Share

CHAPTER 6

Penulis: Zenny Arieffka
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 08:48:40

Malam itu, Sarah sedang menyiapkan makan malam untuk dirinya dan juga putera kecilnya, ketika tiba-tiba Devano bercerita tentang apa yang ia alami tadi siang.

“Mama, Devano punya Om selain Om Putra, Ya?” 

Sarah menghentikan pergerakannya seketika. Ia menatap ke arah Devano lalu bertanya. “Om? Om siapa?” tanyanya bingung.

“Tadi, ibu kenalin Devano sama Om-Om itu.” Ucap Devano dengan nada manjanya.

“Ohh, mungkin Om itu saudaranya Ibu.” Ibu yang dimaksud disini adalah Ibu si pemilik rumah penitipan anak tempat Sarah menitipkan Devano ketika dia sedang bekerja.

Devano meminum susunya. “Tapi Om itu baik. Devano dibelikan ice cream.”

“Benarkah?”

“Iya. Dan, matanya mirip sama punya Devano.” Seketika itu juga tubuh Sarah membeku. 

“Maksudmu?”

“Hijau, mata Om itu juga hijau, kayak punya Devano.”

Tidak! Itu tidak mungkin. Pasti bukan dia orangnya. Bukan lelaki itu! Pikir Sarah yang entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak. Rasa takut tiba-tiba menyergapnya. Ya Tuhan! Sarah tak ingin berurusan lagi dengan lelaki itu. Tidak dulu, tidak sekarang, dan tidak seterusnya.

ooo

Sepanjang malam itu, Sarah tidak bisa tidur memikirkan apa yang dikatakan puteranya. ‘Mata Om itu juga hijau, kayak punya Devano.’  Kalimat puteranya itu seakan terputar lagi dan lagi dalam kepalanya.

Sarah mencoba berpikir positif. Orang bermata hijau seperti itu memang sangat jarang ada di dunia ini, apalagi di negara ini. Tapi itu bukan berarti tak ada. Mungkin itu memang orang lain, bukan pria yang semalaman bersarang dalam ingatannnya hingga tak bisa membuatnya tidur. Untung saja hari ini Sarah masuk siang, karena bertukar jam kerja dengan temannya. 

Sampai di tempat kerjanya, Sarah sedikit heran ketika beberapa temannya menatap ke arahnya. “Ada masalah?” tanyanya.

“Enggak.” Jawab salah seorang temannya. “Ada tamu tuh, minta diservice sama kamu.” Lanjutnya.

“Pelanggan?” tanya Sarah lagi.

“Mungkin. Tapi aku gak pernah lihat.”

Sarah menaruh tasya ke loker yang sudah disediakan kemudian ia mempersiapkan peralatannya. “Di kamar mana?”

“VVIP.” 

“Oke.” Jawabnya sembari berlalu.

“Aku masih heran karena dia mengenal kamu.” Perkataan temannya itu sempat menghentikan langkah Sarah. “Dia nungguin kamu loh, sejak pagi.” Entah kenapa Sarah merasa perasaannya tak enak. Ahh, mungkin temannya itu hanya menggodanya saja. lalu Sarah melanjutkan langkahnya menuju ruang VVIP tempat dimana tamunya sudah menunggu.

Ruang VVIP itu berada di ujung lorong tempatnya berjalan. Sarah tidak ingin menebak-nebak siapa pelanggannya itu. Pasalnya, ia memang memiliki banyak pelanggan setia. Bawaannya yang ramah, serta telapak tangannya yang lembut membuat siapa saja rela berjam-jam dipijat olehnya setiap hari.

Sarah menghela napas panjang. Ia menyiapkan diri seceria mungkin sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut. Dan ketika Sarah memasuki ruangan tersebut, alangkah terkejutnya ia saat mendapati siapa yang sedang menunggunya di sana.

Lelaki itu, duduk dengan penuh keangkuhan. Hanya mengenakan kimono yang sudah disediakan. Mata hijaunya menatap Sarah dengan tatapan yang sulit diartikan, sedangkan bibirnya, sedikit menyunggingkan senyuman miring mengerikan. Sarah bergidik. Ia ingat terakhir kali mereka bertemu saat itu adalah ketika ia hamil dan mengatakan hal tersebut pada lelaki ini. Reaksi lelaki ini sungguh diluar dugaannya. Lelaki ini menamparnya, menghinanya degan kata-kata kasar yang menyakitkan. Hingga kemudian, Sarah memilih pergi dan tak ingin mengenal lelaki ini lagi.

