Se connecterSekertaris Zello sudah menunggu di depan ruangan Zello.
Dia tersenyum saat Zello tiba disana. Zello berhenti di depan sekertaris nya lalu melihat sekertaris nya dari atas sampai bawah. "Kamu mau kerja apa mau jual diri?" "A-apa maksud tuan?" tanya Sekretaris itu tergagap. "Raka, siapa yang kasih ijin ada sekertaris perempuan di tempatku?" Raka yang sebenarnya juga baru tahu jika ada sekertaris perempuan disana tak langsung menjawab. Perempuan yang baru saja di tunjuk jadi sekertaris itu merasa jika Zello terlalu berlebihan. "Tuan muda, aku disini di tunjuk langsung oleh tuan besar sebagai sekertaris tuan muda. Jika tuan muda tak terima, tuan muda bisa langsung protes kepada tuan besar." Raka menahan napas nya saat mendapati jika perempuan itu malah menantang Zello dengan beraninya. "Jadi kakek menyuruhmu sebagai sekertaris ku? Kenapa kamu tak jadi sekertaris dia aja di rumah nya, mungkin juga jadi teman di ranjangnya??" Mata Zello menatap nyalang pada wanita di depannya yang membuat matanya sakit. Dia ingin sekali mencongkel kedua mata itu lalu memberikan pada peliharaan nya di rumah. Sedangkan wanita itu menggeram marah karena Zello benar benar menghinanya terang terangan. Zello sendiri tak pernah akur dengan sang kakek karena terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya apalagi pekerjaannya. "Tuan muda jangan keterlaluan!" teriak wanita itu. Saat ini apa yang terjadi pada Zello menjadi tontonan karyawan Zello. Mereka menyayangkan wanita itu yang dengan berani menantang Zello hanya karena mendapat dukungan dari Tuan besar. Zello yang sejak berangkat tadi sudah dalam kondisi mood yang tak baik semakin murka. Dia tiba tiba mengeluarkan senjata apinya dan mengarahkannya pada wanita itu. Wajah wanita itu pucat pasi, tubuhnya gemetar tak karuan. Tapi dia juga ingat tujuannya ada di perusahaan Zello untuk apa. "Kamu ingin menembakku tuan muda? Aku akan langsung melaporkan nya pada tuan besar!" Dor.... " Argh...." Belum sempat wanita itu membuka suara lagi, Zello sudah menembak bahu wanita itu di depan banyak orang. Siapa yang tak kenal dengan Zello. Laki laki yang terkenal dengan kekejamannya. Terlebih jika ada yang menantangnya dan juga melawannya. "Raka, bereskan dia. Kirim mayatnya ke rumah utama!" Raka mengangguk, selama ini dia tahu jika Zello tak pernah akur dengan kakeknya. Tapi Raka juga tahu kakek yang selama ini berusaha kejam pada Zello juga bukan kakek kandungnya. Raka segera membawa perempuan itu pergi dari sana. Darah segar terus keluar dari baju wanita itu. Tubuhnya pucat, dan dia tak berani lagi untuk menyinggung Zello. Para karyawan yang melihat Zello masuk ke ruangannya segera membubarkan diri atau mereka akan menjadi sasaran selanjutnya. Zello yang sejak tadi kesal dengan Sheza sudah menyuruh Raka untuk mencari tahu semua yang terjadi. Luka memar di pipi Sheza adalah ulah papanya Sheza. "Jadi dia ingin memanfaatkan ku untuk melawan keluarganya? Menarik sekali!" gumam Zello. Zello membuka ponselnya, mencari aplikasi yang menyambungkan dengan CCTV di rumahnya. Dia ingin melihat apa yang di lakukan Sheza saat ini. Mencari keberadaan Sheza dan ternyata Sheza sedang berada di taman belakang rumahnya. Alis Zello tertaut, penasaran dengan apa yang akan Sheza lakukan disana. "Dia mau ngapain?" # Sheza saat ini sedang melihat taman belakang yang tak terurus itu. Rasanya tangannya sangat gatal ingin mengurus beberapa bunga yang mulai layu. "Sayang