Home / Mafia / RAHIM PELUNAS HUTANG / 01 | JUSTIN MORGAN

Share

RAHIM PELUNAS HUTANG
RAHIM PELUNAS HUTANG
Author: finarsky

01 | JUSTIN MORGAN

Author: finarsky
last update Last Updated: 2025-11-22 02:37:51

"Memberikan rahimmu kepadaku kemudian memberikan keturunan untuk Keluarga Morgan dalam waktu setahun."

"Atau menjadi mainanku dan akan aku lepaskan setelah aku bosan."

"Pilihan ada di tanganmu, Violet." Ucap Justin kemudian memberikan penawaran kepada Violet.

Kalimat pernyataan tersebut yang keluar dari bibir Justin mampu membuat Violet termenung hingga tidak menyadari bahwa hari semakin malam.

Violet menghentikan langkahnya, mendongakkan kepala menatap langit yang gelap dan air hujan mulai turun begitu saja.

"Ya Tuhan, seolah Kau sangat mendukung kesedihanku hari ini." Ucap Violet kemudian menghela nafas pelan.

Kaki Violet berlari kecil menyusuri rumah sakit menuju kamar inap Ibunya yang sudah menderita sakit dari beberapa bulan terakhir ini.

"Violet, kau sudah datang." Ucap Elle Anderson, bertanya kepada Violet.

Bibir Violet tersenyum tipis bersamaan dengan tangan yang mengusap kening wanita tua tersebut dengan lembut.

"Kau pulang kerja semalam ini, Vio?" Tanya Elle kepada Violet.

Violet terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan tersebut, wanita tersebut tidak ingin berbohong namu keadaan saat ini sungguh tidak memungkinkan.

"Ya, Bu. Bosku ada tamu penting mendadak malam ini."

"Oleh karena itu, aku pulang selarut itu."

"Mengapa Ibu belum tidur? Ini sudah malam, Bu." Ucap Violet lagi kepada Elle.

Bibir pucat Elle tersenyum manis menatap Violet, putri satu-satunya yang cantik sekaligus membanggakan tersebut.

Ingin rasanya Elle menyerah dengan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh, semakin hari semakin bertambah parah.

Tabungan sudah terkuras habis untuk berobat sekaligus membayar hutang.

Namun Elle akan tetap berusaha bertahan untuo Violet.

Violet adalah penguat sekaligus penyemangat Elle untuk tetap hidup bersama.

"Ibu belum tidur karena Ibu belum melihat wajahmu, Vi." Jawab Elle dengan tersenyum manis.

Violet tertawa menanggapi jawaban Elle, "Astaga, Bu. Lain kali jangan menungguku."

"Ibu harus banyak istirahat agar Ibu cepat sembuh." Ucap Violet kemudian kepada Elle.

Violet menutup kamar inap Elle dengan hati-hati mengingat ada panggilan dari Dokter untuknya dan itu jelas perihal Elle.

"Dengan keluarga Elle Anderson?" Tanya seorang Dokter yang berada di depan Violet saat ini.

Violet menganggukkan kepalanya bersamaan dengan menerima sebuah kertas kecil yang diberikan oleh pegawai rumah sakit tersebut kepadanya.

"Ini tagihan pasien atas nama Elle Anderson, jika tidak dibayar segera mungkin dengan terpaksa pasien harus kami pulangkan." Ucap pegawai rumah sakit kemudian.

Ribuan dolar tertulis jelas di atas kertas tersebut dan itu sungguh mampu membuat Violet terdiam, duduk di depan ruangan kamar inap Elle.

Laporan sakit Elle yang semakin parah membuat Violet kini kembali meneteskan air matanya begitu saja.

Violet tidak ingin kehilangan Elle, sang ibu adalah segalanya untuk wanita tersebut.

"Collins, bisakah kita bertemu malam ini?"

"Aku benar-benar membutuhkanmu." Ucap Violet saat panggilannya terjawab oleh pria diseberang sana.

Collins Alardo, pria itu adalah kekasih Violet dimana mereka sudah memiliki ikatan kekasih sejak beberapa tahun yang lalu.

"Maaf, Vi. Aku malam ini sibuk sekali.. Pekerjaanku sedang menumpuk."

"Bagaimana jika kita bertemu besok saja?" Ucap Collins lagi bertanya kepada Violet.

Dengan rasa percaya dan tanpa curiga sedikit pun, Violet menganggukkan kepalanya begitu saja dan menjawab setuju pertanyaan Collins.

