Share

Bab 5 : Kelakuan Meisya

Author: Elpis
last update Last Updated: 2025-10-29 08:32:16

   

Bibir Meisya yang dipoles lipstik merah saat itu tersenyum tipis.  “Apakah kau mau mengetahuinya sekarang?”

Damian menegang, tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba sebuah senyuman tersungging di bibir Meisya yang dipoles lipstik merah yang membuat Damian salah fokus. Meisya menepuk ringan bahu Damian. “Pfft. kenapa tiba-tiba Anda begitu tegang Tuan Damian Anderson? jangan bilang anda merasa terintimidasi oleh gadis yang bahkan lima tahun lebih muda dari Anda.”

Alis mata Damian menukik tajam. Ia merasa dipermainkan. “Ka … kau mempermainkanku?”

Meisya menepuk ringan bahu Damian. “Rileks tuan Damian.”

“Rileks.” Meisya membisikkan kata terakhir itu dengan lembut tepat di sebelah telinga Damian, membuat Damian sedikit merinding sehingga mendorong paksa tubuh Meisya agar menjauh darinya. Ia sungguh sudah tak tahan.

Hampir-hampir Meisya terjengkang ke belakang karena dorongan Damian, meski begitu ia tetap puas karena berhasil mempermainkan Damian yang punya gengsi setinggi langit. 

“Hahahah, santailah tuan Damian. Aku hanya bercanda.” Meisya tergelak melihat tingkah Damian yang tampak kesal karena ulahnya. 

“Kau, kau benar-benar. Bercandamu tidak lucu sama sekali.”

“Siapa bilang aku bercanda, aku tidak bercanda sama sekali. saat aku bilang aku punya rahasia di balik makeup ku, aku benar-benar memilikinya.”

“Kau jangan membohongiku, memangnya apa yang bisa kau sembunyikan di balik makeup tebal sialanmu itu.”

“Tentu saja ada, Tapi aku tak akan memberitahumu.”

“Sekarang lebih baik anda tidur. Apakah mau ku bantu naik ke atas tempat tidur anda yang begitu berharga itu?” sarkas Meisya.

“Tidak perlu. kalau kau menyentuhku atau tempat tidurku yang berharga, mungkin aku bisa mimpi buruk nanti.”

“Ah! satu lagi, berhenti menawarkan bantuan yang tidak diperlukan. Jangan perlakukan aku seperti pasien.”

“Baiklah kalau memang begitu mau Anda.”

“Kalau kau begitu saya tidur duluan, selamat malam.” Setelah mengatakan itu Meisya segera naik ke sofa yang ada di dalam kamar Damian. Untungnya sofa itu cukup panjang dan lebar hingga bisa menampung tubuh Meisya.

Damian menatap tubuh Meisya yang sudah meringkuk nyaman dan memunggunginya di atas sofa. Entah kenapa perasaannya masih jengkel pada Meisya. Damian memutar kursi rodanya dengan sedikit kesulitan. Ia berniat mencharge kembali kursi rodanya sebelum tidur. Namun, belum juga sempat di charger listrik di rumah itu malah padam duluan menyisakan ruangan yang gelap gulita.

Damian meraba-raba dalam gelap. Tidak hanya lumpuh, kini Damian juga seperti orang buta yang harus meraba ke segala arah untuk mencari sesuatu. Setelah usahanya meraba dalam gelap, Damian menemukan ponselnya yang tergeletak di atas nakas dekat tempat tidurnya. 

Ia menyalakan ponselnya. Ia mendengus, “Sialan. Kenapa harus hari ini. Apakah ini adalah hari kesialanku? Aku menikahi wanita yang tak kucintai, kursi rodaku lowbat hingga aku harus keluarkan tenaga ekstra untuk sampai rumah, dan sekarang lampunya padam? Haah. Yang benar saja.”

“Apa keadaan bisa jadi lebih buruk lagi setelah semua yang terjadi?” tanyanya pada udara kosong di kamar yang remang itu.

Tiba-tiba suara petir menyambar disusul hujan yang turun dengan derasnya. Seolah menjawab pertanyaan Damian tadi. Mendengar itu Damian hanya bisa mengumpat. “Sialan.”

