LOGINPagi hari .....
Mata Zello terbuka lebih dahulu, memegang kepalanya yang terasa pusing. Saat dia ingin bangun, tangannya terasa berat. Dia menoleh, matanya membeliak melihat seorang wanita masih tertidur pulas di pelukannya. Zello mencoba mengingat apa yang terjadi dengan mereka semalam. Ingatannya berkelana pada saat malam panas Zello dengan wanita itu. Senyum tipis muncul di wajah tampannya. Dia merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik wanita itu. Zello membiarkan tangannya menjadi bantal tidur Sheza. Dia mengambil ponselnya lalu menyuruh Raka mencari tahu tentang apa yang terjadi. Terutama siapa yang menaruh obat kepada minumannya. "Bawakan aku baju ganti!" Setelah memberi perintah pada Raka, Zello kembali merebahkan dirinya dengan posisi menyamping ke arah Sheza. "Wanita ini yang semalam mengguyur jaz mahal ku. Cantik juga ternyata." gumam Zello pelan. Dia terus mengamati wajah Sheza yang masih tertidur nyenyak. # Setengah jam berlalu, terdengar ketukan di depan pintu kamar itu. Dengan gerakan perlahan, Zello bangkit dari tidurnya meraih celananya. Ceklek.... Terlihat Raka yang berdiri di depan pintu membawa dua paper bag yang Zello pesan. Mata Raka melirik ke dalam dan melihat seorang wanita yang masih tertidur pulas disana. "Mau ku congkel mata kamu?" Raka menundukkan wajahnya dan memberikan baju yang Zello pesan. "Tunggu di depan!" Setelah mengatakan itu, Zello menutup pintu, masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri. Saat Zello sudah masuk ke dalam kamar mandi, mata Sheza mulai terbuka. Dia memindai seluruh ruangan itu, matanya menyipit mulai mengingat apa yang terjadi padanya semalam. Sekelebat bayangan, dimana dia meladeni apa yang Zello mau. Bahkan berkali kali dia mendesah di bawah tangan kekar Zello. Wajahnya mulai memanas mengingat adegan dimana Zello terus menciuminya dengan ganas. "Kamu sudah bangun ternyata." Sheza menoleh, dan matanya melotot saat melihat Zello keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk mandi sepinggang. "Kenapa kamu nggak pakai baju?" pekik Sheza tertahan. Sheza menutup wajahnya dengan selimut. Sedangkan Zello terkekeh, rasanya lucu sekali melihat reaksi Sheza saat ini. "Kamu sudah menikmatinya semalam, kenapa masih malu?" goda Zello. Blush ... Wajah Sheza semakin memerah, dia merutuki kebodohannya karena bangun kesiangan. Seharusnya dia bangun pagi dan kabur dari sana. "Bersihkan dirimu, aku di depan. Setelah ini ada yang harus kita bicarakan!" Tanpa menunggu jawaban Sheza, Zello keluar dari kamar itu untuk menemui Raka yang sudah menunggunya sejak tadi. Sedangkan Sheza kembali merubah ekspresinya kembali ke ekspresi aslinya. "Nggak apa apa aku berkorban sekali lagi jika itu bisa menghancurkan Salsa. Karena aku pastiin jika Zello nggak akan mau meliriknya sama sekali." # Di luar kamar, Raka yang sejak tadi menunggu Zello langsung berdiri. Dia sedikit menundukkan kepalanya saat Zello tiba disana. "Ini berkas yang tuan minta semalam." Zello menerima berkas pemberian Raka dan mulai membacanya. Identitas Sheza sebagai seorang model juga ada disana. "Di luar sana banyak gosip yang mengatakan jika nona Sheza adalah perempuan nakal. Dia menghalalkan segala macam cara untuk mempertahankan namanya di dunia model." Gerakan tangan Zello terhenti, mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Raka. Dia tersenyum samar karena dia tahu faktanya seperti apa. Lalu Zello melanjutkan membaca semua informasi tentang Sheza. Dan matanya menyipit ketika mendapati fakta lain jika Sheza adalah putri kandung di keluarganya tapi di rumorkan menjadi anak haram yang di bawa ke rumah itu. "Apa kamu sudah menemukan siapa yang memberikan obat itu kepadaku?" "Nona Salsa, saudara tiri Nona Sheza. Tapi nona Salsa tidak tahu jika tuan sejak semalam bersama nona Sheza." jelas Raka lagi. "Hapus CCTV dimana aku dan Sheza masuk ke kamar ini. Dan awasi terus apa yang wanita sialan itu lakukan. Jangan sampai dia membuat ulah lagi!" Raka mengangguk mengerti, dia sempat heran dengan semua perintah yang di berikan oleh Zello kepadanya. Tapi detik berikutnya Raka berdehem saat melihat bekas merah di leher Zello yang mulai berubah keunguan. "Mereka berdua menikmati malam panas bersama