Home / Romansa / Rahim Tawanan / Mixed Feelings

Share

Mixed Feelings

Author: Queenau
last update publish date: 2024-11-05 07:06:50
Ashyana tak tahu sejauh mana takdir akan mengubah hidupnya. Entah nanti akan berakhir bahagia atau kesedihan yang menyapa, ia hanya pasrah untuk akhir dari keputusannya itu. Sebab baru sampai dititik ia dinyatakan hamil saja, rasanya pikirannya langsung kosong.

Bukan ini jalan yang ia mau, tapi takdir seolah mempermainkannya dan membawanya jauh hingga diposisi ini. Dan sejujurnya Ashyana takut untuk memikirkan apa yang akan terjadi padanya kelak.

"Sudah 4 minggu, masih jauh untuk dikatakan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahim Tawanan   Malam itu🔞

    Bunyi kulit saling beradu terdengar dangat nyaring di sebuah kamar hotel. Dua anak adam berbeda jenis kelamin itu begitu terbuai satu sama lain. Kegiatan itu tidak hanya sekali dua kali tapi terjadi berulang kali hingga si gadis mengeluh. "Ashya capekh." Keluhan itu hanya dianggap angin lalu oleh pria yang kini tengah mengungkung Ashyana itu. Seakan tak puas setelah melakukan berulang kali, nyatanya kegiatan itu tak kunjung terhenti. "Tuanh." tubuh Ashyana masih mebgeliat kesana kemari karena tangan nakal pria di atasnya itu. "Panggil namaku dan aku akan mengakhirinya sekali ini." "Tidakh sopanh tuanh." tatapan sayu yang Ashyana berikan bukannya menghentikan kegiatan pria itu di atas tubuh Ashyana tapi malah menjadi. "Cukup panggil namaku dipuncaknya nanti atau kamu mau menambah beberapa ronde lagi?" Ashyana langsung menggeleng kepalanya kuat. Bibir yang rasanya sudah kebas itu semakin kebas saat benda kenyal pria itu memagutnya kesekian kalinya. Ashyana yang sebenarn

  • Rahim Tawanan   Kebun Anggur, Fastival dan Rahasianya

    Meski sudah tidak pusing lagi, Ashyana memilih bertahan di kamarnya. Ia tbahkan tidak turun untuk sarapan dan itu membuat Kenan kini menghampirinya. Padahal sudah jelas tujuan Ashyana ingin menghindari tuannya itu. "Kamu masih demam?" Refleks tangan Kenan terangkat untuk mengecek suhu Ashyana, dan refleks juga gadis itu memundurkan kepalanya. "Enggak Tuan." jawab Ashyana dengan kepala tertunduk dan jari memilin piyama tidurnya. "Syukurlah, siap - siaplah 30 menit lagi kita keluar." pernyataan yang keluar dari mulut Kenan itu membuat Ashyana mengerjap sebelum mengangguk patuh. "Bi Elle tolong bantu Nona Ashyana bersiap." Bibi Elle pun mengangguk patuh. "Ti-" Ashyana menelan protesn yang akan ia keluarkan begitu teringat prinsipnya semalam. "Ada apa Nona Ashyana?" Kenan yang akan berbalik itu mengurungkan niatnya mendengar suara Ashyana tadi. "Tidak apa - apa Tuan." jawab Ashyana masih dengan kepala menunduknya. Meski merasa janggal Kenan hanya mengangkat sebelah alisnya d

  • Rahim Tawanan   Mixed Feelings

    Ashyana tak tahu sejauh mana takdir akan mengubah hidupnya. Entah nanti akan berakhir bahagia atau kesedihan yang menyapa, ia hanya pasrah untuk akhir dari keputusannya itu. Sebab baru sampai dititik ia dinyatakan hamil saja, rasanya pikirannya langsung kosong. Bukan ini jalan yang ia mau, tapi takdir seolah mempermainkannya dan membawanya jauh hingga diposisi ini. Dan sejujurnya Ashyana takut untuk memikirkan apa yang akan terjadi padanya kelak. "Sudah 4 minggu, masih jauh untuk dikatakan aman jadi tolong dijaga dengan baik ya," ucapan dokter Key membuyarkan lamunan Ashyana. Gadis yang dinyatakan hamil itu hanya tersenyum simpul dan mengucapkan terima kasih lirih pada perawat yang membantunya meembersihkan gel usg pada perutnya. "Okey sebelum itu, apa ada keluhan dari Nona Ashyana?" Belum juga membuka mulutnya, Kenan terlebih dahulu menyelanya. "Dia mual parah saat pagi hari dan tubuhnya menjadi tidak bertenaga setelah itu. Makannya juga cukup susah karena mencium bau makana

