Share

Bab 4 : Mimpi buruk

Penulis: Elpis
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-29 08:25:56

Damian dan Meisya tiba di rumah orang tua Damian. Keduanya terpaksa pulang ke rumah orang tua Damian karena paksaan dari Sam. Keduanya sudah sampai di rumah yang bergerbang tinggi itu. Damian turun dari mobil dibantu oleh Ken, asisten sekaligus temannya.

“Kau mau kemana?” Damian keheranan saat melihat Ken bukannya membantunya masuk ke dalam rumah tapi malah kembali memposisikan diri di kursi kemudi.

“Mau pulang.”

“Kau tidak mengantarku masuk? Kau tau kursi rodaku sedang lowbat kan?”

“Iya aku tau. Lalu kenapa?” 

“Kau serius bertanya kenapa?” Damian menatap tak percaya pada Ken.

“Tidakkah kau merasa sebagai asisten, kau harus membantu atasanmu?” lanjut Damian kesal.

“Majikan?” Ken menatap jam tangan yang melingkar gagah di pergelangan tangannya, seulas senyum meremehkan muncul di wajah tampannya saat netra cokelatnya menangkap jam yang sudah menunjukkan pukul 21.00. 

“Maaf tuan Damian Anderson, tapi jam kerjaku sudah selesai sekitar satu jam yang lalu. sekarang aku bukan asistenmu, aku temanmu.”

“Sialan kau!” 

“Ah, aku hampir lupa. mulai besok aku akan bekerja mulai dari jam 08.00 sampai pukul 16.00. kau sudah punya istri yang bisa membantumu. jadi kata paman aku tak perlu membantumu lagi untuk keperluan pribadimu. Jadi, jangan terlalu berharap padaku. Sampai jumpa!” setelah mengatakan serentetan kalimat panjang itu, Ken langsung melajukan mobilnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Ken sialan!” 

Damian melirik Meisya yang berdiri dengan memegangi kopernya. Tampak santai dan tidak terganggu sedikitpun dengan perdebatan tadi. Merasa diperhatikan akhirnya Meisya menawarkan bantuan. “Mau kubantu?”

“Cih, tidak perlu. Aku bisa sendiri. Kau jangan mencoba merayuku dengan menawarkan bantuan. Ingat pernikahan ini hanya simbiosis mutualisme. tidak lebih.” Damian berbalik pergi dengan mendorong kursi roda elektrik yang sudah kehabisan baterai menggunakan tangan berototnya.

“Iki bisi sindiri. jingin mincibi miriyiki dingin miniwirkin bintien.” Meisya mengejek Damian. untungnya Damian tidak dengar, karena jika Damian sampai dengar entah kalimat menyebalkan apalagi yang akan keluar dari pria narsis itu.

Meisya dengan menggeret kopernya dengan kesal. Meisya mengibaskan rambut lebatnya dan melemparkan tatapan dan senyum meremehkan saat ia melewati Damian. Ia melewati Damian begitu saja. Bagi Meisya, jika ia menawarkan sesuatu namun, ditolak maka jangan harap ada tawaran atau bujukan kedua kalinya. 

Damian hanya bisa terperangah pada kelakuan meisya. Tidak, bukan terperangah karena takjub akan kecantikan Meisya, melainkan terperangah karena tingkah ajaib Meisya. ia jadi berpikir. “Apa dia baru saja meremehkanku, mengejekku, atau merendahkanku?” apapun itu pada intinya Damian kesal.

Damian memperhatikan Meisya yang benar-benar melenggang pergi tanpa berbalik sedikitpun. Sementara dirinya harus berjuang mendorong kursi roda seberat 80 kg itu sendiri, belum lagi ukuran halaman yang berkisar 400 meter persegi, setelah itu ia harus melewati jalur kursi roda yang dibuat khusus untuknya agar bisa masuk ke dalam rumah. Meskipun dibuat khusus jalur itu tetap sulit karena kemiringannya.

***

Ceklek

Pintu rumah megah itu terbuka. Di dalam sana tampak meisya yang sedang berselonjor santai sambil menonton kartun spons berwarna kuning, sementara itu di depan pintu yang baru saja terbuka tampak Damian yang ngos-ngosan karena kelelahan, penampilannya berantakan dasi yang sudah berantakan, kemeja yang tak lagi terkancing dengan benar, lengan kemeja yang sudah tergulung hingga ke siku hingga keringat yang bercucuran di wajah, leher dan lengannya membuatnya terlihat seksi. Namun seakan buta, Meisya hanya berkata, “Oh! kau sudah sampai?”

