로그인
Sebuah ruangan yang awalnya sunyi itu berubah menjadi panas. Hawa dingin dari AC yang menyala tak bisa mendinginkan tubuh dua orang yang sedang menyatu secara liar.
"Mendesah sayang.... panggil namaku!" Suara berat dan serak itu masuk ke gendang telinga seorang perempuan yang berada di bawa Kungkungan laki laki tampan dengan mata elangnya. "Zello... Ah....." Laki laki itu menyeringai saat mendengar namanya di panggil berkali kali. Dia seperti orang kesetanan, bergerak maju mundur dengan tenaganya yang tak habis habis. Permainan panas dengan seorang wanita yang tiba tiba dia temui di sebuah pesta. Yang membuat Zello tak bisa berhenti dan merasa kurang jika hanya satu permainan. # Sebelumnya..... Seorang gadis menatap semua orang dengan pandangan yang muak. Dia menggoyangkan segelas anggur yang sejak tadi dia pegang. Menelisik seluruh ruangan dengan mata tajamnya. Malam ini, dia datang karena mendapat undangan dari kenalannya. Sheza Malvika, seorang model yang terkenal arogan dan juga sifat dinginnya. "Pesta kalangan atas yang membosankan. Harusnya aku nggak datang kesini kalau nggak ada yang menarik!" Sheza memindai wajah semua orang yang ada disana. Lalu pandangan matanya tertuju pada seseorang yang baru saja tiba bersama asistennya dan jangan lupakan beberapa pengawal yang ada di belakangnya. "Dia kan?" Pikiran Sheza berusaha mengingat siapa laki laki tampan berwajah dingin yang baru saja tiba di ruangan pesta itu. "Zello, laki laki yang di kejar Salsa? Wah, ternyata tampan juga." gumam Sheza. "Akhirnya dia muncul juga!" Tanpa Sheza sadari langkah kaki Sheza membawanya pergi ke arah Zello. Matanya tertuju pada Zello yang sedang bersama dengan beberapa orang berpakaian mewah. Mata Sheza membola ketika dari arah samping pundaknya di senggol oleh seseorang. Bruk.... Byur.... "Ma-maaf aku nggak sengaja." Sheza mencoba membersihkan jaz mahal milik Zello yang terkena anggur miliknya. Tapi tangannya langsung di cekal oleh Zello. Mata mereka berdua bersitubruk sesaat dan Sheza yang lebih dahulu memalingkan wajahnya Entah kenapa, wajah Sheza mulai memanas karena seperti di telanjangi oleh Zello saat ini. "Maaf aku akan ganti rugi jaz nya. Bisa tolong lepaskan tanganku?" Sheza sudah kembali mengontrol dirinya dan bisa menghadapi Zello dengan wajah datarnya. Zello melepaskan tangan Sheza tanpa mengatakan apa apa. Dari kejauhan Salsa yang melihat itu segera menghampiri Sheza. "Kakak, apa yang kamu lakukan?" tanya Salsa dengan nada manjanya. Sheza yang mendengar suara cempreng Salsa memutar bola matanya malas. Dia enggan berurusan dengan Salsa. Apalagi saat ini mereka menjadi pusat perhatian. Zello sejak tadi hanya diam memperhatikan, tapi tatapan matanya terus tertuju pada Sheza. "Bukan urusan mu." Setelah mengatakan itu Sheza pergi dari sana. Dia ingin membersihkan gaunnya yang juga terkena percikan anggur itu. Zello terus memandangi punggung Sheza lalu senyum samar terbit di wajah tampannya. Salsa menghentakkan kakinya kesal. Sejak tadi banyak bisik bisik yang terdengar disana. "Bukannya itu Sheza yang anak haram tuan Tora?" Mata Zello menyipit mendengar itu. Berbeda dengan Salsa yang bahagia karena tanpa dia mengatakan apapun sudah ada yang mewakilinya. Jadi dia tak akan kerepotan turun tangan sendiri. Zello meninggalkan ruangan pesta untuk membersihkan jaz miliknya. Sedangkan Salsa yang baru ingat jika Zello ada di dekatnya langsung mencarinya tapi tak menemukannya disana. "Sialan, ini semua gara gara Sheza aku jadi kehilangan Zello!" geram Salsa. Salsa mengitari ruangan itu untuk mencari keberadaan Zello. Tapi ternyata Zello tak ada disana. # Di toilet, Sheza berusaha menghilangkan noda anggur merah di gaunnya tapi tak kunjung beres. