Share

Bab 5

Penulis: Sangkarachan
last update Tanggal publikasi: 2025-12-23 21:13:24

Dua orang berbeda jenis ini saling berdiam diri dengan pikiran mereka masing masing. Terlebih Sheza yang tak tahu harus mengatakan apa. Benar dia ingin menggunakan Zello sebagai pisau untuk membalas orang orang yang menyakitinya. Tapi ini begitu cepat, dan Sheza tak bisa berpikir normal.

"Sheza, aku tahu kamu mendekati ku karena ingin memanfaatkan ku."

Tubuh Sheza membeku karena rencananya bisa ketahui oleh Zello dengan mudah.

Zello, hanya sebagian orang yang tahu siapa dirinya yang sebenernya.

Sheza mengigit bibir dalamnya, berusaha untuk tetap tenang di depan Zello. Entah kenapa, Sheza mendadak menjadi orang yang insecure saat bersama Zello. Dan ini bukan dirinya. Sejak tadi dia gelisah dan semakin gelisah lah dia saat Zello juga tahu apa yang dia rencanakan.

Sheza memejamkan matanya sesaat, lalu dia bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Zello dengan wajah datarnya.

"Kamu mencari tahu tentangku?"

Zello melihat Sheza dengan mata elangnya. Senyum samar tercetak di wajah tampannya. Zello tahu jika Sheza sedang gugup. Tanpa Sheza bisa cegah tangan Zello sudah menarik tangannya sehingga Sheza jatuh di atas pangkuan Zello.

"Zello, apa yang kamu lakuin?"

Sheza berusaha untuk berontak, tapi ternyata tenaga Zello lebih kuat dari nya. Zello menekan pinggang Sheza agar Sheza bisa diam.

"Jika aku tak mencari tahu siapa kamu dan tujuanmu, apa aku akan membiarkan orang asing masuk ke dalam rumahku?"

Mata Sheza membola, dia melihat Zello dengan tatapan takutnya.

"Aku juga tahu jika kamu yang mencegah adik tirimu itu melakukan rencananya, bahkan mengorbankan dirimu sendiri yang masih virgin!" bisik Zello di telinga Sheza.

Sheza mengigit bibir bawahnya karena semua rencananya ketahuan. Dia meremas kedua tangannya takut jika Zello akan mengacaukan semua rencana yang sudah dia susun selama ini.

"Lalu kenapa kamu nggak hukum aku dan kasih aku tinggal di rumah mu?"

Zello menelisik wajah Sheza dengan seksama, dia enggan menjawabnya.

Melihat kediaman Zello membuat Sheza berpikir dengan cepat. Tangan Sheza terangkat dan menyentuh pipi Zello. Mengusap rahang Zello pelan. Zello tak menyangka jika Sheza akan seberani itu kepadanya. Tapi Zello membiarkan apa yang dilakukan Sheza kepadanya. Dia juga ingin tahu sejauh mana Sheza berani kepadanya.

"Aku tak berniat memanfaatkan mu awalnya, tapi ternyata takdir mendorong ku untuk bersamamu. Karena aku tahu, adik tiriku tersayang itu tergila gila padamu!"

Sheza mengatakan semua itu dengan pelan, sambil jari jarinya menelusuri wajah dan dada bidang Zello.

"Sial, dia memancing sesuatu yang seharusnya tak dia lakukan!" umpat Zello dalam hati.

Sheza melihat jakun Zello naik turun dan dia tahu jika Zello sedang menahan diri untuk tak menyerangnya saat ini.

Sheza yang melihat wajah Zello mulai merah tersenyum penuh kemenangan.

Tapi saat tangan Sheza ingin merambat ke arah lain, Zello langsung mencegahnya.

"Jangan macam macam, atau aku pastikan kamu nggak akan bisa jalan besok pagi!"

