Share

Bab 06. Pacaran?

Penulis: Kenzie
last update Tanggal publikasi: 2026-02-18 13:00:50

Aira mengangguk pelan. “Aku angkat dulu ya.”

Belum ada jawaban dari Arsen, tetapi jempol Aira sudah lebih dulu menggeser tombol hijau. Ponsel ia dekatkan ke telinga. Sedetik kemudian suara Adrian terdengar, halus dan profesional.

“Iya, aku sudah sampai. Hah? Sekarang?” Aira melirik sekilas ke arah Arsen. “Oh… baiklah. Tidak masalah. Kamu bisa datang.”

Panggilan itu berakhir singkat. Aira menurunkan ponselnya tanpa banyak pikir. Ia tidak menyadari tatapan Arsen yang kini dipenuhi tanda tanya.

“Kamu mengundangnya?” tanya Arsen. Nada suaranya tenang, tetapi rahangnya menegang tipis.

“Iya. Katanya ada sesuatu yang perlu dibahas sekarang.” Aira kembali fokus memotong bawang, berusaha terdengar biasa saja.

“Tanpa izin dariku?”

Pisau di tangan Aira berhenti. Ia mengangkat kepala, berbalik menatap Arsen yang masih berdiri di tempat semula. Wajah lelaki itu terlihat kaku, tidak seperti biasanya.

“Apa itu harus?” tanyanya pelan.

Pasalnya, selama ini Arsen jarang mempermasalahkan keputusan yang Aira ambil. Karena itu, perubahan sikapnya terasa janggal di mata Aira. Reaksi itu asing, cukup untuk membuatnya ikut waspada.

Arsen menghela napas pendek. “Sudahlah. Lanjut saja masaknya.” Ia memalingkan wajah. “Biar aku tunggu Adrian di ruang tamu.”

Tanpa memberi kesempatan untuk menanggapi, Arsen langsung berbalik dan pergi. Aira hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh. Alisnya berkerut kecil.

“Dia kenapa sih?” gumamnya.

Aira memutuskan untuk tidak memikirkannya terlalu jauh dan mengembalikan fokus ke panci di depannya. Aroma bumbu gulai perlahan memenuhi dapur, hangat dan menggugah selera. Gulai ikan kakap yang sudah lama ingin ia masak itu akhirnya terwujud malam ini, memberi rasa puas kecil yang ia butuhkan.

Hampir tiga puluh menit kemudian, kuah gulai akhirnya mendidih sempurna, aromanya memenuhi dapur. Aira tersenyum kecil melihat hasilnya, rasa puas menghangat di dadanya. Dengan gerakan hati-hati, ia mulai menata hidangan itu di piring, memastikan tampilannya serapi mungkin.

“Arsen, makanannya sudah siap!” panggilnya.

Beberapa detik kemudian, Arsen muncul dari arah dapur sambil membawa semangkuk kecil potongan apel. Gerakannya santai, seolah itu bagian dari rutinitas yang sudah melekat. Kebiasaan lama itu terasa sederhana, tapi cukup untuk membuat suasana dapur kembali ringan.

“Gulai ikan?” tanyanya begitu sampai di meja.

Aira mengangguk antusias. “Iya. Kamu sempat bilang ingin makan gulai, ‘kan? Jadi aku buat.”

Wajah Arsen seketika berbinar, ekspresinya polos seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah tak terduga. Perubahan itu begitu spontan sampai Aira ikut tersenyum tanpa sadar. Kehangatan pun langsung mengisi meja makan, membuat suasana terasa lebih hidup dan akrab.

“Gimana?” tanya Aira, menunggu penilaian.

Arsen mengacungkan dua jempol tanpa ragu. “Mantap, Ai. Enak banget. Kamu buka restoran saja. Pasti laris.”

Ia menyuap lagi sebelum menambahkan dengan santai. “Apalagi yang jual secantik kamu.”

Aira refleks salah tingkah, bahunya naik sedikit sebelum ia terkekeh pelan untuk menutupinya. Pujian itu sebenarnya bukan hal baru, tapi entah kenapa selalu terasa lebih hangat saat datang dari Arsen. Ada rasa ringan yang menggelitik di dadanya, membuatnya tersenyum kecil sambil pura-pura tetap santai.