ternyata." batin Raka. Zello terus membaca semua informasi mengenai Sheza. Tangannya sedikit meremas berkas itu saat Zello membaca sampai dimana Sheza sejak kecil disiksa. Dan Zello mulai mengingat ketika di bagian pinggang Sheza ada bekas luka yang mulai samar tapi Zello yakin bekas luka itu tak akan pernah hilang. "Ada lagi yang tuan butuhkan?" Raka mencoba bertanya kembali untuk memastikan jika Zello butuh sesuatu lagi. Saat Zello ingin menjawab pertanyaan Raka, Sheza keluar dari dalam kamar dengan sudah berganti pakaian. Dua laki laki itu menoleh bersamaan ke arah Sheza. "Bisakah aku pulang sekarang?" Zello menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Sheza. Tanpa menunggu banyak tanya lagi Zello bangkit dari duduknya. "Aku yang antar. " Kepala Shesa yang sejak tadi menunduk tak berani melihat Zello langsung terangkat. "Tidak, aku bisa pulang pakai taxi." tolak Sheza "Aku antar atau tidak pulang sama sekali." Mata Sheza dan Raka melotot bersamaan. Raka tak habis pikir dengan cara yang di pakai Zello untuk menahan Sheza saat ini. Berbeda dengan Sheza yang mulai panik karena Zello akan mengantarnya pulang. "Tak ada jawaban berarti pulang sama aku." Setelah mengatakan itu, Zello menarik tangan Sheza untuk membawanya pergi dari sana. Raka yang masih berdiri di tempatnya di buat bingung oleh sikap Zello. Raka tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan Zello yang memanggil namanya. Dengan langkah tergesa, Raka menyusul Zello yang sudah berjalan meninggalkan kamar hotel itu. # Disisi lain.... Di rumah Sheza sedang terjadi ketegangan disana. "Pa, aku nggak tahu kakak dimana. Semalam aku bertemu dengan kakak di pesta itu. Tapi saat pesta belum selesai aku sudah kembali ke apartemen." adu Salsa pada papanya. Sedangkan wanita paruh baya di sebelahnya hanya diam saja dan tak ikut campur. Tora menggebrak meja karena merasa jika Sheza semakin hari semakin liar. Dia tak kembali pulang sejak semalam di tambah aduan Salsa yang melihat jika Sheza pergi bersama seorang laki laki. Salsa juga memberikan bukti yang dia punya pada Tora. Hal itu lah yang membuat Tora semakin marah. Saat Tora sudah marah, terlihat Sheza memasuki rumah itu dengan tenang. Tak ada ketakutan di wajahnya. Karena dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri. Plak... Benar saja, saat Sheza masuk ke dalam ruang tamu itu sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Sheza. pelakunya tak lain tak bukan adalah papa kandungnya sendiri. "Masih berani kamu pulang?" to be continuedZello benar benar melindungi Sheza dalam hal apapun. Terlebih saat Zello tahu jika Aruna berniat mempermalukan Sheza dengan pakaian yang tak layak. "Zello, ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya memberinya gaun seperti itu karena cocok dengan image nya." Zello menatap tajam kepada Aruna. Bisa bisanya merendahkan istrinya sampai seperti itu. "Jadi kamu berpikir jika istri yang selalu aku manjakan dengan semua barang mewah bahkan tak pernah ada cacatnya layak mendapatkan pakaian yang tak pantas di pakai? Kamu berniat membuat Sheza malu?" bentak Zello keras. Aruna sampai berjingkat karena kaget dengan nada keras dari Zello. Aruna pucat pasi, pasalnya Aruna tak menyangka jika Zello akan semarah ini. Aruna berpikir jika Zello tak pernah mencintai Sheza dan hanya menjadikannya pelarian dan pengganti. "Ze-zello bukan seperti itu." cicit Aruna takut. "Lalu seperti apa?" Kali ini bukan Zello yang bicara, melainkan Sheza. Sejak tadi dia membiarkan Zello bicara ka
Sheza masih berada di ruang ganti bersama asisten managernya. "Wah, nggak nyangka banget kalau baju jelek tadi bisa jadi cantik dan indah begini." "Nggak ada yang jelek, jika memang seorang designer, dia nggak akan bikin pakaian yang akan merusak citra dan pelanggannya." tegur Sheza pada asisten managernya. Asistennya mengangguk sembari meminta maaf, dia tahu jika Sheza bukan orang yang sembarangan menghina orang lain dan karyanya. Setelah semua selesai, Sheza keluar dari ruang ganti. Ternyata saat ingin masuk ke dalam ruang pemotretan dia melihat Zello ada disana bersama Aruna sang designer yang memberikannya baju tak layak untuk pengambilan gambar. Sheza dan asistennya langsung berhenti, memilih mendengar apa percakapan Aruna juga Zello di dalam sana. "Nona nggak mau kesana? Seperti nya designer baru itu ingin mendekati tuan Zello." Asisten manager itu melihat tak suka pada Aruna. Sementara Sheza hanya diam memperhatikan dari tempatnya. Dia tersenyum samar ket
