Share

BAB 8

last update Last Updated: 2025-10-03 00:14:18

Setelah kejadian itu, Joko memutuskan pergi ke kota. Baginya, buat apa bertahan di desa yang bahkan tidak menghormatinya sama sekali. Pun perjalanan ke kota, dia dapat dari uang sisa tabungan kakeknya, berbekal uang seadanya dan naik bis, akhirnya dia tiba di terminal kota. Perutnya lapar karena seharian belum makan. Saat melihat sebuah warteg kecil, Joko masuk ke dalamnya.

"Ayo, Nak, masuk! Silakan duduk!" sambut ibu pemilik warung dengan suara ramah dan penuh semangat. Ia bergegas mengambil lap dan mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih. "Mau makan apa, Nak? Pilih saja, semuanya baru matang."

Joko meletakkan ranselnya dan menunjuk beberapa lauk di etalase. "Nasi rames, Bu. Pakai orek tempe, tumis kangkung, sama ayam goreng."

"Siap!" jawab si ibu dengan sigap. Ia mengambil piring, mengisinya dengan nasi panas yang mengepul, lalu dengan cekatan menambahkan lauk-pauk pilihan Joko. Saat hendak memberikan piring itu, ia berhenti sejenak. "Ini, Ibu tambahkan telur balado gratis, ya. Biar makannya lebih bertenaga," katanya sambil meletakkan sebutir telur merah merona di atas nasi Joko.

Joko tertegun sejenak, lalu tersenyum. "Terima kasih banyak, Bu."

Ia duduk dan mulai makan. Lapar yang menggerogoti membuatnya makan dengan sangat lahap. Dan di suapan pertama, ia langsung tahu ada yang aneh. Ayam gorengnya gurih dan renyah, bumbunya meresap sampai ke tulang. Orek tempenya manis dan sedikit pedas, pas di lidah. Bahkan tumis kangkungnya masih segar dan renyah.

Ini... ini enak sekali. Jauh lebih enak dari makanan mana pun yang pernah ia cicipi.

Sambil terus mengunyah, matanya berkeliling. Warung ini bersih, tidak ada lalat, dan pemiliknya sangat ramah. Ia lalu melirik ke warteg sebelah yang masih saja riuh rendah. Sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya.

Masakannya seenak ini, tempatnya bersih, ibunya baik. Tapi kenapa sepi sekali?

Joko menghabiskan suapan terakhirnya dengan perasaan puas sekaligus bingung yang luar biasa. Ia mendorong piringnya yang kini licin tandas, lalu meneguk es teh manisnya.

Di seberang meja, si ibu pemilik warteg memperhatikannya dengan senyum tipis, tampak senang melihat masakannya dinikmati sedemikian rupa.

"Bu," panggil Joko, suaranya kini lebih santai.

"Iya, Nak? Mau nambah?" tawar si ibu, siap berdiri.

"Oh, tidak, Bu. Sudah kenyang sekali, terima kasih," tolak Joko halus. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menurunkan nada suaranya seolah sedang membicarakan sebuah rahasia. "Saya cuma heran, Bu."

"Heran kenapa, Nak?"

"Masakan Ibu ini... jujur saja, enak sekali. Salah satu yang paling enak pernah saya makan," puji Joko tulus. "Tapi..."

Joko berhenti sejenak, melirik ke arah warteg sebelah yang masih ramai. "Tapi kok... sepi, ya?"

Senyum di wajah si ibu langsung memudar, digantikan oleh gurat kesedihan yang dalam. Ia menghela napas panjang, seolah mengangkat beban berat dari dadanya. "Panjang ceritanya, Nak," jawabnya pelan.

Melihat perubahan raut wajah itu, Joko merasa tidak enak. Namun, instingnya atau mungkin pengaruh dari pusaka di sakunya mendorongnya untuk bertanya lebih jauh.

Ada sesuatu yang salah di sini, dan ia merasakannya.

"Kalau Ibu tidak keberatan cerita, saya mau dengar," kata Joko. Nada suaranya berubah, tidak lagi seperti pelanggan yang penasaran, tapi lebih seperti seorang penyidik yang tenang. "Sejak kapan warung ini jadi sepi begini, Bu? Apa baru-baru ini?"