Sheza meneguk ludahnya kasar, dia melihat wajah Zello yang kembali berubah menjadi serius. Dia tak nyaman duduk di pangkuan Zello, tapi saat Sheza ingin turun kembali Zello menahannya.

"Disini atau nggak sama sekali!"

Sheza mengangguk patuh, dia tak bisa main main dengan Zello atau dia tak akan bisa berjalan keesokan harinya.

"Menikah dengan ku, dan kamu bisa gunakan aku untuk membalas mereka semua sesuai keinginan mu."

Mata Sheza mengamati raut wajah Zello saat ini. Dia mencari kebohongan dari mata Zello tapi tak ada kebohongan sama sekali.

"Tapi kita nggak saling cinta, nggak perlu menikah kalau hanya ingin menjadi partner." sanggah Sheza.

Zello tersenyum tipis, lalu dia menarik dagu Sheza dan mengikis jarak mereka lagi. Mata Sheza membeliak saat wajah mereka semakin dekat.

"Jika kita tak punya status yang jelas, kalau salah satu dari kita kenapa napa kita tak akan punya kuasa untuk bertindak lebih jauh!"

Deru napas Zello menerpa wajah Sheza, bau mint khas Zello yang dari awal selalu Sheza ingat membuat Sheza diam tak berkutik. Dan sialnya pikirannya kembali ke malam panas yang mereka lewati. Telinga Sheza kembali memerah dan Zello yang melihat itu tak tahan lagi untuk menjahili Sheza.

Cup....

Mata Sheza melotot saat Zello tiba tiba mencium telinganya.

"Zello, kenapa kamu mesum sekali?"

Zello terkekeh, dia menarik pinggang Sheza agar kembali lebih dekat dengan nya.

"Kamu yang mulai, kamu yang menggodaku. Lantas kenapa, aku nggak bisa melakukan hal yang sama kepadamu?"

Sheza menggigit bibir bawahnya, dia kalah jika dia berdebat dengan Zello. Ternyata di balik sikap dingin dan datar Zello dia seorang laki laki yang cerewet.

"Baiklah, aku mau menikah dengan mu. Tapi aku nggak mau satu kamar."

Zello berdecih, Sheza terlalu pintar untuk dia bodohi ternyata.

Tapi otak Sheza teringat sesuatu yang sempat dia dengar.

"Tunggu, bukannya kamu udah di jodohin? Kenapa malah mengajakku menikah? Apa wanita itu tak bisa memuaskan mu?" cerocos Sheza tanpa filter.

Zello terperangah, baru kali ini Sheza benar benar menunjukkan sifatnya yang asli. Di depannya yang tanpa topeng apapun.

Zello tertawa renyah, dan saat melihat Zello tertawa seperti itu Sheza tertegun. Zello tampan jika dia seperti ini. Tapi saat Zello berhenti tertawa, Sheza buru buru untuk melihat ke arah lain.

"Kamu benar, dia tak bisa memuaskan ku karena cuma kamu yang bisa memuaskan ku saat ini!" bisik Zello di dekat telinga Sheza.

Sheza menggigit bibir bawahnya menahan geli karena ulah Zello saat ini.

Sheza yang tak tahan dengan apa yang di lakukan Zello segera bangkit berdiri.

"Aku mau makan, minggir dulu!"

Zello melepaskan Sheza yang sudah kabur ke dapur untuk mencari makanan.

"Kucing liar ini, semakin di perhatikan semakin menarik!"

#

Di kediaman utama, Pedro mengamuk. Dia memaki semua orang yang ada disana. Terutama orang tua Zello.

"Lihat kelakuan anak kalian, dia bahkan membunuh sekretaris yang sudah aku siapkan untuk membantunya bekerja. Dan malah mengirim mayatnya kemari. Apa dia gila hah?"

Farhan yang sejak tadi mendengar kan pun menanggapinya dengan santai.

