LOGIN"Lelahnya," keluh Anna sembari mengaduk kopi di ruang pantry ICU. Dia menguap lebar mirip kerbau dan tanpa malu bahwa ada rekannya tengah duduk di depannya. Memaksa kaki yang terasa pegal di bagian betis lalu mendudukkan diri di samping perempuan berambut keriting bernama Shanon. Untuk beberapa saat, Anna menghidu dalam-dalam biji Arabica memenuhi rongga dada, setidaknya cara inilah yang mampu merelaksasikan betapa padat kegiatan yang harus dikerjakan.
"Bersemangatlah, Annie," ujar Shanon memanggil nama Anna dengan Annie karena mengingatkan sosok sepupunya yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu. "Beberapa jam lagi kau akan terbebas dari kontrakmu dan aku ... merasa sedih." Nada bicara Shanon terdengar tak rela. "Oh, Shanon ..." Anna menyandarkan kepala ke bahu Shanon, merasa terharu atas hubungan baik yang terjalin selama tiga bulan bekerja di Fairfield Hospital. "Aku tidak langsung pulang ke Indonesia. Jadi, kita bisa hang out seperti rencanamu minggu lalu. Menari seperti orang gila di No lights No Lycra atau tertawa sampai perut sakit di Comedy Nights?" "Keduanya!" seru Shanon antusias. Menangkup dan menepuk-nepuk pipi tembam Anna kegirangan. "Jangan lupakan kue semangka Black Star Pastry. Kita harus datang lebih awal karena mereka akan mengadakan diskon musim panas. Aku tidak mau kehabisan lagi." "Bagus. Aku tidak sabar menaikkan kadar gulaku setelah semua hari berat yang kita lalui," tandas Anna mengenang minggu-minggu terakhir di ICU benar-benar terasa sulit. Dia menyeruput kopinya lagi sambil sesekali memijit tengkuk yang terasa kaku hampir dua belas jam standby tanpa henti. Di sisi lain, menjalani kerja jangka pendek seperti sekarang benar-benar menguntungkan. Anna bisa mengumpulkan pundi-pundi uang hampir empat ribu dollar tiap minggu selama tiga bulan bekerja di ruang intensif. Ya ... walau terkadang, segelas kafein tidak mempan menahan kantuk ketika dinas jaga. Lihat saja lingkaran hitam di bawah matanya tampak mengerikan jikalau tidak ditutupi alas bedak. Mungkin sebentar lagi orang-orang akan membanding-bandingkannya dengan panda di kebun binatang. "I know," kata Shanon menepuk-nepuk tangan Anna yang mendekapnya. "Setelah ini kau akan berpetualang ke mana?" Anna terdiam, menimang-nimang daftar hal yang ingin dilakukan setelah kontrak kerjanya di sini selesai besok pagi. Dalam kebisuan, iris cokelat gelap Anna mengamati langit-langit pantry seakan-akan di sana ada sebuah jawaban yang sedang digali, hingga Shanon mengikuti arah pandang gadis manis itu. Sejujurnya Anna ingin menghabiskan waktu untuk rehat sebentar, setidaknya tiga hari ke depan sebelum pulang ke kampung halaman atau sebelum mengambil kontrak kerja baru di negara bagian Australian yang lain. "Apa kau membayangkan seseorang sampai kau meneteskan air liurmu, Annie?" bisik Shanon memicingkan mata besarnya. "Aku penasaran." Sontak saja Anna memukul lengan Shanon, mengelak tegas apa yang dilontarkan temannya seraya terbahak-bahak. Anna tidak punya waktu untuk memikirkan pria jika mereka hanya bisa menyakiti hati saja. Pria parasit! Setidaknya itu terpatri sempurna di kepala Anna dari kisah menyedihkannya terakhir kali. Lagi pula, kalau dipikir-pikir ulang, dia merasa perempuan lebih bisa mengeksplorasi hidupnya lebih bebas dan bahagia ketimbang saat bersama pria bermodalkan kata sayang semata. Apalagi sekarang sudah banyak perempuan memutuskan untuk menggapai mimpi dan memajukan karier agar tidak sembarang jatuh ke pelukan pria murahan. "Mungkin