“Kamu yang modalin?” goda Aira, alisnya terangkat tipis.

Arsen langsung menyahut tanpa jeda, senyum percaya dirinya muncul. “Gas aja sih. Aku yang modalin, kamu yang jalanin.”

Aira terkekeh pelan. “Enak banget kedengarannya.”

“Kerja sama strategis,” balas Arsen santai. “Aku investor santai, kamu bintang utamanya.”

Kalimat itu memantik sesuatu di benak Aira, seperti tombol yang tanpa sengaja terpencet. Suara Mama Arsen kembali terngiang, tajam dan terlalu jelas untuk diabaikan. Senyumnya meredup pelan, nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk mengubah hangat di wajahnya.

Arsen langsung menangkap perubahan itu. “Ai, kenapa?”

Aira menunduk, jarinya memainkan tepi gelas cokelat panas. “Nggak apa-apa. Aku cuma ingat tadi mama telepon. Katanya kamu disuruh balas pesan.”

“Sudah? Cuma itu?” Tatapan Arsen menajam sedikit. “Nggak ada yang lain?”

“Beneran,” jawab Aira cepat. “Maaf tadi sempat bohong.”

Arsen masih menatapnya, jelas belum sepenuhnya percaya. “Aku merasa kamu masih menyembunyikan sesuatu.”

Aira menggeleng pelan, kata-kata yang ingin keluar terasa nyangkut di tenggorokan. Ia sudah hampir menjawab ketika ketukan pintu tiba-tiba memecah suasana. Bahunya langsung turun sedikit, seperti diberi jeda kecil untuk bernapas.

“Aku buka pintu dulu, ya. Itu pasti Adrian.” Tanpa menunggu reaksi Arsen, Aira berjalan cepat ke arah pintu.

Benar saja, Adrian sudah berdiri di depan pintu dengan pakaian kasual yang tetap terlihat rapi dan profesional. Aira menyambutnya dengan senyum kecil yang sopan. Ia lalu membuka pintu lebih lebar, memberi ruang agar Adrian bisa masuk.

“Silakan masuk.”

Langkah Adrian terhenti begitu melihat Arsen masih duduk santai di meja makan. Tatapannya ragu sejenak, jelas tidak menyangka ada orang lain di sana. Ia berdiri kaku sepersekian detik sebelum kembali menata sikapnya.

“Maaf kalau saya datang di waktu yang kurang tepat, Nona. Mungkin saya sebaiknya—”

“Nggak apa-apa,” potong Aira cepat, suaranya ringan namun meyakinkan. “Mulai sekarang biasakan saja. Kita bakal sering ketemu, kan?” Ia menoleh ke arah Arsen. “Ini Arsen, sahabatku sejak kecil.”

Pandangannya kembali ke Adrian. “Arsen, ini Adrian. Manajer yang tadi aku ceritakan.”

Kedua pria itu saling mengangguk singkat, sapaan formal yang terasa sedikit kaku. Udara di antara mereka dipenuhi hening tipis yang canggung tapi sopan. Aira menangkap jeda itu dan segera bersiap mengambil alih suasana.

Ia tersenyum kecil, berusaha menjaga suasana tetap nyaman. “Duduk dulu aja,” katanya ringan. “Aku buatkan teh.”

“Terima kasih, Nona,” balas Adrian sopan, senyumnya tetap terjaga.

Pandangan Adrian sempat mengikuti Aira yang kembali ke dapur sebelum ia kembali duduk rapi. Arsen membalasnya dengan anggukan singkat, senyum sopan yang terasa sedikit tertahan. Sikapnya tetap ramah, tapi ada jarak halus yang sengaja dipasang, seolah kehadiran Adrian belum sepenuhnya ia terima.

Ruang makan kecil itu terisi hening ringan khas pertemuan pertama, cukup sunyi untuk menandakan bahwa mereka masih saling membaca situasi. Arsen duduk tenang, namun tatapannya sesekali bergerak ke arah dapur tempat Aira berada. Seolah tanpa sadar, ia memastikan semuanya masih terasa seperti biasanya.

