Share

Rahasia Sang CEO
Rahasia Sang CEO
Penulis: Ry-santi

Bab 1

Penulis: Ry-santi
last update Tanggal publikasi: 2026-08-22 18:26:04

"Code blue!" teriak Anna mendapati pasiennya tidak sadarkan diri, menurunkan posisi kepala tempat tidur agar sejajar kemudian melakukan pijat jantung.

"Code blue 12B room 10, Code blue 12B room 10!"

Tak berapa lama suara pengumuman menggaung untuk memberitahukan tim code blue bahwa ada pasien mendadak kritis. Disusul seorang wanita berambut keriting menghampiri Anna sambil memakai sarung tangan dan mengambil ambu bag.

"Apa yang terjadi?" tanya perempuan itu berusaha tidak panik. Dia memosisikan diri di atas kepala pasien usai melepas headboard supaya lebih leluasa. Lalu menarik bantal yang menyangga kepala, dilanjut memberikan bantuan napas. Beberapa saat kemudian, lima orang datang berbarengan termasuk dokter berkacamata sebagai ketua code blue. Salah satu dari mereka menyeret troli berisi obat-obat dan alat-alat emergensi.

"Ini Jhon, 28 tahun yang beberapa hari lalu dirawat karena overdosis obat," lapor Anna kepada dokter selagi terus memijat jantung pasien. "Tadinya dia baik-baik saja karena hari ini akan direncanakan pulang."

"Jadi, tadinya dia baik-baik saja?" tanya dokter yang mengenakan tanda pengenal Erick Smith.

Anna melenggut cepat. "Ya, Dok! Dia baik-baik saja. Tapi, saat aku datang untuk memberikan obat anti-nyeri, dia sudah tidak sadarkan diri. Dia riwayat pemakai obat narkoba melalui suntikan."

"Selang infusnya apa masih terpasang?" tanya dokter Smith.

"Sorry, tadi aku melepas infusnya karena dia akan keluar hari ini, Dokter Smith," jawab Anna merasa bersalah.

"Oke, sekarang pasang infus lagi dan berikan narcan!" perintah dokter itu kepada perawat lain berambut pendek yang bertugas sebagai tim pemberian obat.

Yang diberi mandat langsung bertindak, memasang jalur infus baru di lengan kiri. Tak lama, darah dari vena mengalir ke flash chamber lalu disambungkan ke cairan saline. "Infus terpasang," lapornya dilanjut memakaikan tensi monitor dan AED pad oleh perawat defibrilator-monitor. "Narcan masuk," tambahnya lagi.

"Oke. Berapa nadinya?" Dokter Smith tampak serius walau nada bicaranya terdengar begitu tenang.

"164 kali per menit," jawab si perawat monitor.

"Teruskan CPR. Bagaimana jalan napasnya, Anna?" tanya dokter Smith.

"Aman, Dok!" jawab perawat berambut ala Demi Moore yang menekan balon ambu bag secara beraturan.

"Pasang intubasi. Dan infusnya, tolong suntikkan epinefrin 1 miligram sekarang juga," pinta dokter Smith terus memberikan instruksi.

Di kamar sepuluh, suasana makin tegang ketika pasien belum menunjukkan perbaikan. Seolah-olah tim medis sedang tarik-menarik nyawa pasien dengan malaikat yang sedari tadi mengawasi dan menunggu tak sabar. Semua alat-alat emergensi telah terpasang, sementara Anna tanpa kenal lelah terus mengeluarkan tenaga untuk melakukan pompa jantung. Dokter Smith melihat jam di tangan kiri, menghitung sudah berapa lama obat perangsang denyut itu masuk, lantas dia berkata,

"Oke, sudah dua menit. Persiapan DC shock 120 joule, please!"

Si perawat defibrilator-monitor mengatur alat itu sampai ke angka yang diminta sang dokter. Alat tersebut berdenging nyaring bersamaan dokter Smith mengaba-aba agar perawat di sekeliling pasien tidak menyentuh selama pemberian kejut listrik.

"Clear!" seru dokter Smith.

"Clear!" seru para perawat menjauh beberapa langkah dari bed pasien.