Tangan Violet mengusap lembut wajah Elle, "Violet akan berusaha apapun itu Ibu sembuh."

"Violet keluar dulu ya, Bu.. Ibu tidur nyenyak dan mimpi indah."

Begitu ucap Violet sebelum memutuskan pergi untuk mencari ketenangan sejenak atas masalah-masalahnya hari ini.

"Vio, kau dimana?" Tanya Lily lewat panggilan ponsel.

"Sedang di jalan, entahlah aku ini ingin pergi kemana."

"Rasanya selalu ada masalah yang masuk ke dalam hidupku setiap harinya." Lanjut ucap Violet menjawab pertanyaan Lily kemudian menghela nafas pelan.

"Mari kita minum bersama, Vi. Aku yang traktir malam ini."

"Devil Club, aku menunggumu." Sahut Lily cepat kemudian mematikan panggilannya begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Violet.

Violet menatap layar ponselnya yang sudah berwarna hitam, panggilan dari Lily sang sahabat telah berakhir begitu saja.

Disinilah sekarang seorang Violet Anderson berdiri.

Devil Club.

Dentuman musik, bar yang penuh dengan minuman alkohol mahal, wanita seksi sekaligus cantik menjadi pemandangan mata Violet setelah berhasil masuk ke dalam tempat tersebut.

Bahkan lampu yang menyala mampu membuat Violet berkali-kali mengerjapkan matanya.

"Kau sudah lama menungguku, Ly?" Tanya Violet bersamaan dengan duduk tepat di belakang meja bar tepatnya di samping Lily.

Lily menggelengkan kepalanya, "Tidak, Vi. Kau ingin minum apa malam ini?"

"Terserah kau saja, samakan dengan milikmu." Jawab Violet kemudian.

Tangan Lily mengusap bahu Violet, wanita tersebut tampak tidak bersemangat seperti biasanya dan itu sangat terlihat aneh di mata Lily.

"Kau ada masalah, Vi?" Tanya Lily.

Violet yang awalnya menundukkan kepalanya seketika mendongak begitu saja menatap Lily, wanita tersebut tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.

"Aku baik-baik saja." Jawab Violet singkat.

Lily berdecih pelan, "Jika kau baik-baik saja tidak mungkin kau mendadak pendiam seperti ini."

"Kau selalu menceritakan Collins bajingan itu kepadaku saat bertemu."

"Mengapa sekarang tidak? Kau dan Collins itu putus?" Ucap Lily lagi bertanya kepada Violet.

Violet mengendikkan bahunya singkat, "Entahlah, aku merasa Collins sedang menjauhiku."

"Setelah Collins mengetahui bahwa Ibuku sakit, sikapnya berubah dan tidak seperti Collins yang aku kenal sebelumnya." Ucap Violet lagi.

Perbincangan kedua wanita yang membahas Collins tersebut harus berhenti tiba-tiba begitu ada pria tampan yang lewat di depan wanita kedua itu dan tentunya sangat harum, maskulin.

Justin Morgan.

"Untuk apa pria itu datang kemari?" Ucap Violet bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

Tangan Lily menepuk pelan tangan Violet, "Dia pemilik Devil Club ini, Vi."

"Jelas saja dia datang kemari, Devil Club salah satu aset milik Morgan." Ucap Lily lagi.

Violet seketika menghela nafas pelan setelah mendengar penjelasan Lily tentang Justin Morgan.

Justin Morgan.

Pria tampan dengan kekuasaan yang kuat mengingat pria itu adalah seorang ketua mafia, pria yang sama dengan pria gila dimana pria tersebut juga menawarkan transaksi rahim kepada Violet.

"Aku harap setelah ini kau akan putus dengan Collin, Vi." Ucap Lily tiba-tiba kepada Violet.

Violet seketika mengalihkan pandangan matanya ke arah Lily, mengerutkan kening kebingungan sekaligus bertanya-tanya.

"Memangnya ada apa dengan Collins?" Tanya Violet.

Lily menunjuk Collins yang sedang bercumbu mesra dengan wanita tepat di depan mereka berdua.

"Sudah aku katakan berapa kali kepadamu jika Collins itu bajingan miskin, Vi."

Tidak menanggapi kalimat pernyataan Lily, Violet memutuskan untuk berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Collins yang sedang bercumbu itu.

PYAR!!

Violet memukul kepala Collins menggunakan botol minuman alkohol yang sudah kosong di tangannya.

