Masuk"Gendis, mandi, sholat. Setelah itu siap-siap. Abang mau ajak kamu ke suatu tempat sebelum kuliah."Gendis langsung tersadar. Kemudian cepat-cepat dia mengalihkan pandangan untuk mengatur debaran di dalam dada yang menggila."Mau kemana? Aku belum selesai ngerjain tugas.""Abang sudah kerjain dan kirim ke email, Abang."Mata Gendis terbelalak lebar. "Serius?" tanyanya tak percaya."Sekali ini saja, Gendis, dan itu juga karena Abang mau ngajak kamu ke suatu tempat. Jadi, kedepannya Abang nggak akan ngerjain tugasmu.""Oh ya, tapi perlu kamu tahu. Abang nggak ngerjain sesempurna mungkin, sesuai standar kamu aja supaya adil. Jadi jangan berharap lebih," lanjut Lana.Rahang Gendis mengetat, wajahnya berubah pucat. Kata-kata Lana jelas sedang membahas kemampuan dan penilaian."Sekarang bersiaplah, Abang siapin sarapan," sambung Lana beranjak dari tempat duduknya dan bergegas ke dapur."Tampilan udah alim, mulutnya masih nyakitin. Hih, nyebelin!" gerutu Gendis dengan nada kesalnya. Sebelum
Malam terus merambat naik. Tetapi Lana masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Tubuhnya terbaring di atas ranjang dengan lampu temaram yang menyinari. Namun suasana yang seharusnya bisa membawanya ke alam mimpi nyatanya tak mampu membuat matanya terpejam barang sebentar. Kegelisahan menguasainya, bahkan membuatnya tak henti bergerak, mengubah posisi secara bergantian. Perdebatannya dengan Gendis di dalam mobil tadi benar-benar mengganggu hati dan pikiran."Ada apa denganku ini? Lagian gimana bisa seorang istri terang-terangan ngasih kesempatan buat laki-laki lain di depan suami?" Mulutnya terus bergumam, bertanya pada diri dan menjawabnya sendiri.Dia mendesah dan akhirnya terhenyak turun dari ranjang. Lampu dia nyalakan, lantas bergegas keluar.Perlahan Lana membuka pintu, meskipun pelan namun deritnya mampu memecah sunyi. Jam sudah menunjukkan pukul duabelas malam. Setelah sampai di rumah, keduanya memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing dan menutup perdebatan dengan mengunc
Lihat ke kanan, mobil Ayla hitam di depan gerbang.]Ponsel berbunyi. Pesan diterima ketika Gendis sampai di luar dan terlihat mencari keberadaan Lana. Netranya langsung tertuju pada gerbang setelah mendapat pesan dari Lana. Ia lalu bergegas menuju mobil tersebut."Gendis," panggil Aga sembari berlari mengejar Gendis. Gendis pun terpaksa berhenti karena Aga berhenti tepat di hadapannya."Eits, mau kemana? Udah malam. Aku anter ya? Pake moge," ujarnya berbangga diri, kedua alisnya terangkat, dan dagunya pun juga terangkat ke arah sepeda motor Harley di belakang Gendis.Gendis mendesah lelah. "Nggak perlu. Aku udah dijemput. Minggir," tolaknya mendorong bahu Aga agar tidak menghalanginya, kemudian bergegas menuju mobil hitam, dan masuk di bangku belakang."Jalan, Pak, cepet!" ujarnya kala melihat Aga mengejar dan semakin dekat dengan taksinya yang ia tumpangi."Siap, Mbak."Mobil pun melaju, meninggalkan Aga yang ketinggalan dan akhirnya berhenti mengejar.Gendis menghembuskan napas leg
Di dalam restoran yang sudah dibooking oleh Anisa—teman Gendis yang berulang tahun, suasana terlihat menyenangkan bagi remaja seusianya. Makanan dan minuman terlihat penuh di atas meja. Semua bersenda gurau, seolah melupakan tugas perkuliahan yang kadang membuat stress keseharian.Gendis duduk diam di mejanya sembari menikmati hidangan yang tersedia. Dia tidak banyak berinteraksi. Meskipun teman-temannya mengambil banyak foto kebersamaan, dia hanya ikut satu hingga dua kali.Sejatinya, berada di keramaian seperti ini bukanlah kegemarannya, dan jika dia harus datang malam ini, sesungguhnya semua hanya karena dia tak ingin dianggap payah oleh lelaki yang selalu membuatnya merasa kurang pantas. Tak mau dianggap tak mempunyai hal lain yang bisa dikerjakan selain berdebat dan belajar.Tak berselang lama setelah pengambilan foto bersama dan acara puncak berlangsung, hiburan berupa musik mulai dinyalakan. Selayaknya hiburan, mereka pun menggerakkan tubuh sesuai irama. "Ayo, Gendis, ikut g
