keempat orang di sana.​Madun berdiri tegak di tengah teras kolam renang dengan postur tubuh atletis yang memancarkan wibawa preman terhormat tiada tanding. Tantangan Dare ekstrem yang baru saja dilontarkan oleh Cleo menggantung di udara, menuntut pembuktian nyata atas segala rumor dan kehebohan mutasi legendaris yang selama ini beredar di dunia maya.​Dengan seringai preman khasnya yang lebar dan penuh percaya diri, Madun menatap lurus ke arah dua mahasiswi high class di hadapannya.​"Kalau kalian memang bernyali besar dan sengaja minta pembuk

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 422: Game Truth or Dare yang Berbahaya

    ​Pukul 21.15 malam, Sabtu, 7 November 2026. Suasana di tepi kolam renang pribadi vila kaca mewah kawasan Puncak berangsur-angsur mencair setelah dominasi mutlak dan ancaman telak yang dilancarkan oleh sang permaisuri berhasil meredam seluruh keagresifan awal Cleo dan Michelle. Bara arang di dalam panggangan baja kini berangsur redup, menyisakan kehangatan api unggun kecil yang memantulkan cahaya jingga kemerahan ke permukaan air kolam. Ketegangan psikologis yang tadinya pekat perlahan bertransformasi menjadi bentuk interaksi baru yang lebih santai namun tetap dipenuhi intrik terselubung.​Vanesha kembali duduk dengan anggun di atas kursi beludru empuknya di tepi kolam, menikmati sepotong sate wagyu hasil panggangannya sendiri yang tertata rapi di atas piring kristal. Sepasang mata elangnya tetap waspada, mengawasi setiap gerak-gerik kedua mahasiswi high class yang kini tampak duduk sedikit lebih tertib di seberang meja marmer.​Michelle, yang berusaha keras memecah keheningan canggung

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 421: Vanesha Mengambil Alih Panggung Malam

    ​Pukul 20.45 malam, Sabtu, 7 November 2026. Suasana di tepi kolam renang pribadi vila kaca mewah kawasan Puncak terasa semakin membeku oleh udara malam pegunungan, namun ketegangan psikologis yang melingkupi area tersebut jauh lebih panas daripada bara arang di dalam panggangan baja. Melihat aksi agresif dan rayuan murahan yang terus dilancarkan oleh Cleo dan Michelle secara terang-terangan di hadapannya, Vanesha—sang permaisuri agung Menteng—memutuskan bahwa batas kesabarannya telah mencapai titik maksimal. Ia tidak akan lagi tinggal diam hanya duduk di kursi santai beludru sambil mengawasi dari kejauhan.​"Sepertinya kalian berdua benar-benar butuh pelajaran visual secara langsung tentang siapa sebenarnya yang memegang hak paten permanen atas suami saya," ujar Vanesha dengan suara dingin yang menusuk tulang, memecah keheningan malam.​Tanpa membuang waktu sedetik pun, Vanesha berdiri dari kursi santainya dengan gerakan yang sangat anggun namun memancarkan wibawa tingkat tinggi. Deng

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status