sekali, punya taman tapi nggak di rawat." Dumel Sheza kesal. Dia lalu melepaskan cardigan yang sejak tadi dipakainya. Menyisakan tangtop dan dan juga hotpants pendeknya. Mata Zello yang sejak tadi mengamati Sheza dari ponselnya melotot. Dia lalu mengendurkan dasinya karena tiba tiba merasa panas di sekujur tubuhnya. "Sialan, apa dia sengaja melakukan ini padaku? Kenapa dia mudah banget lepas baju tanpa memperhatikan sekitarnya!" Zello segera menutup ponselnya dan mengambil air putih yang ada disana. Dia berusaha mengontrol dirinya karena ulah Sheza tadi. Sheza yang memang tak tahu menahu jika banyak CCTV di rumah itu dengan santainya melakukan apapun yang dia inginkan. Karena dalam pikirannya Zello tak akan pulang kesana. Setelah hampir beberapa jam membersihkan taman itu sendiri akhirnya Sheza bisa merasa puas. "Kalau gini kan lebih indah, besok tinggal beli bunga yang baru." Setelahnya Sheza masuk kembali ke dalam rumah untuk membersihkan dirinya. Tapi saat dia masuk ke dalam dia di kejutkan dengan keberadaan Zello yang ada disana. "Kamu?" tunjuk Sheza kaget. Zello berjalan santai ke arah Sheza yang belum sadar dengan apa yang dia kenakan. Zello sudah berdiri di dekat Sheza dan menarik pinggang ramping gadis itu. "Kenapa keluyuran di rumah nggak pake baju?" tanya Zello dengan suara seraknya. Sheza yang masih kaget mencerna perkataan Zello. Lalu dia menunduk ke bawah melihat ke tubuhnya sendiri dan barulah dia sadar jika dia hanya mengenakan tangtop dan juga hotpants yang pendek. Sheza mendorong keras dada Zello lalu dia berlaro masuk ke dalam kamarnya. Zello yang melihat itu berdecih. Sedangkan Sheza menutup kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Napasnya memburu, dia menutup wajahnya karena malu. "Kenapa dia tiba tiba pulang? Astaga Sheza, ceroboh banget!" rutuk Sheza dalam hati. Sheza memukul kepalanya pelan karena sudah ceroboh. Harusnya Sheza ingat jika itu adalah rumah Zello, bukan apartemennya yang bisa melakukan apa saja. "Ah, malu banget. Ngapain dia pulang ih.... ngeselin banget!" # Di lantai bawah, Zello sedang menelfon Raka menanyakan hasil dari tugas Raka yang di berikannya tadi. "Katakan!" "Tuan besar menyiapkan perjodohan tuan muda dengan kenalannya. Dan mereka mengatur acara pertunangan itu saat ulang tahun tuan besar beberapa hari lagi!" Zello terdiam mendengar itu, tangan yang sedang memegang sebuah gelas anggur itu mencengkeram erat. Tanpa sadar gelas itu hancur di tangan Zello. Darah segar bercampur anggur mengenai tangan Zello. Sheza yang sudah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian turun ke lantai bawah untuk mencari makanan. Tapi lagi lagi matanya melotot saat melihat tangan Zello penuh darah. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa tangan mu berdarah seperti ini?" Sheza menarik tangan Zello yang juga terkejut karena apa yang baru di lakukan Sheza kepadanya. Sheza panik, dia mengambil kotak obat dan membersihkan tangan Zello secara hati hati. "Apa kamu bodoh, kenapa kamu malah melukai tangan mu sendiri." omel Sheza tanpa sadar. Zello yang melihat itu semakin gemas, dia meraih dagu Sheza dan kembali melumat bibir gadis yang sejak tadi mengomelinya. "Apa yang kamu lakukan, dasar mesum!" "Menikah dengan ku!" to be continuedGita dan Meliya benar benar langsung di skak matt oleh Raka. Tak lama Sheza keluar bersama Cila karena Cila memaksa untuk bertemu dengan mereka. "Bisa tidak, kalian tak buat keributan disini? Kurang