Devon Daniswara, kenapa dia datang? Apa yang dia inginkan?

“Halo, Sarah.” Devon bangkit. Berjalan pelan menuju ke arah Sarah. Sarah mundur, meringsut pada dinding terdekat.

“Kamu, kamu kenapa bisa…”

Lelaki itu tersenyum kemudian bertepuk tagan. “Hebat sekali, akhirnya kamu masih mengingatku.” Dalam sekejap mata, lelaki itu sudah berada di hadapannya, sangat dekat, bahkan aroma maskulin dari lelaki itu seakan memenuhi indera penciuman Sarah.

“Apa, yang kamu inginkan?” tanya Sarah kemudian.

Devon tak menjawab ia memilih mengangkat dagu Sarah, dan mengamati setiap inchi dari wajah wanita itu.

Tak ada yang berubah. Sarah memang tampak menyedihkan, tapi entah kenapa wanita ini memiliki sesuatu yang cukup menggodanya. Bibirnya…. Sial! Devon ingin mencoba bibir itu lagi, mencecap rasanya lagi, apa masih semanis dulu?

“Tolong, jangan lakukan apapun.” Sarah berbisik. Tubuhnya bahkan sudah gemetar karena ulah Devon.

“Aku tidak akan memerkosamu lagi, apalagi ditempat menyedihkan seperti tempat ini.” Devon mengamati ruangan tersebut yang ternyata dilengkapi oleh kamera CCTV. Ia kemudian mundur “Aku hanya ingin merelaksasikan diri.” 

Dengan begitu arogan Devon membuka kimononya, meninggalkan dirinya hanya dengan celana boxsernya saja. Devon mengamati ekspresi Sarah. Wanita itu tampak enggan menatap ke arahnya.

“Kenapa, Sarah? Tidak suka melihatku telanjang?”

Ya Tuhan! Darimana datangnya lelaki ini? pikir Sarah kemudian. Sarah mencoba mengendalikan diri, mengabaikan keberadaan Devon dan bersikap seprofesional mungkin.

Devon memposisikan diri tengkurap senyaman mungkin, sedangkan Sarah mulai melakukan pekerjaannya. Devon merasa nyaman ketika telapak tangan lembut milik Sarah menyentuh kulitnya, memijatnya dengan lembut, seperti sudah menjadi keahliannya.

“Sejak kapan kamu pindah ke Jakarta?” Sarah tak tahu apa niat dari lelaki ini, kenapa lelaki ini datang dan bersikap seperti ini padanya. “Aku sedang bertanya sama kamu, Sarah.” Ucap Devon penuh penekanan saat ia tidak mendapatkan jawaban dari Sarah.

“Empat tahun yang lalu.” Sarah menjawab pendek.

“Dengan siapa?”

“Kupikir itu bukan urusan kamu.”

Devon tersenyum miring. “Oh, tentu saja itu menjadi urusanku.” Devon lalu bangkit, ia duduk dan segera menarik tubuh Sarah agar mendekat ke arahnya. “Dengar, kamu pikir aku nggak tahu tentang apa yang sedang kamu sembunyikan dariku?” tanyanya penuh penekanan.

“Aku, aku nggak ngerti.” 

Devon meraih dagu Sarah, mendongakkan ke atas. “Anak itu, milikku, bukan?” 

Tubuh Sarah bergetar hebat setelah mendengar pertanyaan tersebut. Sarah benar-benar tidak menyangka jika Devon akan mengetahui semuanya. Lagi pula, apa urusan lelaki itu? Maksudnya, bukankah Devon tak mau tahu dan tak ingin berurusan dengan dirinya dan anaknya lagi? Kenapa sekarang lelaki ini menuntutnya dengan pertanyaan tersebut?

Sarah masih ingat, bahwa dulu ia bahkan sudah menandatangani sebuah surat perjanjian, bahwa ia tidak akan menuntut apapun dengan lelaki ini, bahwa ia tak akan membawa-bawa nama lelaki ini. tapi kenapa sekarang lelaki ini datang padanya?