Bukan permusuhan yang terlihat jelas. Hanya rasa memiliki yang muncul diam-diam, membuatnya sedikit lebih protektif dari yang ingin ia tunjukkan. Seakan posisi di sisi Aira adalah sesuatu yang secara naluriah ingin ia pertahankan.

Pandangan Adrian beralih dari dapur ke Arsen, menyisakan keraguan kecil seolah ia sedang menimbang sesuatu. “Kalian,” katanya pelan namun sopan. “Tinggal bareng, ya?”

“Iya,” jawab Arsen tanpa ragu.

Nadanya datar tapi pasti, seolah menyampaikan fakta yang tak perlu dipertanyakan. Adrian mengangguk tipis, menahan sesuatu di balik senyumnya. Sebelum pikirannya sempat berubah, satu pertanyaan meluncur begitu saja.

“Pacaran?”

.

.

.

~ To Be Continue ~

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 17. Satu Pernyataan dari Arsen

    “Arsen.” Suara Aira pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil.“Apa, Ai?” jawab Arsen singkat. Ia menoleh sepersekian detik, lalu kembali fokus ke jalan.“Kamu masih marah soal mama?” ulang Aira, kali ini lebih jelas.Arsen tidak langsung menjawab. Rahangnya menegang, seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan tapi tertahan di ujung lidah. Ia tetap menatap jalanan di depannya.“Kamu mau aku nggak marah?” tanyanya balik, nada suaranya tenang tapi menyimpan sesuatu.Aira mengangguk refleks, lalu sadar Arsen tidak melihatnya. “Iya.”Mobil tiba-tiba menepi. Arsen mematikan mesin. Suasana mendadak sunyi, hanya ada suara kendaraan lain yang melintas.Ia akhirnya berbalik menghadap Aira sepenuhnya. Tatapannya dalam, bukan marah dan bukan pula lembut, hanya penuh keseriusan yang jarang ia tunjukkan. Di matanya ada sesuatu yang berat, sesuatu yang tak lagi bisa ia sembunyikan di balik candaan.“Jangan pernah bohongin aku. Sekalipun itu tentang Mama,” ucapnya pelan tapi tegas.Aira menelan

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 16. Si Paling Protektif

    Mendengar pertanyaan itu, dadanya langsung berdetak lebih cepat. “Iya, saya Arsen, sahabatnya,” jawabnya tergesa, suaranya nyaris kehilangan napas.“Nona Aira mengalami kecelakaan kecil di depan minimarket. Saat ini sudah dibawa ke IGD—”“Rumah sakit mana?” potong Arsen cepat. Nada suaranya berubah, tegas dan tajam dalam sekejap.Perawat itu menyebutkan nama rumah sakit beserta lokasinya. Arsen tidak sempat mendengar penjelasan lebih lanjut. Tanpa pikir panjang, sambungan telepon langsung ia tutup sepihak.Tangannya gemetar saat meraih kunci mobil. Ia melangkah cepat keluar apartemen menuju basement. Langkahnya panjang dan terburu-buru, seolah waktu tak mau menunggunya.“Ai, padahal aku cuma palingkan wajah sebentar,” gumamnya pelan, napasnya tersengal. “Kamu sudah terluka sampai masuk rumah sakit.” Suaranya penuh penyesalan, bukan marah, tapi takut yang menekan dada.*****Perjalanan m

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 15. Rumah Bisa Retak

    Aira dan Arsen serempak menoleh ketika Adrian mengulurkan sesuatu. Ponsel Aira.Arsen menerimanya lebih dulu. Jemarinya menyentuh ujung jari Aira sepersekian detik sebelum ia menyelipkan benda itu ke dalam tas kerjanya. Gerakan kecil yang seolah ingin memastikan semuanya kembali pada tempatnya.“Terima kasih,” ucap Arsen tulus, menatap Adrian dengan sopan namun tetap berjarak. “Kami izin pulang dulu.”Adrian mengangguk. “Hati-hati di jalan, Mr. Arsen, Nona Aira.”Arsen tidak menjawab panjang. Tangannya sudah lebih dulu merangkul pundak Aira, membawanya keluar dari galeri. Langkah mereka seirama, meski napas Aira masih belum sepenuhnya stabil.*****Mobil melaju meninggalkan halaman galeri. Siang terasa menyengat. Jalanan dipenuhi pelajar berseragam dan pekerja yang berbondong mencari makan siang. Kota tetap sibuk, seolah tidak peduli pada badai kecil yang barusan menghantam satu hati.Arsen menyetir dengan satu tangan. Tangan lainnya menggenggam jemari Aira di atas konsol tengah. Geng