aku akan cuti," tandas Anna membuyarkan imajinasi liar Shanon. "Ibuku membutuhkanku, Shanon." "I see," ujar Shanon melengkungkan bibir masam. "Kau benar-benar pekerja keras, Annie. Tetap bernafas dan jangan lupakan liburan agar hidupmu tetap seimbang." "Thanks." Anna menenggak kopinya sampai habis tak tersisa. Hatinya tersentuh atas ucapan Shanon yang begitu memperhatikannya bagai seorang kakak. Mendadak Anna ingin tahu bagaimana rasanya memiliki seorang saudara yang mau memberi tempat bersandar. Dia menghela napas panjang, menepis fatamorgana dalam kepala yang tidak mungkin menjadi kenyataan. "Aku tidak sabar kita liburan bersama," lanjutnya mengalihkan topik. "Dan mencari pria," sambung Shanon mengerlingkan sebelah mata. "Sudah waktunya untuk memanjakan mataku melihat, berkenalan dengan seorang pria seksi, dan bersenang-senang menikmati hidup sebagai lajang." "Pria seksi? Ah ... itu bukan ide bagus," canda Anna kembali meneguk kopi yang keburu dingin. "Kecuali mereka adalah Ian Somerhalder."Jake berjalan mondar-mandir menunggu tanpa kepastian atas kondisi Barbara. Dentuman di dadanya belum bisa berdetak normal kalau dokter yang menangani neneknya tidak kunjung keluar dari ruang tindakan. Dia takut sungguh takut jika terjadi sesuatu yang mengancam nyawa Barbara. Tapi, kata perempuan yang mengenalkan dirinya sebagai Anna, neneknya bakal baik-baik saja mengingat setelah pertolongan pertama Barbara sempat sadar.Ekor mata abu-abu gelap Jake melirik gadis berambut sebahu yang duduk di kursi ruang tunggu. Dia tampak begitu tenang, malah meneguk sebotol cola dingin juga melahap cokelat batang. Suatu kebiasaan aneh bagi Jake mendapati perempuan seperti Anna. Dia bertanya-tanya dalam hati, benarkah gadis itu benar-benar seorang perawat? Jika benar, bukankah mereka paham konsumsi cola dan cokelat berlebihan bisa menaikkan kadar gula secara drastis? Gadis aneh!Di luar kegilaan yang menyapa, harus Jake akui kalau bukan karena Anna, mungkin Barbara bisa jadi tak tertolong. Dia mema
"Nonna!" seru Jake panik lalu meraba karotis Barbara. Seketika pupil matanya melebar merasakan tidak ada denyut di sana. "Nonna! Bangunlah!"Merasa nuraninya terpanggil, Anna berlari menghampiri si pria eksotis meninggalkan rombongannya sendiri. Dia berlutut sembari berkata, "Hei, I'm nurse Anna. I can help!""Tolong, please," kata Jake cemas tidak ingin terjadi apa-apa pada Barbara. "Tolong Nonna-ku. Tadi dia nggak apa-apa loh!"Anna tercengang beberapa saat mengetahui pria yang dikira sebagai orang asing ternyata fasih berbahasa Indonesia. Sungguh berbeda dengan aksen kebaratan yang tadi dia dengar. Dari sini dia baru bisa melihat jelas bagaimana bentuk rupa wajah yang membingkai pria asing ini. Apakah suara tadi yang menyarankan tes Brix itu suaranya? pikir Anna meragu. Ah! Dia menepis pertanyaan tak penting tersebut dan menyingkirkan kekaguman terhadap pria tampa di depannya. Tangan Anna bahu Barbara untuk mengecek respons ketika mendapati seseorang pingsan. Dia memanggil nonna s