Saat itu….

Sarah membuka pintu rumah kontrakannya dan mendapati seorang lelaki dengan wajah babak belur berdiri di balik pintu depan rumahnya. Sarah akan menutup pintu rumahnya lagi saat tahu bahwa yang datang saat itu adalah Arman, teman sekaligus bawahan Devon. Tapi kemudian, lelaki itu menghadangnya. Lelaki itu bahkan memohon agar Sarah mau berbicara sebentar dengannya. itu adalah Arman, teman atau mungkin kaki tangan Devon.

“Saya sudah tidak ingin membahas apapun lagi tentang dia. lebih baik Anda pergi.”

“Sarah, Tolong.” Arman memohon. “Kamu tidak lihat mukaku babak belur begini? Kalau kamu masih punya rasa kasihan denganku, tolong izinkan aku masuk dan menyelesaikan masalah kita.”

“Kita tidak pernah punya masalah apapun.” Ya, karena masalah Sarah adalah dengan Devon, bukan dengan lelaki ini.

“Ya, masalahmu hanya dengan Devon, tapi sayangnya, aku yang dia tunjuk untuk menyelesaikan semuanya.”

“Bagiku semua sudah selesai.”

“Sarah, tolong.” Arman tampak memohon. Dan akhirnya, Sarah tak bisa berbuat banyak selain menghela napas panjang dan membiarkan Arman masuk untuk membicarakan apa yang ingin lelaki itu bicarakan.

Arman bersyukur, karena setelah apa yang sudah didapatkan oleh Sarah, wanita itu masih mau menerimanya. Keduanya berakhir di sebuah ruang tamu kecil di rumah kontrakan Sarah.

“Jadi, langsung saja. apa yang ingin Anda bicarakan?” tanya Sarah tanpa basa-basi lagi. Baginya, ia ingin segera menyelesaikan masalahnya dan hidup dengan tenang.

“Sarah, aku mau kamu jujur. Apa bayi itu benar-benar milik Devon?”

Sarah sebenarnya sakit karena masih ada orang yang mempertanyakan kebenaran yang ia sampaikan. Tapi ia tidak dapat berbuat banyak. Ia tahu siapa dirinya dan siapa diri Devon. 

“Jika bukan, aku tidak akan merendahkan harga diriku untuk datang tadi malam hanya untuk mendapatkan hinaan dari kalian.”

“Untuk hal itu, aku benar-benar minta maaf. Devon adalah orang yang baik, meski sikapnya sedikit angkuh.” 

Sedikit? Ya Tuhan, bahkan bagi Sarah, orang yang paling angkuh di dunia ini adalah ayah dari bayi yang dikandungnya.

“Uum, ini.” Arman mengeluarkan sesuatu dari tas yang sejak tadi ia bawa. Itu adalah sebuah map dimana didalamnya terdapat berkas-berkas untuk ditandatangani oleh Sarah.

“Apa itu?”

“Sarah, sebelumnya aku akan menjelaskan dulu padamu.” Arman tampak ragu. “Devon, tidak menginginkan bayi itu.” Hati Sarah sakit, terasa diremas-remas, tapi ia memang sudah membayangkan hal ini terjadi. “Dia ingin kamu menggugurkannya.”

 “Aku tidak akan pernah melakukan hal sekejam itu.” Sarah menggeram dengan marah.

“Aku tahu.” Arman berkata cepat. “Karena itu aku memikirkan jalan tengahnya dan menyiapkan ini untukmu.”

Arman membuka map itu lalu menyodorkannya pada Sarah agar Sarah membaca semua poinnya dengan seksama.

“Intinya adalah, jika kamu menandatangani surat ini, maka semua hal tentang kamu ataupun bayi itu kelak sudah lepas dari tanggung jawab Devon. Kamu setuju bahwa Devon mengingkari keberadaan bayi itu sebagai anaknya. Kamu setuju bahwa tidak akan pernah dengan sengaja bertemu dengannya dan membahas apapun tentang yang pernah terjadi diantara kalian. Kamu mau menandatanganinya, kan?”

Rasanya sangat sakit. Lelaki itu benar-benar egois. Tapi Sarah tidak bisa menuntut lebih. Karena sejak awal memang ia sudah memutuskan untuk tetap mempertahankan bayinya dengan atau tanpa persetujuan dari lelaki itu.