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya noda merah itu sedikit pudar. Tapi saat dia ingin keluar dari toilet dia mendengar suara Salsa yang bicara dengan seseorang. Sheza mengurungkan niatnya untuk keluar dari toilet dan memilih menguping pembicaraan Salsa dengan seseorang itu. "Berikan minuman ini pada Zello, pastikan dia meminum semuanya. Dan buat dia masuk ke dalam kamar yang sudah aku siapkan. Pastikan dia masuk ke dalam kamar itu. Aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu." Mata Sheza membola mendengar rencana Salsa yang ingin menjebak Zello seperti itu. Meskipun Sheza tahu dalam dunia mereka ada hal seperti itu. "Dia sampai melakukannya hanya untuk mendapatkan laki laki itu?" gumam Sheza pelan. Sheza memilih menunggu sampai tak ada suara apapun disana. Setelah memastikan Salsa pergi dari sana, barulah Sheza keluar dari toilet. Dia memutuskan untuk segera pulang. Disana dia merasa bosan karena bagi Sheza tak ada yang menarik. Sheza juga tak ingin berurusan dengan Salsa atau pun Zello. Tapi saat dia melewati sebuah lorong untuk pergi dari sana sebuah tangan menariknya dengan keras. "Apa yang kamu.... mph .... " mata Sheza membola saat tiba tiba seseorang menciumnya dengan brutal. Sheza memukul dada laki laki itu tapi dia kalah tenaga. Laki laki itu melepas ciumannya saat merasa pasokan udaranya sudah hampir habis. Mata Sheza kembali melotot lebar saat tahu jika Zello lah yang menciumnya secara brutal. "Lepasin!!" Sheza memberontak tapi tetap saja tenaganya kalah dengan Zello. Sheza tahu saat ini Zello sudah terpengaruh obat yang di berikan oleh Salsa. Dia ingin mendorong Zello agar dia bisa pergi dari sana tapi terdengar derap langkah mendekat ke arahnya. "Sial, aku harus membawanya pergi dari sini!" Sheza berusaha menolak Zello tapi Zello terus menciumnya. "Aku harus gimana, dia berat banget." keluh Sheza bingung. Zello yang memang terpengaruh dengan obat perangsang itu masih setengah sadar dan dia tahu jika ada orang yang mendekat ke arah mereka. Zello menarik tangan Sheza untuk pergi dari sana. Lagi lagi Sheza terkejut dengan apa yang di lakukan Zello kepadanya. Terlebih ketika Zello membawanya masuk ke dalam sebuah kamar. Lalu saat pintu kamar itu tertutup, dengan gerakan cepat Zello kembali mencium Sheza tanpa jeda. Sheza ingin menolak tapi mengingat semua kejadian di rumahnya dan mengingat bagaimana Salsa bertindak Sheza akhrinya menggunakan ini untuk membalas Salsa. "Salsa, kamu nggak akan pernah dapat apa yang kamu mau!" batin Sheza. Perlahan Sheza membalas ciuman Zello tak kalah brutalnya. Zello yang mulai bisa mengendalikan dirinya, membuka matanya. Di sela ciuman mereka, senyum samar tercetak di bibir Zello. "Kucing liar yang nakal!" batin Zello. Zello tak menyia menyiakan hal ini. Dia membuat Sheza menyerah pada kuasanya. Dan malam itu, menjadi malam yang panjang untuk Zello dan Sheza tanpa mereka tahu takdir apa yang akan mereka hadapi ke depannya. # Di sisi lain, Salsa yang sejak tadi menunggu kedatangan Zello mulai gelisah. "Kemana dia?" to be continuedSheza mengerjap mendengar perkataan terakhir dari Zello. "Meng-menghadapi kejamnya dunia? Apa maksud nya itu?" tanya Sheza tak mengerti. "Sudah, makan dulu sayang. Keburu dingin nanti." Sheza mengangguk, dia menikmati makanannya dengan tenang tanpa tahu diluar ruangan mereka sedang terjadi kehebohan. Berita tentang Aruna menjadi trending topik saat ini. Mereka semua membicarakan Aruna seorang designer terkenal bisa melajukan hal memalukan seperti itu. Bahkan keluarganya pun langsung melakukan klarifikasi yang membuat Aruna semakin terpojok. Sheza yang sedang menikmati makannya pun menoleh ke arah Zello yang sedang melihat ponselnya. Dia penasaran dengan apa yang Zello lihat. "Ada apa?" tanya Sheza. Zello memberikan ponselnya yang berisi pesan dari Raka.. "Orang tua perempuan itu memberitahu kepada wartawan jika dia sudah lama tak tinggal bersama mereka. Dan tak mengijinkan siapapun menyangkut pautkan dengan keluarga besarnya." Sheza sempat tertegun mendenga
Sheza melihat Zello yang sudah menunggunya di parkiran depan. Bukan sekedar menunggu di dalam mobil. Tapi Zello menunggu Sheza dengan bersandar di pintu mobil. Zello mengulurkan tangannya ketika Sheza sudah berada di dekatnya. "Capek?" Sheza mengangguk, tapi senyum bahagia tak luntur dari wajah cantiknya. "Kamu ingin kemana setelah ini?" Zello bertanya sambil memasangkan sabuk pengaman kepasa Sheza. "Makan malam romantis bersamamu. Rasanya lama sekali kita nggak jalan jalan berdua." Zello menarik tengkuk Sheza lalu melumat sekilas bibir Sheza. Sheza menerima nya dengan senang hati. Mereka berciuman hanya sebentar karena ternyata terdengar bunyi perut Sheza yang keroncong. Sheza masuk ke dalam pelukan Zello karena dia malu. Wajahnya menjadi merah karena bisa bisanya perutnya berbunyi sangat keras. "Hahaha, sayang. Sepertinya cacing di perutmu sangat kelaparan." Zello semakin menggoda Sheza saat ini. Rasanya semakin menyenangkan ketika Sheza malu dengan wajah merah