Si ibu menatap Joko, sedikit terkejut dengan nada pertanyaan yang lugas itu. Tapi di mata pemuda di hadapannya, ia tidak melihat rasa ingin tahu yang usil, melainkan sebuah ketulusan yang aneh.

"Sudah hampir sebulan ini, Nak," jawab si ibu, suaranya sedikit bergetar. "Dulu, warung Ibu ini yang paling ramai di sini. Warung sebelah itu malah baru buka beberapa bulan lalu."

"Sebulan?" ulang Joko, keningnya berkerut dalam. "Apa ada yang berubah sebulan ini? Mungkin resepnya? Atau harganya naik?"

Si ibu menggeleng cepat. "Tidak ada, Nak. Semuanya masih sama. Resep ini resep warisan dari ibu saya, tidak pernah saya ubah. Harganya pun tidak pernah saya naikkan. Saya malah bingung, pelanggan-pelanggan lama yang sudah bertahun-tahun makan di sini, tiba-tiba berhenti datang. Semuanya pindah ke sebelah."

"Semuanya?" tanya Joko lagi, matanya menatap tajam. "Tanpa alasan? Apa Ibu pernah coba bertanya ke salah satu pelanggan lama?"

Si ibu menunduk, memainkan ujung celemeknya yang sudah usang. "Pernah. Waktu itu saya bertemu Pak Tono, sopir angkot yang sudah langganan lima tahun. Saya tanya, 'Pak Tono, kok sudah jarang mampir?'. Dia cuma bilang, 'Maaf, Bu. Rasanya sudah beda, enakan di sebelah sekarang'. Padahal hari itu saya masak dengan bumbu yang sama persis seperti biasa."

Joko terdiam, otaknya bekerja keras.

Cerita ini tidak masuk akal.

Persaingan bisnis itu biasa, tapi pelanggan yang pindah serempak dalam waktu singkat dengan alasan rasa yang tiba-tiba berubah... itu sangat ganjil.

"Sebelum warung sebelah buka, apa ada kejadian aneh, Bu?" tanya Joko lagi, pertanyaannya semakin spesifik, seperti sedang menginterogasi seorang saksi. "Mungkin ada yang datang menawarkan sesuatu? Atau ada orang yang tidak suka dengan warung Ibu?"

Si ibu tampak berpikir keras, mencoba mengingat-ingat. Lalu, matanya sedikit melebar. "Ah... ada, Nak. Tapi Ibu tidak tahu apakah ini ada hubungannya..."

mulainya pelan. "Tapi sekitar sebulan yang lalu, hal-hal aneh mulai terjadi. Awalnya, hampir setiap tengah malam, selalu terdengar suara ribut-ribut di atap seng warung Ibu."

"Ribut-ribut seperti apa, Bu?" tanya Joko, suaranya tetap tenang.

"Seperti... seperti suara kucing berkelahi," jawab si ibu, sedikit bergidik. "Tapi aneh, Nak. Suaranya itu melengking sekali, lebih seram dari suara kucing biasa. Terkadang seperti suara bayi menangis, lalu berubah jadi geraman marah. Suami Ibu sampai pernah naik untuk memeriksa, tapi tidak ada apa-apa di atas sana. Tidak ada kucing, tidak ada apa pun."

Joko diam, membiarkan si ibu melanjutkan.

"Lalu... beberapa hari setelah itu," lanjut si ibu, suaranya semakin pelan.

"Setiap pagi saat Ibu mau buka warung, Ibu selalu menemukan tanah segenggam tepat di depan pintu. Padahal lantai warung ini kan keramik, Nak. Semalaman pintu dikunci rapat. Dari mana datangnya tanah itu? Warnanya agak gelap, seperti tanah dari kuburan. Setiap hari Ibu bersihkan, besok paginya selalu ada lagi di tempat yang sama."

Joko tidak berkedip, otaknya merekam setiap detail dengan saksama.

Si ibu menghela napas berat, seolah menceritakan aib. "Dan yang paling membuat Ibu hampir menyerah... sekitar dua minggu lalu. Pagi-pagi, saat Ibu sedang menata lauk, Ibu mencium bau busuk yang sangat menyengat. Setelah dicari-cari, ternyata ada bangkai tikus di sudut warung, dekat rak piring. Padahal warung ini selalu Ibu bersihkan, tidak mungkin ada tikus bisa masuk dan mati di sana tanpa ketahuan."