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 14. Di Antara Tuduhan dan Pelukan

    Aira menoleh. Seorang pria mendekat perlahan, kartu identitas penyelenggara tergantung di lehernya. Wajahnya menampilkan campuran ragu dan sopan.“Iya, saya Aira,” jawabnya singkat.Pria itu tersenyum sopan. “Saya pernah menghadiri pameran Anda dua tahun lalu. Tidak menyangka bisa bertemu langsung.”“Terima kasih sudah datang,” balas Aira, suaranya pelan tapi hangat.Pria itu mengangguk, kemudian nada bicaranya menurun. “Jujur, saya sempat mengikuti berita tahun lalu.”Aira menatap pria itu diam, rasanya jantungnya berdetak lebih kencang. Adrian melangkah sedikit ke samping, menjaga jarak tapi matanya tetap tertuju pada Aira. Udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa tegang dan sunyi.“Soal tuduhan plagiat itu,” lanjut pria tersebut hati-hati. “Apakah itu benar adanya?”Aira menelan ludah. Kedua tangannya mengepal, seolah hanya itu yang bisa ia pegang saat ini. Napasnya tersendat, jantungnya berdetak cepat.Ia mencoba tersenyum, meski gemetar. “Kali ini saya akan lebih berhati-hati lag

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 13. Edelweis

    “Eh?”Aira terkejut ketika mobil tiba-tiba berbelok dan berhenti tepat di depan sebuah toko bunga sederhana. Papan kayu kecil di atas pintu bertuliskan nama toko dengan huruf yang sedikit pudar. Aneka warna bunga memenuhi etalase depan, segar dan kontras dengan bangunan di sekitarnya.Ia menoleh ke samping. Benar saja, Adrian sudah membuka seatbelt dengan gerakan tenang. Ekspresinya sulit ditebak, seolah pemberhentian ini memang sudah ia rencanakan sejak awal.“Adrian, kita ke toko bunga?” tanyanya, tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran.“Iya, Nona,” jawab Adrian sopan. “Apa Nona ingin ikut melihat-lihat?”“Tentu saja,” sahut Aira cepat, antusiasnya spontan.Adrian turun lebih dulu, lalu berputar ke sisi Aira dan membukakan pintu untuknya. Aira ikut turun, masih menyimpan tanda tanya kecil di wajahnya. Aroma bunga segar langsung menyambut begitu mereka melangkah masuk ke dalam toko.“Selamat datang, Mas Adrian,” sapa seorang karyawan dengan senyum ramah. “Mau langsung seperti biasa

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 12. Kenapa Harus Dia?

    Arsen menghela napas pelan. Rahangnya sempat mengeras sebelum akhirnya kembali netral. “Kita sudah bahas ini tadi malam, Ai.”Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya, tapi Arsen memilih menahannya. Wajahnya tetap tenang, tidak memberi celah pada emosi yang sebenarnya muncul. Tatapannya lurus ke Aira, memastikan maksudnya jelas tanpa perlu suara keras.“Kamu juga bilang nggak akan bikin aku merasa nggak nyaman lagi.” Nada Arsen tenang. Terlalu tenang, sampai terasa seperti sesuatu yang sengaja ditahan.Aira melangkah mendekat satu langkah kecil. “Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman kok.”Tatapan Arsen beralih ke wajahnya, dalam dan penuh perhitungan, seolah sedang menimbang sesuatu yang penting. “Kalau aku minta kamu buat tunggu aku … bisa?”Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Sederhana, tapi rasanya berat. Seolah jawabannya bisa mengubah banyak hal.Aira menggeleng pelan. “Aku sudah bikin jadwal, Sen. Kamu tahu sendiri aku nggak suka jadwalku berantakan.”Keheni

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status