Sheza yang mendengar perkataan Aruna terkekeh, bisa bisanya Aruna semakin tak tahu malu seperti itu. "Zello, sepertinya dia mulai gila." ujar Sheza santai. Aruna yang mendengar Sheza mengatakan jika dia gila kembali marah. Dia maju ke depan Sheza ingin meraih gaun milik Sheza, tapi tangan Zello lebih dahulu menahan nya lalu mencengkeram nya erat. Setelah itu, Zello menghempaskan tangan Aruna sampai Aruna terjengkang ke belakang "Argh...... Aw....." Aruna berteriak kesakitan tapi Zello tak peduli. Zello beralih pada Sheza, memeriksa tubuh Sheza takut jika ada yang terluka dari istrinya itu. Zello memutar tubuh Sheza berkali kali yang membuat kepala Sheza berputar. "Zello, stop!" "Aku pusing!" Zello yang tersadar langsung berhenti. Dia mencium seluruh wajah Sheza di depan banyak orang. Tak peduli jika mereka semua melihat. Sedangkan Raka menepuk pelan keningnya karena ulah Zello. "Sayang, maaf. Tadi aku panik, takut dia nyakitin kamu." ucap Zello penuh sesal..
"Kenapa diam? Kamu nggak bisa jawab?" Aruna gelagapan, dia tak menyangka jika Sheza akan mengatakan hal seperti itu. "Kalau kamu yang nolong aku, tentu saja kamu akan jadi saudara ku!" jawab Aruna yakin. Tapi terlihat sekali jika bola matanya bergerak liar, Sheza tahu jika Aruna mulai gelisah dan tak tenang. "Dia pikir dia siapa mau mempermalukan ku?" batin Sheza. "Jadi kamu masih kekeuh dengan pemikiran konyolmu itu? Ingin sekali aku tertawa. Terlebih Zello dan Raka nggak kenal sama kamu tapi kamu masih ngeyel jika kamu di tolong mereka. Terutama Zello." Sheza lalu berbalik ke arah Raka dan mengangguk sekilas. Aruna bingung kenapa Sheza tak lagi menyerangnya. Ternyata dari arah pintu masuk datang seorang laki laki lagi yang perawakannya mirip dengan Zello. "Aruna, sebenarnya aku nggak mau kayak gini. Tapi kamu usik seseorang yang emang seharusnya nggak kamu usik." Raka menunjuk laki laki itu, lalu dia berhadapan dengan Aruna. "Ingat dia? Laki laki yang sebenarn
Zello benar benar melindungi Sheza dalam hal apapun. Terlebih saat Zello tahu jika Aruna berniat mempermalukan Sheza dengan pakaian yang tak layak. "Zello, ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya memberinya gaun seperti itu karena cocok dengan image nya." Zello menatap tajam kepada Aruna. Bisa bisanya merendahkan istrinya sampai seperti itu. "Jadi kamu berpikir jika istri yang selalu aku manjakan dengan semua barang mewah bahkan tak pernah ada cacatnya layak mendapatkan pakaian yang tak pantas di pakai? Kamu berniat membuat Sheza malu?" bentak Zello keras. Aruna sampai berjingkat karena kaget dengan nada keras dari Zello. Aruna pucat pasi, pasalnya Aruna tak menyangka jika Zello akan semarah ini. Aruna berpikir jika Zello tak pernah mencintai Sheza dan hanya menjadikannya pelarian dan pengganti. "Ze-zello bukan seperti itu." cicit Aruna takut. "Lalu seperti apa?" Kali ini bukan Zello yang bicara, melainkan Sheza. Sejak tadi dia membiarkan Zello bicara ka
Sheza masih berada di ruang ganti bersama asisten managernya. "Wah, nggak nyangka banget kalau baju jelek tadi bisa jadi cantik dan indah begini." "Nggak ada yang jelek, jika memang seorang designer, dia nggak akan bikin pakaian yang akan merusak citra dan pelanggannya." tegur Sheza pada asisten managernya. Asistennya mengangguk sembari meminta maaf, dia tahu jika Sheza bukan orang yang sembarangan menghina orang lain dan karyanya. Setelah semua selesai, Sheza keluar dari ruang ganti. Ternyata saat ingin masuk ke dalam ruang pemotretan dia melihat Zello ada disana bersama Aruna sang designer yang memberikannya baju tak layak untuk pengambilan gambar. Sheza dan asistennya langsung berhenti, memilih mendengar apa percakapan Aruna juga Zello di dalam sana. "Nona nggak mau kesana? Seperti nya designer baru itu ingin mendekati tuan Zello." Asisten manager itu melihat tak suka pada Aruna. Sementara Sheza hanya diam memperhatikan dari tempatnya. Dia tersenyum samar ket