"Jangan terlalu mengatur putraku ayah, semakin dia di atur semakin dia memberontak. Dan lagi, ayah tak perlu repot repot menyiapkan sekertaris wanita untuknya. Karena Zello sudah punya Raka yang selalu berada di sampingnya!"

Setelah mengatakan itu Pedro mengajak Moza untuk pulang ke rumahnya. Membiarkan Pedro yang menahan marahnya saat ini.

"Farhan, kamu lupa siapa aku?"

Langkah Farhan terhenti, tanpa berbalik dia menjawabnya dengan tenang

"Ayah, hanya ayah tiriku!"

to be continued

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 56

    Sheza yang mendengar perkataan Aruna terkekeh, bisa bisanya Aruna semakin tak tahu malu seperti itu. "Zello, sepertinya dia mulai gila." ujar Sheza santai. Aruna yang mendengar Sheza mengatakan jika dia gila kembali marah. Dia maju ke depan Sheza ingin meraih gaun milik Sheza, tapi tangan Zello lebih dahulu menahan nya lalu mencengkeram nya erat. Setelah itu, Zello menghempaskan tangan Aruna sampai Aruna terjengkang ke belakang "Argh...... Aw....." Aruna berteriak kesakitan tapi Zello tak peduli. Zello beralih pada Sheza, memeriksa tubuh Sheza takut jika ada yang terluka dari istrinya itu. Zello memutar tubuh Sheza berkali kali yang membuat kepala Sheza berputar. "Zello, stop!" "Aku pusing!" Zello yang tersadar langsung berhenti. Dia mencium seluruh wajah Sheza di depan banyak orang. Tak peduli jika mereka semua melihat. Sedangkan Raka menepuk pelan keningnya karena ulah Zello. "Sayang, maaf. Tadi aku panik, takut dia nyakitin kamu." ucap Zello penuh sesal..

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 55

    "Kenapa diam? Kamu nggak bisa jawab?" Aruna gelagapan, dia tak menyangka jika Sheza akan mengatakan hal seperti itu. "Kalau kamu yang nolong aku, tentu saja kamu akan jadi saudara ku!" jawab Aruna yakin. Tapi terlihat sekali jika bola matanya bergerak liar, Sheza tahu jika Aruna mulai gelisah dan tak tenang. "Dia pikir dia siapa mau mempermalukan ku?" batin Sheza. "Jadi kamu masih kekeuh dengan pemikiran konyolmu itu? Ingin sekali aku tertawa. Terlebih Zello dan Raka nggak kenal sama kamu tapi kamu masih ngeyel jika kamu di tolong mereka. Terutama Zello." Sheza lalu berbalik ke arah Raka dan mengangguk sekilas. Aruna bingung kenapa Sheza tak lagi menyerangnya. Ternyata dari arah pintu masuk datang seorang laki laki lagi yang perawakannya mirip dengan Zello. "Aruna, sebenarnya aku nggak mau kayak gini. Tapi kamu usik seseorang yang emang seharusnya nggak kamu usik." Raka menunjuk laki laki itu, lalu dia berhadapan dengan Aruna. "Ingat dia? Laki laki yang sebenarn

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 54

    Zello benar benar melindungi Sheza dalam hal apapun. Terlebih saat Zello tahu jika Aruna berniat mempermalukan Sheza dengan pakaian yang tak layak. "Zello, ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya memberinya gaun seperti itu karena cocok dengan image nya." Zello menatap tajam kepada Aruna. Bisa bisanya merendahkan istrinya sampai seperti itu. "Jadi kamu berpikir jika istri yang selalu aku manjakan dengan semua barang mewah bahkan tak pernah ada cacatnya layak mendapatkan pakaian yang tak pantas di pakai? Kamu berniat membuat Sheza malu?" bentak Zello keras. Aruna sampai berjingkat karena kaget dengan nada keras dari Zello. Aruna pucat pasi, pasalnya Aruna tak menyangka jika Zello akan semarah ini. Aruna berpikir jika Zello tak pernah mencintai Sheza dan hanya menjadikannya pelarian dan pengganti. "Ze-zello bukan seperti itu." cicit Aruna takut. "Lalu seperti apa?" Kali ini bukan Zello yang bicara, melainkan Sheza. Sejak tadi dia membiarkan Zello bicara ka

