Home / Romansa / Rahasia Nakal Sang Mahasiswi / 8. Terjebak Rutinitas Baru

Share

8. Terjebak Rutinitas Baru

last update publish date: 2026-05-03 19:57:42

Seminggu telah berlalu, dan hidup Camelia Queen Hasta benar-benar jungkir balik. Gelar "mahasiswa abadi" yang santai kini perlahan luntur, digantikan dengan citra mahasiswi ambisius yang setiap hari sudah terlihat di laboratorium lantai tiga sebelum dosen-dosen lain menginjakkan kaki di gedung fakultas.

Bahkan mahasiswa paling rajin di angkatannya pun akan kalah telak jika dibandingkan dengan kedisiplinan Camelia saat ini.

Mengeluh pun tidak ada gunanya, setiap kali ia hendak protes, tatapan ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Utiputi
yakin kebetulan cam? hmm
goodnovel comment avatar
Cantik Lincah
Kebetulan? yakin kebetulan?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   104. Cemburu Sang Predator

    ​"Gimana semalam? Tidur kamu nyenyak setelah dapat telepon penting?" ​Sindiran tajam Camelia di meja makan pagi itu langsung menyambut Kenan yang baru saja menuangkan kopi hitam ke cangkirnya. Camelia duduk dengan santai, sudah rapi mengenakan kemeja formal, sementara matanya menatap Kenan dengan binar mengejek yang sangat kentara. ​Kenan menghentikan gerakannya sejenak, melirik Camelia dengan ekspresi lempeng andalannya. "Sangat nyenyak, Nona Camelia." ​"Oh, ya?" Camelia tertawa renyah, sengaja memancing emosi pria di hadapannya sebelum berdiri dan menyambar tasnya. "Ayo jalan, Pak Dosen. Kita punya banyak agenda diskusi di kampus hari ini." ​Kenan hanya mengembuskan napas berat, menahan diri untuk tidak menarik wanitanya itu kembali ke dalam kungkungannya sebelum mereka melangkah keluar menuju mobil. ​Pukul sembilan pagi, ruang rapat utama laboratorium universitas rekanan sudah dipenuhi oleh jajaran dosen s

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   103. Si Sumbu Pendek

    ​"Nggak usah pasang wajah murahan lo di depan Baskara, kita cuma sebentar disini," desis Kenan, suaranya bergetar menahan amarah yang telanjur mencapai ubun-ubun begitu mobil mewah mereka mulai membelah jalanan sepi. ​Camelia yang sedang bersandar santai di kursi penumpang hanya mendengus. "Murahan lo bilang? Gue cuma nanggapi dia yang bersikap ramah, Pak Dosen. Lagian salahnya di mana? Lo sendiri yang bilang kalau gue bebas pakai topeng." ​"Tapi nggak dengan membiarkan tangan dia menyentuh lo di depan mata gue!" Kenan memukul kemudi dengan keras, membuat mobil sempat oleng sedikit sebelum dia kembali menguasai keadaan. ​Tepat saat atmosfer di dalam mobil memanas, ponsel Camelia yang ada di tangannya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk menerangi remang kabin mobil. Mata elang Kenan melirik secepat kilat, menangkap sebaris kalimat pendek di layar: 'Sori ya baru bisa ngabarin sekarang...' ​Ciiittt! ​Kenan mendadak menginjak rem dengan kasar di pinggir jalanan yang sepi. Sebelum

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   102. Dua Sisi

    ​"Baskara, tolong kamu bantu Camelia kalibrasi dulu. Pastikan larutan pereaksinya masuk tepat ke tabung reaksi," instruksi Pak Wayan dari balik meja, memecah keheningan laboratorium yang hanya diisi suara dengung mesin pendingin.​"Siap, Pak," sahut Baskara, langsung berdiri begitu dekat di sebelah Camelia hingga bahu mereka hampir bersentuhan. "Alright, Camelia. Let me show you how we do it here. Just press it down to the first stop, like this ...."​Camelia memperhatikan dengan saksama, sesekali sengaja mendongak dan melempar senyuman termanisnya dari jarak dekat.​"Gini ya, Bas? Agak keras ya ternyata pencetannya," ujar Camelia memasang raut wajah agak kesulitan yang dibuat-buat.​"No, you're doing great. Here, let me help you adjust your grip," balas Baskara ramah. Tanpa ragu, pria itu menaruh telapak tangan hangatnya di atas punggung tangan Camelia, menuntun jemari wanita itu untuk menekan alat laboratorium tersebut.​Brak!​Suara tumpukan jurnal yang diletakkan dengan sedikit h