Anna memarkirkan motor di area parkir kebun bertuliskan Agrowisata Lagom lalu melepaskan helm merah. Dia mengedarkan pandangan sejenak menyisir area yang begitu asri di mata lalu mengerutkan kening mendapati sebuah mobil mewah terpakir di ujung kirinya. Sultan macam apa yang berkunjung tempat ini alih-alih beach club kelas VIP? Dia mengedikkan bahu tak mau tahu lantas bercermin sebentar ke kaca spion untuk menyisir rambut bergelombang sebahunya agar terlihat rapi sebelum menggantungkan helm. "Lipstikku kurang on," gumamnya merogoh isi tas rotan dan mengambil sebuah lip cream pink ke bibir. Setelahnya, Anna mengambil ponsel kemudian memotret papan bercat hijau sebagai penunjuk area wisata Lagom kebanggaan Shanon. Anna terkikik saat mengirim foto tersebut dan tak sabar melihat reaksi temannya yang selalu berlebihan itu.Anna : Mari kita lihat apa aku bisa bertemu si sexyback yang kau idamkan.Setelah kepulangannya dari Sydney, Anna selalu menyempatkan diri menjelajahi tempat-tempat men
Jake menutup sambungan telepon usai memberikan beberapa gagasan kepada ayahnya terkait aksi turis yang meresahkan. Dia berpikir, kalau perlu membatasi jumlah tur wisata juga memasang pagar kawat di kebun anggur yang ada d Tuscany, Italia. Selama ini, Jake tahu Fabio selalu membebaskan kedatangan mereka selama musim panas berlangsung sampai tanpa sadar peluang itu dimanfaatkan orang-orang jahil untuk mencuri anggur yang siap panen. Namun, jika Fabio masih menginginkan kedatangan orang asing untuk menarik konsumen mencicipi olahan anggur terbaik Tuscano, maka perlu adanya tindakan khusus dengan menyortir berdasar paspor mereka."Itu tidak masuk akal menurutku, Jake," ucap Fabio menolak tegas ide anaknya. "Mereka pasti protes dan mengecam karena merasa dibatasi akses untuk berkunjung ke sini. Aku tidak mau rating kita turun.""Jadi, apa jalan keluarnya kalau kita tidak memberi peraturan ketat, Papa?" tandas Jake mengetuk-ngetukkan jemari kiri di atas meja kerja. "Sejak kemarin Nonna suda
Aula komunitas Bondi Scout Hall pada malam hari dipenuhi orang-orang yang menari bebas didampingi musik penuh semangat Spice Girls dari speaker. Mereka bergerak lincah tanpa aturan tertentu, hanya mengikuti naluri tuk melepaskan penat setelah disibukkan segudang pekerjaan. Berbekal sorot lampu kehijauan menyembur dari ujung pintu masuk, memantulkan bayangan tumpukan kursi-kursi mengelilingi aula, semua orang berdansa tanpa hambatan termasuk pengaruh alkohol."If you wanna be my lover, you gotta get with my friends!" teriak Anna dan Shanon bersamaan. Mereka hanyut dalam lirik Wannabe yang menjadi lagu utama di No Lights No Lycra malam ini. Berbarengan menggoyangkan bahu secara berhadapan kemudian membalikkan badan, saling menyenggol pantat walau tubuh Shanon lebih besar dibanding Anna.Anna mengangkat kedua tangan ke udara, berjingkrak-jingkrak makin energik mengikuti bait demi bait yang dinyanyikan grup vokal asal Inggris itu. Tak memedulikan peluh bercucuran membasahi kulit dan menet
"Buonasera, Nonna!" sapa seorang pria seraya merentangkan kedua tangan saat menyambut wanita tua mengenakan setelan mahal dan kacamata hitam klasik berhias kristal Swarosky. "Aku merindukanmu," sambungnya lantas mendekap hangat sang nenek tercinta.(Selamat sore, Nenek!)Walau tubuh wanita itu telah dimakan usia, penampilannya masih terlihat bugar dan gesit. Punggung tak terlalu bungkuk seperti nenek-nenek lain yang sudah menginjak angka 80 tahunan pada umumnya. Kecantikan masih kentara di wajah bulatnya, kecuali garis keriput meski sering facial treatment menggunakan emas 24 karat yang dijalani setiap bulan. Rambut keriting yang memutih tergerai sebahu dan bergoyang diterpa angin. "Aku juga merindukanmu, Jake. Kau makin tampan seperti ayahmu," puji wanita itu menepuk-nepuk bahu bidang pria yang dipanggil Jake. "Benar-benar turunan Luciano."Jake tergelak dan salah tingkah setiap kali mendengar pujian berlebihan dari neneknya, Barbara. Namun, tidak dipungkiri bahwa semua orang yang b