Sekarang Damian tak bisa apa-apa sama sekali. Ia tak bisa naik ke tempat tidur kesayangannya. Ia juga tak bisa meminta bantuan Meisya karena Meisya nampak sudah tidur, Tapi sepertinya meski Meisya masih terjaga pun ia akan tetap enggan meminta bantuan. Gengsi. Suara petir dan hujan deras cukup mengusik Damian. Sejujurnya Damian membenci hujan karena saat hujan ia jadi teringat pada kecelakaan yang berhasil merenggut Bianca dari sisinya.

“Berhenti … Tidak ….” Damian menoleh ke arah Meisya yang sedang tertidur. 

Meisya terlihat gelisah dalam tidurnya. Mulutnya menggumamkan kata-kata yang Damian tak mengerti maksudnya. Damian mencoba mendekati Meisya.

Damian memandangi Meisya. Kedua kelopak mata yang diberi eyeshadow tebal itu terpejam rapat. Namun kedua mata itu mengeluarkan air mata. Sementara bibir Meisya yang berlapis lipstik merah yang tadi sempat menyeringai ke arahnya kini menjadi terlihat sibuk menggumamkan kata minta tolong. Damian yang melihat itu, berusaha membangunkan Meisya. 

“He … Hei. Bangun. kau kenapa?” Damian menggoyangkan bahu Meisya. Namun, Meisya tak juga terjaga. 

Damian mencoba lagi. “Hei, kau baik-baik saja?”

“Hei, kalau kau sedang bercanda, hentikan sekarang juga. karena candaanmu tidak lucu sama sekali.”

Teguran Damian tidak berdampak sama sekali yang ada Meisya semakin gelisah dalam tidurnya. bahkan tangannya meronta-ronta di udara kosong. Bahkan kini  napas Meisya terdengar memberat dan semakin sesak. 

“K … Kumo ... hon, to … long a … ku,” Damian yang melihat itu langsung panik karena napas Meisya mulai tersenggal seperti tercekik. 

Damian semakin gencar membangunkan Meisya. ia mengguncang kedua bahu Meisya kali ini sedikit lebih keras, dan ia berteriak, “Meisya, bangun!”

Mata Meisya terbelalak kaget, napasnya terengah seolah baru selesai lari marathon. Damian yang melihat Meisya sudah terbangun bertanya, “Kau baik-baik saja?”

Meisya yang nampak linglung hanya menatap Damian dan seisi ruangan di sekelilingnya  yang remang-remang. Meski masih terlihat linglung, setidaknya napasnya sudah perlahan terdengar lebih normal. “A … aku tidak apa. hanya mimpi buruk. maaf saya pasti mengganggu tidur anda.”

“Saya akan tidur lagi. Anda juga sebaiknya tidur. malam sudah semakin larut. selamat malam.” Meisya kembali merebahkan dirinya di sofa tanpa berniat membahas kejadian barusan yang membuat Damian sedikit kelabakan.