Setelah menyelesaikan ceritanya, si ibu menatap Joko dengan raut wajah pasrah. "Ibu sudah coba panggil orang pintar, katanya warung ini 'panas'. Tapi ya... tetap saja begini. Mungkin memang sudah bukan rezeki Ibu lagi," tutupnya dengan lirih.

Joko terdiam lama. Ia tidak menanggapi keluhan si ibu. Pikirannya seolah terbang, menyusun kepingan-kepingan puzzle yang baru saja diberikan kepadanya.

Kucing berkelahi di atap, tanah kuburan di depan pintu, bangkai binatang yang muncul. Dan tiba-tiba... Pandangan Joko mulai menyingkap sesuatu yang aneh. Sosok gelap, hitam, tinggi besar, juga bertaring, tepat di samping meja tempatnya makan!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   BAB 204

    Langkah kaki Joko terasa berat, seolah ia sedang menyeret seluruh beban dosa dunia di pundaknya. Napasnya menderu kasar, memecah keheningan malam yang mencekam. Di punggungnya, tubuh kaku Ki Banyu terkulai, lengan-lengan panjang pria itu berayun-ayun tak bernyawa mengikuti irama langkah Joko, sesekali menyentuh semak belukar yang mereka lewati.Joko menghindari jalan raya. Ia menyusup melewati pagar pembatas yang rusak, masuk ke dalam area lahan kosong bekas sengketa yang luas, tempat yang sama di mana ia bertemu bayangan Eyang Giri Sewu dalam visi sebelumnya. Namun kali ini, ini bukan visi. Ini nyata. Darah yang merembes membasahi punggung kemejanya adalah darah asli. Bau amis yang menusuk hidungnya adalah bau kematian yang sesungguhnya.Area itu gelap gulita, hanya diterangi oleh sisa-sisa cahaya bulan yang mengintip dari balik awan mendung. Ilalang setinggi dada manusia tumbuh liar, menyembunyikan pergerakan Joko dari mata dunia luar. Suara serangga malam terdengar nyaring, seolah

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   Bab 203

    Kekuatan pukulan Joko begitu besar hingga dada Ki Banyu amblas ke dalam. Tulang rusuknya patah, menusuk paru-paru dan jantungnya seketika.Hempasan tenaga dalam itu kemudian meledak, melemparkan tubuh Ki Banyu ke belakang seperti layang-layang putus.BUM!Tubuh Ki Banyu terbang melintasi jalan raya, menghantam batang pohon besar di seberang jalan dengan suara gedebuk yang keras, lalu jatuh merosot ke tanah. Ia tidak bergerak lagi. Punggungnya tersandar di pohon, kepalanya terkulai miring dengan sudut yang tidak wajar.Seketika itu juga, kabut putih yang menyelimuti jalanan lenyap.Seperti tirai yang ditarik paksa, ilusi air itu menguap menjadi udara kosong. Pemandangan jalan raya malam hari kembali terlihat jelas. Lampu jalan kembali bersinar kuning. Suara jangkrik kembali terdengar.Joko berdiri mematung di tengah jalan. Tangan kanannya masih terulur ke depan dalam posisi memukul. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin bercampur dengan cipratan darah

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   BAB 202

    Kabut putih itu bukan sekadar uap air. Itu adalah penjara hidup.Joko terbatuk-batuk hebat, tangannya mencengkeram lehernya sendiri. Udara di sekitarnya terasa lengket dan basah, setiap kali ia menarik napas, rasanya seperti menghirup air laut yang asin dan pekat. Paru-parunya terasa terbakar, memohon oksigen yang semakin menipis. Pandangannya benar-benar buta. Putih. Hanya putih sejauh mata memandang, diselingi oleh bayangan-bayangan hitam yang meliuk-liuk seperti belut raksasa di sekelilingnya.“Sia-sia, Nak,” suara Ki Banyu terdengar bergema dari segala arah, memantul-mantul di dalam dinding kabut, membuatnya mustahil untuk dilacak. “Kau mungkin punya tenaga dalam yang besar, kau mungkin punya kulit yang keras, tapi bisakah kau bertarung melawan udara yang kau hirup?”Sreeet!Sebuah sabetan air yang tajam tiba-tiba muncul dari samping kanan. Joko terlambat menghindar. Bahu kirinya tergores, kain kemejanya robek, dan darah segar merembes keluar. Lukanya terasa perih luar biasa, seol

