Home / Zaman Kuno / Rahasia Malam Sultan / Bab 104: Pelayan Baru Ibu Suri

Share

Bab 104: Pelayan Baru Ibu Suri

Author: fazaa
last update publish date: 2026-09-10 20:58:48

Rania mendapat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya yang serba kekurangan.

Ia dipanggil masuk ke kediaman Ibu Suri Nadira, wilayah paling sakral di sayap timur istana.

Di dalam ruangan paviliun yang luas dan beraroma dupa gaharu khas Wilayah Timur itu, Selir Safiya sudah duduk menunggu di atas kursi beludrunya.

Jemari lentiknya yang berkuku merah merona tampak mengetuk-ngetuk sandaran lengan kayu dengan tidak sabar.

Ketika Rania melangkah masuk dengan kepala menunduk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 108: Laporan Yang Tidak Lengkap

    Malam pun bergulir dengan kepekatan kabut hitam yang mencekam, menelan seluruh kompleks paviliun harem istana Al-Qamar.Di dalam ruangan tertutup kediaman resmi Ibu Suri Nadira yang harum oleh kepulan dupa, Selir Safiya sudah berdiri tegak menanti penuh ambisi terselubung.Ibu Suri Nadira duduk anggun di kursi takhtanya, membiarkan cahaya temaram lilin menyinari garis wajah keriputnya yang sedingin es batu.Rania berlutut di tengah ruangan, menyerahkan selembar laporan perkamen tertulis mengenai hasil pengawasannya terhadap Nayla sepanjang hari ini.Namun, isi dari lembaran laporan yang disusun Rania telah resmi dimanipulasi secara total oleh kepalanya sendiri.Ia sengaja membuat kalimat-kalimat di dalamnya sesamar dan sebersih mungkin dari rahasia; Rania hanya menuliskan bahwa Nayla sepanjang hari sibuk mengelap debu rak buku perpustakaan agung, menghitung sisa beras dan tidak pernah melakukan perlakuan atau mengatakan hal aneh apa pun.Ia menyembunyikan fakta bahwa Sultan Azfar meng

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 107 : Rania Masuk ke Dalam

    Rania akhirnya resmi menjadi pelayan pribadi Ibu Suri Nadira.Dan langkah pertamanya justru membawanya mendekati Nayla.Pagi itu, suasana di sudut dapur kecil bawah tanah terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.Aroma panggangan roti gandum kasar dan rebusan sup miju-miju mengepul tipis, menyelimuti empat orang yang kini berkumpul mengelilingi meja kayu panjang.Nayla duduk dengan punggung tegak, namun binar kebahagiaan yang teramat murni seketika terpancar dari sepasang manik mata cokelat jernihnya saat mendengar kabar terbaru mengenai sahabat kecilnya."Ya Tuhan, Rania! Ini benar-benar sebuah keajaiban yang luar biasa besar!" seru Nayla, wajah cantiknya yang semula agak pucat kini merona segar penuh rasa syukur yang tak terbendung. Ia menggenggam erat kedua telapak tangan Rania yang terasa dingin."Aku sangat bahagia mendengarnya! Menjadi pelayan pribadi utama Ibu Suri Nadira berarti kau tidak perlu lagi mengangkat baskom air berat di dapur luar ini!" lanjut Nayla dengan mata berb

  • Rahasia Malam Sultan    Bab 106: Pemilik Hati Sang Panglima

    Entah kenapa kini Rafiq mulai sering berada di sekitar Nayla.Bukan sebagai kebetulan.Langkah kaki tegap yang berbalut sepatu bot baja itu tidak lagi berderap kaku memimpin barisan patroli di benteng luar.Sebaliknya, ketukan konstan itu bergema halus di antara keheningan lorong-lorong perpustakaan agung yang sunyi dan beraroma kertas tua.Di balik rak-rak kayu raksasa yang menjulang tinggi, Panglima Rafiq berdiri tegap tanpa mengenakan pelindung kepala zirahnya, membiarkan sepasang mata elangnya mengunci gerak-gerik Nayla yang sedang sibuk memilah naskah pengobatan herbal.Nayla menghentikan gerakan jemarinya, menolehkan kepalanya perlahan seraya menatap heran ke arah sosok pria perkasa yang berdiri terlalu dekat di sampingnya. "Panglima Rafiq? Mengapa Anda masih berdiri mematung di dekat rak ini? Apakah hamba melakukan kesalahan dalam penyusunan berkas administrasi kesultanan?"Rafiq tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengalihkan pandangannya ke arah barisan buku kuno bersampul ku

