Beranda / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / bab 36: Ronda Malam di Pasar

Share

bab 36: Ronda Malam di Pasar

Penulis: Ibrahiman
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 07:59:05
"Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang tariknya, daster Rini bisa sobek jadi kain pel kalau ditarik kasar begitu!" bisik Rini sambil mencubit manja lengan Madun yang berotot keras seperti besi galvalum.

Madun hanya terkekeh, napasnya masih menderu berat setelah sesi panas di gudang tadi. Ia menatap Rini yang sedang bersandar manja di bahunya yang lebar dan kokoh. Visual Rini malam itu benar-benar maut; daster kuningnya sudah tidak keruan bentuknya, memperlihatkan leher putih mulus dan sebagi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 40: Godaan Dara Muda

    ​"Mas Madun, kok jalannya pelan banget? Takut sarungnya melorot?" goda Dara, adik sepupu Rini yang baru saja datang dari desa untuk mencari peruntungan di kota.​Madun menghentikan langkah tepat di depan pintu gudang yang sepi. Ia menoleh ke arah Dara yang sedang duduk santai di atas tumpukan karung kosong. Visual Dara siang itu benar-benar merusak konsentrasi kerja Madun. Gadis itu memakai kaos ketat berwarna biru muda yang memperlihatkan lekuk dadanya yang masih kencang dan membusung berani menantang arah angin. Celana pendek kain yang dikenakannya sangat longgar di bagian paha, sehingga setiap kali ia menggoyangkan kaki, paha putih mulusnya yang bening dan kencang terpampang nyata di depan mata Madun. Kulitnya tampak sehalus sutra, tanpa noda, membuat siapapun yang melihat ingin segera menyentuhnya.​"Bukannya takut melorot, Dara. Tapi Mas lagi nahan beban berat di dalam sini yang sudah tidak sabar mau keluar," jawab Madun sambil menepuk pelan bagian depan sarungnya dengan gaya jan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 39: Madu Gadis Muda

    "Mas Madun! Tolongin Peni dong, rantai sepedanya lepas, tangan Peni kotor semua," teriak Peni dari gerbang pasar. Madun menoleh dan langsung terpaku. Peni, gadis baru lulus SMA, berdiri dengan celana pendek ketat. Pahanya putih mulus, kencang, bening seperti porselen. Visual itu maut. Madun mendekat, otot lengannya menonjol saat berlutut membetulkan rantai. Bau oli bercampur keringat kuli langsung menyergap. Peni membungkuk, pinggang ramping dan pusar mungilnya terlihat jelas. "Tangan kuli emang kuat ya, Mas?" bisik Peni nakal, suaranya mendesah pelan. Madun menelan ludah. "Hati-hati, Pen. Jangan deket-deket. Nanti rantainya nyangkut." Belum sempat Madun berdiri, Rini muncul membawa rantang. Matanya menyipit melihat pemandangan itu. "Mas Madun, jangan kelamaan benerin sepeda. Nanti 'rantai' Mas sendiri yang lepas!" Peni tertawa manis, tidak merasa bersalah. "Mbak Rini, Mas Madun jago banget benerin rantai. Nanti sore mampir ya Mas, Ibu lagi ke kota. Peni mau belajar tekn

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 38: Di Balik Karung

    "Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang dong jalannya, kaki aku pegal nih ngejar langkah Mas yang lebar banget!" protes Rini sambil berlari kecil menyusul Madun di lorong gudang yang remang-remang. Madun menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan hingga dada bidangnya yang hanya terbalut kaos singlet ketat hampir bertabrakan dengan wajah Rini. "Lho, bukannya tadi kamu yang semangat mau ikut Mas cek stok beras di gudang belakang, Rin?" Rini terengah-engah, wajahnya memerah karena lelah sekaligus malu. Visual Rini sore itu benar-benar bikin mata pria normal sulit berkedip. Ia memakai kaos putih berbahan tipis yang sudah basah oleh keringat, membuatnya menempel ketat dan memperlihatkan bentuk bra renda merahnya yang kontras. Rok mini jeans yang ia pakai juga memperlihatkan sepasang paha putih mulus yang sangat kencang, hasil sering jalan kaki keliling pasar. "Habisnya Mas Madun kalau jalan kayak mau balapan karung. Mentang-mentang badannya kekar, nggak mikirin aku yang pakai sand