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   101. Target Baru Premium

    ​"Pak Kenan? Nona Camelia? Kalian dimana?"​Suara berat Gede yang menggema dari ujung jembatan seketika memutus ciuman panas yang membakar gairah mereka secara paksa. Camelia buru-buru menurunkan kakinya ke lumpur lagi secara perlahan, sementara Kenan bergerak cepat memosisikan tubuhnya di depan Camelia, menghalangi pandangan siapa pun dari atas sembari merapikan kaosnya yang kusut.​"Ya, Gede! Kami disini!" sahut Kenan, suaranya kembali datar dalam hitungan detik sekaligus mengatur napasnya. ​Camelia menahan tawa geli melihat betapa cepatnya sang dosen pembimbingnya memasang kembali topeng formalnya. Dia mendongak, menatap Gede dan Pak Wayan yang muncul di bibir jembatan membawa kotak pendingin.​"Aduh, maaf ya agak lama. Ini medannya lumayan licin, Pak," ujar Camelia dengan nada polos, sengaja mengedipkan matanya ke arah Kenan yang kini sedang memungut botol sampel tanah.​"Ah, tidak apa-apa, Mbak Camelia. Memang area hutan mangrove in

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   100. Jerat Lumpur Pagi

    Hutan mangrove pagi ini masih diselimuti kabut tipis dan kegelapan saat jarum jam baru menunjukkan pukul lima pagi. Angin laut bertiup kencang, menggoyang dedaunan rimbun pohon mangrove yang lebat dan menciptakan suasana redup seolah terisolasi dari dunia luar.Pihak kampus, Pak Wayan dan Gede, masih di pos depan untuk menyiapkan kotak pendingin sampel, meminta Kenan dan Camelia untuk mulai mengambil sampel di area yang kemarin sore sudah mereka survei.​Camelia berdiri di tepi jembatan kayu, menatap hamparan lumpur hitam sedalam lutut di bawahnya. Dia mengenakan celana ketat dengan sepatu boot yang sudah disiapkan oleh Kenan, siap bertempur dengan medan kotor hari ini.​"Turun sekarang, Ca. Air laut mulai surut, ini waktu terbaik sebelum sedimennya bergeser," perintah Kenan, suaranya tegas memecah suasana pagi itu yang hanya ada suara burung-burung air dari jauh saling bersahutan. Pria itu berdiri di belakangnya, memegang senter yang cahayanya menembus keremangan hutan.​Camelia meno

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   99. Jejak Sore di Hutan Mangrove

    ​Rapat kilat di dalam laboratorium selesai dalam waktu singkat. Tanpa membuang waktu, sore itu juga tim kecil yang terdiri dari Kenan, Camelia, Pak Wayan, dan seorang teknisi lab bernama Gede langsung meluncur ke kawasan Taman Hutan Raya Ngurah Rai. Matahari Bali sudah mulai condong ke barat, memancarkan rona jingga yang berpadu dengan rapatnya vegetasi hijau hutan mangrove di sepanjang pesisir Benoa.​Begitu turun dari mobil, embusan angin laut yang lembap langsung menerpa wajah Camelia. Dia segera mengeluarkan sebuah tab dan buku catatan khusus dari tasnya.​"Kita bagi tugas agar efisien ya," buka Pak Wayan, memecah kesibukan tim dengan suara baritonnya yang tegas. "Bagaimana Pak Kenan? Untuk perizinan sudah kami urus semua dan pihak Tahura sudah setuju.""Baik Pak Wayan, saya ikut rencana bapak.""Ok, kalau begitu kami tim lab lokal bisa fokus memetakan parameter salinitas di bagian muara luar. Biar Pak Kenan dan mbak Camelia yang menyisir jalur trek kayu ini untuk mendata titik in

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   11. Sore yang "Tenang"

    Sisa hari Camelia benar-benar jauh dari kata tenang. Acara belanja yang seharusnya singkat itu berakhir dengan dirinya yang melesat pergi meninggalkan parkiran supermarket dengan perasaan kesal. Ia bahkan tidak peduli pada keranjang belanjaannya lagi. Kenzo yang kali ini membayar semua tagihan, sem

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   10. Interogasi Sore

    Acara belanja Camelia yang semula tenang, kini berubah total menjadi sore yang sangat berisik. Setiap kali Camelia mendorong trolinya melewati lorong supermarket, Restu dan Kenzo selalu berada di kanan dan kirinya, melontarkan asumsi-asumsi liar yang semakin tidak masuk akal. ​"Pasti dosen kamu it

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   9. Aroma yang Menjebak

    Klik. ​Bunyi kunci smartlock otomatis di pintu laboratorium lantai tiga bergema tajam di sepanjang lorong yang sepi. Camelia berdiri mematung sejenak, jemarinya masih sedikit gemetar saat melepaskan gagang pintu. Ada perasaan aneh yang merayapi tengkuknya semua terasa begitu mencekam. Apalagi dose

  • Rahasia Nakal Sang Mahasiswi   7. Kontradiksi

    Camelia terbangun dengan perasaan yang tidak menentu. Penolakan Lucifer semalam di grup pribadi Miss Jiwa House benar-benar mencoreng harga dirinya. Selama ini menjadi predator cinta, baru kali ini ada pria yang berani berkata "tidak" pada tawarannya. Apalagi ini diluar jadwal pasti untuk bertemu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status