Share

Bab 5

Author: AmeeraKa94
last update publish date: 2026-07-11 00:10:36

Alika masih terpaku di balik pilar, matanya tak bisa lepas dari cincin berlian besar di jari Nadia. Sangat sakit rasanya, sampai napasnya jadi sesak.

"Kamu ngapain bersembunyi di situ? Sini, kenalan dulu sama calon nyonya yang sesungguhnya di rumah ini," seru Nadia tiba-tiba, sambil tersenyum manis tetapi matanya sangat tajam. Dia jelas sudah tahu Alika ada di sana dari tadi.

Alika kaget, tidak ada pilihan lain selain melangkah keluar pelan-pelan. Dia hanya bisa menunduk, berusaha menahan air mata yang sudah hampir jatuh.

"Jadi ini dia istri kontrak yang kamu bilang itu, Arkana?" Nadia berjalan mendekat, melirik Alika dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan meremehkan. "Kirain siapa yang berani menempelkan diri di sini, ternyata cuma perempuan udik begini saja. Huh, tidak selevel banget sama aku," ucap Nadia meremehkan.

"Dia tidak menempelkan diri, Nadia," potong Arkana cepat, lalu menatap Alika dingin. "Dia di sini hanya menjalankan kesepakatan saja. Tidak lama lagi dia juga akan pergi kok."

"Syukurlah kalau begitu," Nadia tertawa kecil, lalu sengaja melingkarkan kedua tangannya erat di lengan Arkana. Dia menatap pria itu dengan sangat manja. "Sayang, aku capek sekali. Ajak aku duduk di teras depan, ya? Aku ingin minum jus mangga buatanmu yang seperti biasa."

"Boleh dong, Sayang. Tunggu sebentar, ya," jawab Arkana, suaranya selembut kapas, nada yang belum pernah sekali pun ia gunakan untuk berbicara dengan Alika. Lalu dia menatap pelayan yang lewat. "Pelayan," panggilnya.

"Ya, Pak?" jawab sang pelayan.

"Siapkan minuman dan camilan di teras," titah Arkana.

"Baik, Pak," jawab pelayan.

"Kamu..."

Matanya kini beralih ke Alika, langsung dingin lagi. "Lebih baik kamu masuk ke kamar saja dulu. Jangan keluar sampai Nadia pulang. Aku tidak mau ada yang membuatnya kesal."

"Ayo, Sayang, kita ke teras depan," ajak Arkana sambil menatap lembut Nadia.

Nadia membalas tersenyum lalu menggandeng lengan Arkana dengan manja. "Okay, baby."

Tanpa menunggu jawaban Alika, Arkana langsung mengajak Nadia berjalan lebih dulu. Suara tawa perempuan itu bergema di mana-mana, seolah-olah dialah pemilik asli rumah ini, sementara Alika hanya pengganggu yang harus disembunyikan.

Alika berjalan pelan naik ke lantai atas, kakinya terasa sangat berat. Saat mengunci pintu kamar, dia akhirnya tidak kuat menahan lagi. Air matanya langsung jatuh deras.

"Dia bilang aku hanya tamu sementara. Dia bilang rumah ini milik mereka berdua," batin Alika.

Sore itu Alika hanya bisa duduk di kamar, mendengar suara mereka mengobrol dan tertawa dari teras. Kadang Nadia menyuruh pelayan macam-macam, atau meminta Arkana mengambilkan barang seolah dia sudah jadi nyonya rumah di sini. Tidak ada yang berani protes, semua orang tahu posisi Alika hanya di atas kertas saja.

Saat sudah mulai gelap, Alika memberanikan diri keluar sebentar ke dapur untuk mengambil air minum. Namun, saat di lorong, dia bertemu lagi dengan Nadia yang baru keluar dari kamar mandi tamu.

Nadia tersenyum sinis, lalu berhenti tepat di depan Alika.