"Shocking!" seru dokter Smith berbarengan dada pasien membusung beberapa detik. "Switch!" perintahnya membuat posisi Anna dan perawat senior yang tadi memasang intubasi berpindah.

Denyut jantung pasien makin meningkat menuju angka 200 dan dokter yang memimpin tim respons cepat itu mengomando agar terus melakukan CPR. Garis hijau di layar monitor bergerak cepat menunjukkan getaran tak normal yang menggambarkan bahwa jantung tengah berpacu tanpa henti namun tidak ada denyut. Apabila tidak segera dihentikan, bisa saja jantung mengalami kelelahan secara tiba-tiba.

Dokter meminta perawat menyuntikkan magnesium sulfat supaya pacu jantung yang tak karuan tersebut cepat turun. Keadaan semakin genting, manakala gambaran di layar makin lama makin cepat sampai dilakukan kejut jantung kedua.

"Shocking!" seru dokter Smith setelah menyuruh perawat menjauh berbarengan dada pasien membusung lagi menerima guncangan itu.

Anna menggeleng pelan, nyaris menyentuh batas pasrah namun tidak ingin menyerah. Dia mengamati garis hijau bagai sandi rumput di layar monitor menampilkan gerakan cepat kemudian memeriksa pupil pasien. Dilatasi. "Masih tidak ada perubahan, Dok!" seru Anna berusaha tenang walau sebenarnya berbanding terbali dengan suasana hati yang begitu panik.

Sebuah beban besar bagi diri Anna selama menjadi perawat kalau ada pasien yang tiba-tiba menurun secara drastis. Manalagi usia pria yang sedang bertaruh nyawa ini sebaya dengannya dan pasti akan menimbulkan sebuah penyesalan jika berakhir kematian. Pernah sekali waktu, Anna jatuh terduduk tidak dapat mempertahankan salah seorang pasien yang kala itu baru beberapa hari dirawat pasca operasi bedah abdomen. Menangis sesenggukan hingga tak nafsu makan akibat merasa bersalah pada keluarga pasien.

Namun, dia selalu diingatkan teman maupun seniornya jika keadaan-keadaan di rumah sakit memang tidak pernah bisa ditebak. Sekarang membaik, tapi sejam kemudian sekonyong-konyong mengalami henti jantung. Selain itu, mereka berkata bahwa perawat atau dokter bukanlah Tuhan yang berhak menentukan hidup dan mati manusia. Tenaga medis yang dipercaya Sang Pencipta hanyalah tangan-tangan ketiga yang hanya menunda kapan nyawa-nyawa itu kembali pada-Nya.

"Masukkan amiodaron dan ambil ABG untuk evaluasi elektrolit," pinta dokter Smith kepada perawat defibrilator-monitor. "Kita naikkan kekuatan listriknya jadi 300 joule kalau memang tidak ada perbaikan."

Beberapa saat kemudian, seperti cahaya yang menerangi gelapnya malam, senyum tipis muncul di bibir Anna tatkala angka denyut dan garis rekam jantung mulai melambat. Walau tidak bisa dikatakan normal, Anna menemukan secuil harapan dan segera memeriksa karotis. Dia menghela napas penuh kelegaan, melaporkan kepada dokter Smith kalau nadi pasien teraba lemah.

"Masukkan satu miligram atropin, sepertinya mulai mengarah ke AV Blok ketiga," ujar dokter Smith. "Jika tidak ada perbaikan, berikan dopamin lima mikrogram per kilo berat badan per menit. Lalu laporkan padaku, setidaknya target tekanan darah harus mencapai 80."

Perawat defibrilator-monitor menekan salah satu tombol untuk mengukur tekanan darah sembari mendengarkan dokter Smith memberi arahan agar mengobservasi ketat pasien ini. "Tensi 70/40 tanpa dopamin, Dok. Nadi masih teraba lemah 38 kali per menit."

"Oke, kita pantau, sementara hubungi Coronary Care Unit supaya bisa dievaluasi lebih lanjut di sana," kata dokter Smith.

"Thanks, Dok!"

###

Daftar Istilah :

code blue : kode darurat di rumah sakit saat ada pasien butuh bantuan secepatnya.

Ambu bag : alat untuk memberi bantuan napas ketika pasien tidak sadarkan diri. Bentuknya seperti balon dan ada selang kaku sebagai penyambung.

