تسجيل الدخولPagi itu udara terasa begitu sejuk, menyelinap lembut lewat celah jendela kamar yang sedikit terbuka. Langit di luar bersih bersih tanpa sepotong awan gelap pun seolah semesta pun ikut tersenyum menyambut hari yang begitu berarti bagi keluarga kecil itu. Tidak ada lagi rasa cemas yang menggelayut, tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan yang menyusup ke sela-sela tidur. Yang ada hanya kedamaian, hangat dan nyata. Alika berdiri di depan cermin, jari-jarinya bergerak pelan menata bunga melati yang tersangkut rapi di saku bajunya. Hatinya berdebar pelan, campuran antara rindu yang mendalam dan rasa syukur yang meluap-luap. Sudah begitu lama sejak terakhir kali dia ke sana. Terlalu lama dia menunda, karena rasanya belum pantas untuk pulang dengan tangan yang masih kosong dan hati yang masih penuh luka. Namun hari ini berbeda. Hari ini dia datang bukan sendirian. Arkana melangkah mendekat dari belakang, lengannya melingkar lembut di pinggang rampin
Sore berganti malam, suasana rumah kini tenang dan damai tanpa bayang ancaman. Setelah membantu Arka Kecil mencuci muka dan berganti pakaian, Alika membacakan dongeng sampai anak itu terlelap pulas di tempat tidurnya. Setelah menutup pintu kamar anak itu perlahan, Alika berdiri diam sejenak di lorong, tangannya meremas ujung daster pelan. Bayangan kejadian di gua kemarin seketika melintas kembali, membuat tubuhnya tiba-tiba gemetar pelan. Arkana yang melihat itu segera menghampiri, memeluk bahu istrinya lembut. "Ayo sayang. Kita masuk ke kamar kita. Aku di sini. Tenang ya nggak akan ada yang akan menyakitimu lagi." Alika membalas dengan anggukan pelan Akhirnya Mereka berjalan masuk ke kamar utama. Pintu tertutup rapat, dikunci pelan, menyisakan cahaya lampu tidur yang temaram dan hangat. Saat Arkana menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang yang begitu dalam, napas Alika justru tercekat. Ketika sua
Arkana terus menggendong Alika erat di pelukannya sepanjang jalan keluar dari gua. Wanita itu masih sesekali tersentak kaget, tubuhnya gemetar hebat seolah sisa ketakutan belum sepenuhnya hilang. Arkana sesekali mencium puncak kepala istrinya, berbisik lembut berulang kali untuk menenangkan: "Semua sudah selesai sayang.tenanglah..nggak akan ada yang bisa menyakitimu lagi. Aku di sini."bisik Arkana Di mulut gua, tim polisi sudah menunggu lengkap dengan borgol dan mobil tahanan. Reynad diseret keluar dengan kondisi wajah bengkak dan penuh darah, langkahnya terseret-seret tak berdaya. Namun matanya masih sempat melirik ke arah Alika dan Arkana.tapi bukan lagi dengan tatapan obsesi yang membara, melainkan tatapan kosong yang menyadari bahwa dia telah kalah telak. "Kalian pikir ini sudah berakhir?" gumam Reynad pelan saat lewat di dekat mereka, suaranya parau dan tak bertenaga. "Aku akui aku memang kalah.hanya...karena terlambat sedikit saja..."
Langkah kaki Arkana terhenti seketika di mulut gua. Dunia seolah runtuh di hadapan matanya, napasnya tertahan di kerongkongan hingga terasa menyakitkan. Cahaya senter yang dipegangnya bergetar hebat, menyorot jelas pemandangan yang membuat darahnya mendidih seketika. Di sana, tak jauh dari tempatnya berdiri, Alika terbaring tak berdaya di atas tanah berbatu. Tangan istrinya masih terikat kuat di belakang punggung, gaun putih pengantinnya sudah robek di beberapa bagian, menampakkan kulit bahu yang pucat dan penuh goresan. Dan di atas tubuh mungil itu, Reynad menindihnya dengan berat badannya, kedua tangan pria jahat itu menahan pergelangan kaki Alika sementara wajahnya mendekat berusaha mencium leher wanita yang terus meronta sekuat tenaga. "Tolong... lepaskan..aku...Dasar. kau binatang!" isak Alika histeris, air mata bercampur debu membasahi wajahnya. Dia menendang dengan kaki yang bebas, memutar kepala menghindar, namun tenaganya tak sebanding dengan Reynad
Suara deru mesin makin terdengar jelas, memecah kesunyian hutan yang mencekam. Reynad mengangkat kepala tajam, matanya menyala liar mendengar tanda kedatangan orang-orang yang dia benci. Namun bukannya panik atau menyerah, bibirnya justru menyunggingkan senyum licik yang makin lebar. "Apa Kau pikir mereka akan bisa menyelamatkanmu begitu saja?hmm?!" bisiknya dingin ke telinga Alika. "tidak semudah itu sayan.karena aku sudah menyiapkan jalan keluar lain. Dan sebelum mereka sempat mendapatkanmu lagi..akan ku pastikan kau akan benar-benar jadi milikku!"Krakkkk Dengan gerakan cepat, dia merobek ikatan kaki Alika namun tetap membiarkan tangan wanita itu terikat kuat di belakang punggung. Tanpa memberi kesempatan Alika untuk berteriak, dia menyambar tubuh wanita itu dan menyeretnya lewat pintu belakang rumah tua yang menuju ke jalur setapak tersembunyi.jalur yang hanya dia dan mendiang kakeknya yang tahu." Aku mohon lepaskan aku, aku istr
Deru mesin mobil perlahan mereda, digantikan suara ranting kering yang patah terinjak ban kendaraan. Pintu mobil pun terbuka, dan udara dingin beraroma tanah basah serta daun kering langsung menyergap tubuh Alika yang hanya mengenakan gaun pengantin tipis. Di hadapannya berdiri bangunan kayu tua yang sudah lapuk dimakan waktu, dindingnya berlumut gelap, jendelanya tertutup papan.seolah bangunan ini sudah lama dikubur oleh kesunyian hutan pinus. "Turun," perintah Reynad singkat, tangannya mencengkeram lengan Alika kuat sekali hingga meninggalkan bekas merah di kulit putihnya." Akhhhh sakit. " Pekik Alika meringis kesakitan saat mendapat perlakuan kasar dari paman suaminya. " Ayo buruan turun! " Bentak Reynad tak sabaran. Alika melangkah gemetar, kakinya terasa lemas namun dia berusaha tetap tegak. Matanya menyapu sekelilingtak ada jalan keluar lain selain hutan lebat yang gelap gulita. Pria di sampingnya ini bukan lagi manusia, mela