"Kamu tahu tidak, ya, Alika?" bisik Nadia pelan tetapi bikin merinding. "Arkana hanya kasihan sama kamu saja. Sekarang dia sudah yakin kalau kamu tidak ada artinya sama sekali. Mau bukti? Cincin ini..." Nadia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "...sebentar lagi bakal diganti cincin nikah. Saat hari itu tiba, aku pastikan kamu tidak akan bisa lewat di depan gerbang ini lagi."

Alika menatap mata Nadia, lalu menjawab pelan tetapi tegas, "Saya tidak pernah berniat merebut apa yang kamu punya. Karena saya di sini hanya menjalankan janji yang sudah disepakati."

"Janji?" Nadia tertawa sinis. "Janji itu untuk orang yang punya harga diri. Bukan seperti kamu! Kamu kan hanya istri bayaran. Jadi ingat posisi kamu, ya."

Nadia mendorong pelan bahu Alika, lalu berjalan pergi dengan kepala tegak. Alika mundur selangkah, menahan sakit di bahu dan di hatinya yang rasanya mau pecah.

Malamnya, saat Alika hendak tidur, ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Dengan tangan gemetar, dia membuka pesan itu.

Isinya foto berkas perceraian yang sudah ditandatangani Arkana. Dan tanggal yang tertulis di sana... dua minggu lagi! Jauh lebih cepat dari satu tahun yang mereka sepakati dari awal!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 53

    Sejak hari itu, Arkana tak lagi datang dengan wajah tegang atau nada memaksa. Ia mulai belajar menarik hati Arka,dia sadar hati anak kecil itu tak bisa dibuka dengan paksaan, hanya ketulusan yang bisa meruntuhkan temboknya. Setiap pagi ia duduk diam di mobil seberang rumah Alika, menanti tanpa berani mengganggu. Suatu hari ia bertekad mencari tahu hal-hal kecil yang disukai anak itu, lalu mampir menemui guru kelas TK Arka. "Selamat pagi, Bu Guru," sapa Arkana sopan sambil menunduk sedikit. "Maaf mengganggu sebentar. Saya hanya ingin bertanya, apa yang paling disukai Arka saat bermain?" Bu Guru tersenyum ramah. "Selamat pagi, Pak. Arka sangat suka menggambar, terutama pemandangan laut. Warna kesukaannya biru, dan ia lebih senang hal-hal yang sederhana, tidak berlebihan." "Terima kasih banyak, Bu," jawab Arkana dengan senyum lega. "Informasi ini sangat berarti bagi saya."" Sama-sama pak, emmm maaf kalau b

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 52

    Keesokan paginya, cahaya matahari pagi yang hangat sudah menyelinap masuk lewat celah tirai jendela ruang rawat, membawa suasana yang sedikit lebih segar dibanding hari kemarin. Wajah Arka yang tadi pucat pasi kini sudah mulai kembali cerah, matanya yang bulat bersinar riang begitu melihat pintu ruangan terbuka dan sosok yang sangat ia kenal melangkah masuk sambil tersenyum lebar. "Hai om Dokter !" seru Arka dengan suara lantang penuh kegembiraan, ia langsung duduk tegak di atas kasur, menyambut uluran tangan Satria yang dengan lembut mengelus ubun-ubunnya. "Wah, mainan balok kayu kesukaan Arka! Terima kasih banyak ya Om Dokter!" "Sama-sama, Nak," jawab Satria lembut sambil meletakkan kotak mainan itu di atas meja kecil di samping tempat tidur. Matanya yang teduh kemudian melirik sekilas ke arah pintu yang masih terbuka, seolah memberi isyarat halus. "Coba Arka lihat deh... siapa yang datang lagi pagi ini? Beliau juga sudah lama berdiri di sana, i

