Share

Bab 2

Author: Ry-santi
last update publish date: 2026-08-03 08:23:28

"Lelahnya," keluh Anna sembari mengaduk kopi di ruang pantry ICU. Dia menguap lebar mirip kerbau dan tanpa malu bahwa ada rekannya tengah duduk di depannya. Memaksa kaki yang terasa pegal di bagian betis lalu mendudukkan diri di samping perempuan berambut keriting bernama Shanon. Untuk beberapa saat, Anna menghidu dalam-dalam biji Arabica memenuhi rongga dada, setidaknya cara inilah yang mampu merelaksasikan betapa padat kegiatan yang harus dikerjakan.

"Bersemangatlah, Annie," ujar Shanon memanggil nama Anna dengan Annie karena mengingatkan sosok sepupunya yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu. "Beberapa jam lagi kau akan terbebas dari kontrakmu dan aku ... merasa sedih." Nada bicara Shanon terdengar tak rela.

"Oh, Shanon ..." Anna menyandarkan kepala ke bahu Shanon, merasa terharu atas hubungan baik yang terjalin selama tiga bulan bekerja di Fairfield Hospital. "Aku tidak langsung pulang ke Indonesia. Jadi, kita bisa hang out seperti rencanamu minggu lalu. Menari seperti orang gila di No lights No Lycra atau tertawa sampai perut sakit di Comedy Nights?"

"Keduanya!" seru Shanon antusias. Menangkup dan menepuk-nepuk pipi tembam Anna kegirangan. "Jangan lupakan kue semangka Black Star Pastry. Kita harus datang lebih awal karena mereka akan mengadakan diskon musim panas. Aku tidak mau kehabisan lagi."

"Bagus. Aku tidak sabar menaikkan kadar gulaku setelah semua hari berat yang kita lalui," tandas Anna mengenang minggu-minggu terakhir di ICU benar-benar terasa sulit.

Dia menyeruput kopinya lagi sambil sesekali memijit tengkuk yang terasa kaku hampir dua belas jam standby tanpa henti. Di sisi lain, menjalani kerja jangka pendek seperti sekarang benar-benar menguntungkan. Anna bisa mengumpulkan pundi-pundi uang hampir empat ribu dollar tiap minggu selama tiga bulan bekerja di ruang intensif. Ya ... walau terkadang, segelas kafein tidak mempan menahan kantuk ketika dinas jaga. Lihat saja lingkaran hitam di bawah matanya tampak mengerikan jikalau tidak ditutupi alas bedak. Mungkin sebentar lagi orang-orang akan membanding-bandingkannya dengan panda di kebun binatang.

"I know," kata Shanon menepuk-nepuk tangan Anna yang mendekapnya. "Setelah ini kau akan berpetualang ke mana?"

Anna terdiam, menimang-nimang daftar hal yang ingin dilakukan setelah kontrak kerjanya di sini selesai besok pagi. Dalam kebisuan, iris cokelat gelap Anna mengamati langit-langit pantry seakan-akan di sana ada sebuah jawaban yang sedang digali, hingga Shanon mengikuti arah pandang gadis manis itu. Sejujurnya Anna ingin menghabiskan waktu untuk rehat sebentar, setidaknya tiga hari ke depan sebelum pulang ke kampung halaman atau sebelum mengambil kontrak kerja baru di negara bagian Australian yang lain.

"Apa kau membayangkan seseorang sampai kau meneteskan air liurmu, Annie?" bisik Shanon memicingkan mata besarnya. "Aku penasaran."

Sontak saja Anna memukul lengan Shanon, mengelak tegas apa yang dilontarkan temannya seraya terbahak-bahak. Anna tidak punya waktu untuk memikirkan pria jika mereka hanya bisa menyakiti hati saja. Pria parasit! Setidaknya itu terpatri sempurna di kepala Anna dari kisah menyedihkannya terakhir kali. Lagi pula, kalau dipikir-pikir ulang, dia merasa perempuan lebih bisa mengeksplorasi hidupnya lebih bebas dan bahagia ketimbang saat bersama pria bermodalkan kata sayang semata. Apalagi sekarang sudah banyak perempuan memutuskan untuk menggapai mimpi dan memajukan karier agar tidak sembarang jatuh ke pelukan pria murahan.

