Share

REINKARNASI TANPA SKILL
REINKARNASI TANPA SKILL
Author: SolSepatuDanSekitarnya

1. Dunia Baru

last update publish date: 2026-06-29 23:34:08

"Kenapa melamun, sebaiknya kau bergegas," ucap santai dari seorang gadis yang berlari sambil menepuk pundak seorang pria. Tanpa memperhatikan sekitarnya, gadis itu terus berlari untuk menyeberang jalan. Namun sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju ke arahnya.

"Sial! Gadis ceroboh itu!"

Tanpa sadar, tubuh pria yang ditepuk pundaknya oleh sang gadis bergerak menuju ke arahnya. Tanpa takut, tanpa keraguan, dan tanpa pikir panjang ia melompat ke arah gadis tersebut untuk mendorongnya agar dia terselamatkan.

*BRUGH

Gadis itu terdorong ke sisi lain jalan. Mencoba bangun dari jatuhnya. Ia melihat pria itu tergeletak di tengah jalan. Teriakan kencang keluar dari mulut sang gadis memanggil nama pria itu. Sayangnya, teriakan gadis itu tidak dapat menghentikan laju mobil yang melaju kencang ke arah pria itu.

"REIIIII!!!"

*TIIIIINNNNN!!!*

"WOAAH!!! Hah?! A-apa... itu ingatanku yang dulu? Kenapa aku memimpikan hal tersebut?" ucap lirih seorang laki-laki yang terbangun kaget karena mimpinya. Ia menyingkirkan selimutnya, mencoba berdiri dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dan langkahnya menuntunnya ke arah tempat cermin berada.

"Aku, masih hidup sekarang. Mungkin ini imbalan ku saat menyelamatkan Lea di kehidupan sebelumnya. Tapi, kenapa aku tidak memiliki Skill apapun di dunia ini?!"

*Crip crip crip~*

Suara merdu dari burung-burung yang sedang asik saling berbincang mendampingi indahnya padang rumput yang hijau. Angin sepoi-sepoi juga tak ingin ketinggalan untuk menyejukan tempat tersebut. Terdapat seorang pria yang tergeletak di sana, dengan tubuh yang tidak begitu atletis dan rambut hitam yang tidak beraturan. Tak lama, pandangan pria tersebut mulai terbuka.

"Argghh sial! Kepalaku sakit sekali!"

"Tunggu, Lea? LEA?!"

Rei terbangun dengan sangat panik. Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lea, gadis yang ia coba selamatkan sebelumnya tidak ada di sekitarnya. Rei mencoba melihat sekelilingnya, menyadari bahwa ia tidak berada dimana seharusnya ia berada.

"Aku tidak ingat aku menyelamatkannya di padang rumput seperti ini? Sebenarnya, dimana aku?"

Mencoba untuk mengetahui apa yang terjadi, Rei bangun dari duduknya dan mulai berjalan menyusuri padang rumput itu. Semakin lama berjalan, Rei melihat setapak jalan dari kejauhan. Ia pun bergegas menuju jalan tersebut. Namun di tengah perjalanannya, seekor kelinci melompat ke arahnya.

*GRAAAHHH!!!*

Dengan gigi-giginya yang tajam, kelinci tersebut terlihat seperti ingin menyerang Rei. Rei yang panik dan tidak bisa apa-apa hanya bisa terdiam berdiri di tempatnya.

"[Cryo : Ice Spear!]"

Seketika, udara dingin menyelimuti daerah sekitar Rei. Udara dingin tersebut kemudian berkumpul mengarah ke satu titik, yaitu tongkat sihir. Terdapat gadis bertopi besar yang sepertinya memegang kendali akan hal magis tersebut. Tak lama, tombak es terbentuk dan melesat kencang ke arah kelinci itu. Membuatnya tumbang dan mati dalam seketika.

"Bukankah kau terlalu ceroboh pria kecil? Mengapa kau hanya berdiam diri saja seperti itu saat kau akan diserang oleh seekor Killer Rabbit!" ucap seorang pria berbadan besar yang terlihat dari kejauhan lengkap dengan armor besi dari atas kepala hingga ujung kakinya.

"Sudahlah, bisakah kau mendekat kepada seseorang yang sedang kau ajak bicara? dasar otak otot!"

Sambil membawa tongkat sihirnya yang lebih tinggi dari dirinya, Gadis bertopi besar itu berjalan mencoba menghampiri Rei bersamaan dengan pria dengan sebutan "otak otot" yang dibicarakannya. Raut wajahnya sedikit heran ketika melihat Rei, dia sama sekali tidak mengenali model pakaian yang sedang Rei kenakan.