"Bajingan!! Kau siapa berani memukulku?!" Teriak Collins.

"Aku yang memukul kau, aku Violet Anderson!!"

Wajah Collins terlihat terkejut bukan main saat membalikkan tubuhnya dan mengetahui bahwa Violet sudah berdiri di depannya.

"Kita selesai, Collins!" Ucap Violet kemudian.

Dengan kepala yang sudah mengeluarkan darah, Collins tertawa remeh mendengar pernyataan Violet.

"Aku juga sudah muak denganmu, Vio!"

"Berlagak suci, tidak ingin bercinta sebelum menikah."

"Kau kira aku bertahan dengan kau karena cinta? Tidak!!"

"Aku bertahan dengan kau karena aku kasihan dengan hidupmu yang penuh masalah itu."

"Kau pembawa sial, Vi! Sampai kapanpun hidupmu akan penuh masalah."

"Ibumu pasti akan mat--"

"DIAM KAU, BRENGSEK!!!" Teriak Violet penuh amarah dan ingin memukul Collins lagi dengan pecahan botol yang ada di tangannya.

Gagal.

Tangan Violet di tarik cepat oleh seorang pria yang tiba-tiba datang di tengah mereka.

"Jangan membuat keributan di dalam tempatku ini, Princess." Suara berat itu dan aroma itu seketika membuat Violet mendongakkan kepalanya.

Bibir Pria tersebut tersenyum manis menatap Violet dan mengerlingkan mata biru itu dengan tatapan dingin.

Benar, pria itu adalah Justin Morgan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • RAHIM PELUNAS HUTANG   21 | MORGAN SANG IBLIS

    "Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" Tanya Justin kepada Dokter yang menangani Violet sebelumnya. "Darah yang keluar dari bagian kepala cukup deras, untung saja anda cepat membawanya ke rumah sakit." "Istri anda benar-benar mengalami benturan sekaligus pukulan yang keras sebelumnya." Lanjut ucap Dokter tersebut menjawab pertanyaan Justin. Justi menghembuskan nafas pelan, merasa gagal melindungi Violet hingga wanita tersebut mengalami hal buruk seperti ini. Tangan Dokter tersebut membuka sedikit seragam pasien yang saat ini Violet gunakan tepat di bagian leher, menunjukkan kepada Justin."Anda bisa melihatnya sendiri Tuan Morgan, sangat jelas bahwa istri anda mengalami kekerasan." "Bekas luka yang ada di leher istri anda ini adalah bekas cekikan tangan, sangat keras hingga memerah bahkan membiru." Ucap Dokter tersebut, lagi. Justin meraih tangan Violet, mengecupnya lama tepat setelah sang Dokter berpamitan keluar dari ruangan tempat Violet menginap. "Maaf, aku benar-benar min

  • RAHIM PELUNAS HUTANG   20 | HARTA BERHARGA JUSTIN

    Justin melihat singkat jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya itu, sudah lewat beberapa menit lamanya namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Violet. "William mengatakan bahwa kau datang bersama istrimu." Ucap Chales yang tiba-tiba duduk di samping Justin. "Lantas, mengapa kau duduk disini sendirian? Istrimu yanh dimaksud William itu kau kemanakan?" Lanjut ucap Charles kemudian, celingukan ke arah sekitar mencari sosok istri seorang Justin Morgan. Justin sendiri sedang menunggu kedatangan Violet yang sebelumnya telah berpamitan untuk pergi ke toilet. Benar-benar lama mengingat beberapa menit telah berlalu. "Sedang di toilet, aku juga sedang menunggunya untuk kembali." Jawab Justin. Charles mengangguk pelan bersamaan dengan menepuk bahu Justin, pria tua itu sungguh tidak menyangka jika Justin sudah menikah dan kini telah menjadi seorang suami. Charles dan William adalah sahabat baik ayah Justin, kedua orang tua tersebut benar-benar menyayangi pria itu sep

