Share

18. Lima Awakener

Author: SleepyFace
last update publish date: 2026-05-13 22:51:02

Di dalam salah satu ruangan bedeng yang cukup rapi, mereka duduk berhadapan. Suasana santai, tapi pembicaraannya langsung ke inti.

Pak Bram bersandar sedikit, menatap mereka satu per satu.

“Jadi… kalian ke sini mau tuker kristal sama kebutuhan pokok?”

Dia menoleh ke Pak Kusno.

“Sekalian minta suplai stabil?”

Pak Kusno mengangguk.

“Iya, Bram.”

Pak Bram menghela napas pendek, lalu menggeleng.

“Wah, Kus… sekarang lu udah mapan ya.”

Dia menyilangkan tangan.

“Lu tau kan kelompok Andre? Mereka sekarang nawarin satu kristal lima bungkus roti.”

Pak Kusno mengangguk, lalu melirik ke Joni dan Joni langsung angkat suara.

“Gue kasih tiga liter beras.”

Nada suaranya santai.

“Gimana?”

Pak Bram langsung menaikkan alis.

“Beras?”

Tatapannya tajam.

“Kalian punya beras?”

Joni mengangguk.

“Beras. Air. Obat juga ada.”

Kalimat itu langsung mengubah suasana. Pak Bram yang tadinya santai langsung menegang.

“Obat?”

Dia condong ke depan.

“Ada antibiotik? Insulin ada?”

Joni sedikit mengernyit.

“Insulin?”

Dia geleng.

“Antibiotik ada. Insulin belum.”

Dia menatap Bram.

“Emangnya buat apa, pak?”

Pak Kusno yang di samping langsung menghela napas.

“Anakmu… masih butuh ya?”

Pak Bram mengangguk pelan. Wajahnya berubah.

“Iya.”

Dia menunduk sebentar.

“Kondisinya makin parah... Dia butuh insulin.”

Dia mengepalkan tangannya.

“Tapi stok di apotek, pabrik… udah habis semua.”

Joni diam, mencoba mencerna. Pak Kusno menambahkan pelan.

“Anaknya, Dewi… diabetes.”

“Luka kecil aja bisa bahaya.”

Joni mengangguk pelan. Pak Bram menatap langsung ke Joni.

“Kalau kau bisa kasih insulin…”

Nada suaranya serius.

“Semua kristal yang aku punya… aku tuker.”

Dia lanjut.

“Aku juga bantu cariin kristal buat kau.”

Hening sebentar lalu Joni langsung berdiri.

“Gue cari sekarang.”

Dia melihat Bram.

“Lokasinya dimana? Pabrik atau apotek?”

Pak Bram mengerutkan kening.

Pak Kusno langsung nyaut.

“Bang… itu udah kosong semua.”

Joni nyengir sedikit.

“Siapa tau masih ada yang nyisa.”

Dia menunjuk ke luar.

“Gue punya cara buat nemuin.”

Pak Bram dan Pak Kusno saling lihat, jelas bingung. Deri langsung nyengir.

“Udah percaya aja, pak.”

Mila ikut nimbrung.

“Dia aja bisa nemuin beras, kan?”

Joni sudah jalan ke luar.

“Kalian tunggu sini dulu.”

Pak Bram langsung berdiri.

“Pakai motor gue aja.”

Dia memberi isyarat ke orang di luar. Beberapa detik kemudian, sebuah motor dibawa keluar.

Harley-Davidson.

Sudah dimodifikasi—rangka diperkuat, bagian depan dipasang pelindung, jelas buat nabrak zombie.

Joni langsung nyengir lebar.

“Wah… anjir.”

Dia mendekat.

“Keren banget ini.”

Pak Bram mengangguk.

“Pakai itu. Lebih cepat.”

Joni naik ke motor, menyalakan mesin.

VROOM.

Senyumnya masih ada.

“Gue balik ntar.”