                Damian kesal setengah mati. Ia kesal pada Meisya karena terlihat begitu santai sementara dirinya menderita, ia kesal pada Ken karena meninggalkannya, ia kesal pada dirinya karena sudah menolak bantuan Meisya. Karena gengsinya terlalu tinggi Damian harus merasakan otot lengannya yang menegang sampai gemetaran bahkan urat di punggung tangannya sampai menonjol.

                “Kau ingin makan malam? mau kusiapkan?” tawar Meisya.

                “Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”.

“Tidak perlu aku bisa sendiri.”

               Damian kembali mendorong kursi rodanya ke ruang makan. Sampai disana ia langsung menegak segelas penuh air. Ia makan dengan lahap karena kelelahan. 

                Setelah makan Damian masuk ke kamarnya di sana sudah ada Meisya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Damian cukup terkejut karena Meisya kembali ke setelan awal. Make up tebal dan pakaian santai. Jika boleh jujur, Meisya lebih cantik dengan makeup tipis-tipis dibanding makeup tebal nan menor.

                “Kau mau mandi? Mau ku bantu?” lagi-lagi Meisya menawarkan bantuan.

               “Tidak perlu. Aku bisa minta tolong pada orang lain.” Tolak Damian seperti tak belajar dari kesalahan sebelumnya.

               “Baiklah. Hanya saja kau mungkin akan kesulitan menemukan orang lain di rumah ini selain kita berdua.”

               “Apa maksudmu?”

               “Kau tidak tahu? Papa bilang, semua ART, pelayan bahkan satpam sekalipun sudah diliburkan.”

               “Apa? Tapi … Tapi kenapa?” Meisya hanya mengangkat bahunya pertanda dia tidak tahu. Dan kembali melanjutkan riasannya. Entah apa lagi yang akan ditambahkan pada wajah yang sudah menor itu.

               Damian masuk ke kamar mandi. Setelah cukup lama ia keluar dengan wajah yang lebih segar. Sejujurnya ia cukup kesulitan tadi, biasanya pelayan akan menyediakan air mandi hingga pakaiannya, jadi ia hanya perlu mandi dan berganti pakaian. Damian sedikit terkejut karena Meisya sudah berada di kasur favoritnya. “Kau apa yang kau lakukan di situ?”

               “Mau tidur.”

               “Kenapa tidak di kamar sebelah?”

               “Kamar lain terkunci. kata Vani tidur saja di kamarmu” 

               Damian mendengus kesal. Ini pasti pekerjaan Vani. Adik bungsu kesayangannya itu sungguh jahil, tapi kejahilannya kali ini sungguh membuat Damian kesal. Sekarang Damian harus sekamar dengan Meisya. 

               “Aku tidak ingin tidur denganmu.”

               “Tenanglah tuan Damian Anderson. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Wajahmu bukan tipeku.” Ucapan cukup berani Meisya itu membuat Damian sedikit gelagapan, namun ia berusaha terlihat tenang.

               “Berhenti bercanda. Turun dari tempat tidurku. Tidur di sofa saja sana,” usir Damian.

               “Wah! Anda benar-benar tidak gentleman.”

               “Memangnya kenapa kalau aku tidak gentleman? Itu bukan urusanmu. Yang penting tidurku nyenyak.”

               “Kau benar-benar ….” 

               “Berhenti bicara panjang lebar. Aku ingin kau turun dari tempat tidurku sekarang.”

               Meisya sungguh kesal. Damian benar-benar menyebalkan. Meisya dengan ogah-ogahan mengambil bantal dan selimut dan hendak pindah ke sofa.

               “Tunggu … tinggalkan selimutnya. Aku harus memakai selimut baru bisa tidur nyenyak.”

               Meisya menyentak selimut yang tadinya sudah ia gendong bersama dengan bantal kembali ke atas tempat tidur. Ia mengambil remot AC untuk menaikkan suhunya. 

                “Tunggu … apa yang kau lakukan? Biarkan AC nya seperti tadi. Aku tidak bisa tidur kalau panas.” 

                “Wah! Tuan Damian Anderson. Kau benar-benar tidak masuk akal. Kau menyuruhku tidur di sofa, lalu melarangku mengambil selimut, sekarang kau ingin berdebat perkara suhu kamar? Anda sungguh luar biasa.”

