공유

44. Pulang

작가: Novita Sadewa
last update 게시일: 2023-06-28 11:27:34

POV Gendis

Aku hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Bang Lana. Semua alasan yang aku buat berhasil dipatahkan olehnya. Aku terus mundur dan dia terus maju. Bahkan, tangannya seolah sudah siap mengangkat tubuhku yang tak seberapa ini. Secepat kilat aku melangkah mundur dan berakhir dengan jawaban, "Ya, aku pulang, Abang."

Dia bukan orang yang bisa dengan mudah dikalahkan, bahkan lebih tangguh dari yang aku perkirakan. Kelembutan yang terlihat selama kami tinggal bersama dulu pun seolah s
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (4)
goodnovel comment avatar
Sri Narimah
tiap hari update lah Thor,seru ceritanya lo
goodnovel comment avatar
carsun18106
tenang gendis, bang lana pun cintrong kok sama kamu
goodnovel comment avatar
Sukaesih
sayannya nunggunya lama coba updetnya dua bab sehari
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   65. Panas

    Lihat ke kanan, mobil Ayla hitam di depan gerbang.]Ponsel berbunyi. Pesan diterima ketika Gendis sampai di luar dan terlihat mencari keberadaan Lana. Netranya langsung tertuju pada gerbang setelah mendapat pesan dari Lana. Ia lalu bergegas menuju mobil tersebut."Gendis," panggil Aga sembari berlari mengejar Gendis. Gendis pun terpaksa berhenti karena Aga berhenti tepat di hadapannya."Eits, mau kemana? Udah malam. Aku anter ya? Pake moge," ujarnya berbangga diri, kedua alisnya terangkat, dan dagunya pun juga terangkat ke arah sepeda motor Harley di belakang Gendis.Gendis mendesah lelah. "Nggak perlu. Aku udah dijemput. Minggir," tolaknya mendorong bahu Aga agar tidak menghalanginya, kemudian bergegas menuju mobil hitam, dan masuk di bangku belakang."Jalan, Pak, cepet!" ujarnya kala melihat Aga mengejar dan semakin dekat dengan taksinya yang ia tumpangi."Siap, Mbak."Mobil pun melaju, meninggalkan Aga yang ketinggalan dan akhirnya berhenti mengejar.Gendis menghembuskan napas leg

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   64. Bencana

    Di dalam restoran yang sudah dibooking oleh Anisa—teman Gendis yang berulang tahun, suasana terlihat menyenangkan bagi remaja seusianya. Makanan dan minuman terlihat penuh di atas meja. Semua bersenda gurau, seolah melupakan tugas perkuliahan yang kadang membuat stress keseharian.Gendis duduk diam di mejanya sembari menikmati hidangan yang tersedia. Dia tidak banyak berinteraksi. Meskipun teman-temannya mengambil banyak foto kebersamaan, dia hanya ikut satu hingga dua kali.Sejatinya, berada di keramaian seperti ini bukanlah kegemarannya, dan jika dia harus datang malam ini, sesungguhnya semua hanya karena dia tak ingin dianggap payah oleh lelaki yang selalu membuatnya merasa kurang pantas. Tak mau dianggap tak mempunyai hal lain yang bisa dikerjakan selain berdebat dan belajar.Tak berselang lama setelah pengambilan foto bersama dan acara puncak berlangsung, hiburan berupa musik mulai dinyalakan. Selayaknya hiburan, mereka pun menggerakkan tubuh sesuai irama. "Ayo, Gendis, ikut g

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   63. Mencari fakta

    "Americano satu," ucap Lana begitu masuk dan duduk di sebuah kafe yang dia tunjukkan tadi. Sembari menunggu pesanannya diantar, dia mengisi waktunya dengan menggulir layar, dan berhenti pada sebuah kontak bernama Hana."Halo." Suara sapaan terdengar."Halo. Benar ini Hana teman Gendis?" tanya Lana dengan sopan."Oh, iya. Ini siapa ya?""Saya suaminya Gendis. Lana. Saya rasa Gendis sudah menghubungi Anda.""Oh, iya, tadi dia sempat bilang. Kalau boleh tahu ada perlu apa ya Mas Lana sama saya?""Sebelumnya maaf, saya mau sedikit merepotkan.""Oh, gak apa-apa, Mas. Santai saja, asal saya bisa maka saya akan bantu.""Jadi begini, Hana. Ini masih seputar kejadian yang kata Gendis itu ternyata tempat kamu.""Oh, iya, Mas. Memang itu kamar yang saya sewa. Memangnya kenapa ya?""Kamu masih di sana?""Masih, Mas. Tapi saya emang jarang nginep. Tempat kos itu cuma untuk persinggahan kalau saya sedang capek aja jadi nggak pulang. Memangnya kenapa ya?"Lana menghela napas, ada sedikit rasa ragu,