  • Rahim Tawanan   Positif

    Pagi ini Ashyana dikagetkan dengan kedatangan Kenan yang membawa kursi roda ke kamarnya. Tanpa berucap apapun laki-laki itu menggendongnya dan mendudukkannya pada kursi roda tadi. Meletakkan selimut pada kakinya lalu mendorong kursi roda itu keluar kamar. "Tuan mau ngapain?" Ashyana mengerjapkan matanya, merasa heran dengan apa yang Kenan lakukan. "Kenan mau kamu bawa kemana Ashyana?!" Tak jauh berbeda dengan reaksi Ashyana, Madam Soraya menatap heran anak lelakinya itu. "Dokter Key hanya meminta Ashyana untuk tidak berkegiatan berat bukan berarti kita mengurungnya di kamar Mi." "Mami tidak mengurungnya Kenan-" "Lalu apa? Ashyana bosan Mi, dia bisa stres kalau di kamar terus." Madam Soraya langsung bungkam. Tanpa banyak bertanya lagi, perempuan paruh baya itu mengikuti kemana Kenan membawa Ashyana dengan nampan ditangannya. Hingga tibalah mereka di area taman, Madam Soraya langsung menyerhkan nampan yang dibawanya pada Kenan. "Suapi Ashyana, Mami mau menyelesaikan p

  • Rahim Tawanan   Bayi Tabung Part 2

    Hari pertama hingga hari terakhir proses penyuntikan diperut Ashyana selalu ditemani oleh Madam Soraya dan Kenan yang sesekali datang untuk melihat prosesnya. Ibu dan anak itu meskipun dengan wajah yang masih angkuh tak tergoyahkan menjadi begitu perhatian dan protektif terhadap Ashyana apalagi Kenan yang kini terlihat lebih manusiawi. Dan ternyata hal itu sangat membantu Ashyana untuk bisa bersemangat menjalani proses ini. Karena jujur saja, sejak penyuntikan pertama Ashyana mulai merasa perbedaan yang sulit dijelaskan pada tubuhnya sendiri dan itu wajar menurut dokter Key. Karena suntikan tersebut sangat berpengaruh terhadap hormonnya jelas menjadikannya begitu lelah baik secara fisik maupun psikisnya. Seperti malam ini, setelah suntikan terakhir yang dilakukan tepat dijam yang sama yaitu pukul 7 malam, Ashyana tiba-tiba menitikkan air matanya sebab moodnya memburuk. Tubuhnya terasa lelah padahal tidak ada kegiatan berat apapun karena memang kegiatannya selama di rumah ini selal

  • Rahim Tawanan   Bayi Tabung Part 1

    "Ashyana." Panggilan itu membuat Ashyana yang sedang menghapus make up terlonjak kaget. Bukan karena suaranya yang keras, tapi karena ia mengenali suara itu milik Kenan yang membuatnya kaget. Jujur ia masih kepkiran dengan ucapan Kenan tadi tentang malam pertama dan kini pipinya memerah tanpa sebab. "I-iya tuan, ada apa?" Ashyana tidak berani membalikkan tubuhnya atau hanya sekedar memalingkan wajahnya ke Kenan. "Mom meminta kita untuk kebawah," ucap Kenan yang kini menatap bayangan Ashyana dalam cermin. Meski pipi yang kemerahan itu tidak tertangkap sempurna dalam penglihatannya, Kenan tau jika Ashyana sedang salah tingkah dengan kedatangannya. "Saya sedang menghapus make up, bolehkah saya menyusul tuan?" "Aku tunggu." "Tapi tuan-" "Atau mau aku bantu nona?" Ashyana menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dengan buru-buru ia menghapus sisanya bahkan dengan gerakan yang cukup brutal. "Hei calm down, jika terlalu keras kulitmu nanti akan terluka." Ashyana langsung melo

  • Rahim Tawanan   Hari Pernikahan

    Ashyana kini tau kenapa ibunya tega menjualnya pada Madam Soraya. Nyatanya uang memang segalanya di dunia ini. Tapi bukan berarti ia membenarkan perbuatan ibunya itu. Ia bahkan selalu mengutuk perbuatan ibunya itu. Namun melihat sendiri bagaimana uang bekerja di rumah ini, benar - benar membuat As

  • Rahim Tawanan   Surat Perjanjian

    "Apa ini Rik?" Kenan mengenyitkan dahinya membaca kertas dihadapannya. Kertas yang berisi beberapa poin itu membuatnya kebingungan seketika. "Itu tadi diserahkan Hans atas perintah nyonya Tuan. Tuan Kenan diminta untuk menandatanganinya." Riko yang berdiri disebelah kanan tuannya itu menahan gugup

  • Rahim Tawanan   Anak Haram

    Ashyana memalingkan wajahnya terlebih dahulu karena tidak kuat melihat wajah tampan Kenan. Bisa - bisa ia pingsan sungguhan jika terus menatapnya. Pipinya saja sampai terasa panas karena kini tersipu. “Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya tuan?” Tanya Ashyana dengan suara pelan bahkan nyaris

  • Rahim Tawanan   Bertemu Tuan Kenan

    Riko bingung dengan bos nya pagi ini. Sejak menginjakkan kaki di kantor, tak henti - hentinya lelaki 28 tahun itu bertanya jam. Pria itu seperti tidak sabar menunggu sesuatu tapi Riko tentu tidak berani bertanya.“Rik batalkan semua jadwal setelah makan siang nanti, saya tidak akan kembali ke kanto

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status