"Mungkin aku akan cuti," tandas Anna membuyarkan imajinasi liar Shanon. "Ibuku membutuhkanku, Shanon."

"I see," ujar Shanon melengkungkan bibir masam. "Kau benar-benar pekerja keras, Annie. Tetap bernafas dan jangan lupakan liburan agar hidupmu tetap seimbang."

"Thanks." Anna menenggak kopinya sampai habis tak tersisa. Hatinya tersentuh atas ucapan Shanon yang begitu memperhatikannya bagai seorang kakak. Mendadak Anna ingin tahu bagaimana rasanya memiliki seorang saudara yang mau memberi tempat bersandar. Dia menghela napas panjang, menepis fatamorgana dalam kepala yang tidak mungkin menjadi kenyataan. "Aku tidak sabar kita liburan bersama," lanjutnya mengalihkan topik.

"Dan mencari pria," sambung Shanon mengerlingkan sebelah mata. "Sudah waktunya untuk memanjakan mataku melihat, berkenalan dengan seorang pria seksi, dan bersenang-senang menikmati hidup sebagai lajang."

"Pria seksi? Ah ... itu bukan ide bagus," canda Anna kembali meneguk kopi yang keburu dingin. "Kecuali mereka adalah Ian Somerhalder."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Sang CEO   Bab 30

    Resort Komaneka terletak tidak jauh dari pantai Keramas sehingga Jake dan Anna memutuskan untuk berjalan kaki selagi berbincang-bincang tentang beberapa tempat lain yang dirasa cocok menguji adrenalin. Anna baru tahu kalau Jake menyukai kegiatan-kegiatan alam seperti hiking dan climbing daripada selancar. Dia mencibir saat si juragan anggur yang serba bisa tersebut mengelak kalau semua yang dikuasainya ini sebatas ingin tahu."Ingin tahu dan berbakat itu beda tipis, Jake," ledek Anna. "Buktinya aku suka melihat orang berlatih bela diri, tapi saat mencobanya sendiri ... mereka bilang aku nggak mampu.""Bukan salahmu, Anna, tapi pelatihmu," timpal Jake. "Pelatih yang baik adalah orang yang mau mengajari anaknya sampai bisa. Inget Mrs. Puff di kartun Spongebob? Udah ratusan kali Spongebob gagal tes mengemudi, apa pengajarnya menyuruh berhenti dan mengoloknya nggak bisa?""Kayaknya nggak," jawab Anna. "Jadi, kamu pernah gagal?""Manusia pasti pernah n

  • Rahasia Sang CEO   Bab 29

    Anna : Bersamanya makin membuat kepalaku pusing. Shanon : Lol, sepertinya kau perlu sebutir pereda nyeri, Annie. Shanon : Tetap bernapas tenang, Mate. Jangan sampai dia tahu kau ada rasa untuknya. Anna : Karena cinta bisa merubah sebuah pertemanan kan?Shanon : Benar. Tetap bernapas, Mate. Tetap bernapas.Anna menarik oksigen sebanyak mungkin di sekitarnya merasakan makin lama atmosfer bersama Jake makin memanas. Bukan hanya kepiawaian pria maskulin itu menunggangi papan di atas kerasnya ombak, melainkan penampilannya yang benar-benar menggiurkan bagai cokelat leleh. Kulit tan Jake berkilau diterpa bias senja, peluh keringat bercampur air laut berubah wujud menjadi kristal-kristal menempeli tiap lekuk tubuh kekarnya, hingga rambut keritingnya yang basah meneteskan bulir-bulir air ke leher turun ke riak-riak otot perut yang ingin Anna belai dengan jemari. Jangan lupakan juga bulu dadanya, Anna! Bulu dada yang menggoda tanganmu untuk menari-nari di sana!Samar-samar semburat rona me

  • Rahasia Sang CEO   Bab 28

    Jake keluar dari ruang ganti hanya mengenakan boardshort hitam lalu meraih surfboard bercat hijau neon berlogo pohon kelapa dan bertuliskan Paradise of Bali miliknya yang disandarkan ke tembok. Dari balik kacamata hitam yang bertengger anggun di batang hidung mancung Jake, dia mengedarkan pandangan mencari-cari sosok Anna. Bibirnya melempar senyum kepada beberapa perempuan-perempuan berkulit kemerahan akibat terbakar matahari yang menggodanya melalui kerlingan mata."Hei, handsome," sapa seorang perempuan pirang mengenakan bikini. Jake tak menanggapi dan sudah menjadi makanan sehari-hari ketika dirinya keluar hanya mengenakan celana pendek. Dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus menjadi daya tarik para wanita. Kadang kala ada yang blak-blakan ingin menelusuri jemari mereka ke otot-otot perut Jake sebelum berhenti di balik celana yang digunakan. Dasar gila! rutuknya dalam hati.Dengan bertelanjang kaki, Jake berjalan menginjak butiran pasir putih halus sembari menarik aroma-aroma