Dan tanpa tunggu lama, dia langsung tancap gas.

Suara mesin Harley menggema saat Joni masuk ke area pabrik obat. Dari jauh dia langsung sadar ada orang di sana.

Beberapa truk terparkir, dan sekelompok orang lagi sibuk bongkar mesin-mesin kecil dari dalam gedung pabrik.

Begitu melihat simbol di salah satu kendaraan, mata Joni langsung menyipit.

Kelompok Broto.

Refleks, tubuhnya langsung lebih waspada. Tangannya turun dekat pistol di pinggang saat dia memperlambat motor.

Dia belum sempat mutusin mau masuk atau pergi, seseorang sudah lebih dulu mendekat.

Putri.

Wanita itu berjalan santai ke arahnya, tangannya kosong tapi tatapannya tetap awas.

“Ngapain lu ke sini?”

Nada suaranya datar seperti biasa. Joni turun dari motor dengan santai, walau matanya masih mengawasi sekitar.

“Jalan-jalan aja.”

Putri mendengus kecil. Belum sempat dia jawab—

“WOI!”

Suara keras terdengar dari arah dalam gudang.

Seseorang berjalan keluar dari dalam gudang sambil menunjuk ke arahnya. Begitu wajah itu kelihatan, mata Joni langsung menyipit.

Bimo.

Ingatan lama langsung muncul begitu saja di kepala Joni. Waktu pertama trait mereka dibangkitkan.

Semua orang waktu itu lagi nunjukin kemampuan masing-masing—api, tanah, penguatan tubuh. Semua kagum, semua heboh lalu giliran Joni dan tidak ada yang terjadi.

Joni cuma berdiri bingung waktu itu, berusaha menjelaskan kalau dia juga tidak ngerti traitnya apa.

Di tengah suasana aneh itu, Bimo yang pertama ketawa.

“Kosong?”

Dia tepuk tangan sambil nyengir lebar.

“Anjir… awakener gagal.”

Beberapa orang ikut ketawa kecil.

Bimo makin semangat.

“Yang lain dapet kekuatan keren, lu dapet apaan?”

Dia nunjuk Joni.

“Trait sampah?”

Sejak hari itu, omongan itu nempel. Dan Bimo tidak pernah berhenti.

Sampai akhirnya, waktu kelompok mulai kekurangan makanan dan perlu pemulung buat nyari barang di kota, Bimo lagi yang pertama buka suara.

“Suruh si sampah aja.”

Dia nyender santai sambil ngelihat Joni.

“Kalau mati juga ga rugi.”

Beberapa orang diam. Tidak ada yang bela dan Bimo lalu mendekat ke Broto sambil nyengir.

“Lagian trait dia juga ga kepake.”

Dan sejak saat itu, Joni turun status jadi pemulung. Pekerjaan paling rendah. Paling bahaya.

Kembali ke kenyataan sekarang, Bimo berhenti beberapa langkah dari Joni lalu ketawa sinis.

“Anjir…”

Dia melihat Joni dari atas ke bawah.

“Masih hidup lu ternyata?”

Senyumnya sinis.

“Bukannya udah dibuang?”

Joni diam, tapi rahangnya mulai mengeras. Bimo makin santai.

“Gimana? Masih jadi sampah?”

Dia melirik Harley yang dipakai Joni.

“Atau sekarang jadi tukang cuci motor?”

Beberapa orang di belakang mulai ketawa kecil. Tatapan Joni mulai dingin.

Melihat suasana mulai jelek, Putri langsung bicara.

“Bimo.”

Nada suaranya tajam.

“Balik kerja.”

Bimo langsung nengok ke Putri, kesal.

“Kerja kerja apaan?”

Dia menunjuk dirinya sendiri.

“Gue tangan kanannya Broto.”

Lalu menunjuk Putri.

“Lu cuma ketua penjaga.”

Tatapannya merendahkan.

“Jangan nyuruh-nyuruh gue.”