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 37: Jamu Kuat di Warung Kopi

    "Mas Madun, pelan-pelan dong jalan itu! Masih gemetar ya kakinya habis dikeroyok dua bidadari tadi malam?" goda Rini sambil menarik ujung sarung Madun saat mereka berpapasan di gang sempit dekat pasar.Madun menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Rini sambil membetulkan posisi kaos singletnya yang ketat, memperlihatkan otot bisepnya yang keras dan berurat. "Bukannya gemetar, Rin. Ini namanya langkah pria perkasa yang sedang menjaga keseimbangan linggis beton supaya tidak tumpah energinya."Rini tertawa cekikikan, visualnya pagi itu sangat menyegarkan mata. Ia memakai kaos putih yang sedikit kekecilan, menonjolkan lekuk dadanya yang padat dan membusung kencang. Celana pendek yang ia kenakan memperlihatkan paha putihnya yang mulus, bersih tanpa noda, seolah-olah kulitnya memang terbuat dari santan kelapa pilihan. Madun sampai harus menelan ludah berkali-kali melihat keringat tipis di leher jenjang Rini yang putih."Alah, paling juga Mas cuma mau ke warung kopi buat cari jamu telur beb

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    bab 36: Ronda Malam di Pasar

    "Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang tariknya, daster Rini bisa sobek jadi kain pel kalau ditarik kasar begitu!" bisik Rini sambil mencubit manja lengan Madun yang berotot keras seperti besi galvalum. Madun hanya terkekeh, napasnya masih menderu berat setelah sesi panas di gudang tadi. Ia menatap Rini yang sedang bersandar manja di bahunya yang lebar dan kokoh. Visual Rini malam itu benar-benar maut; daster kuningnya sudah tidak keruan bentuknya, memperlihatkan leher putih mulus dan sebagian pundaknya yang kuning langsat. Rambutnya yang sedikit berantakan justru membuat auranya makin menggoda, seperti kucing yang baru saja diberi makan ikan asin kualitas super. "Habisnya kamu kenyal banget, Rin. Beda sama tumpukan beras yang Mas panggul tiap pagi," jawab Madun sambil tangannya yang kasar merayap kembali ke pinggang Rini yang ramping namun berisi. Siska yang sedang merapikan kemeja putihnya di pojok gudang langsung menoleh dengan tatapan tajam. Ia membuka dua kancing atas keme

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 35: Lembur di Gudang

    "Mas Madun, kok bengong? Masih kepikiran servis Bu Bidan Siska tadi ya?" tanya Rini sambil menyenggol pinggang Madun yang keras bak papan jati. Madun tersentak, hampir menjatuhkan kopinya. "Bukan gitu, Rin. Mas cuma merasa makin segar habis disuntik vitamin rahasia sama Bu Bidan." Rini tertawa nakal, melirik dada bidang Madun. Kaos tipis Madun basah kuyup oleh keringat jantan, menonjolkan otot perut kotak-kotak yang sempurna. Visual Madun memang jantan; kulit cokelat, lengan berurat, dan rahang tegas yang bikin wanita pasar salah fokus. Rini sendiri tampak menggoda dengan daster kuning tipis yang memperlihatkan lekuk pinggul padat dan leher putih mulusnya. "Sudah, jangan ribut. Madun, masuk gudang sebentar. Ada 'bonus' lembur buat kamu," panggil Siska yang muncul dari balik pintu. Siska mengenakan kemeja putih ketat dengan dua kancing atas terbuka, memamerkan payudara besar dan kencang yang menyembul menggoda. Kulit porselennya tampak sangat mewah dan berkilau di tengah gudang yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status