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   62. Karena aku cantik

    Tak ada lagi perdebatan setelah Gendis memutuskan menutup pintu tanpa mendengar ocehan demi ocehan dan Lana pun dengan sebal akhirnya kembali ke kamar. Beberapa jam kemudian, Lana kembali keluar. Mengingat kehidupan di dalam rumah tangga mereka yang seolah terbalik dalam hal memasak, semarah-marahnya dia terhadap Gendis, makanan tetap harus disiapkan, dia tetap harus siaga meskipun hatinya masih sedikit kesal. Perlahan, Lana melangkah ke kamar sebelah lalu mengetuknya sebelum menuju dapur untuk sekedar bertanya."Gendis, kamu mau makan apa?" ujarnya di balik pintu yang tertutup rapat."Gendis!" ulangnya saat tak terdengar jawaban.Detik selanjutnya pintu akhirnya terbuka dan menampakkan sosok wanita dengan dandanan paripurna dari baliknya."Mau kemana?" Lana langsung menyambutnya dengan pertanyaan setelah sepersekian detik sadar dari ketertarikan."Ada undangan ulang tahun temen kampus, mendadak.""Murahan.""Ih, Abang!" Gendis tak terima, mulutnya mengerucut kesal."Diundang dada

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   61. Cabe-cabean

    [Gendis, Abang tunggu di ujung jalan, dekat cucian motor.]Gendis menghela napas, membiarkan pesan itu terbaca namun tidak membalasnya. Ia masih merasa sakit atas jawaban yang diberikan Lana, yang seolah hanya memikirkan tentang harga diri dan dia semakin geram dengan pesan yang ia baca barusan. Lana memperlakukannya seolah wanita tak punya harga, yang bisa dijemput di tengah jalan.Meski tak diakui sebagai istri setidaknya dia tidak menjatuhkan harga diri dengan terus mengikuti keinginan yang semakin kesini semakin tak masuk di akal."Hei, Ndis. Kamu masih disana, 'kan?" Suara di seberang telepon memanggil sedikit lebih keras. Ya, ketika pesan masuk, Gendis sedang berbicara dengan Hana, sahabatnya, seraya merebahkan diri di ranjang karena jam perkuliahan paling akhir yang kebetulan kosong membuat Gendis memutuskan untuk pulang lebih awal, dosen berhalangan hadir sebab ada keperluan penting, sehingga mahasiswa hanya diberi tugas yang harus dikirim melalui email. "Hm.""Jadi udah b

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   60. Ingin bertemu

    "Hm." Seraya mengangguk aku menjawab singkat, entah mengapa lidah ini langsung kelu begitu melihat sorot mata sendu perlahan mulai meredup seolah tak ada semangat hidup."Apa kamu memperlakukannya dengan baik?" lanjutnya, kemudian mengusap air mata yang mulai lolos. Air mata yang seolah menghancurkan rasa angkuh dan percaya diriku, lalu mengubahnya menjadi rasa bersalah yang teramat dalam. "Dia baik, jangan khawatir."Mendengar jawabanku, bibir itu semakin bergetar, sedangkan Hanin sibuk mengusap kedua pundak sang ibu. Lalu di detik selanjutnya tubuh ringkih itu luruh ke lantai, air matanya pun semakin tumpah."Bunda." Hanin mengikuti dan berusaha membantu sang ibu untuk kembali berdiri dengan meraih kedua pundaknya, namun sang ibu menolak dengan menghempaskan tangan sang putri secara perlahan. Sementara aku hanya bisa mematung melihat pemandangan yang begitu menyedihkan itu. "Saya mau ketemu anak saya, sebentar ... saja," ucapnya terisak-isak. Nadanya penuh permohonan.Aku melangka

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   4. Perubahan sikap Gendis

    4. Perubahan sikap GendisSeberkas sinar mentari menerobos jendela kaca yang berada di sebelah tempat tidur. Silaunya mengenai mata dan membuatnya harus mengerjap. Aku baru bisa tenang setelah adzan subuh berkumandang. Tanpa sengaja tidur di atas sajadah setelah melakukan pengakuan dosa dan memoho

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   3. Perdebatan tangah malam

    3. Perdebatan tengah malamKutinggalkan kamar Gendis setelah lampu kumatikan. Menenangkan diri di teras rumah dan memandang langit kelam sudah menjadi rutinitas setiap mata sulit untuk diajak kompromi. Tak ada cemilan ataupun kopi, hanya ada angan yang terus merajut segala pertanyaan dan merangkai

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   2. Sama-sam dijebak

    2. Sama-sama dijebakAku duduk menyamai Gendis yang saat ini tersedu di bawah lampu jalan."Kenapa keluar malam-malam? Sudah Abang bilang kalau butuh apa-apa telepon atau kirim pesan ke Abang," ucapku. Namun seperti biasa, dia hanya diam tak menjawab.Akhirnya aku menghela napas dalam."Pulang, ya

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   1. Gadis yang kau anggap gila itu istriku

    1. Gadis yang kau anggap gila itu, istriku"Orang gila ... orang gila ... orang gila." Sayup kudengar suara dari depan gang di mana aku tinggal. Aku bergegas turun dari motor karena memang baru pulang mencari pekerjaan. Terlihat beberapa anak kecil sedang berkerumun di sana, di tengahnya tampak s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status