Waktu berlalu setelah semua kejadian buruk menimpa Sheza dan Zello. Mereka semakin lengket dan semakin bahagia meskipun mereka kehilangan anak yang masih belum di ketahui jenis kelaminnya. Zello dan keluarganya berhasil meyakinkan Sheza jika perjalanannya masih panjang. Moza tak pernah menyalahkan Sheza dan menuntut Sheza untuk segera hamil anak Zello. Saat ini Sheza tengah menunggu gilirannya untuk pemotretan brand fashion baru dimana designer nya dari awal tak pernah senang dengan keberadaannya. Moza sudah memberi pesan jika ada masalah di perusahaan Sheza harus segera memberitahu. Tapi Sheza masih bisa mengatasinya. Jangan lupakan anak buah Zello yang selalu siaga di dekatnya. Meskipun tak terlihat tapi Sheza tahu jika mereka ada di dekat Sheza. Para kru perusahaan juga mengenal Sheza sebagai menantu kesayangan Moza. Meskipun tanpa Moza sekalipun Sheza tetap bisa terkenal dengan kemampuannya. "Sheza, ini pakaian mu yang akan di kenakan untuk pemotretan." Sheza mengerutka
Berita penangkapan Salsa dan Nana tersebar luas di media sosial. Sheza melihatnya di ruangannya. Sejak dia siuman, Sheza hanya diam saja meskipun Zello mengajaknya bicara. Moza juga baru saja kesana untuk mengantar beberapa makanan yang diminta oleh Zello. "Sayang ... kamu mau makan lagi?" Sheza hanya menjawab dengan gelengan kepala. Dia tak bernafsu untuk sekedar makan. Jika bukan karena Moza yang menyuapinya langsung mungkin sampai sekarang Sheza tak akan menyentuh makanan sama sekali. Zello menghela napasnya panjang, dia tak ingin memaksa Sheza untuk sekarang. Beruntung Moza tadi kesana dan itu sedikit membantu. Sheza meraba perutnya yang datar. Zello yang melihat itu ikut merasakan sakit. Mereka bahkan tak tahu jika disana sudah ada malaikat kecil mereka. Tanpa sadar air mata Sheza kembali menetes. "Zello, aku bodoh sekali. Aku tak bisa menjaganya." Zello merengkuh tubuh Sheza yang terlihat kurus saat ini. Dia mengusap punggung Sheza. Tak hanya Sheza yang merasakan
Sheza pergi dari sana dengan perasaan tak karuan. Sementara Nana dan Salsa di bawa pergi tanpa bisa bertemu dengan Tora lagi. Tepat saat Sheza ingin masuk ke dalam mobil, tubuh Sheza limbung. Hampir saja Sheza ambruk ke tanah jika Zello tak langsung menangkapnya. "Sayang ...." Zello berusaha membangunkan Sheza tapi tubuh Sheza semakin dingin. "Bawa ke rumah sakit, yang disini biar aku yang urus." Raka menyuruh Zello membawa Sheza ke rumah sakit. Dia khawatir jika Sheza butuh penanganan khusus setelah dia keguguran. Zello mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Setelah mendapat info jika Sheza nekat kembali bersama Raka untuk membalas dendam saat itu juga Zello meminta orang tuanya membawa Zello kembali menyusul Sheza. "Sayang ... bertahan sebentar ya ... " Zello tak peduli jika banyak orang yang mengklakson dirinya. Dia tetap menerobos beberapa mobil yang menghadang di depannya. Tak berapa lama, Zello sampai di sebuah rumah sakit. Dia membawa Sheza masu
Salsa menggeleng keras karena melihat Nana sedang di siksa oleh Sheza. Tak hanya menampar, Sheza juga menendang Nana berkali kali. Meskipun Nana meminta ampun tapi Sheza tak melepaskan nya begitu saja. Mengingat semua yang terjadi membuatnya gelap mata. Mata Raka membola saat Sheza mengambil sebuah pisau dan ingin menusuk Nana. Tapi dari belakang Raka muncul seorang yang berlari dengan cepat ke arah Sheza. Memeluk tubuh Sheza dengan kuat. Mencegah Sheza melakukan hal keji dengan tenaganya. "Sayang..... jangan....." Tubuh Sheza mematung saat mendengar suara yang sangat di kenali. Raka yang melihat Zello ada disana menghela napas lega. Meskipun dia bingung kenapa tiba tiba Zello sudah ada disana. Zello yang sudah sadar mencari keberadaan istrinya, awalnya Moza dan Farhan ingin menutupinya tapi ternyata Zello memaksa ingin tahu kemana Sheza. Zello sadar di saat Sheza baru saja berangkat bersama Raka. Untuk itulah akhirnya Zello bisa menyusul Sheza meskipun dia belum b