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 105: Pangeran Dengan Perban

    Hari itu Nayla berharap koridor istana menjadi tempat yang aman.Harapan yang sangat sederhana itu rupanya hanya mampu bertahan selama beberapa menit saja.Sinar matahari sore menembus celah-celah pilar marmer, memantulkan bayangan panjang yang kaku di sepanjang selasar sayap kanan istana.Nayla baru saja melangkah keluar dari bilik ruang kerja Sultan Azfar setelah menyerahkan salinan revisi anggaran bendungan.Semburat lelah masih menggelayuti pundaknya, namun ia memaksakan kakinya untuk terus melangkah tegap.Jemari tangan Nayla meremas pinggiran nampan besi berukir yang ia dekap di depan dada.Beban pekerjaan sebagai pelayan pribadi kesultanan terasa kian berat mengimpit seluruh persendian tubuhnya setiap hari.Namun, bayangan senyuman sang ibu di desa selalu menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap bertahan hidup di tempat terkutuk ini.Langkah kakinya mendadak terhenti total di belokan lorong yang sunyi.Di ujung koridor, berdiri sesosok pria bertubuh tinggi besar yang laksana

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 104: Pelayan Baru Ibu Suri

    Rania mendapat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya yang serba kekurangan.Ia dipanggil masuk ke kediaman Ibu Suri Nadira, wilayah paling sakral di sayap timur istana.Di dalam ruangan paviliun yang luas dan beraroma dupa gaharu khas Wilayah Timur itu, Selir Safiya sudah duduk menunggu di atas kursi beludrunya.Jemari lentiknya yang berkuku merah merona tampak mengetuk-ngetuk sandaran lengan kayu dengan tidak sabar.Ketika Rania melangkah masuk dengan kepala menunduk kaku, Safiya langsung melayangkan seulas senyuman manis yang dipenuhi oleh bisa ular."Duduklah, Rania. Jangan berdiri di sana seperti patung batu," buka Selir Safiya, suaranya mengalun merdu penuh kepalsuan.Ia menggeser kotak kayu kecil berukir di atas meja marmer, memperlihatkan kilauan beberapa keping koin emas murni di dalamnya."Bagaimana dengan tawaran yang kuberikan saat itu? Apakah pikiranmu sudah selesai menimbang tumpukan harta ini?"Rania meremas ujung gaun pelayan luarnya yang kasa

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 103: Rahasia yang Tidak Diceritakan

    Pagi datang.Tetapi Nayla tidak membawa ketenangan sedikit pun bersamanya saat menginjakkan kaki di area istana utama.Sinar matahari fajar yang menerobos dari celah jendela ruang kerja utama memantul pucat pada permukaan lantai marmer hitam yang dingin.Nayla melangkah masuk dengan nampan tembaga di dekapannya.Gerakan tubuhnya terasa jauh lebih kaku dari biasanya, menahan rasa lelah emosional yang meluap.Bahunya menegang kaku, dan setiap ketukan sepatunya di lantai marmer seolah menuntut tenaga dari kakinya yang masih lemas akibat sisa ketakutan semalam.Wajah cantiknya pucat pasi tanpa rona kemerahan seperti biasa. Sepasang lingkaran hitam tercetak amat jelas di bawah kelopak matanya yang sayu dan kurang tidur.Ia meletakkan wadah tinta baru dan merapikan tumpukan kertas perkamen di tepi meja mahoni, berusaha keras bergerak seolah-olah dunianya sedang baik-baik saja.Namun, getaran halus pada ujung jemarinya saat memegang botol kaca tidak luput dari pengamatan tajam pria yang dudu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status