LOGINRaka benar benar membawa Cila makan di tempat yang dia mau. Bukan di sebuah restoran, tapi Raka membawa Cila pulang ke apartemen miliknya dengan membawa beberapa makanan yang sengaja di pesan Raka sebelum pulang ke apartemen. Cila mengaduk aduk makanannya karena kesal dengan Raka. Bisa bisanya dia membawa Cila pulang ke apartemennya tapi bukan pulang ke tempatnya. Disaat mereka sedang menikmati makanannya, ponsel Cila berdering. Cila melihat siapa yang menelfon nya tapi Cila enggan menerima nya. "Kenapa nggak di angkat?" Wajah Cila semakin berubah masam. Ponselnya terus berdering sampai Raka sendiri berubah menjadi kesal. Raka meraih ponsel itu lalu menekan tombol jawab disana yang membuat Cila melotot ke arah Raka. "Cila, kenapa kamu nggak pulang? Mama dan papa udah kepalang malu sama calon suamimu!" Alis Raka mengerut, dia melihat Cila yang sedang menahan marah saat ini. "Aku nggak akan pulang, kalau kalian tetap menjodohkan ku dengan laki laki itu, kenapa ngg
Raka memberitahu Moza jika dia sudah selesai dengan urusannya dengan Vika yang lainnya. Raka memang sengaja tak langsung pulang karena dia akan langsung bosan ketika melihat kemesraan Zello juga Sheza disana. Raka berjalan sendirian di pusat kota. Lalu tak sengaja dia melihat seorang wanita sedang menghajar laki laki yang bersama wanita lainnya. "Drama nya nggak melulu dari Zello dan Sheza ternyata." Raka ingin melanjutkan langkahnya tapi detik berikutnya dia melesat cepat ke arah wanita yang sedang bertengkar itu. Bugh..... Raka menendang laki laki itu yang ingin melukai sang gadis. Suara teriakan terdengar disana, beberapa petugas keamanan ini mengamankan Raka. Tapi langkah mereka langsung berhenti ketika tahu jika itu adalah Raka. "Tuan muda," sapa salah satu dari mereka. Raka yang baru saja menendang laki laki tadi menatap marah pada petugas keamanan itu. "Apa yang kalian sejak tadi? Melihat orang berkelahi sampai ada yang celaka?" Raka terdengar marah, dua pet
Moza bertepuk tangan seperti anak kecil yang baru saja mendapat cokelat. "Kamu baru tahu takut sekarang, lantas sebelum ini kenapa kamu nggak takut sama sekali?" Kali ini Moza mengambil alih semuanya. Dia kembali menjadi Moza yang menakutkan untuk semua orang. Siapa yang tak kenal dengan putri tunggal Alfonso yang saat ini menjadi menantu tertua satu satunya keluarga Sentanu. Bahkan Moza juga sempat membuat Pedro tak berani berkutik ketika dia mengusik Zello. "Tidak tante, maafkan aku!" Vika terus meminta maaf tapi Moza sudah tak bisa menerima itu. Dia hanya ingin anak dan menantunya hidup damai tanpa ada yang mengganggu mereka lagi. "Siapa yang kamu panggil Tante? Aku tak punya hubungan keluarga dengan mu!" Vika merasa jika Moza kelewatan hanya karena dia salah menyebut. Dia lalu menatap tajam ke arah Moza. "Nyonya, jangan karena nyonya orang kaya dan jadi menantu keluarga Sentanu, nyonya Moza jadi seenaknya sendiri. Aku sudah minta maaf untuk yang tadi. Tapi n
Zello dan Sheza terpaksa mengungsi ke rumah yang lain. Saat mereka tiba di rumah ternyata orang tua Zello sudah ada disana. "Kalian tak apa apa?" Moza menghampiri anak dan menantunya. Dia juga memeriksa keadaan Sheza yang baru pulang bekerja. "Astaga, mereka benar benar tak membuatkan mu hidup tenang. Rasanya ingin mama lempar ke laut sana. Kesal mama!" Sheza yang mendengar mertuanya mengomel terkikik geli. Moza menoleh ke arah Sheza dan mencubit gemas pipi menantunya itu. "Kenapa malah tertawa, harusnya kamu marah sama mereka." Sheza menggeleng, dia memeluk Moza dari samping. "Ma, jangan marah marah. Nanti keriputnya tambah kelihatan. Tenang aja, mereka nggak akan bisa ngapa ngapain cuma karena nyebarin rumor kayak gini." Zello melihat Sheza curiga, dia merasa jika istrinya itu tahu sesuatu. "Kamu tahu siapa yang bikin berita ini sayang?" Sheza mengangguk, dia mengambil ponselnya lalu memutar sebuah video yang ada di dalam ponselnya. Zello menerima