Putri tidak berubah ekspresi sedikit pun.

“Gue ga peduli.”

Jawabannya dingin.

“Balik kerja.”

Bimo mendecak kesal dan Putri melangkah sedikit lebih dekat.

“Atau gue bunuh lu di sini.”

Sunyi. Beberapa orang langsung berhenti kerja sebentar. Tatapan Putri serius. Tidak bercanda sama sekali.

Bimo jelas sadar itu. Rahangnya mengeras, tapi akhirnya dia mundur satu langkah.

“Sialan…”

Dia menunjuk Putri sambil jalan mundur.

“Ntar gue laporin Broto.”

Masih sambil ngomel, dia akhirnya balik ke area kerja. Putri menghela napas pendek, lalu melirik Joni lagi.

“Sekarang jawab.”

Tatapannya menyipit.

“Lu sebenarnya ngapain ke sini?”

Setelah Bimo pergi sambil ngomel, suasana akhirnya agak tenang lagi. Putri masih berdiri di depan Joni, sementara di belakang mereka orang-orang kembali kerja angkut mesin.

Joni memandang Putri beberapa detik sebelum akhirnya bicara.

“Put.”

Putri mengangkat alis.

“Kenapa?”

Joni santai.

“Keluar dari kelompok Broto.”

Putri langsung diam.

“Gabung ke gue aja.”

Beberapa detik tidak ada suara. Putri benar-benar terlihat kaget kali ini.

“...hah?”

Dia menatap Joni dari atas ke bawah sekali lagi, seperti memastikan dia serius.

“Lu bikin kelompok?”

Joni mengangguk pelan. Putri menyipitkan mata.

“Trait lu udah ketemu gunanya?”

Joni mengangguk lagi.

“Udah.”

Dia sengaja tidak menjelaskan lebih jauh.

“Makanya gue ngajak.”

Putri diam sebentar terlihat berpikir lalu akhirnya dia menggeleng pelan.

“Engga.”

Joni mengernyit.

“Kenapa?”

Putri menoleh sebentar ke arah orang-orangnya yang lagi kerja.

“Kelompok Broto udah terlalu besar.”

Nada suaranya berubah serius.

“Sekarang ada sekitar tiga ratus orang.”

Joni sedikit kaget mendengarnya, tapi tetap diam. Putri lanjut.

“Dan gue salah satu alasan kenapa kelompok itu masih aman.”

Dia menyilangkan tangan.

“Kalau gue keluar…”

Tatapannya turun sedikit.

“Broto bakal makin brutal.”

Joni mendengarkan. Putri menghela napas pendek.

“Tujuan gue dari awal cuma satu.”

Dia melihat Joni lagi.

“Bikin orang-orang tetap bersatu buat hadapin kiamat ini.”

“Kalau kelompok sebesar itu pecah…”

Dia menggeleng.

“Yang mati bakal lebih banyak.”

Joni terdiam sebentar, lalu bertanya lagi.

“Kenapa ga ajak mereka aja?”

Putri mengangkat alis. Joni lanjut santai.

“Gue bisa nyediain kehidupan buat mereka.”

Putri langsung ketawa kecil. Sinis.

“Lu?”

Dia menggeleng sambil nyengir tipis.

“Joni… tiga ratus orang itu bukan sedikit.”

Tatapannya tajam.

“Kelompok Broto aja sekarang ngos-ngosan.”

Dia menunjuk ke belakang.

“Dan di sana ada lima awakener.”

Putri menatap langsung ke mata Joni.

“Lu ga mungkin bisa nyukupin mereka semua.”

Joni tidak langsung jawab tapi matanya sedikit menyipit. Lima awakener. Informasi itu langsung dia simpan dalam kepala.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   52. Perang Bayangan

    Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   51. Pabrik Perang

    Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   50. Awal Serangan Balik

    Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   49. Pharmatrix

    Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   48. Bangun, Sindy

    Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   47. Pilihan Terakhir

    Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status