Share

17. Hoarder

Author: SleepyFace
last update publish date: 2026-05-13 22:49:40

Beberapa hari berlalu.

Base berubah drastis. Orang-orang yang dulu numpang di pos satpam sekarang sudah pindah ke gedung bekas kantor yang lebih luas. Mereka punya ruang sendiri, lebih layak, lebih “hidup”. Tembok makin tinggi, struktur makin rapi, dan aktivitas hampir tidak pernah benar-benar berhenti.

Joni juga tidak diam. Dia bolak-balik ke pabrik kayu, besi, semen—ngangkut material, nyetok, memastikan pembangunan terus jalan.

Dinda yang sebelumnya kerja kecil-kecilan, sekarang sudah dilepas. Lebih sering kelihatan lari-lari di halaman, main sendiri atau gangguin orang kerja.

Sore itu, Joni baru balik dari luar. Mobilnya masuk halaman, berhenti seperti biasa.

Tapi belum sempat turun santai dia lihat sesuatu. Mila lagi bawa beberapa trash bag besar keluar dari gudang.

Joni langsung turun.

“WOI, MIL!”

Suaranya keras.

“Ngapain lu?”

Mila nengok, santai.

“Buang sampah lah, bang.”

Dia nunjuk kantong hitam itu.

“Ini numpuk banget.”

Joni langsung maju cepat.

“Masukin lagi.”

Nada suaranya langsung berubah.

“Balikin ke tempatnya.”

Mila kaget.

“Hah?”

Dia lihat kantong itu lagi.

“Ini sampah, bang. Buat apaan?”

Joni menatap datar.

“Balikin. Sekarang.”

Dia menunjuk ke dalam.

“Itu harta gue.”

Suasana langsung berubah. Beberapa orang yang lagi kerja berhenti, nengok. Dinda yang lagi main juga mendekat ke Mila.

“Kak… kenapa?”

Mila makin bingung. Dia lihat Joni, lalu kantong itu lagi.

“...lu hoarder ya, bang?”

Kalimat itu keluar begitu aja. Joni langsung kaku. Tatapannya berubah aneh.

Dia baru sadar semua orang lagi ngeliatin dia dan ekspresi mereka kayak ngerti. Atau malah lebih ke simpati.

Joni langsung jalan mendekat, merebut trash bag itu dari tangan Mila.

Tanpa ngomong apa-apa lagi, dia bawa masuk ke dalam gudang.

Dinda nengok ke Mila.

“Hoarder itu apa, kak?”

Mila jongkok sedikit, bisik santai.

“Itu orang yang nganggep sampah itu harta.”

Dia nyengir kecil.

“Gangguan jiwa namanya.”

Langkah Joni tiba-tiba berhenti, dia nengok pelan dengan tatapannya yang tajam.

Mila langsung kaku sepersekian detik, lalu buru-buru berdiri dan pura-pura ceria.

“Eh, Dinda! Main yuk, sana!”

Dia langsung ngajak pergi, seolah ga terjadi apa-apa.

Joni masuk ke gudang khususnya sambil bawa trash bag itu, lalu melemparkannya ke lantai agak kasar.

“Sialan…”

Dia mendengus.

“Gue malah dibilang gangguan jiwa.”

Tanpa buang waktu, dia balik lagi keluar, ambil sisa trash bag yang tadi mau dibuang Mila. Bolak-balik beberapa kali sampai semuanya kembali ke dalam gudang.

Pintu ditutup. Sunyi.

Joni berdiri di tengah tumpukan “sampah” itu, menatapnya beberapa detik, lalu menepuk jidatnya pelan.

“Gue bos di sini…”

Dia menghela napas panjang.

“Malah dikira gila.”

Dia menggeleng kecil.

“Ya gimana gue mau jelasin…”

Tatapannya turun ke tangannya sendiri.

“Trait gue juga ga bisa gue buka sekarang.”

Beberapa detik dia diam lalu menghela napas lagi, lebih panjang.

“...yaudah lah.”

Joni jongkok, lalu mulai kerja. Tangannya menyentuh satu per satu barang—kaleng penyok, plastik rusak, bungkus sobek.

Cahaya muncul dan barang berubah kembali utuh. Dia terus kerja, cepat, efisien sambil tetap ngedumel.

“Dibilang hoarder lagi…”

Satu barang selesai, lanjut ke yang lain.

“Coba mereka tau…”

Dia mendengus kecil.

“Ini semua berharga.”

Malam itu, suasana base ramai seperti biasa. Mereka makan bersama di halaman, suara obrolan, tawa, dan bunyi mangkuk jadi satu. Di dunia yang sudah hancur, momen seperti ini terasa mewah.

Joni duduk agak pinggir, tetap makan, tapi pikirannya jalan terus.

Tiba-tiba layar trait muncul di depannya.

Rollback

18/100

Joni menghela napas pelan. Deri yang duduk dekatnya langsung nengok.

“Kenapa, bang?”

Joni melirik sebentar.

“Gue butuh kristal, Der.”

Nada suaranya rendah.

“Gimana ya…”

Deri langsung paham.

“Kristal dari mutan itu?”

Joni mengangguk dan Deri mikir sebentar, lalu nyeletuk.

“Suruh mereka ngeburu aja, bang?”