"Americano satu," ucap Lana begitu masuk dan duduk di sebuah kafe yang dia tunjukkan tadi. Sembari menunggu pesanannya diantar, dia mengisi waktunya dengan menggulir layar, dan berhenti pada sebuah kontak bernama Hana."Halo." Suara sapaan terdengar."Halo. Benar ini Hana teman Gendis?" tanya Lana dengan sopan."Oh, iya. Ini siapa ya?""Saya suaminya Gendis. Lana. Saya rasa Gendis sudah menghubungi Anda.""Oh, iya, tadi dia sempat bilang. Kalau boleh tahu ada perlu apa ya Mas Lana sama saya?""Sebelumnya maaf, saya mau sedikit merepotkan.""Oh, gak apa-apa, Mas. Santai saja, asal saya bisa maka saya akan bantu.""Jadi begini, Hana. Ini masih seputar kejadian yang kata Gendis itu ternyata tempat kamu.""Oh, iya, Mas. Memang itu kamar yang saya sewa. Memangnya kenapa ya?""Kamu masih di sana?""Masih, Mas. Tapi saya emang jarang nginep. Tempat kos itu cuma untuk persinggahan kalau saya sedang capek aja jadi nggak pulang. Memangnya kenapa ya?"Lana menghela napas, ada sedikit rasa ragu,
Tak ada lagi perdebatan setelah Gendis memutuskan menutup pintu tanpa mendengar ocehan demi ocehan dan Lana pun dengan sebal akhirnya kembali ke kamar. Beberapa jam kemudian, Lana kembali keluar. Mengingat kehidupan di dalam rumah tangga mereka yang seolah terbalik dalam hal memasak, semarah-marahnya dia terhadap Gendis, makanan tetap harus disiapkan, dia tetap harus siaga meskipun hatinya masih sedikit kesal. Perlahan, Lana melangkah ke kamar sebelah lalu mengetuknya sebelum menuju dapur untuk sekedar bertanya."Gendis, kamu mau makan apa?" ujarnya di balik pintu yang tertutup rapat."Gendis!" ulangnya saat tak terdengar jawaban.Detik selanjutnya pintu akhirnya terbuka dan menampakkan sosok wanita dengan dandanan paripurna dari baliknya."Mau kemana?" Lana langsung menyambutnya dengan pertanyaan setelah sepersekian detik sadar dari ketertarikan."Ada undangan ulang tahun temen kampus, mendadak.""Murahan.""Ih, Abang!" Gendis tak terima, mulutnya mengerucut kesal."Diundang dada
4. Perubahan sikap GendisSeberkas sinar mentari menerobos jendela kaca yang berada di sebelah tempat tidur. Silaunya mengenai mata dan membuatnya harus mengerjap. Aku baru bisa tenang setelah adzan subuh berkumandang. Tanpa sengaja tidur di atas sajadah setelah melakukan pengakuan dosa dan memoho
3. Perdebatan tengah malamKutinggalkan kamar Gendis setelah lampu kumatikan. Menenangkan diri di teras rumah dan memandang langit kelam sudah menjadi rutinitas setiap mata sulit untuk diajak kompromi. Tak ada cemilan ataupun kopi, hanya ada angan yang terus merajut segala pertanyaan dan merangkai
2. Sama-sama dijebakAku duduk menyamai Gendis yang saat ini tersedu di bawah lampu jalan."Kenapa keluar malam-malam? Sudah Abang bilang kalau butuh apa-apa telepon atau kirim pesan ke Abang," ucapku. Namun seperti biasa, dia hanya diam tak menjawab.Akhirnya aku menghela napas dalam."Pulang, ya
1. Gadis yang kau anggap gila itu, istriku"Orang gila ... orang gila ... orang gila." Sayup kudengar suara dari depan gang di mana aku tinggal. Aku bergegas turun dari motor karena memang baru pulang mencari pekerjaan. Terlihat beberapa anak kecil sedang berkerumun di sana, di tengahnya tampak s







