Mag-log inAderyn terjaga semalam. Ia mendongak memandang ke arah wajah Arkhavel yang kini sedang terpejam sambil mendekap tuhuhnya erat. Melihat itu, membuat dada Aderyn terasa sesak. Hatinya sakit sekali. Pelukan Arkhavel di tubuhnya sangat erat seolah sedang berusaha menahan apapun yang sedang dipikirkan Aderyn untuk bisa terjadi, tapi semakin ia memikirkannya, semakin Aderyn memantapkan langkah untuk pergi. Tak ada cara lain lagi. Kalau sampai Lord Cassian kembali membawa sesuatu, mungkin ia tidak hanya harus pergi, melainkan harus kehilangan kepalanya karena telah berbohong tentang status Caelan. Dan yang lebih buruk lagi, hal itu mungkin akan membuatnya kehilangan Caelan. Membayangkannya saja sudah begitu menakutkan untuk Aderyn. Aderyn melirik ke arah jam besar di bawah kakinya. Sudah tengah malam. Ia kembali teringat pada perkataan Ratu sebelum ia meninggalkan ruangannya tadi sore. "Kalau kau sudah memikirkannya dengan baik, datanglah tengah malam ini bersama Caelan ke taman be
Aderyn sudah kembali ke kamarnya. Kini dia duduk di atas ranjang dengan bibir yang sedikit bergetar. Caelan tak Aderyn kembalikan ke tempat tidurnya, melainkan tetap ia peluk dengan erat seperti hanya manusa kecil itulah satu-satunya hal yang terakhir yang ia miliki. "Yang Mulia Ratu, bagaimana kau bisa meminta hal seperti itu dariku?" tanya Aderyn setelah kalimat yang Ratu ucapkan tadi terasa seperti bongkahan batu besar yang menimpa kepalanya. Aderyn memang tak bisa melihat dengan jelas raut wajah sang Ratu dari balik cahaya yang remang, tapi Aderyn bisa merasa bahwa saat itu sebuah senyum miring terbit di bibir wanita tua itu. "Aderyn, kau tahu betapa pentingnya takhta ini untuk Arkhavel? kalau dia sampai kembali menentang dewan kerajaan untuk dirimu, dia akan kehilangan alasan kenapa dia terlahir." Batu besar itu seperti menekan kepala Aderyn hingga membuat tubuhnya hampir tertanam kedalam bumi, bak palu yang mengetuk paku. Untuk sesaat ia lupa jika Arkhavel adalah
Aderyn berdiri di dekat jendela. Iris cokelatnya menerawang jauh ke balik kegelapan yang mulai menyingsing, sambil menggigiti kuku jempolnya sendiri. Pikiran Aderyn terus saja berputar pada percakapan yang terjadi antara dirinya dan Duke Harrington tadi. Caelan sudah tertidur oulas di dalam buaiannya, sedang Arkhavel masih belum kembali dari ruang kerjanya. Tangan Aderyn kini berpindah, mencengkram kuat daun jendela. Pikirannya kacau. Terakhir sekali Ratu Evelyn turun tangan, dia hampir membuat Aderyn mati di hutan. Aderyn benar-benar takut jika kali ini yang berada dalam bahaya adalah Caelan--sebab sekarang, Ratu pasti mulai menjurigai bahwa Caelan bukan merupakan darah daging Arkhavel. Ia mulai berjalan mondar-mandir di dekat buaian Caelan sambil sesekali melirik ke arah bayi itu. Rambut Aderyn yang panjang bergoyang pelan mengikuti gerakan tubuhnya yang tampak gusar. Gerakan byangan dirinya memantul di sudut ruang kamarnya terhenti, ketika kembali terdengar sebuah ketukan d
"Apa yang membuatmu repot-repot datang kemari, Duke Herrington?" tanya Aderyn dengan suara yang berusaha ia tekan agar tetap terdengar tenang. Padahal jantungnya sekarang sudah seperti ingin copot dari tempatnya melekat. Ia mulai melangkah, dan mengambil duduk di kursi yang ada di sebelah Duke Harrington. Tak segera ada kalimat yang keluar dari mulut pria itu. Untuk beberapa saat, ia hanya memandang dengan tatapan penuh makna sambil tersenyum tipis ke arah Aderyn. Sebuah senyuman yang cukup membuat Aderyn bergidik melihatnya. "Kau pasti sudah mendengar tentang rumor yang beredar di istana akhir-akhir ini, Lady Aderyn," kata Duke Harrington kemudian. Aderyn tidak menjawabnya. Ia tahu Duke Harrington sedang tidak mengajukan pertanyaan, melainkan sedang memastikan. Jemari Aderyn bertaut saling meremas lebih kencang dari sebelumnya. Tanpa menunggu jawaban dari Aderyn, Duke Harrington kembali melanjutkan, "kau juga pasti sudah tahu berapa Putra Mahkota membelamu di depan semu
