Beranda / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 9 : Latihan Beban yang Aneh

Share

Bab 9 : Latihan Beban yang Aneh

Penulis: Ibrahiman
last update Tanggal publikasi: 2026-03-23 17:18:24

Besoknya Pak Bos memberi arahan langsung untuk latihan beban burung Madun.

​"Dun! Jangan cuma dipandangin itu ember! Cepet dicantolin!" teriak Pak Bos dari balik jendela gudang, sambil ngintip Madun yang lagi sembunyi-sembunyi di pojok belakang gudang yang sepi.

​"Aduh, Pak Bos... ini beneran nggak bakal copot kan? Saya ngeri banget liat ember cat isi air begini," balas Madun. Dia lagi posisi setengah jongkok, cuma pakai sarung yang ditarik ke atas. Badannya yang legam, penuh otot hasil mangg
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 203: Benteng Pemuda Kampung Halaman

    ​"Alhamdulillah, urusan sengketa tanah kemarin sudah beres tanpa sisa, sekarang saatnya saya fokus jantan menggerakkan pemuda karang taruna demi melawan teror rentenir kelurahan sebelah!" seru Madun lantang sambil mengebrak meja pos ronda dengan kepalan tangan kekarnya. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi peran barunya sebagai pelindung warga sekaligus ketua karang taruna yang selalu siap menjadi tameng bagi masyarakat desa fajar ini.​"Hidup Mas Madun! Kalau tidak ada wadah pemuda and perlindungan dari kamu, mungkin seluruh tabungan emak-emak di rukun tetangga kita sudah habis diperas lintah darat itu!" puji Ratna, bendahara karang taruna yang baru saja selesai mendata kas warga, sambil berjalan interaktif membawakan segelas kopi jahe hangat ke atas meja ronda. Gadis desa bertubuh sintal itu sengaja memajukan langkah gemulainya hingga lekuk tubuhnya yang padat beris

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 202: Pahlawan Sosial Kampung Halaman

    ​Madun berusaha mengabdi membantu bapak-bapak memperbaiki jembatan desa yang bolong . Madun memanggul sebatang pohon kelapa utuh sendirian tanpa bantuan alat berat. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi kesibukan barunya dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang penuh tantangan demi membawa kedamaian murni di tanah kelahirannya fajar ini.​"Aduh Mas Madun, untung ada kuli panggul perkasa seperti kamu, kalau tidak mungkin kerja bakti memperbaiki fasilitas umum warga ini bisa mangkrak berbulan-bulan!" puji sekertaris desa baru bernama lndah yang berjalan interaktif membawa baki berisi es teh manis menuju lokasi gotong royong. Gadis kota yang baru pindah dinas itu sengaja memajukan langkah tegapnya hingga lekuk tubuhnya yang sintal padat berisi nampak memantul indah di bawah terik matahari pagi, membuat papan kayu jembatan yang diinjaknya ikut bergetar manja.​Visual Inda

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 201: Aroma Surga di Serambi Masjid

    Madun merasa sekarang saatnya mengabdi sebagai marbot masjid demi ketenangan iman yang hakiki!" gumam Madun sambil mengibas sajadah beludru di teras depan. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi kehidupan barunya yang sangat alim, adem, dan sederhana setelah resmi meninggalkan seluruh masa lalu liarnya di perantauan demi menjadi pemuda saleh dambaan rukun warga.​"Mas Madun, ini mukena dan sarung titipan Pak Ustaz sudah saya cuci bersih, tolong ditaruh di lemari saf depan ya!" panggil Fatimah, putri tunggal pak kiai setempat yang berjalan interaktif mendekati serambi masjid dengan nampan kayu di tangannya. Gadis berhijab itu sengaja memajukan langkah halusnya hingga bayangan tubuhnya yang sintal dan padat berisi nampak bergoyang lembut tertimpa cahaya matahari pagi, membuat anyaman bambu pembatas saf berguncang pelan.​Visual Fatimah di area pelataran masjid yang sejuk

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 200: Selamat Datang di Tanah Kelahiran