               “Kenapa? Ini rumah orang tuaku, kamarku. Jadi aku berhak mengaturnya. Kau tidak punya hak. Kau hanya istri yang kudapat dari pernikahan bisnis. Jadi jangan coba mengatur atau merubah kebiasaanku.” Jujur saja hati Meisya sedikit tercubit, Tapi dia bisa apa. Memang itulah kenyataannya. Jadi ia memilih mengalah dan tidur di atas sofa.

                “Tunggu ….”

                “Apa lagi?”

                “Kau tidak akan menghapus makeup mu itu? Kau akan tidur seperti itu?” 

               Meisya kesal karena dari tadi Damian terus menguji kesabarannya, jadi Meisya menyentakkan bantal keras-keras ke sofa. Ia kemudian berjalan ke arah Damian dan meletakkan kedua tangannya di kedua sisi kursi roda Damian. Meisya lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Damian. Sangat dekat hingga keduanya bisa merasakan napas masing-masing.

                Meisya berbisik tepat di depan wajah Damian. “Tuan Damian Anderson, bukankah sudah kubilang bahwa aku memiliki rahasia di balik make up tebalku?”

Damian membeku seketika. Matanya menatap mata Meisya yang menatapnya tajam. “Kau … apa maksudmu?” 

“Apakah kau juga tertarik dengan rahasia di balik makeup ku?

Bibir Meisya yang dipoles lipstik merah saat itu tersenyum tipis.  “Apakah kau mau mengetahuinya sekarang?”

Bersambung…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   BAB 10  Meisya dan Ibunya

    “Aku sudah memberikan dokumennya padamu. Jadi kuharap kau juga menepati janjimu.” Meisya menatap tepat di mata Jack. Berusaha untuk terlihat berani. Namun sebenarnya tangannya sudah saling meremas di balik meja cafe tempat mereka bertemu. Jack adalah asisten psikopat ayahnya. ayahnya punya dua asisten. Jack salah satunya, semua pekerjaan kotor dikerjakan oleh Jack. Menyiksa, mengancam bahkan kadang menghilangkan nyawa merupakan jobdesknya. Jack juga adalah identitas di balik penelepon misterius yang selama ini mengancam Meisya. “Aku … Aku boleh bertemu ibuku?” “Tentu. jika dokumen yang kau kirim berguna maka kau boleh bertemu ibumu.” Jack menyeringai. Terlihat mengerikan. “Aku ingin bertemu ibuku sekarang.” “Kenapa kau begitu memaksa gadis manis? kuperhatikan kau jadi semakin berani sekarang.” Jack hendak menyentuh pucuk kepala Meisya, namun Meisya segera melindungi kepalanya, seolah itu adalah instingnya untuk bertahan hidup. “Aku akan menyerahkan ini pada Tom. Jika ini be

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   Bab 9 Cara Meisya Menyembunyikan Lukanya

    “Apa yang kau lakukan di sini? kau menguping pembicaraanku?” Meisya bertanya dengan ekspresi dingin dengan wajah sembab. Damian menegang. ia tertangkap basah. ia harus jawab apa sekarang? Tok tok tok. Suara ketukan datang dari arah pintu kamar yang terbuat dari kayu itu membuat Damian sedikit lega. “Masuk.” “Tuan Anderson mengundang tuan muda dan nyonya muda untuk makan malam bersama.” “Ayah sudah kembali?” tanya Damian penasaran. “Sudah tuan muda.” Art itu sedikit membungkuk untuk menjawab pertanyaan dari tuan muda Anderson. “Mama bagaimana?” tanya Damian lagi. “Nyonya juga sudah kembali.” “Mama sudah pulang?!” Damian sedikit terkejut dengan berita ini. “Bagaimana bisa mama kembali tanpa memberitahuku?” Ucap Damian dengan raut wajah tak percaya. Asisten rumah tangga itu mengerutkan alisnya kebingungan untuk menjawab pertanyaan tuan mudanya.