Pagi itu, langit di atas istana tampak kelabu. Kabut tipis masih menggantung di halaman ketika para pelayan mulai menjalankan tugas mereka. Suara roda kereta dan derap kaki kuda terdengar lebih sering dari biasanya, memecah ketenangan yang biasanya menyelimuti istana di jam-jam sepagi itu. Di gerbang utama, beberapa pengawal kerajaan sudah bersiap. Kuda-kuda perjalanan dipasangi pelana, peti-peti dokumen dinaikkan ke dalam kereta. Semua tampak seperti persiapan inspeksi wilayah biasa. Setidaknya di tampak begitu untuk orang-orang luar. Namun bagi orang-orang yang memahami cara kerja istana, keberangkatan pagi itu tidak sesederhana yang terlihat. Lord Cassian berdiri di samping kudanya dengan mantel perjalanan berwarna gelap yang menutupi pakaian bangsawannya. Sebuah map kulit tebal berada di bawah lengannya. Tatapannya menyapu halaman sekali, sampai sebuah suara terdengar dari belakangnya. "Aku berharap kau tidak membawa terlalu banyak masalah saat kembali nanti, Lord Cassi
Lord Cassian melangkah masuk dengan membawa map kulit tebal di bawah lengannya. Raja Albercth mengangkat alis sedikit. "Kau datang lebih pagi dari biasanya." "Saya memiliki permohonan resmi, Yang Mulia." "Itu biasanya berarti aku akan mendapatkan pekerjaan tambahan." Cassian tidak tersenyum sebagaimana biasanya. Ia meletakkan dokumen di atas meja raja. "Wilayah Greznov bagian timur belum menerima inspeksi lanjutan sejak wabah berakhir." Raja Albercth membuka dokumen itu. Matanya menyusuri beberapa halaman dengan cepat. Laporan distribusi bantuan, pembangunan kembali klinik desa, perbaikan jalur perdagangan. Suamnya benar-benar terlihat normal untuk membuat Lord Cassian sampai turun tangan. "Kau ingin pergi sendiri, Cassian?" "Ya, Yang Mulia." Raja Albercth menutup dokumen itu perlahan. Tatapannya beralih pada Lord Cassian yang masih berdiri di hadapannya. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara lebih lanjut. Raja Albrecht menyandarkan punggung di kirsinya.
Hujan turun sejak dini hari. Rintiknya memukul kaca-kaca tinggi istana, membuat langit pagi terlihat lebih gelap daripada biasanya. Udara dingin menyusup ke koridor-koridor batu yang panjang, sementara para pelayan bergerak lebih cepat sambil membawa nampan, dokumen, dan surat-surat kerajaan. N
Malam turun perlahan di atas istana, membawa hawa dingin yang menyelinap melalui jendela-jendela tinggi dan koridor batu yang panjang. Namun bagi Vaelor, malam itu terasa jauh lebih sesak daripada biasanya. Ia berdiri sendirian di ruang kerjanya. Sebuah dokumen terbuka di atas meja, tetapi sejak
Rombongan para wanita itu harus menempuh jarak lebih dari satu kilometer untuk bisa sampai di sumber mata air. Aderyn justru menikmati perjalanan tersebut. Langkah kakinya terasa ringan saat matanya menangkap hamparan perbukitan yang membentang di kejauhan. Pemandangan itu seolah menjadi jeda sing
Suara sesuatu yang berat jatuh ke air membuat semua orang menoleh. "Aderin, dia jatuh!" jerit Olivia. "Tolong lakukan sesuatu!" Semua orang tidak bergeming. Berdiri di tempat mereka sembari menatap Aderyn yang sudah tidak lagi muncul ke permukaan. Olivia segera berlari melewati Vaelor dan Se