    ​"Akhirnya saya injakkan kaki lagi di tanah kelahiran ini, bebas dari kepungan bule gila!" bisik Madun sambil melompat turun dari pintu bus malam yang baru saja berhenti di tepi jalan desa. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, menghirup dalam-dalam udara kampung yang bersih, jauh dari drama asmara rumit lintas kelurahan yang membuatnya kabur seorang diri tanpa ada satu orang pun yang tahu.​"Heh Madun! Pulang-pulang kok malah melamun di pinggir jalan, tidak takut ditabrak gerobak sapi apa?" sapa sebuah suara renyah dari arah warung kopi bambu, membuat Madun menoleh dengan cepat. Ternyata di sana sudah berdiri Ningrum, janda kembang paling montok se-kecamatan yang sedang menyapu halaman warungnya dengan gerakan pinggul yang sangat interaktif dan sengaja dibuat meliuk-liuk manja.​Visual Ningrum di bawah temaram lampu warung subuh itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan mau

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 199: Pelarian Tengah Malam Juragan Madun

    ​"Kurang ajar, kenapa bayangan paha mulus Miss Catherine masih saja menempel ketat di otak jantan saya, padahal bus malam ini sudah melaju kencang meninggalkan pelabuhan!" gerutu Madun sambil memukulkan tangan kekarnya ke sandaran kursi bus yang bergetar. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, mencoba mengusir bayangan gadis bule yang ditinggalkannya tidur sendirian di bungalow fajar tadi demi mencari ketenangan batin seorang diri.​"Hei Mas Tampan, kalau melamun terus sambil meremas kursi begitu, nanti sandaran besi bus ini bisa patah berantakan karena tenaga kuli kamu yang terlalu beringas itu!" celetuk seorang gadis penumpang di sebelahnya secara interaktif membuat Madun kaget setengah mati. Gadis lokal bertubuh sintal itu nampak sengaja menggeser posisi duduknya hingga buah dadanya yang padat berisi menyenggol lengan berotot Madun.​Visual gadis penumpang bus malam di sebela

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 198: Rencana Rahasia di Tengah Malam

    ​Seorang diri menuju terminal bus malam tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" bisik Madun dengan suara sangat lirih sambil mengendap-endap keluar dari pintu belakang penginapan, meresapi kembali getaran asmara jantannya yang mulai jenuh and butuh ketenangan batin murni setelah berbulan-bulan dikepung rupa-rupa drama asmara lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi memulai misi pelarian rahasianya kembali ke kampung halaman sebatang kara.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk melompati pagar tanaman pembatas jalan, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang malam ini memilih mundur demi kesehatan mental masa depan. Sambil membenahi letak ransel kanvas lusuhnya secara i

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 69: Gerebekan Dua Jagoan

    ​"Madun! Ke mana aja kamu jam segini baru kelihatan batang hidungnya?!" semprot Budi begitu Madun melangkah masuk lewat pintu belakang toko kelontong.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung mengusap dahi. Kaos singlet hitamnya nampak lecek, memperlihatkan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 62: Kesurupan Kuli Pasar

    ​"Neng Lala, kok perut Mas rasanya kayak penuh sama beling? Terus linggis Mas kenapa ya, kok rasanya dingin sekali seperti habis direndam es batu?" tanya Madun sesampainya di kamar kos Lala. Wajah Madun nampak pucat, keringat dingin bercucuran dari dahi hingga ke dada bidangnya yang berotot. Ia ter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 59: Tersengal -sengal

    "Aduh, Mas Madun... ampun! Mbak Sari beneran mau pingsan kalau begini terus!" rintih Sari sambil menyandarkan kepalanya yang berkeringat di bahu lebar Madun. Wajah cantiknya nampak sangat merah padam, dan napasnya memburu dengan suara yang berat, memperlihatkan betapa ia benar-benar terkuras tenaga

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 58: Kuda Terbang Terbalik

    "Aduh, Mbak Sari... pinggang Mas rasanya kayak mau copot habis terbangin Mbak tadi. Gantian dong, sekarang Mas yang mau ngerasain digendong sambil digoyang beringas!" seru Madun sambil memegangi pinggangnya yang berotot namun terasa pegal. Madun duduk di tepi ranjang, memamerkan dada bidangnya yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status