Sheza mengerjap mendengar perkataan terakhir dari Zello. "Meng-menghadapi kejamnya dunia? Apa maksud nya itu?" tanya Sheza tak mengerti. "Sudah, makan dulu sayang. Keburu dingin nanti." Sheza mengangguk, dia menikmati makanannya dengan tenang tanpa tahu diluar ruangan mereka sedang terjadi kehebohan. Berita tentang Aruna menjadi trending topik saat ini. Mereka semua membicarakan Aruna seorang designer terkenal bisa melajukan hal memalukan seperti itu. Bahkan keluarganya pun langsung melakukan klarifikasi yang membuat Aruna semakin terpojok. Sheza yang sedang menikmati makannya pun menoleh ke arah Zello yang sedang melihat ponselnya. Dia penasaran dengan apa yang Zello lihat. "Ada apa?" tanya Sheza. Zello memberikan ponselnya yang berisi pesan dari Raka.. "Orang tua perempuan itu memberitahu kepada wartawan jika dia sudah lama tak tinggal bersama mereka. Dan tak mengijinkan siapapun menyangkut pautkan dengan keluarga besarnya." Sheza sempat tertegun mendenga
Sheza melihat Zello yang sudah menunggunya di parkiran depan. Bukan sekedar menunggu di dalam mobil. Tapi Zello menunggu Sheza dengan bersandar di pintu mobil. Zello mengulurkan tangannya ketika Sheza sudah berada di dekatnya. "Capek?" Sheza mengangguk, tapi senyum bahagia tak luntur dari wajah cantiknya. "Kamu ingin kemana setelah ini?" Zello bertanya sambil memasangkan sabuk pengaman kepasa Sheza. "Makan malam romantis bersamamu. Rasanya lama sekali kita nggak jalan jalan berdua." Zello menarik tengkuk Sheza lalu melumat sekilas bibir Sheza. Sheza menerima nya dengan senang hati. Mereka berciuman hanya sebentar karena ternyata terdengar bunyi perut Sheza yang keroncong. Sheza masuk ke dalam pelukan Zello karena dia malu. Wajahnya menjadi merah karena bisa bisanya perutnya berbunyi sangat keras. "Hahaha, sayang. Sepertinya cacing di perutmu sangat kelaparan." Zello semakin menggoda Sheza saat ini. Rasanya semakin menyenangkan ketika Sheza malu dengan wajah merah
Akhirnya identitas Raka di buka di depan Nana. Awalnya Sheza dan Raka tak ingin membuka semua itu tapi terpaksa karena mereka menuduhnya berselingkuh. Tubuh Nana ambruk ke lantai begitu juga dengan yang lainnya. Raka memang selama ini terkenal sebagai asisten Zello. Kemanapun Zello berada, sudah
Salsa yang sudah lemas karena minuman yang di berikan Sheza mulai meracau. Wajahnya sudah pucat pasi. Kali ini Raka seperti melihat Zello dalam tubuh Sheza. Semua teman teman Salsa sudah sekarat karena semua minuman yang di cekokan kepada mereka. "Raka kirim mereka kembali ke rumah mereka. Bo
Hari itu setelah Sheza mulai bangkit, dia sudah bisa makan dengan benar. Moza juga Raka tersenyum lega. Wajah Sheza yang semula pucat sudah mulai berseri kembali. Hanya saja sorot matanya tak akan bisa membohongi orang terdekatnya jika luka itu masih ada. Sheza yang sudah merasa lebih baik dari
Moza dan Farhan tiba di rumah sakit dimana Sheza juga Zello di rawat. Mereka berbagi tugas untuk menjaga anak dan menantunya. Operasi Zello berjalan lancar tapi Zello belum melewati masa kritisnya. Dia masih di tempatkan di ruangan ICU. Moza yang baru saja masuk ke ruangan Sheza tertegun saat







