ANMELDENSisa hari Camelia benar-benar jauh dari kata tenang. Acara belanja yang seharusnya singkat itu berakhir dengan dirinya yang melesat pergi meninggalkan parkiran supermarket dengan perasaan kesal. Ia bahkan tidak peduli pada keranjang belanjaannya lagi. Kenzo yang kali ini membayar semua tagihan, sementara Restu sibuk membereskan belanjaan di troli.Camelia memacu mobilnya menuju apartemen dengan kecepatan tinggi, berharap bisa segera mengunci diri dan menjauh dari segala kerumitan.Namun, harapannya harus pupus. Tanpa persetujuan darinya, kedua "abang" itu sudah membuntuti dan dengan dalih rindu yang tidak masuk akal, mereka berhasil "mampir" ke unit apartemennya.Hanya dalam waktu satu jam, ruang tamu Camelia yang biasanya rapi sudah berubah menjadi area rekreasi yang berantakan. Kaleng bir, botol whisky yang sengaja Kenzo bawa dari mobilnya, hingga sisa cemilan berserakan di atas meja.Camelia baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, rambutnya masih sedikit basa
Acara belanja Camelia yang semula tenang, kini berubah total menjadi sore yang sangat berisik. Setiap kali Camelia mendorong trolinya melewati lorong supermarket, Restu dan Kenzo selalu berada di kanan dan kirinya, melontarkan asumsi-asumsi liar yang semakin tidak masuk akal. "Pasti dosen kamu itu tipe yang kalau jalan bunyi napasnya kedengaran sampai radius dua meter, kan? Tua, gendut, terus kalau ngomong muncrat?" tebak Kenzo sambil mengambil satu bungkus keripik dari rak dan memasukkannya ke troli Camelia tanpa izin. Restu tertawa tertaha, "Enggak, Zo. Feeling gue, dia itu tipe dosen yang sisiran rambutnya ditarik ke samping buat nutupin kebotakan di tengah. Kumisnya tebal, gigi warnanya kuning karena keseringan ngerokok, dan hobinya pakai batik yang kegedean." Camelia hanya bisa menggeleng kepala sambil tertawa cekikikan. Bayangan Kenan Abimanyu yang tampan, bertubuh atletis, dan selalu tampil perfect sangat jauh dari gambaran "horor" kedua abangnya. Namun, Camelia memilih
Klik. Bunyi kunci smartlock otomatis di pintu laboratorium lantai tiga bergema tajam di sepanjang lorong yang sepi. Camelia berdiri mematung sejenak, jemarinya masih sedikit gemetar saat melepaskan gagang pintu. Ada perasaan aneh yang merayapi tengkuknya semua terasa begitu mencekam. Apalagi dosen dinginnya mendadak bersikap seperti itu. Camelia mempercepat langkahnya, suara pantofelnya beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema yang memburu di belakangnya. Begitu mencapai pintu keluar gedung, aroma tanah basah langsung menyergap indranya. Langit sudah berubah menjadi abu-abu pekat. Di pinggir gedung menuju area parkir yang luas, Camelia menyadari mobilnya terparkir sendirian di bawah lampu jalan yang mulai berkedip. Angin dingin bertiup, menerpa wajahnya. Tanpa pikir panjang, ia menarik tudung jaket hitam besar Kenan ke atas kepala. Tubuhnya seolah tenggelam dalam besarnya jaket itu dengan lengannya terlalu panjang dan tudungnya menutupi separuh wajahnya. Namun, rasa hanga
Seminggu telah berlalu, dan hidup Camelia Queen Hasta benar-benar jungkir balik. Gelar "mahasiswa abadi" yang santai kini perlahan luntur, digantikan dengan citra mahasiswi ambisius yang setiap hari sudah terlihat di laboratorium lantai tiga sebelum dosen-dosen lain menginjakkan kaki di gedung fakultas.Bahkan mahasiswa paling rajin di angkatannya pun akan kalah telak jika dibandingkan dengan kedisiplinan Camelia saat ini.Mengeluh pun tidak ada gunanya, setiap kali ia hendak protes, tatapan tajam Kenan seolah sudah membungkam suaranya lebih dulu. Yang bisa Camelia lakukan hanyalah bekerja dengan cepat dan menyelesaikannya.Kenan Abimanyu benar-benar seorang diktator akademis dalam wujud nyata. Pria itu tidak hanya menuntut hasil yang sempurna, tetapi juga kedisiplinan yang gila. Camelia kini lebih sering memegang mikropipet dan membolak-balik buku teks serta jurnal-jurnal tebal berbahasa Inggris daripada memegang kuas make-up atau palet eyeshadow. Draft skripsinya yang dulu berantak
Camelia terbangun dengan perasaan yang tidak menentu. Penolakan Lucifer semalam di grup pribadi Miss Jiwa House benar-benar mencoreng harga dirinya. Selama ini menjadi predator cinta, baru kali ini ada pria yang berani berkata "tidak" pada tawarannya. Apalagi ini diluar jadwal pasti untuk bertemu."Sok jual mahal tapi bikin penasaran," gumam Camelia sambil melempar ponselnya ke kursi sebelahnya dalam mobil saat tiba di kampus. Tapi, segera dia pungut dan masukkan dalam kantong jas lab yang sudah dipakai.Langkahnya terasa berat saat memasuki laboratorium lantai tiga. Aroma bahan kimia yang tajam langsung menyambutnya saat pintu dibuka, beradu dengan aroma kopi hitam dari meja kerja Kenan. Pria itu sudah di sana, berdiri membelakangi pintu sambil menatap deretan tabung reaksi dengan saksama."Selamat pagi, Pak," sapa Camelia seformal mungkin. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, jarum jam menunjukkan angka jam delapan kurang dua menit, hampir saja terlambat.Kenan tidak menole
Camelia merutuki kebodohannya dalam hati. Bagaimana bisa ia tidak tahu kalau Midnight Garden, tempat yang ia anggap sebagai wilayah kekuasaannya, ternyata milik dosen pembimbingnya sendiri? Ia merasa seperti kancil yang merasa paling cerdik, padahal sedang menari di atas telapak tangan harimau. Namun, Camelia sudah membulatkan tekad. Ia tidak boleh terpancing. Fokusnya sekarang hanya satu: kerjakan penelitian secepat mungkin, selesaikan skripsi, lalu menghilang selamanya dari radar dosen dingin ini. Ia harus menjadi mahasiswi yang paling membosankan dan penurut agar Kenan tidak punya alasan untuk menahannya lebih lama. Satu jam terakhir di kafe itu diisi dengan upaya Camelia menunjukkan keseriusannya. Beberapa kali ia memberanikan diri bertanya tentang poin-poin yang kurang dia pahami dalam jurnal yang sedang ia bedah. "Pak, soal bagian analisis ini... apakah saya harus membandingkan dengan teori yang lama atau langsung fokus ke hasil yang baru?" tanya Camelia hati-hati. K