Narcan : obat emergensi saat pasien overdosis narkoba untuk menghalangi efeknya ke otak.

AED : alat untuk memberikan kejut listrik.

Intubasi : tindakan memasukkan selang dari mulut ke tenggorokan agar masuk ke paru-paru pada pasien tidak sadar.

Epinefrin : obat emergensi untuk merangsang denyut jantung.

CPR : resusitasi jantung paru.

Atropin dan dopamin : obat emergensi untuk menaikkan denyut dan tekanan darah pasca resusitasi jantung paru.

AV Blok ketiga : kondisi darurat pada jantung di mana bagian atrium dan ventrikel berdenyut sendiri-sendiri. (biar enggak bingung teman-teman membayanginya)

ABG : Analisa gas darah

Dilatasi : pelebaran pupil

Abdomen : perut

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Sang CEO   Bab 8

    Jake berjalan mondar-mandir menunggu tanpa kepastian atas kondisi Barbara. Dentuman di dadanya belum bisa berdetak normal kalau dokter yang menangani neneknya tidak kunjung keluar dari ruang tindakan. Dia takut sungguh takut jika terjadi sesuatu yang mengancam nyawa Barbara. Tapi, kata perempuan yang mengenalkan dirinya sebagai Anna, neneknya bakal baik-baik saja mengingat setelah pertolongan pertama Barbara sempat sadar.Ekor mata abu-abu gelap Jake melirik gadis berambut sebahu yang duduk di kursi ruang tunggu. Dia tampak begitu tenang, malah meneguk sebotol cola dingin juga melahap cokelat batang. Suatu kebiasaan aneh bagi Jake mendapati perempuan seperti Anna. Dia bertanya-tanya dalam hati, benarkah gadis itu benar-benar seorang perawat? Jika benar, bukankah mereka paham konsumsi cola dan cokelat berlebihan bisa menaikkan kadar gula secara drastis? Gadis aneh!Di luar kegilaan yang menyapa, harus Jake akui kalau bukan karena Anna, mungkin Barbara bisa jadi tak tertolong. Dia mema

  • Rahasia Sang CEO   Bab 7

    "Nonna!" seru Jake panik lalu meraba karotis Barbara. Seketika pupil matanya melebar merasakan tidak ada denyut di sana. "Nonna! Bangunlah!"Merasa nuraninya terpanggil, Anna berlari menghampiri si pria eksotis meninggalkan rombongannya sendiri. Dia berlutut sembari berkata, "Hei, I'm nurse Anna. I can help!""Tolong, please," kata Jake cemas tidak ingin terjadi apa-apa pada Barbara. "Tolong Nonna-ku. Tadi dia nggak apa-apa loh!"Anna tercengang beberapa saat mengetahui pria yang dikira sebagai orang asing ternyata fasih berbahasa Indonesia. Sungguh berbeda dengan aksen kebaratan yang tadi dia dengar. Dari sini dia baru bisa melihat jelas bagaimana bentuk rupa wajah yang membingkai pria asing ini. Apakah suara tadi yang menyarankan tes Brix itu suaranya? pikir Anna meragu. Ah! Dia menepis pertanyaan tak penting tersebut dan menyingkirkan kekaguman terhadap pria tampa di depannya. Tangan Anna bahu Barbara untuk mengecek respons ketika mendapati seseorang pingsan. Dia memanggil nonna s

  • Rahasia Sang CEO   Bab 6

    Anna memarkirkan motor di area parkir kebun bertuliskan Agrowisata Lagom lalu melepaskan helm merah. Dia mengedarkan pandangan sejenak menyisir area yang begitu asri di mata lalu mengerutkan kening mendapati sebuah mobil mewah terpakir di ujung kirinya. Sultan macam apa yang berkunjung tempat ini alih-alih beach club kelas VIP? Dia mengedikkan bahu tak mau tahu lantas bercermin sebentar ke kaca spion untuk menyisir rambut bergelombang sebahunya agar terlihat rapi sebelum menggantungkan helm. "Lipstikku kurang on," gumamnya merogoh isi tas rotan dan mengambil sebuah lip cream pink ke bibir. Setelahnya, Anna mengambil ponsel kemudian memotret papan bercat hijau sebagai penunjuk area wisata Lagom kebanggaan Shanon. Anna terkikik saat mengirim foto tersebut dan tak sabar melihat reaksi temannya yang selalu berlebihan itu.Anna : Mari kita lihat apa aku bisa bertemu si sexyback yang kau idamkan.Setelah kepulangannya dari Sydney, Anna selalu menyempatkan diri menjelajahi tempat-tempat men

