تسجيل الدخولAkhirnya Liora menghela napas pelan. Dia telah memutuskan. “Oke.”Sagara mengangkat alis. “Deal?”Liora mengangguk pasrah. “Iya, Pa. Nggak ada masalah kok sama semua syarat Papa.”Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, senyum tipis muncul di wajah Sagara.“Bagus.”Aluna langsung tersenyum lega lalu memeluk Liora. “Akhirnya kita bisa kumpul lagi di rumah. Edward pasti senang banget kamu pulang.”Sambil bermanja-manja, Liora memikirkan cara agar terhubung dengan Ms. Donna. “Ma, aku minta tolong sama Mama. Aku nggak bisa ikut latihan untuk pentas Kreasi Siswa Tahunan.”“Tolong sampaikan izinku ke Ms. Donna, Ma. Sekalian bilang, nanti aku berikan draft untuk pertunjukan teknologi perwakilan Home Room. Itupun kalo… Papa mengizinkan.”Liora melirik papanya, berharap hati Sagara tergugah. “Tenang aja, Lio. Besok Mama ada rapat dewan sekolah lagi. Nanti Mama sampaikan langsung ke Ms. Donna.”“Kok Mama rapat lagi? Bukannya baru beberapa hari lalu rapat, ya?” tanya Liora. “Hari Senin lalu,
Tiga hari berlalu. Dari hari ke hari, kondisi Liora semakin membaik. Aluna sedang bersama Liora di ruang rawat inap VIP, menyuapi apel. “Ma, Mama sama Papa mau aku cepat mati, ya?” tanya Liora tanpa semangat. Tangan Aluna terhenti. Nuna dan Dokter Rowan saling pandang, tidak mengerti pertanyaan Liora. Nuna menduga, nonanya ini mau membahas pesta penyambutannya. Aluna meletakkan piring apel di atas meja. “Kok kamu ngomongnya begitu?”Semua orang yang berada di dalam tidak ada yang menyadari Sagara berada di luar kamar. Dia memegangi gagang pintu dan hendak membukanya lebar-lebar. Namun begitu mendengar suara Liora, dia mengurungkan niatnya. “Yaa, memang begitu. Aku di sini hampir mati karena bosen. Apalagi Dokter Rowan galak begitu.”Mendengar pengakuan Liora barusan, Aluna nyaris melepaskan tawa. Dia langsung memeluk anaknya. “Dasar bandel! Dokter Rowan cuma menjalankan tugasnya aja, sayang,” ujar Aluna penuh kesabaran.Sementara Dokter Rowan tidak berkata apa-apa. Sejujurnya,
Genzio tetap tenang. Justru karena terlalu tenang, semua orang tahu dia serius.Amsol memijat pelipisnya pelan. “Tuan Muda, dunia nggak sesederhana itu. Perasaan pribadi nggak selalu bisa menang melawan keputusan keluarga.”Genzio berdecak pelan.Dia berdiri lagi, memadamkan rokoknya di asbak porselen. Genzio berjalan kembali ke dekat jendela. Bahunya tegak, posturnya penuh dominasi seperti seseorang yang sudah memutuskan segalanya.“Kalo gitu, biar gue yang ubah keputusan keluarga.”Jawaban itu membuat Amsol mengernyit.Genzio menoleh sedikit. Sorot matanya tajam, penuh ambisi, dan sama sekali tidak goyah.“Gue nggak peduli mau ada pertunangan, perjodohan, atau kesepakatan antar keluarga.”Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada rendah yang sarat penekanan.“Gue bakalan tetap kejar Liora.”Setiap kata yang keluar terdengar mantap. Tidak ada keraguan, apalgi kompromi.Dan yang paling jelas, Genzio tidak ada niat untuk mundur.Setelah hening beberapa detik, Genzio kembali b
Genzio berdecak sinis. Seperti Diego, bagi Genzio ini memang aneh. Sangat aneh!Biasanya data siswa di sekolah elite memang dilindungi. Tapi perlindungan semacam ini untuk seorang murid kasta tiga, apakah tidak terlalu mencurigakan?Ini berlebihan, bukan?Genzio terdiam beberapa detik.Pikirannya langsung bergerak cepat. “Lo… bener. Waktu dia masih jadi anak kesayangan keluarga Santoso, nggak kayak gini. Gue udah lama selidiki dia. Dan, datanya nggak pernah dikunci.”“Tapi sekarang? Pas dia jadi anak dari keluarga Anggara, kenapa datanya malah dikunci?”Liora Anggara?Nama itulah yang disebut-sebut di sekolah. Sebetulnya, tidak banyak yang tahu tentang kehidupan pribadinya. Sampai akhirnya, video asal-usul Liora beredar luas di grup-grup sekolah. Di sekolah, Liora dikenal hanya sebagai murid kasta tiga yang cerdas dan aktif di club robotics. Wajah cantiknya membuat Liora disebut-sebut sebagai primadona sekolah. Status sosialnya? Biasa saja.Latar belakangnya? Biasa saja.Setidaknya