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   Bab 8 Menjalankan Rencana

    “apa yang sedang kau lakukan di meja ku?”Gerakan Meisya terhenti. Jantungnya berdetak kencang, takut ketahuan. “A … aku. Aku hanya ….” Damian Bergerak ke arah Meisya dengan kursi roda elektriknya. Meisya panik tak tau harus berbuat apa. keringat sebesar biji jagung terasa mengalir di punggungnya. “Mau apa kau dengan dokumen proyek pembangunan hotelku?” “A … aku ….” “Jangan bilang kau ingin mencuri dan memberikannya pada ayahmu?” Damian menyentak keras dokumen yang digenggam erat Meisya. Tubuh Meisya oleng hingga terjatuh. Lututnya mendarat dengan keras di ubin lantai yang dingin. Wajahnya meringis menahan sakit. “Aku tak menyangka kau akan melakukan hal serendah ini.” Air mata Meisya menggenang di pelupuk mata. “Damian aku mohon. tidak bisakah kau memberikannya padaku? aku sangat membutuhkannya.” Damian terkekeh “Kau pikir aku akan memberikannya dengan suka rela hanya karena kau memohon?”

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   BAB 7 Makan Siang Untuk Damian 

    Aroma bawang yang baru saja dimasukkan ke wajan menyerbak memenuhi dapur. tercium begitu harum, namun indera penciuman Meisya seakan tumpul hingga ia tak dapat merasakan nikmatnya aroma itu. Entah inderanya yang menumpul ataukah pikirannya yang melayang entah kemana hingga bahkan suara gemericik minyak pun tak mengganggu lamunannya. Sebuah percikan minyak panas mengenai tangan Meisya. Menyadarkannya dari lamunan yang sedari tadi bertahta. ia buru-buru mengambil spatula, namun sudah terlambat. bawang yang tadi menguarkan aroma wangi kini telah berganti menjadi aroma gosong. Asap yang cukup tebal membumbung menutupi pemandangan bawang yang bernasib naas itu. Meisya hanya bisa memijat pangkal hidungnya, frustasi pada kekacauan yang ia ciptakan sendiri. Meisya menghela napas panjang. “Haah, fokus Meisya. kau harus fokus demi rencanamu.” Meisya mengambil wajan berisi bawang gosong dan membuang bawang yang sudah mengenaskan itu ke dalam tempat

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   Bab 6 : Penelepon Misterius

    “Kau benar-benar lupa apa yang terjadi?” Meisya dengan polos hanya mengangguk. Kemudian ia bertanya, “Memang apa yang sudah kulakukan semalam?” “Sudahlah. Lupakan saja!” Damian memutar kursi rodanya, berbalik kemudian pergi ke kamar mandi. Damian menyalakan shower membiarkan air membasahi tubuhnya. Kepalanya dipenuhi dengan adegan-adegan semalam yang membuatnya kesulitan tidur. Semalam Meisya terus saja mengigau meminta tolong dan meminta untuk berhenti dipukul. Puncaknya terjadi saat sebuah sambaran petir yang terdengar nyaring mengejutkan Meisya yang sedang tertidur. Meisya terbangun seketika itu lalu menjerit histeris seperti orang ketakutan. Meisya baru tenang setelah ia memeluknya. Ia jadi harus memeluk Meisya sepanjang malam tanpa tertidur sedikit pun. Damian keluar dari kamar mandi. Ia tak menemukan Meisya, namun aroma makanan yang tercium begitu lezat membuat Damian mengetahui keberadaan Meisya. Ia segera mengen

  • Rahasia Dibalik Makeup Tebal Meisya   Bab 5 : Kelakuan Meisya

    Bibir Meisya yang dipoles lipstik merah saat itu tersenyum tipis. “Apakah kau mau mengetahuinya sekarang?”Damian menegang, tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba sebuah senyuman tersungging di bibir Meisya yang dipoles lipstik merah yang membuat Damian salah fokus. Meisya menepuk ringan bahu Damian. “Pfft. kenapa tiba-tiba Anda begitu tegang Tuan Damian Anderson? jangan bilang anda merasa terintimidasi oleh gadis yang bahkan lima tahun lebih muda dari Anda.”Alis mata Damian menukik tajam. Ia merasa dipermainkan. “Ka … kau mempermainkanku?”Meisya menepuk ringan bahu Damian. “Rileks tuan Damian.”“Rileks.” Meisya membisikkan kata terakhir itu dengan lembut tepat di sebelah telinga Damian, membuat Damian sedikit merinding sehingga mendorong paksa tubuh Meisya agar menjauh darinya. Ia sungguh sudah tak tahan.Hampir-hampir Meisya terjengkang ke belakang karena dorongan Damian, meski begitu ia tetap puas karena berhasil mempermainkan Damian yang punya gengsi setinggi langit. “Hahahah, s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status