“Dimana aku harus bertandatanngan?”

“Kamu nggak mau baca dulu?”

“Tidak perlu, satu hal yang kuinginkan adalah lepas dari apapun tentang dia.”

Arman menganggukkan kepalanya. “Baik, kamu bisa tandatangan di sini.” Arman menunjukkan tempatnya. “Setelah ini aku akan menyelesaikan transaksinya.”

Sarah menghentikan pergerakannya. “Transaksi apa maksudmu?”

“Devon tentu bukan orang jahat yang tidak memiliki kepedulian. Dia menyiapkan uang santunan untukmu dan bayimu. Sebenarnya, uang itu sebagai biaya untuk aborsi dan untukmu, tapi karena kita sepakat tak ada aborsi, maka uang itu akan aku masukkan sebagai uang santuan untukmu dan anakmu.”

“Tidak! Aku tidak mau menerimanya.”

“Sarah, Tolong. Jangan mempersulit.”

“Jika kamu memaksa, maka aku tidak akan menandatanganinya. Aku bersumpah tak akan pernah menemuinya lagi, jadi sumbangkan saja uang itu untuk orang yang lebih membutuhkan.”

 “Kamu berjanji?”

“Ya. Aku berjanji.” 

Arman menghela napas panjang. “Baiklah, tanda tangan saja di sana.” Akhirnya, hari itu mereka mencapai sebuah kesepakatan. Dan Sarah juga membuat suatu keputusan, bahwa ia tidak ingin lagi berurusan dengan pria bernama Devon Daniswara.

“Jawab pertanyaanku, Sarah.” Suara Devon penuh penekanan. “Anak itu, milikku, bukan?” tanyanya sekali lagi. Sarah tersadar dari lamunan dan ia juga baru sadar ternyata tubuhnya sudah dipenjarakan oleh tubuh Devon dan semakin rapat dengan tubuh lelaki itu.

Sarah mencoba melepaskan diri, tapi tubuh Devon terlalu keras hingga usahanya sia-sia. “Lepaskan aku, tolong.”

“Tidak. Jawab dulu pertanyaanku.”

“Bukan! Dia bukan anakmu.” Jawab Sarah dengan nada tegas.

Devon merasa marah. Ia tidak menyangka jika Sarah berani melawannya hingga seperti ini. dijambaknya rambut Sarah ke belakang hingga wajah wanita itu mendongak ke arahnya.

“Jawab dengan jujur, atau aku akan menyakitimu dan membuatmu dipecat.” Geramnya penuh penekanan. Bibir Devon bahkan sudah hampir menyentuh bibir Sarah.

“Bukan….” Sarah masih tak ingin mengalah.

Secepat kilat Devon menyambar bibir Sarah, melumatnya dengan kasar bahkan sesekali menggigitnya. Devon ingin menghukum Sarah karena sudah lancang berbohong padanya. 

Sarah meronta, mendorong-dorong tubuh Devon, tapi tubuh lelaki itu kokoh seperti batu yang seakan sulit untuk disingkirkan. Dengan nakal, jemari Devon yang lain bahkan sudah mencengkeram bokong Sarah, menggodanya dengan gerakan sensual. Sial! Bahkan Devon sudah mengerang diantara ciumannya. 

Devon tidak tahu apa yang sedang terjadi, kenapa akal sehatnya hilang begitu saja ketika melihat keberanian wanita ini. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah memberi hukuman pada wanita ini dan menunjukkan siapa yang sedang berkuasa.

Saat Devon masih asyik menikmati aksinya, saat itulah pintu ruangan tersebut di buka dari luar. Devon segera menghentikan aksinya dan menatap marah ke arah beberapa orang yang membuka paksa pintu ruangan tersebut, termasuk Arman di sana.

“Apa yang Anda lakukan?!” pertanyaan itu disertai dengan sebuah seruan keras dari si pemilik tempat spa.

Dengan santai Devon melepaskan tubuh Sarah, dan dengan segera Sarah menjauh dari dirinya. 

“Maaf, saya tergoda.” Ucapnya sembari mengenakan kimononya kembali.