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 53

    Sheza masih berada di ruang ganti bersama asisten managernya. "Wah, nggak nyangka banget kalau baju jelek tadi bisa jadi cantik dan indah begini." "Nggak ada yang jelek, jika memang seorang designer, dia nggak akan bikin pakaian yang akan merusak citra dan pelanggannya." tegur Sheza pada asisten managernya. Asistennya mengangguk sembari meminta maaf, dia tahu jika Sheza bukan orang yang sembarangan menghina orang lain dan karyanya. Setelah semua selesai, Sheza keluar dari ruang ganti. Ternyata saat ingin masuk ke dalam ruang pemotretan dia melihat Zello ada disana bersama Aruna sang designer yang memberikannya baju tak layak untuk pengambilan gambar. Sheza dan asistennya langsung berhenti, memilih mendengar apa percakapan Aruna juga Zello di dalam sana. "Nona nggak mau kesana? Seperti nya designer baru itu ingin mendekati tuan Zello." Asisten manager itu melihat tak suka pada Aruna. Sementara Sheza hanya diam memperhatikan dari tempatnya. Dia tersenyum samar ket

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 52

    Waktu berlalu setelah semua kejadian buruk menimpa Sheza dan Zello. Mereka semakin lengket dan semakin bahagia meskipun mereka kehilangan anak yang masih belum di ketahui jenis kelaminnya. Zello dan keluarganya berhasil meyakinkan Sheza jika perjalanannya masih panjang. Moza tak pernah menyalahkan Sheza dan menuntut Sheza untuk segera hamil anak Zello. Saat ini Sheza tengah menunggu gilirannya untuk pemotretan brand fashion baru dimana designer nya dari awal tak pernah senang dengan keberadaannya. Moza sudah memberi pesan jika ada masalah di perusahaan Sheza harus segera memberitahu. Tapi Sheza masih bisa mengatasinya. Jangan lupakan anak buah Zello yang selalu siaga di dekatnya. Meskipun tak terlihat tapi Sheza tahu jika mereka ada di dekat Sheza. Para kru perusahaan juga mengenal Sheza sebagai menantu kesayangan Moza. Meskipun tanpa Moza sekalipun Sheza tetap bisa terkenal dengan kemampuannya. "Sheza, ini pakaian mu yang akan di kenakan untuk pemotretan." Sheza mengerutka

  • RAYUAN PANAS MODEL ANTAGONIS   Bab 51

    Berita penangkapan Salsa dan Nana tersebar luas di media sosial. Sheza melihatnya di ruangannya. Sejak dia siuman, Sheza hanya diam saja meskipun Zello mengajaknya bicara. Moza juga baru saja kesana untuk mengantar beberapa makanan yang diminta oleh Zello. "Sayang ... kamu mau makan lagi?" Sheza hanya menjawab dengan gelengan kepala. Dia tak bernafsu untuk sekedar makan. Jika bukan karena Moza yang menyuapinya langsung mungkin sampai sekarang Sheza tak akan menyentuh makanan sama sekali. Zello menghela napasnya panjang, dia tak ingin memaksa Sheza untuk sekarang. Beruntung Moza tadi kesana dan itu sedikit membantu. Sheza meraba perutnya yang datar. Zello yang melihat itu ikut merasakan sakit. Mereka bahkan tak tahu jika disana sudah ada malaikat kecil mereka. Tanpa sadar air mata Sheza kembali menetes. "Zello, aku bodoh sekali. Aku tak bisa menjaganya." Zello merengkuh tubuh Sheza yang terlihat kurus saat ini. Dia mengusap punggung Sheza. Tak hanya Sheza yang merasakan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status