semua yang kalian nikmati sampai kalian mengemis disini?" Gita dan Meliya sontak langsung menoleh ketika mendengar suara Cila. Meliya tentu saja geram dengan Cila karena merasa semua perkataan Cila menghina dirinya. "Cila jangan kurang ajar, kamu nggak lupa kan selama ini mama ku yang urus kamu? Kalau nggak ada mama kamu juga nggak bakal bisa hidup sampai sekarang!" "Dan kalau nggak ada aku, kalian juga gag bisa menikmati semua kemewahan itu. Meliya, aku nggak pernah lupa bagaimana kalian memukul ku dan juga menjadikan aku pembantu di rumahku sendiri. Aku nggak lupa kalau kalian bikin nenek ku meninggal karena kalian mengadu pada nenek jika aku hamil anaknya James. Aku nggak pernah lupa semua itu. Dan sekarang kalian nggak tahu malunya datang kemari minta sesuatu yang nggak ma
Jumpa pers itu berlangsung aman dan semua memberi komentar yang baik. Hanya beberapa saja yang komentar nya sedikit tak menyenangkan. Terlebih karena sebelumnya Raka dan Cila tak terlihat pacaran tapi tiba tiba mereka menikah. "Ribet sekali karena selalu ada orang orang yang selalu berpikiran buruk tentang apa yang kita lakukan." Sheza mengeluh kesal karena banyak orang yang mempermasalahkan tentang apa yang mereka lakukan. Kenapa hal sepele saja di pertanyakan oleh mereka. Zello yang berada di sampingnya mengusap kepala Sheza lembut. "Biarkan saja jangan dipikirkan." Sheza mengambil napas panjang lalu menyandarkan kepalanya di dada Zello. Saat ini mereka sedang berkumpul dengan orang tua Raka di kediaman Farhan. Mereka akan mengadakan pesta kecil kecilan di mansion Farhan karena baik Raka dan Cila tak ingin pergi kemana mana mengingat keluarga Cila masih mencari keberadaan Cila. "Aku pikir mereka akan datang kemari mencari Cila." Zello melirik Sheza yang masi
Raka benar benar menyembunyikan Cila dari keluarganya sampai kedua orang tuanya datang kesana untuk menikahkan Raka dan juga Cila. Keluarga Sentanu sudah menyelediki semuanya dan Cila bisa menikah tanpa di hadiri keluarganya. "Nggak sabar banget lihat mereka menikah, lagian aku ngrasa aneh kenapa Raka lama sekali menyembunyikan Cila disana. Jangan jangan udah ini mereka." bisik Sheza pada Zello. Zello menggelengkan kepalanya pelan, dia meraih pundak Sheza untuk di pelukannya. Selama seminggu ini mereka sibuk menyiapkan pernikahan Raka juga Cila. Mengatur semua keamanan agar kedua orang tua angkat Cila tak sampai tahu. Dibantu dengan pengacara kepercayaan mendiang orang tua Cila akhirnya pernikahan itu terlaksana. Dan dengan pernikahan sah itu, semua harta peninggalan kedua orang tua Cila serta kakek dan neneknya semua sah jatuh ke tangan Cila di hadapan pengacara dan notaris. Raka menggunakan kekuasaan keluarga Sentanu untuk mempermudah semuanya. Meskipun awalnya pen
Setelah apa yang mereka lewati bersama, Raka melihat Cila yang sedang terlelap di dalam pelukannya. Dia menghubungi seseorang untuk menyiapkan pernikahannya dengan Cila. Zello juga sudah mengabari jika ayah dan ibunya juga sudah setuju. "Zello, bagaimana keluarga itu?" Raka menanyakan semua pada Zello karena saat ini gantian Zello yang membantu Raka untuk mengurus masalah keluarga Cila. "Mereka mengambil alih perusahaan yang harus nya milik Cila. Memaksa Cila menikah dengan laki laki itu agar warisannya tetap bisa di kendalikan. Dan satu lagi yang harus kamu tahu, laki laki itu sudah mempunyai anak dan istri. Tapi mereka ada diluar negeri." Mata Raka sempat membola, lalu penasaran dengan apa yang Zello temukan setelahnya. "Jadi Meliya dan kedua orang tuanya juga di bohongi?" tanya Raka lagi. "Ya, tepat sekali. Uang yang diberikan pada James kemudian lari ke tangan istri dan anak James. Dan mereka bahkan sama sama tahu dengan apa yang dilakukan James dengan Meliya." Zello