Meisya memejamkan matanya. Ia mencoba untuk kembali tertidur, meski ia sendiri sangsi apakah bisa untuk tertidur lagi setelah kejadian-kejadian mengerikan dalam hidupnya muncul dalam mimpinya. Serangkaian kejadian yang bahkan masih terjadi hingga kini yang menjadi penyebab dirinya selalu memakai riasan tebal. Kejadian yang menjadi rahasia di balik riasan tebalnya.

~~~

                “Aaaaa!!” teriakan Meisya memecah kesyahduan pagi itu. 

                Bagaimana ia tak berteriak jika pemandangan yang pertama kali ia tangkap saat membuka mata adalah wajah Damian yang begitu mengerikan. Meski wajah Damian bukanlah tipenya tapi ia mengakui bahwa wajah Damian memang cukup tampan, masalahnya adalah bagaimana bisa wajah tampan itu berubah menjadi mengerikan. rambut yang kemarin klimis kini mencuat ke segala arah, dan yang lebih mengerikan adalah tatapan Damian yang tajam seolah akan mengulitinya hidup-hidup dan satu lagi, kantung mata Damian yang terlihat menghitam. “apakah dia tidak tidur semalaman?”

                “A … anda baik-baik saja? apakah tidur anda nyenyak”

                “Hmph, Kau masih menanyakan itu padahal kau bisa melihat keadaanku yang berantakan seperti ini?” Damian tersenyum sinis.

                “Memangnya apa yang terjadi sampai anda tidak tidur semalam?”

                “Apa anda tidak bisa naik ke tempat tidur anda semalam?” Tepat. memang itulah yang terjadi. tapi bukan itu satu-satunya alasan Damian tidak bisa tidur malam itu.

                “Kau tidak ingat yang terjadi semalam?”

                “Memang apa yang terjadi ….”

                “Hah! jangan-jangan Anda menyentuh tubuhku saat aku tidur ya? Anda jadi tidak bisa tidur semalaman karena terus berfantasi liar tentang tubuhku.” 

                Damian terperangah mendengar jalan pikiran Meisya. Sungguh ajaib. “Kau … Wow imajinasimu benar-benar luar biasa.”

                “Kalau kau tidak ingat, sebaiknya jangan mengarang cerita yang tidak masuk akal.” 

“Bukan begitu kejadiannya? lalu bagaimana?” tanya Meisya penasaran.

“Bukan aku yang melakukan sesuatu padamu, tapi kaulah yang melakukan sesuatu kepadaku.” Mata Meisya membelalak.

Meisya menunjuk dirinya sendiri “Aku? aku melakukan sesuatu pada anda?”

“Ya, kau melakukan sesuatu padaku. dan itu sedikit melukaiku jadi kau harus minta maaf”

“Apa? kenapa aku harus minta maaf? memangnya apa yang kulakukan pada anda?”

“Kau sudah melakukan sesuatu yang membuatku benci pada diriku sendiri.” mata Meisya kembali membola. Hal apa yang telah ia lakukan semalam hingga melukai ego si pangeran berkursi roda di depannya ini.

Bersambung …

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   BAB 10  Meisya dan Ibunya

    “Aku sudah memberikan dokumennya padamu. Jadi kuharap kau juga menepati janjimu.” Meisya menatap tepat di mata Jack. Berusaha untuk terlihat berani. Namun sebenarnya tangannya sudah saling meremas di balik meja cafe tempat mereka bertemu. Jack adalah asisten psikopat ayahnya. ayahnya punya dua asisten. Jack salah satunya, semua pekerjaan kotor dikerjakan oleh Jack. Menyiksa, mengancam bahkan kadang menghilangkan nyawa merupakan jobdesknya. Jack juga adalah identitas di balik penelepon misterius yang selama ini mengancam Meisya. “Aku … Aku boleh bertemu ibuku?” “Tentu. jika dokumen yang kau kirim berguna maka kau boleh bertemu ibumu.” Jack menyeringai. Terlihat mengerikan. “Aku ingin bertemu ibuku sekarang.” “Kenapa kau begitu memaksa gadis manis? kuperhatikan kau jadi semakin berani sekarang.” Jack hendak menyentuh pucuk kepala Meisya, namun Meisya segera melindungi kepalanya, seolah itu adalah instingnya untuk bertahan hidup. “Aku akan menyerahkan ini pada Tom. Jika ini be

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   Bab 9 Cara Meisya Menyembunyikan Lukanya

    “Apa yang kau lakukan di sini? kau menguping pembicaraanku?” Meisya bertanya dengan ekspresi dingin dengan wajah sembab. Damian menegang. ia tertangkap basah. ia harus jawab apa sekarang? Tok tok tok. Suara ketukan datang dari arah pintu kamar yang terbuat dari kayu itu membuat Damian sedikit lega. “Masuk.” “Tuan Anderson mengundang tuan muda dan nyonya muda untuk makan malam bersama.” “Ayah sudah kembali?” tanya Damian penasaran. “Sudah tuan muda.” Art itu sedikit membungkuk untuk menjawab pertanyaan dari tuan muda Anderson. “Mama bagaimana?” tanya Damian lagi. “Nyonya juga sudah kembali.” “Mama sudah pulang?!” Damian sedikit terkejut dengan berita ini. “Bagaimana bisa mama kembali tanpa memberitahuku?” Ucap Damian dengan raut wajah tak percaya. Asisten rumah tangga itu mengerutkan alisnya kebingungan untuk menjawab pertanyaan tuan mudanya.