  • Rahasia Sang CEO   Bab 5

    Jake menutup sambungan telepon usai memberikan beberapa gagasan kepada ayahnya terkait aksi turis yang meresahkan. Dia berpikir, kalau perlu membatasi jumlah tur wisata juga memasang pagar kawat di kebun anggur yang ada d Tuscany, Italia. Selama ini, Jake tahu Fabio selalu membebaskan kedatangan mereka selama musim panas berlangsung sampai tanpa sadar peluang itu dimanfaatkan orang-orang jahil untuk mencuri anggur yang siap panen. Namun, jika Fabio masih menginginkan kedatangan orang asing untuk menarik konsumen mencicipi olahan anggur terbaik Tuscano, maka perlu adanya tindakan khusus dengan menyortir berdasar paspor mereka."Itu tidak masuk akal menurutku, Jake," ucap Fabio menolak tegas ide anaknya. "Mereka pasti protes dan mengecam karena merasa dibatasi akses untuk berkunjung ke sini. Aku tidak mau rating kita turun.""Jadi, apa jalan keluarnya kalau kita tidak memberi peraturan ketat, Papa?" tandas Jake mengetuk-ngetukkan jemari kiri di atas meja kerja. "Sejak kemarin Nonna suda

  • Rahasia Sang CEO   Bab 4

    Aula komunitas Bondi Scout Hall pada malam hari dipenuhi orang-orang yang menari bebas didampingi musik penuh semangat Spice Girls dari speaker. Mereka bergerak lincah tanpa aturan tertentu, hanya mengikuti naluri tuk melepaskan penat setelah disibukkan segudang pekerjaan. Berbekal sorot lampu kehijauan menyembur dari ujung pintu masuk, memantulkan bayangan tumpukan kursi-kursi mengelilingi aula, semua orang berdansa tanpa hambatan termasuk pengaruh alkohol."If you wanna be my lover, you gotta get with my friends!" teriak Anna dan Shanon bersamaan. Mereka hanyut dalam lirik Wannabe yang menjadi lagu utama di No Lights No Lycra malam ini. Berbarengan menggoyangkan bahu secara berhadapan kemudian membalikkan badan, saling menyenggol pantat walau tubuh Shanon lebih besar dibanding Anna.Anna mengangkat kedua tangan ke udara, berjingkrak-jingkrak makin energik mengikuti bait demi bait yang dinyanyikan grup vokal asal Inggris itu. Tak memedulikan peluh bercucuran membasahi kulit dan menet

  • Rahasia Sang CEO   Bab 3

    "Buonasera, Nonna!" sapa seorang pria seraya merentangkan kedua tangan saat menyambut wanita tua mengenakan setelan mahal dan kacamata hitam klasik berhias kristal Swarosky. "Aku merindukanmu," sambungnya lantas mendekap hangat sang nenek tercinta.(Selamat sore, Nenek!)Walau tubuh wanita itu telah dimakan usia, penampilannya masih terlihat bugar dan gesit. Punggung tak terlalu bungkuk seperti nenek-nenek lain yang sudah menginjak angka 80 tahunan pada umumnya. Kecantikan masih kentara di wajah bulatnya, kecuali garis keriput meski sering facial treatment menggunakan emas 24 karat yang dijalani setiap bulan. Rambut keriting yang memutih tergerai sebahu dan bergoyang diterpa angin. "Aku juga merindukanmu, Jake. Kau makin tampan seperti ayahmu," puji wanita itu menepuk-nepuk bahu bidang pria yang dipanggil Jake. "Benar-benar turunan Luciano."Jake tergelak dan salah tingkah setiap kali mendengar pujian berlebihan dari neneknya, Barbara. Namun, tidak dipungkiri bahwa semua orang yang b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status