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 51

    Suasana di lorong rumah sakit perlahan menjadi tenang kembali setelah kepergian Nadia yang meninggalkan jejak ancaman dan kepahitan. Namun ketenangan itu belum berlangsung lama, ketika suara langkah kaki yang mantap dan tenang terdengar mendekat dari arah berlawanan. Satria datang membawa dua gelas teh hangat yang masih mengepulkan uap dan sebungkus roti isi di tangannya,kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan selama tiga tahun terakhir ini. Ia tak pernah lupa memastikan Alika tetap makan dan minum saat sedang sedih, lelah, atau sedang menghadapi situasi yang berat seperti sekarang. Satria berhenti tepat di hadapan mereka berdua. Pertama ia menyodorkan gelas teh hangat dan roti itu ke tangan Alika dengan tatapan lembut dan perhatian. "Minum dulu, makanlah walau sedikit. Jangan sampai tubuhmu ikut ambruk setelah semua kejadian ini," ucapnya pelan penuh keakraban yang sudah terbiasa." Makasih Satria. " ucap AlikaSetelah memastikan Alika men

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 50

    Punggung Nadia yang menjauh di ujung lorong itu seolah memanggil keinginan untuk membiarkannya pergi begitu saja, membiarkan segalanya selesai seketika. Namun di balik langkahnya yang terburu-buru itu, Arkana bisa merasakan getaran kebencian yang masih tersisa kuat di hati wanita itu. Ia tahu, jika dibiarkan pergi dalam keadaan masih penuh prasangka dan kemarahan yang salah arah, benih-benih masalah baru pasti akan tumbuh dan mengancam ketenangan Alika serta Arka nanti. Ia tak mau lagi ada kesalahpahaman yang berlarut-larut, tak mau lagi Alika terus-menerus menanggung tuduhan yang tidak berdasar hanya karena kebohongan yang selama ini ditutup rapat. "Nadia, tunggu!" panggil Arkana dengan suara lantang namun tidak berteriak, cukup terdengar jelas hingga membuat langkah kaki wanita itu tiba-tiba terhenti tepat di tengah lorong rumah sakit yang sepi itu. Perlahan namun pasti, Arkana melangkah mendekat, langkahnya tenang dan mantap. Wajahnya tidak lag

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 49

    Keheningan yang baru saja terbangun di ruangan itu belum sempat terasa menenangkan, tiba-tiba dipecah oleh suara langkah kaki yang dihentakkan keras, cepat, dan penuh kemarahan dari ujung lorong rumah sakit yang sepi. Semakin lama suara itu semakin mendekat, seolah setiap langkah membawa badai yang siap meluluhlantakkan segalanya. Belum sempat Alika atau Arkana saling bertukar pandang lebih lama, pintu ruang rawat itu terbuka tiba-tiba dengan bantingan yang sangat keras hingga menimbulkan bunyi brakk yang menggetarkan dinding.BRAK Alika dan Arkana serentak menoleh ke arah pintu. Di sana sudah berdiri seorang wanitq yang tak lain Nadia, dadanya naik turun hebat menahan napas yang memburu, wajahnya yang biasanya selalu tampil rapi dan manis kini merah padam terbakar amarah yang meluap-luap tak terkendali. Manik matanya yang indah kini menatap tajam, berkilat penuh kebencian, melirik bergantian dari wajah Alika, lalu berhenti lama menatap Arkana, hingga akhir

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 48

    Keheningan menyelimuti ruangan cukup lama, begitu pekat hingga seolah suara detak jam dinding saja terdengar begitu nyaring dan berat. Arkana berdiri diam mematung di tempatnya, seolah dipukul bongkahan batu besar yang menghantam dadanya berkali-kali, membuat napasnya tersendat-sendat. Kata-kata tajam namun penuh kepedihan yang baru saja meluncur dari mulut Alika terus berputar tanpa henti di dalam kepalanya, menampar keras setiap sisi hati yang dulu tertutup rapat oleh ego buta dan penyangkalan yang konyol. Dia baru benar-benar sadar sekarang selama ini, selama bertahun-tahun lamanya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Hanya memikirkan betapa perihnya hatinya saat melihat bayang-bayang masa lalu, betapa rindunya dia pada sosok yang salah dia letakkan di hati, betapa sakitnya melihat Alika begitu dekat dengan Satria, betapa menyesalnya dia telah melewatkan hari-hari tumbuh kembang putra kandungnya sendiri. Namun dalam keegoisan itu, dia lupa satu hal yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status