  • RAHIM PELUNAS HUTANG   19 | KEJADIAN DI TOILET

    "Kau datang kemari juga, Vi?" Suara seorang pria yang bertanya kepada Violet tepat di dalam pesta tersebut. Edward Smith. Dokter bedah yang bekerja di rumah sakit dimana tempat itu adalah tempat Elle dirawat sekaligus menjalankan operasi. Violet mengalihkan pandangan matanya, "Dokter Edward, kau datang kemari juga ternyata." Sahutnya. "Keluarga Smith diundang untuk acara pesta ini, aku datang kemari mewakili keluarga." Ucap Edward. Violet merasa sedikit lega setelah kedatangan Edward mengingat dari sekian banyak manusia di pesta yang sedang berlangsung itu, wanita tersebut tidak mengenal siapapun. "Kau terlihat cantik malam ini." Ucap Edward tiba-tiba kepada Violet. Bibir Violet tersenyum manis, mengambil segelas minuman anggur yang ditawarkan oleh seorang pelayan kepadanya tanpa ragu. Edward sudah menyukai Violet sejak lama, pria tersebut belum berani mengakui perasaannya sendiri. "Bagaimana keadaan Ibuku?" Tanya Violet kepada Edward. Edward mengangguk singkat, "O

  • RAHIM PELUNAS HUTANG   18 | PESTA BERSAMA JUSTIN

    Justin melongo saat kedua matanya menatap kagum ke arah Violet yang sedang berjalan pelan menuruni tangga. Benar-benar cantik. Dres berwarna merah dengan syal di area leher itu sungguh cocok dengan tubuh Violet. Justin tidak salah pilih kali ini. "Kedipkan mata kau itu, Jusa.." Ucqp Violet tiba-tiba setelah tiba di depan Justin. Justin mengerjapkan matanya pelan kemudian tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak terlihat jika Violet tidak benar-benar memperhatikan bibir itu. Tangan Justin bersiap menerima tangan Violet, wanita tersebut menatap pria itu untuk memastikan. "Kau istriku, Princess." Ucap Justin singkat. Violet segera melingkarkan tangannya tepat di lengan Justin lalu mereka berjalan bersama menuju mobil. Malam ini adalah pesta perjamuan untuk penggalangan amal dilaksanakan. Untuk pertama kalinya Violet datang ke sebuah pesta yang benar-benar mewah sekaligus banyak orang penting di dalam acara tersebut. "Justin.." Suara Gracia tiba-tiba memanggil nama Justin. J

  • RAHIM PELUNAS HUTANG   17 | INGIN NAIK VIOLET, SEGERA

    Violet mendongakkan kepalanya, menatap Justin yang berdiri di samping wanita tersebut dan mengedipkan mata kebingungan. Di depan Violet banyak sekali pilihan warna, model sekaligus bentuk pakaian untuk sebuah pesta. Pesta perjamuan untuk amal yang sudah dikatakan oleh Justin sebelumnya. Violet kebingungan, harus menggunakan pakaian seperti apa sekaligus bagaimana agar tidak membuat Justin malu nantinya. "Mengapa kau diam saja, Princess?" Tanya Justin dengan tangan kekar pria tersebut mengusap lengan Violet. Justin sudah menyiapkan semuanya, tugas Violet hanya mencoba kemudian memilih dengan senang hati. "Aku akan mencoba seluruh pakaian ini, Jusa?" Tanya Violet kepada Justin. Justin mengangguk, "Tentu, Princess. Kau akan mencobanya satu persatu." Jawabnya kemudian. Pegawai toko tersebut dengan senang hati membantu Violet untuk mencoba semua pilihan Justin hari ini. Toko pakaian mewah dengan merek ternama, salah satu milik keluarga Morgan alias Justin Morgan adalah pilih

  • RAHIM PELUNAS HUTANG   16 | BENTUKNYA MENGGEMASKAN

    "Besok ada pesta perjamuan untuk amal, banyak orang yang akan hadir di pesta itu dan aku memutuskan untuk mengajak kau." Ucap Justin tiba-tiba. Violet yang sedang sibuk melipat beberapa pakaian, merapikan pakaiannya sendiri sekaligus Justin seketika mendongakkan kepalanya. "Mengajak aku?" Tanya Violet bertanya kepada Justin, memastikan apa yang telah wanita itu dengarkan sebelumnya. Kepala Justin mengangguk singkat sebagai jawaban kemudian fokus kembali dengan ponsel yang ada di tangannya. Violet memutuskan untuk diam dalam keadaan kebingungan, tidak pernah datang ke pesta dan harus menggunakan pakaian macam apa agar tidak membuat Justin malu nantinya. "Bagaimana jika kau pergi sendiri saja, Justin?" Ucap Violet tiba-tiba. "Atau biasanya kau pergi dengan siapa jika ada pesta? Kau pergi dengannga saja, Justin."' "Aku akan di rumah saja, tidak akan kabur dan aku berjanji." Lanjut ucap Violet kemudian. Violet lebih memilih untuk bersikap berani mengingat ingin bagai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status