Ucapan Dokter Rowan membuat suasana koridor kembali hening. Tidak ada satu pun yang membantah perkataannya. Aluna yang lembut menahan perasaan bersalahnya. Sementara Sagara mengusap wajahnya pelan. Dia berusaha meredam gejolak emosi dan kekecewaan di dalam dada. Setelah beberapa detik berpikir, dia akhirnya membuka suara. “Mulai hari ini, semua aktivitas Lio yang nggak penting di-stop.” Semua orang menoleh ke arah Sagara. Wajahnya suram dan sorot matanya tajam. Tatapan Sagara dingin, tetapi nadanya mutlak tidak ingin terbantahkan. “Nggak ada sekolah. Nggak ada baca jurnal dan Nggak ada kerja part time. Semua perangkat elektronik yang berhubungan sama jurnal disita sementara.” Mata Nuna melebar. “Tuan… termasuk tablet dan laptop Nona?” “Semuanya,” jawab Sagara, singkat. Nada suara Sagara tegas tanpa adanya ruang negosiasi atau celah kelemahannya. Aluna terdiam. Dia paham keputusan suaminya terdengar keras. Namun untuk kali ini, dia setuju. Dokter Rowan justru mengangguk se
Dokter Rowan keluar bersama dua dokter spesialis. Wajahnya jauh lebih serius dari sebelumnya.Sagara langsung melangkah maju. “Gimana kondisi Lio?”Koridor mendadak sunyi. Semua orang menunggu jawaban Dokter Rowan.Dokter Rowan menatap Sagara dan Aluna bergantian.“Hasil lengkapnya belum keluar. Tapi dari pemeriksaan neurologis, ada beberapa hal yang perlu kita waspadai.”Mendengar keterangan Dokter Rowan, reaksi anggota keluarga Kivandra beragam. Jantung Aluna serasa berhenti. Tatapan Sagara berubah tajam. Sementara Edward menekan perasaan ingin memukul dinding untuk melampiaskan emosinya.Tatapan Sagara berubah tajam. “Maksudmu?” Dokter Rowan menarik napas pendek.“Dari hasil pemeriksaan awal, saya curiga ini bukan sekadar efek kelelahan biasa atau stres pasca trauma.”Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.Sagara menatap Dokter Rowan dengan sorot mata tegas.“Rowan,” suaranya rendah dan berat, “jelasin semuanya.”Reaksinya itu adalah pertanda Sagara sedang be
“Aku nggak mau mati muda!” seru Liora. Sama seperti remaja pada umumnya, Liora ingin sukses dan ingin menikmati masa emas kehidupannya!Liora tidak ingin menyalahkan takdir. Tapi, kenapa nasib buruk selalu menghampirinya?Mengingat hal itu, Liora menghela napas berat. “Huhhh!”Liora baru saja kemb
‘Huhh! Apa maksudnya Zio nyuruh gue saved nomor dia? Segitu maksanya dia temenan sama gue?’Liora sudah berada di dalam Mercedes-Maybach S-Class. Dia memandangi foto profil Genzio yang kosong dan tanpa username. Lalu, dia tersenyum sinis. Deyan melirik Nuna dan Liora dari kaca depan mobil. “Kak N
“Waktu masih muda, nilai akademik saya buruk. Saya nggak suka belajar, kecuali minat saya pada musik. Saya menekuni piano dari umur 4 tahun.”Tangan Pak Mochtar mengepal.“Tapi, keluarga meremehkan saya karena nilai akademik. Mereka menganggap saya sebagai anak yang gagal dan nggak akan pernah suks
Wajah Kavita semakin pucat melihat Liora datang membelanya. Pak Mochtar melirik Liora. “Bocah ingusan dari mana kamu berani-beraninya kritik cara saya mendidik anak?!”Liora menelan ludah. Beginikah rasanya punya Ayah diktator seperti Mochtar Luthan?Anggota VirellaTale lainnya saling bertukar p