“Anda pikir ini tempat pelacuran?!” si pemilik spa masih tampak marah.

Devon mengangkat kedua bahunya. “Jika bukan, Anda tidak akan memungut mantan pelacur untuk menjadi karyawan Anda.” Ucapnya sembari melirik tajam ke arah Sarah. Sarah hanya menunduk malu karena sudah dilecehkan hingga seperti ini. 

Setelah mengucapkan perkataan kurang ajarnya tersebut, Devon melenggang pergi. “Urus sisanya.” Ucapnya pada Arman saat melewati lelaki itu.

-TBC-

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Putra Rahasia Tuan Daniswara   EPILOG

    Sarah membungkukkan tubuhnya, bertumpu pada ranjang rumah sakit ketika kontraksi mulai menghantamnya. Devon berada di belakangnya, setia mengusap punggung bawahnya. Sesekali meminta Sarah mengatur pernapasannya.“Kamu yakin mau melakukan ini? kita bisa meminta caesar agar kamu tidak kesakitan seperti ini.” Devon kembali mengingatkan.“Tidak. Aku suka normal.”“Tapi aku nggak tega lihat kamu kesakitan begini.”Sarah tersenyum. “Sepertinya, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kelahiran Devano pada waktu itu?”“Benarkah? Dan kamu melakukannya sendiri?”Sarah tersenyum. “Ya, hanya di rumah bidan, bukan di rumah sakit besar seperti ini.”“Brengsek.” Devon mengumpat pelan pada dirinya sendiri. Sarah kembali merasakan kontraksi, dan Devon mengusap punggung belakang wanita itu lagi.“Sepertinya sudah waktunya. Bisakah kamu….” Sarah menghentikan kalimatnya ketika merasakan sesuatu mengucur melewati kakinya. Devonpun melihatnya dan tampak ternganga dibuatnya. “Astaga, ketubannya!” Sarah

  • Putra Rahasia Tuan Daniswara   CHAPTER 32

    “Aku akan kembali.” Belum juga Devon membuka suaranya, Sarah sudah mendahuluinya, hingga membuatnya menatap ke arah Sarah seketika.“Maksudmu?”“Aku akan kembali padamu, dan melupakan semuanya. Aku tidak akan menuntut lebih. Aku hanya mau kamu menyayangi anak-anakku dengan tulus. Hanya itu.” Suara Sarah bergetar, mata Sarah mulai berkaca-kaca. Seorang ibu memang tak perlu mengharapkan cinta untuk dirinya sendiri, karena lebih baik cinta itu dicurahkan pada anak-anaknya. Sarah rela hidup dengan Devon tanpa cinta dari lelaki itu, asalkan anak-anaknya mendapatkan cinta dan kasih dari ayah mereka.“Aku datang menemuimu tadi siang karena aku akan memintamu untuk pulang dan kembali ke sisiku. Tapi emosiku tersulut karena kedatangan pria itu.”“Dia teman Risa. Aku dikenalkan dengannya karena aku akan kerja menjadi kasir di salah satu tokonya.” Jelas Sarah.“Maaf, aku sudah berpikir terlalu jauh.” Devon tampak sangat menyesal.“Bukan salahmu.” Ucap Sarah kemudian.Tiba-tiba, Devon bangkit, la

  • Putra Rahasia Tuan Daniswara   CHAPTER 31

    Devon duduk dengan tenang di kursi yang telah disediakan di depan IGD, meski ia tampak tenang, tapi sebenarnya ia khawatir. Amat sangat khawatir. Arman dan si Bibi yang membawa Devano ke IGD berdiri jauh dari tempatnya duduk. Sedangkan Sarah tak berhenti berjalan mondar-mandir dengan tangis di wajahnya.Sialan! Apa yang sudah ia lakukan? Bagaimana mungkin ia membiarkan Sarah pergi dari sisi Devano? Semua ini adalah salahnya. Jika ada yang harus pergi, maka itu adalah dirinya, bukan Sarah. Kini Devon benar-benar menyadari kesalahan terfatalnya.Tak lama, pintu IGD dibuka, seorang suster keluar dan memanggil “Keluarga anak Devano?”Sarah menghampiri suster tersebut, pun dengan Devon. Keduanya dipersilahkan masuk menuju ke sebuah bilik tempat Devano mendapatkan penanganan. Di sana sudah ada seorang dokter dan bersiap menjelaskan keadaan Devano pada Sarah dan Devon.“Devano kejang karena panas yang terlalu tinggi, tapi dia anak yang kuat dan bisa bertahan. Kami sudah memberi obat penurun