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   BAB 201

    Joko masuk ke dalam mode fokus penuh. Dunia di sekelilingnya melambat. Ia melihat lintasan pukulan api itu. Ia menepis pukulan ke arah wajah dengan telapak tangan, mengelak pukulan ke rusuk dengan memutar pinggang, dan menahan pukulan ke perut dengan lututnya.Tak! Buk! Plak!Suara adu fisik terdengar cepat dan ritmis. Mereka bertukar serangan dengan kecepatan tinggi di tengah jalan yang sunyi. Setiap kali kulit mereka bersentuhan, terjadi letupan kecil antara energi emas dan api merah.Joko mulai merasakan pola serangan Ki Agni. Kuat, eksplosif, tapi… emosional. Terlalu mengandalkan amarah.“Dia petarung kasar,” bisik Khodam. “Dia boros tenaga. Jangan adu kekuatan, bocah. Gunakan kelincahanmu. Matikan apinya dari sumbernya.”‘Sumbernya?’ tanya Joko dalam hati sambil menunduk menghindari sabetan tangan Ki Agni yang nyaris membakar rambutnya.“Pusat napasnya! Ulu hati! Di situlah dia mengumpulkan panasnya!”Joko mengerti.Saat Ki Agni menarik tangannya ke belakang untuk melancarkan puk

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   BAB 200

    Sebuah dinding cahaya transparan berwarna keemasan muncul seketika di depan pagar.BOOM!Bola api itu menghantam dinding cahaya Joko. Ledakan terjadi, namun tertahan. Api merah dan cahaya emas beradu, menciptakan percikan bunga api yang menyilaukan di tengah malam buta. Suara ledakannya cukup keras, namun teredam oleh perisai energi itu.Joko merasakan panas yang luar biasa menyengat telapak tangannya. Kakinya terdorong mundur beberapa senti, menggerus tanah halaman. Serangan ini kuat. Jauh lebih kuat dari serangan preman manapun.Di seberang jalan, Ki Agni tampak terkejut namun juga senang. “Oh? Lumayan juga. Kau bisa menahannya. Tapi sampai kapan?”Ki Agni mengangkat tangan kirinya juga. Bola api kedua mulai terbentuk di udara, kali ini lebih besar, lebih panas.Joko mengertakkan gigi. Ia tidak bisa terus bertahan di sini. Ledakan tadi pasti sudah membangunkan beberapa orang. Jika bola kedua itu dilepaskan, ia tidak yakin bisa menahannya tanpa menimbulkan kerusakan pada bangunan di

  • Pembalasan Sang Dokter Jenius   BAB 199

    Lampu kamar mandi yang remang-remang menjadi satu-satunya penerangan di kamar nomor 13. Joko menarik selimut tipisnya sebatas dada, membiarkan tubuhnya yang remuk redam tenggelam dalam keheningan. Matanya terasa berat, kelopak matanya bergetar pelan, siap untuk menyerah pada dunia mimpi. Ia sudah melakukan segalanya hari ini. Bekerja, bertarung, menyelamatkan orang, bahkan menghadapi godaan ibu kos. Ia pantas mendapatkan istirahat.Namun, tepat saat kesadarannya berada di ambang batas antara terjaga dan terlelap, sebuah sensasi asing menyentaknya.ZING!Bukan suara. Bukan sentuhan. Melainkan sebuah getaran tajam yang menusuk langsung ke dalam ulu hatinya. Rasanya seperti ada jarum es yang ditancapkan ke dadanya, menembus kulit, daging, dan langsung menyentuh pusaka yang tergantung di sana.Joko tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Jantungnya yang tadinya melambat kini kembali memacu cepat.Pusaka Semar Mesem di dadanya bereaksi instan. Benda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status