  • Rahasia Sang CEO   Bab 27

    Deru mesin motor menggelegar telinga seakan-akan ingin merontokkan jantung dari dada. Anna yang baru saja menyemprotkan parfum beraroma white musk dan vanila nyaris menjatuhkan botol Victoria Secret ke lantai. Dia mendecak kesal, buru-buru beranjak dari pinggir kasur tuk mengintip siapa yang datang. Selama ini di kampungnya belum pernah ada orang yang memiliki motor bersuara bagai geraman singa tersebut sebagai bentuk menghargai ketenangan antar tetangga. Tidak salah kan kalau Anna menegurnya? Jake! Bola mata gadis itu hampir saja menggelinding ke lantai mendapati sosok menawan tengah berdiri di depan pagar besinya. Dia melepas helm hitam mengilap, celingukan seraya merogoh ponsel dan tak lama ponsel Anna berdering. Secepat mungkin Anna mengemasi barang-barang yang perlu dibawa ke dalam tas ransel lantas berlari menghampiri Jake. Dia meraih papan surfing yang ada di ruang tamu agak kepayahan. Begitu sampai di teras rumah, rasa ingin melabrak si pengendara motor pun lenyap berganti

  • Rahasia Sang CEO   Bab 26

    "Makasih, Bli!" ucap Anna selepas dua orang pria suruhan Jake memasang CCTV di teras rumahnya. Dia mengeluarkan dua botol minuman dingin dan dua bungkus nasi Padang untuk diberikan sebagai imbalan sudah mau membantunya. "Oh iya, ini diminum dulu, Bli. Cuacanya panas. Saya beliin makanan juga.""Iya, Mbok," kata si pria bertubuh tambun. "Makasih."Mereka berdua duduk di kursi berbahan kayu jati, membuka penutup botol lalu meneguknya cepat. Sementara Anna mengamati mereka dalam diam karena rasa sungkan mengapa majikan mereka berbuat sampai sejauh ini. "Pak Jake itu ... emang kayak gitu ya, Bli?" tanya Anna duduk di salah satu kursi sembari melepas jaket denim kemudian mengikat rambutnya yang mulai memanjang. Rasa penasaran makin membelenggu Anna kenapa Jake terus-menerus menabur kebaikan kepada orang yang pernah membantu neneknya satu kali. Mungkin orang lain akan suka cita menerimanya, tapi Anna tidak bisa selamanya berpangku tangan membiarkan Jake mengurusnya terus. Dia sadar diri k

  • Rahasia Sang CEO   Bab 25

    "Are you okay?" tanya Jake sembari menangkup wajah pucat pasi Anna begitu sampai di rumah gadis itu. "Apa yang terjadi?"Bibir Anna bergetar tanpa mampu meloloskan kalimat-kalimat yang berputar-putar dalam kepala. Semua untaian kata mendadak lenyap tanpa bekas menyisakan bayangan-bayangan mencekam saat seseorang menerima ancaman seperti itu. Kristal bening yang keluar dari pelupuk matanya makin mengucur tanpa henti hingga korneanya terasa pedih. Dia takut setengah mati sampai-sampai memukul dadanya sendiri, mencoba membangunkan diri siapa tahu ini hanyalah sekadar mimpi buruk. Tapi, sebesar apa pun usahanya untuk bangkit dari kekacauan, semuanya terlalu seram tuk menjadi kenyataan.Apakah ada orang yang membencinya sampai tega mengirim benda mengerikan itu?Begitu mendapat paket menjijikkan tersebut hingga mengeluarkan isi perut. Alarm dalam kepala Anna langsung mengarah ke nama Jake. Dia berlari ke dalam kamar, meraih ponsel dan terpaksa memutus sambungan video call Shanon lalu mengh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status