Joni menoleh ke arah orang-orang yang lagi sibuk ngobrol dan makan. Wajahnya datar.

“Mereka pake apaan, Der?”

Deri langsung jawab.

“Gue bikinin senjata rakitan.”

Dia menunjuk ke arah gudang.

“Bahan kita banyak. Peluru juga ada.”

Dia mengangguk yakin.

“Bisa lah mereka.”

Dari samping, Pak Kusno yang tadi memperhatikan ikut nimbrung.

“Butuh apa, bang Joni?”

Joni dan Deri langsung menoleh. Deri yang jawab.

“Bang Joni butuh kristal, pak. Dari zombie mutan.”

Pak Kusno langsung mengangguk.

“Oh… kristal yang buat nuker makanan itu ya?”

Dia tersenyum sedikit.

“Gampang itu, bang.”

Joni mengangkat alis.

“Gampang gimana?”

Pak Kusno santai.

“Dulu waktu kita masih di tempat lama… kita juga buru itu.”

Dia lanjut.

“Buat dituker makanan.”

Joni mengangguk pelan.

“Iya… Deri sempet cerita.”

Pak Kusno lanjut lagi.

“Kita biasa keluar, buru mutan, ambil kristalnya.”

Dia melirik sekitar.

“Kalau abang mau… kita juga bisa sekalian nuker makanan sama kelompok lain.”

Joni berpikir sebentar.

“Boleh juga.”

Dia mengangguk.

“Tapi gue ga mau nuker di sini.”

Tatapannya serius.

“Base kita masih kecil.”

Pak Kusno langsung paham.

“Berarti di luar ya, bang?”

“Di jalan aja,” jawab Joni.

Pak Kusno mengangguk.

“Bisa.”

Joni menoleh ke Deri.

“Gimana?”

Deri langsung setuju.

“Itu lebih aman, bang.”

Dia menambahkan.

“Tinggal bawa senjata sama barang—mie, beras, roti.”

Joni mengangguk pelan.

“Kalau gitu… mulai besok.”

Dia melihat Pak Kusno.

“Kita jalan.”

Pak Kusno tersenyum kecil.

“Siap, bang.”

“Besok kita keluar. Sekalian cari… sekalian dagang.”

Keesokan paginya mereka berangkat. Mobil diisi beras, roti, air, dan beberapa barang lain yang bisa ditukar. Pak Kusno duduk di depan, sesekali ngarahin jalan, nunjuk lokasi-lokasi yang dulu sering jadi tempat kumpul kelompok kecil.

Perjalanan tidak terlalu jauh, tapi jalannya sempit dan berliku. Sampai akhirnya mereka berhenti di dekat jembatan rel kereta.

Di bawahnya, deretan rumah bedeng dari terpal berjajar. Kumuh, sempit, tapi jelas ada kehidupan di sana.

Pak Kusno turun duluan.

Dia berjalan santai mendekat ke salah satu penjaga yang pegang senjata rakitan.

Penjaga itu langsung menyipitkan mata, lalu tiba-tiba kaget.

“Wah—Pak Kusno?!”

Dia langsung nengok ke belakang.

“Woi! Panggil Pak Bram cepet!”

Salah satu orang langsung lari masuk ke dalam. Di mobil, Deri melirik ke Joni.

“Itu kelompok Pak Bram, bang.”

Dia menunjuk ke arah sana.

“Dulu sering bareng kita kalau berburu.”

Joni mengangguk pelan, matanya tetap mengamati situasi.

Beberapa orang di sana mulai keluar, melihat ke arah mereka. Tidak agresif, tapi jelas waspada.

Pak Kusno sudah ngobrol dengan penjaga, terlihat santai.

Beberapa detik kemudian Pak Kusno menoleh dan melambaikan tangan ke arah Joni.

Isyarat aman. Joni membuka pintu mobil, lalu turun.

Joni mendekat pelan, tetap waspada. Dari dalam bedeng, seorang pria keluar dengan wajah cerah, langkahnya cepat, lalu langsung merentangkan tangan.

“Wah, Pak Kusno! Kemana aja lu?!”

Pak Kusno nyengir.

“Heh, Bram. Masih hidup kau?”

Pak Bram ketawa kecil, lalu menepuk bahu Pak Kusno.

“Masih lah. Susah mati gue.”

Dia lalu menoleh ke belakang, melihat Joni, Deri, dan Mila yang baru turun dari mobil.

“Heh, kalian masih idup juga?”

Tatapannya berhenti di Joni.

“Ini siapa?”

Deri angkat tangan sedikit.

“Ini Joni, pak. Pemimpin baru kami.”

Dia menambahkan santai.

“Ada urusan ke sini.”

Pak Bram mengangkat alis, lalu menatap Joni dari atas ke bawah. Tatapannya menilai—diam beberapa detik, seperti nimbang.

Joni membalas tatapan itu tanpa banyak ekspresi.

Beberapa orang di belakang Bram juga ikut memperhatikan.

Hening sebentar lalu Pak Bram mendengus kecil.

“Yaudah.”

Dia melambaikan tangan ke dalam.

“Masuk dulu, ayo.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   52. Perang Bayangan

    Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   51. Pabrik Perang

    Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   50. Awal Serangan Balik

    Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   49. Pharmatrix

    Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   48. Bangun, Sindy

    Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   47. Pilihan Terakhir

    Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status