  • Putra Rahasia Tuan Daniswara   CHAPTER 30

    Malam itu, Devon baru pulang dari kantor. Ia segera melemparkan dirinya ke atas ranjangnya. Rasa lelah menghampirinya, dan ia semakin lelah ketika ia tidak mendapati seseorag menyambut kedatangannya.Sial! Jika ada Sarah, mungkin wanita itu akan menyambutnya. Memaksanya untuk segera mandi lalu makan malam bersama. Devon merindukan hal itu.Sial!Devon lalu bangkit, ia menuju ke arah meja kerjanya. Dan meraih sebuah amplop yang ada di sana. Itu adalah suat dari Sarah yang dikirimkan wanita itu dua minggu yang lalu. Sarah mengirimkan alamatnya di sana, mungkin wanita itu berharap bahwa ia akan mengirimkan surat cerai untuk wanita itu. Tapi Devon tak akan melakukannya. Devon tak akan pernah melakukannya.Devon duduk di kursinya, membuka amplop itu lagi. Di sana Sarah juga mengirimkan foto hitam putih hasil USGnya. Devon mengamati foto itu. Entah kenapa hal itu menjadi hal yang begitu digemari Devon akhir-akhir ini. Jantung Devon berdebar kencang setiap kali melihat foto tersebut. Sebua

  • Putra Rahasia Tuan Daniswara   CHAPTER 29

    Satu bulan kemudian….Devon turun ke meja makan dengan wajah yang sudah ditekuk. Seperti itulah wajahnya selama sebulan terakhir. Muram, dan selalu ingin marah-marah. Tapi saat melihat Devano, Devon menghilangkan kemuramannya. Ia bersikap sebiasa mungkin dengan putera kesayangannya tersebut.Devano sudah menunggunya di meja makan. Rutinitas harian yang tidak akan pernah ia lewatkan sesibuk apapun paginya, yaitu sarapan bersama dengan Devano. Hanya berdua, tanpa Sarah di sana. Brengsek!Devon hanya berusaha menjadi ayah terbaik untuk Devano, selalu ada untuk puteranya itu bahkan ketika Devano menginginkan Sarah di sisinya, maka Devon akan memposisikan diri untuk menjadi Sarah bagi Devano.Sialan!“Pagi, Pa.” Devano menyapanya.“Pagi, Sayang.” Devon mengusap puncak kepala Devano. Semakin hari, Devano semakin pintar apalagi setelah Devon mendatangkan guru belajar sambil bermain di rumah. Hal itu semata-mata untuk membuat hari Devano sibuk dan tidak lagi memikirkan Sarah.Devon masih ing

  • Putra Rahasia Tuan Daniswara   CHAPTER 28

    Sore itu, Sarah menunggu Devon di kamarnya. Ia tidak ingin menghindar lagi, dan ia juga tidak akan membiarkan Devon menghindar lagi darinya. Tujuannya hanya satu, bahwa ia ingin menyelesaikan masalah mereka. Ia berharap Devon jujur dengan apa yang lelaki itu rencanakan, tapi disisi lain, Sarah takut, jika kejujuran Devon akan mencabik-cabik isi hatinya.Pintu di buka, Sarah mengangkat wajahnya seketika mendapati Devon dengan wajah muramnya. Lelaki itu masuk sembari melonggarkan dasinya. Kemejanya sudah kusut, wajahnya ditekuk seperti orang lelah.Sarah berdiri seketika, ia memberanikan diri membahas masalahnya sebelum hatinya kembali melemah.“Apa yang kamu inginkan, Sarah?” tanya Devon yang melihat Sarah mendekat ke arahnya.“Aku mau tanya sesuatu sama kamu.” “Apa?”“Apa kamu sayang sama Devano?” tanya Sarah dengan suara yang nyaris tak terdengar.Devon yang sudah duduk di pinggiran ranjang dan bersiap membuka sepatunya akhirnya menghentikan aksinya, ia mengangkat wajahnya dan menat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status