Cila yang sudah bosan di balkon masuk ke dalam berbarengan dengan Raka yang juga ingin menghampiri nya. Tabrakan tak bisa di hindari. Duk...... "Eh ..... aw ....." Cila terkejut dan hampir terjengkang ke belakang jika Raka tak langsung menahan pinggang Cila . Pandangan mereka bertemu, Raka terpaku pada wajah mungil Cila yang sialnya membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari pada sebelumnya. Raka meneguk ludahnya kasar, pasalnya matanya tak sengaja melihat sesuatu yang membuat suhu tubuhnya meningkat. "Astaga, aku baru sadar kalau Cila memakai pakaian seperti ini!" batin Raka. "Ra-raka, bisa lepaskan aku?" tanya Cila gugup Jantungnya berdetak lebih cepat saat ini. Raka yang tersadar langsung melepaskan Cila yang sedang berada dalam pelukannya. Sialnya saat Cila ingin menjauh rambutnya tersangkut di kancing kemeja Raka. "Aw ....." Cila akhirnya mendekat kembali ke arah Raka. Di mencoba menarik rambutnya paksa tapi ternyata dia malah semakin kesakitan. "Diam C
Cila duduk termenung di balkon apartemen Raka. Hari ini Raka mengatakan jika dia ada urusan dengan Zello di kantor. Cila dilarang keras keluar dari apartemen Raka apapun yang terjadi. Dan benar saja, ponselnya terus berbunyi dan yang menerornya adalah Meliya. Semua sumpah serapah dan makian keluar dari mulut Meliya. Cila yang sudah tak kuat memilih mematikan ponselnya dan meletakkan begitu saja ponsel itu. Meskipun Raka meninggalkan Cila sendirian di apartemen dia memantau semua yang Cila lakukan dari ponselnya yang terhubung dengan CCTV apartemennya. "Ayah dan ibumu sudah setuju tinggal kau bereskan masalah Yulia. Jangan sampai Sheza tahu jika kau masih bermasalah dengan wanita lain!" "Sepertinya telat, aku sudah mendengar semuanya." Dua orang itu langsung menoleh ketika mendengar suara seseorang dan itu adalah Sheza. Raka meneguk ludahnya kasar ketika Sheza menatap nya tajam. "Siapa Yulia, jika kamu nggak mau jujur sama aku, jangan harap aku restui kamu menikahi Cila
Moza dan Farhan tiba di rumah sakit dimana Sheza juga Zello di rawat. Mereka berbagi tugas untuk menjaga anak dan menantunya. Operasi Zello berjalan lancar tapi Zello belum melewati masa kritisnya. Dia masih di tempatkan di ruangan ICU. Moza yang baru saja masuk ke ruangan Sheza tertegun saat
Sheza dan Zello sedang dalam perjalanan ke tempat tujuan mereka. Kincir angin yang ingin Sheza lihat saat ini. Di negara itu juga Sheza ingin tahu beberapa macam rasa keju yang terkenal. "Zello, apa nanti kamu bisa membantu ku memeras susu?" Uhuk.... Zello tersedak minuman kaleng yang dia
Dan benar saja, hari pertama Sheza di negara kincir angin itu, dia tak di ijinkan keluar kamar sama sekali oleh Zello. Semua kebutuhan untuk makan dan yang lain, di urus oleh Zello yang akan langsung di bawa ke kamar mereka. Dan siang ini Sheza terbangun dengan pinggang yang kaku karena ulah Zel
Perkataan Sheza barusan sedikit mengganggu Zello. Dia masih melihat wajah Sheza yang teduh setiap bersamanya. Rasanya ada yang tak nyaman saat ini. Dari pada sebelumnya, Zello melihat jika Sheza lebih banyak diam. "Sayang, masih ada yang kamu pikirkan?" Sheza yang sejak tadi hanya diam menggel