"Hei apakah kau baru di sini? Aku... tidak pernah melihat pakaian seperti itu sebelumnya"

Rei juga sama bingungnya. Ia tidak pernah melihat pakaian-pakaian yang kedua orang itu kenakan. Yang ia tahu, pakaian-pakaian tersebut pernah ia temui di dalam sebuah game.

"Emm... Ya? Aku memang buka— maksudku, aku memang baru disini," ucap Rei yang masih bingung namun tidak ingin menceritakan apa yang telah ia alami kepada gadis kecil tersebut. Tak lama, pria besar itu pun tiba menghampiri Rei dan penyihir kecil itu.

"Hei cebol! Kau sebaiknya tidak berteriak seperti itu! Hampir saja gendang telinga ku pecah"

Penyihir kecil itu terlihat marah, wajah lucunya seketika berubah menjadi bom yang akan siap meledak kapan pun. Suasana seketika menjadi mencekam, bahkan kehadiran Killer Rabbit yang melompat ke arah Rei secara tiba-tiba tadi tidak ada apa-apanya sekarang.

"Kau panggil aku apa tadi Russel?!"

Russel yang baru saja datang menghampiri mulai kembali berlari memutar arah sambil berteriak kepada Rei.

"Jika kau tidak ingin berakhir membeku, aku sarankan kau juga ikut lari kawan!"

Begitu banyak hal yang telah terjadi. Rei yang diam kebingungan pun akhirnya sadar lalu bergerak dan lari mengikuti Russel. Tentu tidak dengan tanpa arah, Russel berlari sambil menunjukan jalan ke arah sebuah desa di ujung jalan setapak tersebut. Tidak terlalu besar, namun desa tersebut sangat ramai oleh orang-orang.

"Aku yakin dia tidak akan secepat itu mengejar kita dengan kaki mungilnya hahaha! Oh ya! Kenalkan, namaku Russel. Aku adalah seorang Defender dengan level 13! Yaa sesegera mungkin aku akan mencapai level 20 nantinya. Hahaha!"

"Defender? level? apa yang sebenarnya ada di dunia ini?" Ucap Rei dalam hati.

"Karena kau kelihatan baru di sini, aku akan mengajakmu berkeliling. Bagaimana?" sambung Russel dengan wajahnya yang penuh percaya diri.

Russel dan Rei mulai memasuki desa, melihat lalu lalang orang-orang desa yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing. Mengurusi hewan ternak, bertani, bahkan sampai berdagang. Terlihat desa ini merupakan desa yang sangat damai dan tentram. Sampai di akhir berkeliling, mereka berdua berhenti di depan bangunan yang cukup besar.

"Dan ini adalah pemberhentian terakhir kita, Tavern. Tidak hanya digunakan untuk bersantai-santai saja, tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para petualang dari dalam maupun dari luar desa. Apa kau ingin melihat ke dalamnya?"

Rei yang sedari tadi masih penasaran dan kebingungan dengan dunia ini pun mengiyakan ajakan Russel untuk masuk ke dalam Tavern. Layaknya sedang berada di pameran kostum, Rei melihat banyak orang-orang aneh yang mengenakan atribut ataupun peralatan-peralatan yang sering ia lihat di dalam game. Tameng, pedang, belati, dan juga pakaian mereka yang sangat mencolok sekali membuat Rei semakin yakin akan suatu hal.

"Russel, boleh aku menanyakan suatu hal?" ucap Rei perlahan kepada Russel.

"Tentu kawan, mengapa tidak?"

"Apakah... ini adalah dunia game?" ujar Rei.

"Game? Maksudmu permainan? Oh! kami memang memiliki permainan di sini. Kau lihat di meja itu? Itu tempat dimana kau dapat melipat gandakan uang mu jika kau beruntung. Hahaha!" balas Russel sambil menunjuk ke arah meja judi.

Sepertinya, pertanyaan Rei salah. Atau memang Russel yang dibilang sebagai "otak otot" itu bukanlah panggilan semata? Rei menganggap bahwa Russel dan orang-orang di dunia ini adalah nyata. Bukan yang sering ia lihat dan nikmati dari sebuah game. Di tengah lamunannya Rei, Russel mencoba menanyakan sebuah pertanyaan kepadanya.

"Ngomong-ngomong, kau berada di level berapa sekarang? Bolehkah aku melihat status windows mu?"

Rei yang tidak tau apa-apa hanya bisa terdiam kebingungan. Ia tidak mengetahui apa-apa tentang hal tersebut. Karena Rei tidak memberikan respon, mereka berdua lalu berjalan mendekat ke arah meja resepsionis. Bersih dan tertata rapi, terlihat juga seorang pria tua yang sedang duduk dibalik meja itu sedang menulis beberapa catatan.