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   Bab 8 Menjalankan Rencana

    “apa yang sedang kau lakukan di meja ku?”Gerakan Meisya terhenti. Jantungnya berdetak kencang, takut ketahuan. “A … aku. Aku hanya ….” Damian Bergerak ke arah Meisya dengan kursi roda elektriknya. Meisya panik tak tau harus berbuat apa. keringat sebesar biji jagung terasa mengalir di punggungnya. “Mau apa kau dengan dokumen proyek pembangunan hotelku?” “A … aku ….” “Jangan bilang kau ingin mencuri dan memberikannya pada ayahmu?” Damian menyentak keras dokumen yang digenggam erat Meisya. Tubuh Meisya oleng hingga terjatuh. Lututnya mendarat dengan keras di ubin lantai yang dingin. Wajahnya meringis menahan sakit. “Aku tak menyangka kau akan melakukan hal serendah ini.” Air mata Meisya menggenang di pelupuk mata. “Damian aku mohon. tidak bisakah kau memberikannya padaku? aku sangat membutuhkannya.” Damian terkekeh “Kau pikir aku akan memberikannya dengan suka rela hanya karena kau memohon?”

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   BAB 7 Makan Siang Untuk Damian 

    Aroma bawang yang baru saja dimasukkan ke wajan menyerbak memenuhi dapur. tercium begitu harum, namun indera penciuman Meisya seakan tumpul hingga ia tak dapat merasakan nikmatnya aroma itu. Entah inderanya yang menumpul ataukah pikirannya yang melayang entah kemana hingga bahkan suara gemericik minyak pun tak mengganggu lamunannya. Sebuah percikan minyak panas mengenai tangan Meisya. Menyadarkannya dari lamunan yang sedari tadi bertahta. ia buru-buru mengambil spatula, namun sudah terlambat. bawang yang tadi menguarkan aroma wangi kini telah berganti menjadi aroma gosong. Asap yang cukup tebal membumbung menutupi pemandangan bawang yang bernasib naas itu. Meisya hanya bisa memijat pangkal hidungnya, frustasi pada kekacauan yang ia ciptakan sendiri. Meisya menghela napas panjang. “Haah, fokus Meisya. kau harus fokus demi rencanamu.” Meisya mengambil wajan berisi bawang gosong dan membuang bawang yang sudah mengenaskan itu ke dalam tempat

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   Bab 6 : Penelepon Misterius

    “Kau benar-benar lupa apa yang terjadi?” Meisya dengan polos hanya mengangguk. Kemudian ia bertanya, “Memang apa yang sudah kulakukan semalam?” “Sudahlah. Lupakan saja!” Damian memutar kursi rodanya, berbalik kemudian pergi ke kamar mandi. Damian menyalakan shower membiarkan air membasahi tubuhnya. Kepalanya dipenuhi dengan adegan-adegan semalam yang membuatnya kesulitan tidur. Semalam Meisya terus saja mengigau meminta tolong dan meminta untuk berhenti dipukul. Puncaknya terjadi saat sebuah sambaran petir yang terdengar nyaring mengejutkan Meisya yang sedang tertidur. Meisya terbangun seketika itu lalu menjerit histeris seperti orang ketakutan. Meisya baru tenang setelah ia memeluknya. Ia jadi harus memeluk Meisya sepanjang malam tanpa tertidur sedikit pun. Damian keluar dari kamar mandi. Ia tak menemukan Meisya, namun aroma makanan yang tercium begitu lezat membuat Damian mengetahui keberadaan Meisya. Ia segera mengen

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   Bab 5 : Kelakuan Meisya

    Bibir Meisya yang dipoles lipstik merah saat itu tersenyum tipis. “Apakah kau mau mengetahuinya sekarang?”Damian menegang, tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba sebuah senyuman tersungging di bibir Meisya yang dipoles lipstik merah yang membuat Damian salah fokus. Meisya menepuk ringan bahu Damian. “Pfft. kenapa tiba-tiba Anda begitu tegang Tuan Damian Anderson? jangan bilang anda merasa terintimidasi oleh gadis yang bahkan lima tahun lebih muda dari Anda.”Alis mata Damian menukik tajam. Ia merasa dipermainkan. “Ka … kau mempermainkanku?”Meisya menepuk ringan bahu Damian. “Rileks tuan Damian.”“Rileks.” Meisya membisikkan kata terakhir itu dengan lembut tepat di sebelah telinga Damian, membuat Damian sedikit merinding sehingga mendorong paksa tubuh Meisya agar menjauh darinya. Ia sungguh sudah tak tahan.Hampir-hampir Meisya terjengkang ke belakang karena dorongan Damian, meski begitu ia tetap puas karena berhasil mempermainkan Damian yang punya gengsi setinggi langit. “Hahahah, s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status