"Pak tua! aku membawa seseorang yang ingin mendaftarkan dirinya sebagai petualang. Mungkin? Apakah kau bisa membantunya?" terdengar kurang ajar, tapi begitulah Russel.

"Hohoho... Russel, sopan santunmu memang tidak pernah berubah ya. Oh? Wajah baru? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya nak. Kenalkan, nama ku Bastian. Aku adalah pemilik sekaligus pemimpin Guild desa Topia ini. Salam kenal," ucap pria tua itu sambil membereskan kertas catatannya.

Sambil Bastian mengeluarkan beberapa kertas lainnya untuk Rei, wajah Rei perlahan mengkerut. Terheran dengan isi tulisan yang ada di dalam kertas-kertas itu. Rei tidak bisa membacanya, yang bisa Rei mengerti hanya angka saja. Ia tidak pernah mengetahui huruf-huruf tersebut, bukan latin, alfabet ataupun bahkan aksara dari negara yang ia pernah pelajari bahasanya.

"Hei, tidak apa kawan. Aku juga dulu bodoh sepertimu, tidak bisa membaca. Jadi jangan berkecil hati" ujar Russel yang melihat Rei kebingungan dengan kertas itu.

Russel mencoba membantu Rei dengan menunjukan ke arah mana saja Rei harus mengisi kertas tersebut. Sambil menjelaskan satu-persatu kolom apa saja yang akan Rei isi. Nama, umur dan berbagai data diri lainnya harus Rei isi. Sampai dibagian dimana Rei tidak bisa menjawabnya sama sekali. Bastian yang melihat Rei kebingungan pun berkata.

"Hmmm, kau benar-benar tidak mengetahui skill apa yang kau miliki? Biasanya, sedari kecil kita akan memiliki tanda-tanda dimana kita akan mendapatkan skill yang sesuai dengan diri kita. Atau jangan-jangan..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • REINKARNASI TANPA SKILL   12. Sisi Gelap Madelina

    Rei dan teman-temannya terus berlari untuk menghindari kejaran dari beberapa penjaga tersebut. Meskipun mereka tidak tau kemana arahnya, yang terpenting bagi meraka saat ini adalah tidak tertangkap. Lalu mereka berbelok ke arah kiri dan memasuki sebuah gang kecil."Mereka pasti tidak jauh dari sini! Mari berpencar!" ucap salah satu penjaga yang terdengar dari kejauhan."Apa mereka sudah pergi?" bisik Lora."Entahlah, aku tidak bisa memastikannya" jawab Rei."Memangnya, kalian bersembunyi dari siapa?""Ya dari siapa lagi memangnya yang mengejar kita?!" Jawab Lora kesal kepada Russel."Aku tidak bilang apapun loh" saut Russel.Lalu mereka bertiga menoleh ke arah belakang dan terkejut melihat seseorang yang telah berdiri tepat di belakang mereka. Jika diperhatikan, orang ini bukan seperti seorang pedagang, atau mungkin merupakan salah satu dari warga Madelina. Dengan perasaan yang was-was dan juga penasaran, Rei mencoba bertanya kepada orang tersebut."E-Emm... Kau siapa?""Oh, perkenalk

  • REINKARNASI TANPA SKILL   11. Madelina

    Setelah selesai berbincang dan sarapan, Zeldrik mengajak Rei dan partynya untuk berkeliling di jurang Moonlit Chasm. Tinggal disetiap sisi dari jurang Moonlit Chasm merupakan gaya hidup para Demi-Human. Bukan tanpa alasan, mereka tinggal di dalam jurang untuk menghindari banyaknya informasi yang dapat menyebar secara luas tentang kehidupan mereka.Zedrik juga mengatakan bahwa orang-orang Demi-Human sering terlibat dalam banyak masalah, apalagi kepada manusia. Banyak dari anak-anak sampai wanita ditangkap dan dijadikan sebagai budak oleh para manusia. Tentu itu membuat para Demi-Human membenci manusia, namun itu tidak berlaku untuk Rei dan partynya.Belum pernah ada cerita dimana makhluk agung mereka sampai menundukan kepala untuk meminta maaf kepada manusia itu sendiri. Atas kejadian tersebut, Zedrik dan Demi-Human lainnya yakin bahwa Rei bukan orang yang jahat dan malah sebaliknya. Zedrik berpikir bahwa Rei merupakan orang yang spesial."Kalau begitu, sebagai ucapan terima kasih..."

  • REINKARNASI TANPA SKILL   10. Salah Paham

    Griffon itu ditahan dan diangkat dengan Rei. Seluruh penonton termasuk Zedrik tidak percaya dengan apa yang mereka lihat secara mata telanjang itu. Rei melempar griffon itu ke tembok, melesat cepat ke arahnya. Hantaman yang keras membuat griffon itu pusing tak sadarkan diri."Reiiii!" teriak Russel sambil membopong Lora mendekat ke arah Rei.Zedrik yang menyaksikan hal tersebut cukup geram. Orang-orang yang menontonnya pun juga ikut merasakan hal yang sama. Zedrik kembali lagi memasuki arena dengan perasaan yang penuh amarah. Rei tidak bisa begitu berbuat banyak hal karena telah menggunakan skillnya. Disisi lain, Russel pun tidak bisa lagi bertarung karena kehabisan kekuatan dan Lora pingsan kehabisan mana."K-kau! Berani-beraninya kau menyakiti makhluk agung kami!" teriak Zedrik sambil menunjuk ke arah Rei."Apa yang kau pikirkan?! Itu hal yang kami bisa lakukan untuk menjaga diri kami! Dan lagi, kau tidak mau mendengarkan penjelasan kami!" jawab Rei spontan.Zedrik semakin geram, me

  • REINKARNASI TANPA SKILL   9. Demi-Human

    Mudah untuk dimengerti, tetapi sulit untuk diterapkan. Itulah yang ada di kepala Rei sekarang. Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan berdiri di samping Lora untuk mencoba mengeluarkan sihir pertamanya. Lora menyampaikan bahwa, apa pun elemennya, cara kerjanya sama."Fokus... Rasakan aliran mana..."Rei mencoba melakukan apa yang telah ia pelajari dari penjelasan Lora. Sayangnya, tidak ada yang terjadi. Mungkin karena tipe sihir utama Rei berbeda dari milik Lora. Lora kemudian memberi tahu beberapa rapalan dari sihir lain yang memiliki elemen berbeda."Aku rasa... ini tidak ada gunanya..." keluh Rei sambil menurunkan tangannya."Tidak perlu terburu-buru, Rei. Saat pertama kali aku mempelajari sihir, hanya bola air kecil yang dapat aku ciptakan, cukup untuk menyiram tumbuhan," ucap Lora pelan, mencoba menghibur Rei.Rei terlihat kesal. Bukan karena ia tidak bisa menggunakan sihir atau melakukan apa yang Lora ajarkan. Rei kesal karena dunia ini seolah-olah memberikan harapan kepadanya,

  • REINKARNASI TANPA SKILL   8. Sihir

    Matahari mulai bersembunyi, cahayanya meredup hingga hanya cukup menerangi jalan mereka di kedalaman hutan. Lora mengusulkan untuk bermalam di gua tempat mereka pernah singgah. Sambil berjalan menuju lokasi, Lora tidak lupa mengumpulkan beberapa herbal dan jamur di sela-sela perjalanan untuk mengisi perut nantinya.Sesampainya di sana, keadaan bibir gua yang porak poranda masih terlihat jelas di depan mata mereka. Mereka masuk ke dalam gua untuk meletakan perlengkapan mereka. Lora kemudian beranjak pergi menuju sungai untuk mendapatkan air, Russel juga mulai membereskan bebatuan besar yang ada dari sisa pertempuran Rei dan dirinya. Sedangkan Rei, ia pergi ke sekitar hutan untuk mencari hewan buruan yang dapat diambil dagingnya.Tidak butuh waktu lama, Killer-Rabbit yang mencoba mencari jalan pulang pun berpapasan dengan Rei. Satu per satu Killer-Rabbit yang mencoba menyerang Rei dapat ia tumbangkan, sedangkan lainnya memilih untuk pergi."Satu, dua... tiga. Ya, kurasa ini cukup" ucap

  • REINKARNASI TANPA SKILL   7. Ikatan

    "Setidak begitu tenangnya kah diriku ini?" ucap Rei setelah mendapati bahwa tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Memori-memori itu terus membawa Rei untuk melihat bayang-bayang masa lalunya. Rei memutuskan untuk kembali untuk kembali ke kasurnya, menarik selimut, dan mulai memejamkan matanya, meninggalkan semua yang telah terjadi untuk sementara.Keesokannya, ia bangun dan membereskan barang-barangnya untuk menjalankan permintaan Bastian. Saat keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar, kebetulan Lora dan Russel ada di sana. Rei menghampiri mereka berdua dan menjelaskan tentang permintaan Bastian."Kalau begitu, menurutku kita harus kembali ke dalam hutan itu. Kita tidak punya banyak informasi mengenai hal ini bukan?" ucap Russel.Sambil membuka peta, Lora menjelaskan bahwa hutan tersebut memang merupakan salah satu jalur menuju tanah para Demon, atau biasa disebut Land of Olethros. Lora juga menyampaikan kepada Russel dan Rei bahwa jarang ada petualang yang berhasil ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status